Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 97



🌹 Happy Reading 🌹


Albert terlihat mengatur nafasnya yang tengah ngos-ngosan saat ini, baginya ini adalah pertenpuran yang sangat luar biasa.


Jacob dengan luka yang sudah di buat Stella di perutnya tadi, sama sekali tidak menyulitkan pergerakanya.


Dia begitu lincah dan cerdik dalam memghadapi lawanya, bahkan luka di tubuh Albert mungkin terhitung banyak dari luka yang berada di tubuh Jacob.


Namun mungkin takdir atau apa, Begitu ada kesempatan dia langsung menembak kepala Jacob hingga tewas.


"Aku berhasil," ucapnya di saat dia tersadar ketika tubuh Jacob sudah benar-benar ambruk.


Sontak yang lainya tersenyum dengan menahan rasa perih di masing-masing luka mereka.


"Aku berhasil, Briell,,Caby, Papah berhasil," lirihnya lagi mengingat wajah istrinya yang pasti saat ini sedang mengkhawatirkanya.


Lalu kini dia mengalihkan pandanganya kepada sosok wanita yang sedari tadi memandangnya dengan senyuman yang sangat manis, dia seperti melihat dirinya yang sedang tersenyum.


"Cantik,,pantas saja aku begitu tampan." Batinya yang melihat aura kecantikan yang terpancar dari wajah Mamahnya walaupun wajah dan tubuh itu sudah bewarna coklat gelap, serta kotoran yang sudah tidak bisa di hitung jumlahnya lagi.


Jenni yang mendapatkan tatapan seperti itu dari putranya, kini beralih melihat dirinya yang begitu jelek,bau dan kotor, sehingga senyum yang tadi merekah di bibirnya, kini berubah menjadi wajah yang murung menahan malu. "Aku kotor,,wajarlah jika anak ku tidak mengenaliku," lirihnya pelan namun terdengar jelas di telinga Arvan dan Alson.


"Mah, Albert tidak mungkin seperti itu, dia pasti menerima Mamah apa pun keadaanya, buktinya saja dia mampu berjuang sampai titik ini semua untuk menyelamatkan Mamahkan," ucap Alson penuh dengan kelembutan, agar Mamahnya itu tidak merasakan malu lagi.


Arvan yang mendengar itu merasakan sakit di dalam hatinya, dia ingin menegur dan memeluk tubuh wanita itu, namun kondisi ini sama sekali tidak memungkinkan, dia bisa saja membuat Jenni malah menjadi depresi jika memaksa untuk memaafkan dirinya.


"Gina, Robert, bawa semua yang terluka untuk ke rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan," perintahnya tegas pada asistenya.


"Baik Lord," jawab Robert dengan sopan.


Lalu dia beralih kepada James yang mengalami luka paling parah saat ini.


"Apa Anda masih bisa kuat berjalan Tuan?" Tanyanya pada James yang nyaris menutupkam matanya.


"Tubuhnya sudah semakin melemah, dan wajahnya sudah nyaris membiru, sepertinya dia mulai kehabisaan darah, ayo cepat," sahut Martin yang terus memaksa James untuk tetap tersadar.


Robert, Martin dan Zein langsung segera memapah tubuh James yang sudah lemah itu, berharap jika pria itu masih bisa tertolong.


Sedangkan Zein, saat ini tengah membalut lukanya dengan peralatan seadaanya. Dia mengalami patah di bagian lenganya, serta kakinya yang tertembak peluru membuatnya kesulitan berjalan.


Mario yang melihat itu langsung berjalan mendekat. "Kamu tidak akan bisa menyembuhkan luka itu sendiri, ayo saya papah kamu untuk mendapatkan pengobatan yang seharusnya," ujarnya lembut, seperti bicara kepada anaknya sendiri.


Zein melirik sekilas ke arah Mario, lalu beralih lagi kepada lukanya. "Tidak perlu Paman, aku bisa mengobatinya sendiri," jawabnya penuh ke angkuhan persis seperti Papahnya Lucas.


Mario mengenduskan nafasnya pelan, dan langsung memaksa Zein untuk mendengar perintahnya. "Kalo di bilangin orang tua itu jangan bantah, apa kamu selalu seperti ini sama Bundamu ha?" Bentak Mario yang kesal dengan tingkah laku dari anak Lucas ini.


Zein hanya memandang Mario dengan tatapan tajamnya. "Paman sendiri juga terluka, tapi kenapa hanya memaksaku saja," bantahnya dengan wajah yang terlihat seram namun tidak menyeramkan.


Mario tersenyum penuh arti tanpa membalas ucapan dari putra Lucas ini.


Berbeda dengan Albert yang saat ini sedang melangkah dengan perlahan mendekat ke arah Jenni.


"Mamah," panggilnya dengan suara yang parau.


Dia tidak menyangka, bayangan putih yang dulu dia liat kini berubah menjadi sosok nyata yang ada di hadapanya.


Jenni sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, hatinya benar-benar merasakan kedamaian saat ini.


Dan bersyukur karna harapanya kini sudah terkabul, dia masih di berikan kehidupan untuk kembali bersatu bersama dengan keluarganya.


Alson yang melihat Adiknya mengarah pada Jenni kini berpikir iseng sedikit dengan memeluk tubuh Jenni lebih dulu dengan tersenyum penu arti pada Albert.


"Kakak kembalikan Mamahku," perintahnya dengan tegas membuat Jesper dan Arvan tertawa mendengarnya.


Alson menggelengkan kepalanya singkat. "Ini Mamah ku, kamu cari istrimu saja, atau peluk Papah sana," tolak Alson yang merasa menang kali ini.


"Alson Emilio, kembalikan Mamahku," tegasnya lagi, namun kali ini Alson malah mencium pipi Jenni dan kembali memeluknya dengan erat.


"Kamu ambil dia, aku ambil Briell," ancamnya dengan penawaran yang sangat baik.


Plaakkk,,Albert langsung menoyor kepala kakaknya.


"Aduhhh, dosa kamu ya kakak nih, main toyor-toyor aja," keluh Alson sambil memegangi kepalnya yang kena toyor tadi.


"Salah sendiri siap yang menghalangi jalanku.pinggir sana, pulang nanti cewek taman itu di rebut orang lain baru tau rasa." Balas Albert dengan wajah yang galak.


Alson terlihat berpikir sejenak mengingat kembali wajah Vika yang seharian kemarin mengisi harinya.


Dan di saat itu Albert mengambil kesempatan untuk menggeser tubuh Alson, dan merebut posisi untuk memeluk Jenni.


"Aduh,,aduhh anak Mamah ini pada ribut ya," lirih Jenni yang merasa bahagia saat ini, bahkan dia lupa dengan rasa sakit yang ada di tubuhnya.


"Mah ini Albert, putra Mamah yang paling tampan," jawabnya kepedean, membuat Jenni tersenyum bahagia dan membalas pelukan putra bungsunya itu.


"Mamah kangen kalian nak, Mamah kangen," tangisnya sambil memeluk tubuh kekar milik Albert itu.


Arvan yang melihat kebersamaan antara Jenni dengan anak-anaknya, merasakan keminderaanya sendiri.


"Tuhan, apakah aku masih pantas untuk menggengam tangan dan mendekap tubuh lemahnya itu, apakah aku masih bisa mendapatkan kesempatan untuk menopang hidup istri dan kedua putraku itu, aku ingin Tuhan, aku ingin," batinya merintih, menahan sakitnya di abaikan oleh istri dan anaknya.


Lalu dia memandang damai ke wajah cantik milik Jenni yang meskipun hitam dan kucel, namun sama sekali tidak menutupi kecantikan yang dia miliki.


"Jangan berikan aku hukuman yang berat ya sayang, dan jangan marah terlalu lama, aku sangat merindukanmu, walaupun aku tau jika saat ini sudah sangat terlambat jika memintamu kembali, namun jika mungkin kembali lah," ucapnya lagi dalam hati, dengan memandang sendu wanita yang selama ini selalu dia sakiti.


Berharap jika dari seluruh kesalaahaanya itu, Jenni mau memaafkanya dan kembali bersatu dengan dirinya, mungkin sangat mustahil namun dia masih percaya jika hadirnya Twins A bisa membantu dirinya mendapatkan maaf dari Queenya itu.


Banyak yang minta visualnya Uncle Jesper kan, ☺️


Nih Mimin kasih😘😘



To be continue.


*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭


Terima kasihπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Follow IG Author @Andrieta_Rendra