
🌹 Happy Reading 🌹
Victor menatap ke arah Briell dengan tatapan mesranya yang di iringi sebuah senyum kemenangan. " 3...2..1."" Hitunganya dalam hati dengan rencana jahatnya.
Dan benar saja, tiba-tiba Briell merasakan sensasi tubuhnya yang sangat berbeda, wajahnya berubah menjadi merah menahan panas yang menggelora memenuhi hasrat seksualnya.
Dia langsung menatap tajam ke arah Victor yang tersenyum puas penuh kemenangan di hadapanya, "damn it! Berani-beraninya kamu memberiku obat perangsang," teriaknya penuh emosi bercampur rasa horny ingin di sentuh dan di berikan kenyamaan saat ini.
Dengan senyum kepuasaanya Victor berjalan mendekat ke arah Briell, "ayolah sayang, suami kamu juga sedang pergi saat ini, kamu percaya aku bahkan bisa lebih memuaskan kamu di bandingkan dengan pria yang tidak berguna sepertinya," seru Victor dan langsung memeluk bahkan menciumi Leher Briell, namun dengan segera Briell mendorong tubuh pria tidak waras ini dengan keras.
Bugggghhh,,buggghh,,buggghhh dengan kesadaran yang sudah muali meredup terbakar nafsu yang menggila Briell masih bisa membuat Victor jatuh tersungkur hingga tak berdaya di tanah.
"Shittt! Urusan kita belum selesai," umpat Briell yang harus segera pergi sebelum dia jadi tidak waras karna obat prangsang yang telah di berikan Victor dengan dosis yang tinggi.
"Briell mau kemana kamu jangan coba-coba lari!" Ancam Victor yang mencoba untuk bangkit, Briell benar-benar mampu melumpuhkanya meskipun di tengah kesadaran yang melemah.
Briell yang melihat Victor masih bisa bangkit dari pukulanya itu, langsung mengeluarkan amarah yang sudah tidak bisa di bendungkan lagi, dengan gerakan memutar bagaikan kipas, dia berhasil memberikan sebuah tendangan mematikan yang membuat tangan kanan Victor itu patah. "Aaaaaarrrgggghhhhhh brengseeekkk," jeritan Victor menggema ketika tanganya berhasil di patahkan oleh wanita ini.
Dia menyesal berani menantanv wanita yang sepertinya memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi seperti Briell, "aaarrggghhh,,shittt!!" Dia merintih kesakitan merasakan tanganya yang benar-benar tidak bisa di gerakan lagi.
Briell yang melihat Victor tengah menjerit itu merasakan jijik yang berlebih, "cikh tak berguna," umpatnya kesal dan melangkah meninggalkan Victor begitu saja.
Bahkan tak lupa dia menginjak tangan Victor yang sudah patah agar rasa sakitnya bertambah luar biasa lagi.
Dengan segera Briell melangkah ke arah mobilnya, dia ingin segera pergi dari rumah terkututk itu saat ini juga, tujuan awalnya adalah apartemen miliknya untuk menghilangkan efek obat itu terlebih dahulu.
"Aaarggghhhh, aku gak akan membiarkan mu lepas begitu saja Victor, berani sekali kamu bermain dengan ku,, aaaarrggghhh," teriaknya sudah tidak tahan lagi menahan hasratnya yang semakin menggila karna efek obat itu.
Dia benar-benar marah pada pria itu, bahkan dengan mematahkan sebelah tangannya tadi saja masih belum cukup untuk membalas perlakua Victor yang sangat berani meracuninya dengan obat laknad itu.
Briell mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di Apartemen miliknya yang tepat bersebelahan dengan Apartemen milik Morgan.
Setelah sampai di lobby, dia memarkirkan mobilnya dengan asal, lalu melemparkan kunci mobilnya asal pada Scurity yang ada di situ.
Dia tidak memeperdulikan rasa hormat atau tata krama saat ini.
Yang terpenting adalah dia harus segera merendamkan dirinya di dalam air dingin agar sensinya lebih berkurang.
Namun di saat dia melangkah menuju kamarnya, dia tak sengaja melewati kamar suaminya yang tertutup.
Dia mencoba meyakinkan diri untuk melangkah dan memeriksa apakah suaminya ada di dalam atau tidak, mengingat jika suaminya belum pulang ke rumah tadi.
Briell melihat ke arah pintu dengan rasa pusing di kepalanya serta rasa panas yang sudah tidak tertahan, "aaarrggghhh apa paswordnya," ucapnya tambah frustasi melihat pintu yang terbuka dengan menggunakan pasword itu.
Beruntung di lantai itu memang hanyalah ada dua kamar saja, karna itu termasuk kawasan yang sangat ellite, dan hanya di huni oleh Briell dan Morgan, sehingga sekuat apa pun Dia berteriak maka tidak akan ada yang mendengar selain mereka berdua saja.
"Buka bodoh bukaa, kalau tidak aku dobrak ini," serunya benar-benar gila.
Dia bahkan berucap tanpa berpikir bahwa dia tidak akan pernah bisa mendobrak pintu jatu itu dengan tubuhnya yang mungil.
Pintu itu tak kunjung terbuka, membuatnya semakin kesal dan terus mengumpat nama suaminya yang bodoh. "Briell bodohh berpikir, berapa Paswordnya aaarrrggghh," dia terus menerus berpikir agar bisa membuka pintu itu dengan cepat.
"Aku nikah tanggal berapa ya ?" Tanyanya pada diri sendiri yang melupakan tanggal pernikahaanya.
"Ohh shitt! Aku ingat," serunya begitu yakin jika Morgan menggunakan tanggal pernikahaan mereka di pasword pintu itu, karna Daddynya juga melakukan hal yang serupa seperti itu.
Dan ckleeekkk pintu itu benar-benar terbuka dengan bermodalkan tanggal pernikahaan mereka.
Dengan rasa gelisah dan panas bagaikan cacing kremi dia mencari sosok yang sedari tadi dia cari.
Dari luar dia sudah mencium aroma alcohol yang begitu menyengat di penciuman, "pasti dia mabuk juga,,aaarrgghh gak guna," umpatnya terus menerus merasa semua manusia saat ini tidak berguna.
Dia berjalan fokus sedikit berlari ke arah kamar utama dan mendengar suara air dari arah kamar mandi, yang di yakini pasti Morgan tengah berada di dalam sana.
Tanpa rasa malu ataupun rasa gengsi dia melangkah mendekat ke arah kamar mandi itu, bermaksud untuk mandi bersama dengan suaminya. Kan bukan dosa jika dia meminta suaminya itu membantunya lepas dari nafsu sex yang menggelora ini.
Namun belum sampai dia di kamar mandi, pintu itu lebih dulu terlihat terbuka dan menampilkan sosok Morgan yang baru saja selesai mandi dengan tubuh dan rambut yang masih basah dan juga hanya berbalut dengan handuk yang menutupi area kukubirdnya.
Dia langsung berlari dan lalu loncat pada tubuh kekar suaminya. "Briell kamu di sini? Tapi bagaimana bisa-?" Ucapnya terputus di saat Briell mencium bibir Morgan penuh nafsu.
Morgan yang juga masih dalam pengaruh alcohol, tanpa ragu juga membalas perlakukan dan ciuman panas istrinya itu, hingga saat merka mulai kehabisan nafas, Morgan melepaskan ciuman itu dan menatap lekat arah istrinya. "Kamu kenapa malam ini?"tanyanya penasaraan mengapa tiba-tiba istrinya itu bisa tau dia ada di apartemen dan bagaimana bisa istrinya menjadi seliar ini.
Briell tersadar dan langsung meminta lebih pada perlakuan Morgan saat ini, "aaahhhh aku sudah gak kuat lagi, besok saja aku ceritakan semuanya," ucapnya dan lagi-lagi langsung menyambar bibir suaminya dengan kasar.
Morgan akhirnya tidak mau bertanya lagi saat ini, dia bahkan berani membalas setiap sentuhan-sentuhan yang Briell ciptakan, hingga dia berhasil merasakan Nafsunya yang juga begitu tinggi malam ini.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya gengs **🙏🏻😊*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra