Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 49



Happy Reading


Hari ini terlihat mentari pagi menyinari bumi, menyatakan sekaligus memberitahu kepada sebagian negara di eropa, bahwa waktu sudah pagi.


Tidak terkecuali untuk wanita yang terlihat perlahan mulai membuka matanya setelah semalam penuh dirinya tidak sadarkan dirinya.


Dengan Perlahan dirinya bangun dan melihat ke arah sekelilingnya, "Aku di mana?” Cumam Jenni pelan dengan bertanya pada embun yang berhembus.


Kamar yang terlihat begitu indah dan berkilau, hingga Jenni sendiri bisa menebak bahwa seluruh dinding kamar ini terbuat dari kristal asli, 'Kenapa kamar ini terlihat begitu indah sekali,” Lirih Jenni lagi, dan mencoba untuk bangkit untuk melihat lebih jelas ke sekelilingnya, şebab dirinya yang merasa begitu penasaraan dengan ruangan ini, karena ini masih terasa asing baginya.


"Hallo, apakah ada orang di sini?” Tanya Jenni dengan sedikit meninggikan suaranya, sembari melihat — lihat situasi di luar kamar.


Betapa takjubnya Jenni, ketika dirinya melihat sebuah kolam yang Bersatu langsung dengan air terjun dari alam. Air yang begitu jernih membuat siapa pun pasti ingin langsung terjun ke dalamnya.


"Tempat ini sangat indah sekali, tapi kenapa di sini terasa sangat sepi? Kemana pelayan lainnya? Dan Arvan?” pemikiraan Jenni terhenti, ketika orang yang dia cari kini berada di depan matanya.


"Arvan," lirih Jenni dengan pelan, dengan wajah yang datar.


Arvan yang melihat ekspresi Jenni seperti ini, rasanya ingin sekali tersenyum siniş, ketika dirinya tahu Jika sebenarnya wanita yang berada di hadapannya mempunyai rasa takut dengannya, namun, sepintar mungkin dia menyembunyikannya.


"Pasti kamu heran, kenapa bisa berada di sini?” Tanya Arvan yang terdengar sangat siniş. Jenni hanya diam saja, mendengar apa pun yang Arvan ucapkan saat ini.


Arvan kembali melangkah melewati tempat posisi Jenni berdiri saat ini, bahkan Jenni sampai harus memutar tubuhnya untuk terus menatap ke arah Suaminya.


"Kenapa kamu tidak bertanya, hem?" Ucap Arvan lagi, bertanya tanpa menolehkan pandangannya. Dia tetap saja menatap ke arah air terjun yang saat ini masih di — iringi dengan embun pagi yang sangat menyejukkan tubuh.


Jenni mengalihkan pandangannya karena tidak ingin melihat Arvan lebih lama lagi. "Apa pun alasan yang kamu punya, lebih baik kamu menyimpannya sendiri saja, aku tidak ingin mendengar alasan yang terdengar cukup kalise di telingaku." Jenni mengucapkan kalimat itü dengan tegas. Karena dia jelas sangat tahu, jika apa pun alasannya Jenni pasti akan kembali terluka jika mendengarnya.


Arvan kembali tersenyum sinis mendengar jawaban yang terlontar dari mulut istrinya, dia tidak menyangka bahwa wanita ini akan segitu beraninya berbicara kepada seorang Lord tanpa menatap wajahnya.


"Baguslah kalau seperti itu, jadi aku tidak perlu repot — repot mengeluarkan kalimatku untuk wanita murahan seperti kamu." Cerca Arvan tidak main — main dalam menghina harga diri Jenni.


Jenni yang merasa terhina, hanya bisa menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya dengan kuat.


Arvan yang melihat wajah Jenni yang memerah serta tangan yang mengepal, semakin merasa senang dan ingin kembali mempermainkan perasaan wanita yang dengan berani tidak mau tunduk dengannya.


"Sadari siapa dirimu sebenarnya! Dan ingan baik — baik apa posisimu di sini, mengerti?!" seru


Arvan dengan begitu kasar dan langsung mendorong tubuh Jenni di atas tempat tidur. "Arrgghhh," jerit Jenni sembari melindungi perutnya agar tidak terbentur.


Sedangkan Arvan, kini memilih untuk meninggalkan Jenni begitu saja tanpa rasa bersalah sama sekali. "Dasar, manusia tidak memiliki perasaan," umpat Jenni yang terlihat ingin menangis lagi, akibat perilaku Arvan yang semakin lama semakin kasar kepadanya.


Jenni mengipas — ngipas wajahnya dengan jemari tangannya, agar air matanya itu tidak keluar. "Oh, ayolah Jenni, jangan menangis bisa tidak sih, kamu sangat memalukan jika harus menangis lagi karena perbuatan pria itu." Ucapnya berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.


Tanpa di Sadari, jika di depan pintu sana, ada seorang pelayan paruh baya yang bernama Lia. "Ya Tuhan, kasihan sekali Queen Jenni, janganlah biarkan dirinya selalu mendapatkan kesakitan seperti ini Tuhan," ucap Lia dalam hati. Lalu dengan segera dia menghapus air matanya yang hampir menetes, "Ahh, jika saat ini tidak ada yang bisa memberikan kebahagiaan untuk Queen Jenni, maka semoga dengan tidak adanya Lord Arvan di sini, sedikit banyaknya aku bisa menghibur Queen," Gumam Lia, yang berharap bisa menjadi teman cerita dari wanita yang sedang kesepian itu.


Tokk„ Tokk„ Tokk„ suara ketukan pintu terdengar di telinga Jenni, yang membuatnya langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang.


"Permisi Queen Jenni, saya adalah Lia, pelayan yang dikhususkan untuk melayani dan menjaga Queen di sini," ucap Lia, sembari menundukan kepalanya hormat.


Jenni hanya diam dengan tersenyum tipis sebagai jawabannya. "Queen, ini saya juga sudah membuatkan Anda sarapan pagi, saya membuatkan Anda bubur ayam yang baru perdana saya masak setelah melihat resep di youtube tadi Queen," kata Lia, yang berusaha mengajak Jenni berbicara agar suasana di antara mereka tidak terasa canggung.


Jenni menatap bingung ke arah Lia, "Tenang saja Queen, makanan ini saya jamin rasanya sangat enak, dan ini juga makanan khusus yang saya masak dengan menggunakan hati dan perasaan saya Queen," sambung Lia lagi, yang sedari tadi merasa bahwa tatapan Jenni ke arahnya mengisyaratkan tanda tidak suka.


"Queen, tenanglah saya bukan orang jahat yang akan ikut melukai hati Anda," Tungkas Lia untuk kesekian kalinya, karena ini barulah pertama kalinya dia berbicara langsung dengan istri Lord — nya, dan Jenni malah menunjukan sikap diamnya. Lia yang merasa bahwa Jenni tidak menyukai kehadiraanya, kini hanya bisa kembali menundukan kepalanya hormat. "Kalau Queen tidak menyukai kehadiran saya di sini, saya bisa pamit undur diri Queen."


"Ahh, maaf, bukan saya tidak menyukaimu, tetapi saya hanya belum terbiasa dengan orang — orang baru yang berada di sekelilingku." Seru Jenni, yang akhirnya menanggapi kehadiran Lia.


"Tidak apa — apa Queen, saya paham, jika akan sulit bagi Anda untuk menerima saya, yang mungkin baru pertama kali Anda lihat," sahut Lia dengan lembut.


Jenni tersenyum tipis menanggapi hal itu, "Ehm, siapa tadi nama Anda?" Tanya Jenni karena tadi dia merasa kurang fokus ketika wanita di hadapannya ini menyebutkan namanya.


"Lia Queen, nama saya Lia," sahut pelayan itu.


"Oh, Iya, Lia," balasnya sambil menganggukan kepalanya pelan, untuk memastikan bahwa dia akan selalu mengingat nama itu.


"Lia, bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan Queen? Karena aku merasa hanyalah seorang selir dari Lordmu, dan yang harus menjadi Queen satu — satunya di rumah ini hanyalah Mira," Jenni mulai merasa risih dengan panggilan Queen yang disematkan kepadanya.


Apa lagi dengan jelas dirinya sudah dibuang oleh Arvan di tempat ini, yang menandakan bahwa dirinya tidak ada hubungan apa pun pria itu, selain bayi yang dia kandung saat ini, tidak ada lagi alasan mereka untuk bersama.


"Tapi Queen, saya merasa bahwa saya tidak bisa Queen, karena nanti Lord Arvan akan marah ketika tahu saya tidak menganggap Anda sebagai Queen di Mansion ini." Tolak Lia, tidak ingin mencari masalah dengan Arvan yang pastinya akan membahayakan kehidupaanya.


"Tidak apa, nanti saya -,"


"Queen, kami tahu dan paham apa yang Anda rasakan saat ini, tetapi permintaan Anda yang seperti itu pasti akan membahayakan kita semua di sini, maaf Queen, tetapi kami akan lebih mematuhi dan menjalankan perintah dari Lord Arvan. Kecuali suatu saat nanti Lord Arvan sendiri yang mengatakan bahwa kita tidak lagi harus memanggil Anda Queen, dan di saat itulah saya beserta semua pelayan di sini tidak akan lagi memanggil Anda dengan sebutan Queen." Jelas Lia dengan tegas. Mengingatkan kepada Jenni, bahwa saat ini permintaan itu bukan saja akan menghancurkan pekerjaan mereka, tetapi juga akan menghancurkan kehidupan mereka.


Jenni lagi — lagi tersenyum tipis mendengar penjelasaan itu. "Penakut sekali kalian," sindir Jenni, namun hanya dibalas sebuah senyuman dari Lia, karena dia sangat paham jika emosi seorang ibu hamil pasti sedang naik turun saat ini.


To Be Continue.


Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.


Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini.


Mimin mencintai kalian semua.


Terima Kasih Banyak.