
🌹 Happy Reading 🌹
"Jangan mengharapkan ampunan dari seseorang yang sudah mati, jika Mamah mati dengan meninggalkan dunia ini, maka putramu ini hidup dengan hati yang mati, dan semua itu karna mu," tandasnya yang langsung menusuk ke dalam relung hati yang paling dalam.
Arvan terdiam membisu mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut putranya, segitu bencinya kah putranya itu pada dirinya? "Albert, Papah tau, jika kesalahan yang Papah lalukan dulu terhadap Mamah, mungkin tidak akan pernah bisa di maafkan, tapi Papah janji Nak, Papah akan membahagiakan kalian. Rasa penyesalan ini tidak mungkin akan pernah hilang,,hiskk,,hishk, Albert Papah sudah tua Nak, jika bukan kamu anak Papah yang akan melanjutkan semua aset Papah lalu siapa ?" tangisnya benar-benar merasakan sakit yang tak dapat di bendungnya lagi.
Di dalam hati kecil Albert, sebenarnya memendam rasa ingin di sayangi oleh Papahnya, namun egonya lebih besar, Papahnya ini harus tau bagaimana rasa sakitnya mencintai tanpa balasan itu seperti apa, bukan karna dia dendam. Tapi dia ingin Mamahnya mendapatkan keadilan dengan ini semua.
"Saya rasa semua pembicaraan kita cukup sampai di sini Tuan, saya permisi," Pamitnya mencoba membuka pintu itu kembali.
"Jika kamu tidak mau menerima Papah dan mengendalikan perusahaan Papah, maka jangan salahkan Papah jika kerjaan bisnis keluarga Jonathan dan Emilio akan Papah hancurkan hingga ke dasar." Ucapnya dengan penuh nada ketegasaan.
Inilah cara terakhir bagi Arvan untuk bisa mengambil putranya kembali, dia tau ini salah bahkan sangat salah, namun dia tidak mempunyai pilihan kembali.
Albert Emilio Manopo adalah satu-satunya pewaris sah kerajaan bisnis Cyberaya, perusahaan dengan kedudukan pertama di Dunia.
Sudah saatnya kedudukanya di gantikan oleh putranya, mengingat usianya yang sudah memasuki kepala 5.
Albert yang mendengar ancaman dari Arvan itu, langsung menoleh dengan tatapan tajamnya. "Mau Anda apa sebenarnya Tuan?" bentaknya yang benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan sikap se enaknya dari Papahnya ini.
"Papah tidak mau apa-apa , memangnya salah jika Papah memintamu untuk ikut bersama dengan Papah," jawabnya dengan santai, dan sambil melangkah mendudukan tubuh tuanya di sofa.
Langkah demi langkahnya itu sama sekali tidak lepas dari pandangan Albert kepada Arvan. Dia tidak ingin jika Arvan akan melakukan hal di luar batas.
Bahkan Arvan sendiri menyadari arti dari tatapan putranya itu. "Kamu jangan lupa Nak, siapa Papah kamu, dan dari mana kamu berasal, sudah saatnya kamu mengambil alih semua perusahaan Papah di seluruh Benua ini, sudah saatnya kamu bersaing dengan para petinggi dunia yang lain, termasuk Aiden, bukankah dia musuh kamu saat ini,"sindirnya yang membuat Albert menoleh malas ke arahnya.
"Itu bukan urusan Anda Tuan," sahutnya dengan ketus.
Arvan tertawa kecil mendengar anaknya yang terus-menerus memanggilnya Tuan, Tuan dan Tuan.
"Albert, jika kamu tidak mau mengikuti Papah, atau pun menanggil ku dengan panggilan Papah, maka aku sendiri yang akan memastikan Aiden akan merebut Briell dari kamu, Papah tidak akan membantumu untuk melawan dan mengendalikanya." tantangnya pada Albert yang dia yakini semua ini pasti akan mempan.
"Anda-," ucapnya terputus, di saat Arvan mulai menaikan jarinya satu.
"Jika kamu terus-menerus membuat Papah stress, dan cepat mati. Maka Papah akan menyusul Mamah dan Tante Mira di sana, dan kamu tau kan berarti Papah punya dua bidadari, dan berarti Papah akan membuat Mamah-"
Bugggghhhhh satu pukulan keras Albert berikan pada Arvan karna tidak tahan lagi dengan semua ancaman-ancaman gila yang di keluarkan dari pria ini.
"Jika Anda, masih mau berniat sekali lagi menyakiti Mamah di sana, maka aku pastikan jika Anda akan di kirim ke neraka paling terakhir, karna aku yakin pasti Mamah berada di surga, bukan seperti kamu dan kekasih mu yang pasti masuk neraka." bentaknya dengan kesal, mendengar jika Papahnya ini mau bermadu dua di alam baka.
Lagi-lagi Arvan hanya membalas kalimat Anaknya itu dengan senyuman yang mengejek, "baiklah, kamu masih tidak mau memanggil ku Papah, dan masih tidak mau mengakui ku, fine. Kita mulai permainan sekarang," Tegasnya sambil mengeluarkan ponsel pribadinya, untuk menghubungi Robert agar rencanaya berjalan dengan cepat.
"Sepertinya perusahaan Emilio akan sangat mudah lebih dulu di hancurkan," Lirihnya pelan sambil bermainkan ponselnya, namun masih terdengar jelas di telinga Albert.
Di saat Arvan mulai menempelkan ponselnya itu di telinga, dengan cepat Albert langsung merampas ponsel itu dan melemparkanya ke sembarangan arah. "Enough, Papah," Teriaknya dengan lantang memanggil Arvan dengan sebutan Papah.
Arvan terkejut mendengar panggilan itu, hatinya terasa mencair bagaikan gula yang meleleh, ini adalah momen yang paling dia dambakan se umur hidupnya, moment di mana putranya memanggil dirinya dengan sebutan "Papah", Moment di mana nanti anaknya akan bangga karna mempunyai Ayah sepertinya.
"Ulangi sekali lagi Nak," pintanya dengan air mata yang sudah terjatuh dari pelupuk matanya.
Albert sendiri sebenarnya merasakan sedikit rasa damai di hatinya, namun dengan segera dia menepisnya, karna dia tidak mau memaafkan Papahnya dengan semudah itu, dia hanya tidak ingin hanya karna kesalahan kecilnya, maka Mertua dan Pamanya lah yang akan menjadi sasaran plampiasaan dari Papahnya ini.
"Papah,Papah,,Papah," panggilnya dengan rasa malas, namun dengan sigap Arvan langsung memeluk tubuh putranya itu.
"Hisskk,,hisskk, iya Nak, Ini Papah sayang,,ini Papah, maafkan Papah Nak, maafkan Papah," tangisnya memeluk tubuh kekar putranya itu.
Sekilas tapi nyata, pandangan Albert mengarah pada cahaya putih di ujung ruangan.
Dia bisa melihat wanita cantik berbaju putih berdiri di sana, dengan sebuah senyuman yang indah, rambut yang panjang lurus tergerai, cahaya yang terpancar, membuat sosok itu bagaikan bidadari yang baru saja Tuhan turunkan ke bumi.
"Mamah,"lirihnya pelan melihat sosok itu.
Arvan yang mendengar putranya memanggil Mamah itu langsung melepaskan pelukanya dan menoleh ke arah yang sedang di liat putranya.
"Mamah?" tanya Arvan memastikan jika pendengaranya itu tidak salah.
Sekelibat Albert tidak lagi melihat cahaya dan sosok itu, "Mamah," panggilnya lagi ketika cahaya itu benar-benar hilang tanpa jejak.
Dia langsung menoleh pada Arvan yang sedang menatapnya dengan wajah kebingunan. "Pah, tadi Albert lihat Mamah berdiri di situ," adunya pada Arvan, bahwa dirinya tidak mungkin salah dalam mengenali wajah Mamahnya.
Arvan tersenyum mendengar ucapan dari putranya itu. "Apakah kamu bahagia sekarang sayang? Maaf aku baru menyadari setelah kamu pergi dari sisiku, dia putra kita, aku sudah menemukanya, aku janji akan membahagiakan dia, percayalah aku akan memberikan semua cinta ku kepadanya, tanpa terbagi kepada siapapun," gumamnya dalam hati, dia memang tidak melihat sosok itu, namun dia bisa merasakan kehangatan jika Jenni bahagia melihat kebersamaan mereka.
Dia yakin cepat atau lambat pasti Albert akan memaafkanya dengan sempurna, karna dia tau kelembutan hati dari Jenni itu menurun pada kedua putranya terlebih sosok Alson yang masih dalam pencarianya itu.
"Papah pasti akan menemukan mu Nak, itu pasti, sabar ya sayang. Kita pasti akan berkumpul kembali menjadi satu keluarga yang utuh," Gumannya penuh harap, sambil menatap putranya yang sekarang masih bingung dengan sosok yang dia lihat tadi.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra