
🌹 Happy Reading 🌹
Setelah Briell selesai mandi, dia keluar dan mencari sosok suaminya namun tidak menemukanya.
Briell melirik sekilas ke arah jam dinding di kamarnya, dan waktu telah menunjukan jam makan malam.
"Mungkin dia di bawah sedang makan malam bersama dengan yang lainya," lirihnya pelan lalu bergegas menggunakan pakainya.
Dan setelah menggunakan pakaian tidur miliknya lagi-lagi dia melirik ke arah waktu yang telah berlalu, namun suaminya itu masih belum datang.
"Aku malas turunlah, mending aku di sini aja kerjain novel ku kemarin kan belum selesai," ucapnya lalu melangkah mengeluarkan laptop miliknya dan mendudukan tubuhnya di sofa besar kamar itu, setelah itu dia mulai berkutat dengan pekerjaanya.
Ckleeekkk, pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok yang tak lain adalah Morgan, karna di kamar ini tidak akan ada lagi siapa pun yang berani masuk selain mereka.
"Sayang kamu di sini," tegurnya melihat istrinya yang tengah fokus menatap layar laptopnya.
Briell menjawab dengan anggukan kepalanya singkat dengan di ikuti senyum merekah di bibirnya.
Morgan terus melangkah dan tanpa meminta izin dia langsung mendekap erat tubuh istrinya, dan membawa kepala Briell agar bersandar di dada bidangnya.
"Kenapa gak turun makan sayang? are you okay?" Tanyanya dengan lembut, sesekali tanganya dia gunakan untuk mengelus rambut istrinya.
"Enggak, aku cuman lagi gak mood makan aja malam ini," balasanya pelan dan terdengar sangat lemah.
Kini Morgan tengah menikmati kebersamaanya dengan istri tercinta, sampai perhatianya fokus pada Screen layar Laptop milik Briell yang menampilakan istrinya itu sedang berpelukan bahagia bersama pria lain.
"Sayang," panggilnya dengan lembut.
"Hemm," sahut Briell singkat, karna dia sedang memejamkan matanya merasakan kenyamaan berada di dalam dekapan hangat suaminya.
Berbeda saat dirinya bersama dengan Aiden tadi, yang ada dia hanya merasa tertekan dan emosi jiwa.
Morgan sedikit merasakan bahagia, karna dekapanya itu sepertinya mampu memberikan kenyamanan pada istri galaknya itu.
Dengan menarik nafasanya dalam-dalam dia mencoba mengutkan hati untuk mendengar jawaban atas petanyaanya ini. "Apakah pria itu yang saat ini sedang berada di hatimu sekarang, sampai kamu tidak mau membuka hatimu untuk ku sayang ?" Morgan sangat berhati-hati sekali dalam mengucapkan kalimatnya, dia takut jika nanti pertanyaan ini akan menyinggung perasaan istrinya.
Mendengar pertanyaan yang sangat sensitif dari suaminya, membuat Briell tersadar jika wallpaper di laptopnya belum di ganti.
Dan segera Briell menghapus foto itu dan menggantinya dengan foto pernikahaan mereka yang kemarin.
"Maafin aku," ucapnya dengan tersirat rasa penyesalaan di dalam dirinnya.
Dia benar-benar merasakan jika dirinya adalah manusia yang paling hina dan menjijikan saat ini.
Briell kembali mendekap tubuh suaminya dengan erat, bahkan sangat erat seperti seseorang yang takut kehilangan, hingga buliran kristal berharga itu tiba-tiba saja keluar dari kedua mata indahnya.
Morgan yang menyadari jika istrinya itu sedang menangis, langsung merasakan curiga pada Briell, "sayang, kamu kenapa? Maaf jika pertanyaan ku tadi melukai atau menyinggung hati kamu sayang, maafkan aku," lirihnya pelan sambil mengelus pipi Briell, lalu beralih menatap kedua bola mata indah milik istrinya itu dalam-dalam.
Ada rasa sakit di hati Morgan, ketika melihat air mata istrinya tumpah begitu saja. Karna ini pertama kali Briell menangis selama pernikahaan mereka terjalin.
"Sayang kamu jangan diam aja, kasih tau ke aku kamu kenapa ? Aku salah apa ?" Dia merasa frustasi dengan keadaan saat ini,dengan diamnya Briell sekarang dia bingung harus berbuat apa.
Sedangkan Briell yang mendapatkan perlakuan selembut ini dari Morgan, semakin membuatnya merasa bersalah dan mengutuk dirinya sendiri karna telah berani mengkhianati suaminya.
Meskipun yang tadi dia lakukan memang terpaksa, tapi tetap saja dia merasa tidak pantas ketika wanita sudah menikah dan memiliki suami, malah bercumbu mesra bersama pria lain, walaupun itu hanya sebatas ciuman saja, tapi itu juga termasuk dosa.
Briell terus menangis hingga sesegukan, dia bingung harus bicara atau tidak dengan suaminya. "Hisk,,Morgan,," ucapnya di sela-sela tangisnya.
"Iya sayang." Sahut Morgan dengan lembut.
"Hisk,,hisk Morgan maafin aku, kamu tuh gak salah apa-apa, aku yang salah, aku yang berdosa sama kamu,,hiskk,,hisk maafkan aku Morgan maafin aku," tangisnya semakin jadi, namun tetap menyandarkan kepalanya masih di dada bidang Morgan.
Dia merasa sangat hina saat ini, bahkan untuk menatap wajah suaminya saja, dia sudah tidak berani karna malu mengakui semuanya, entah kenapa ada sedikit rasa takut di hatinya jika Morgan pergi meninggalkanya, padahal dia sama sekali tidak merasakan cinta di hatinya untuk suaminya.
Morgan yang merasakan keganjalan besar dari kalimat istrinya, kini menuntun kembali wajah Briell agar menatap ke matanya, agar dia bisa melihat kejujuran dari mata itu.
"Sayang, look into my eyes!" Pintanya tegas pada istrinya.
Dengan patuh Briell menurutinya, dan saat ini keduanya sedang saling menatap dan berkontak lewat tatapan mata itu, "katakan ada apa sayang, aku mau kamu jujur sama aku, sejujur-jujurnya! Tanpa sedikitpun ada yang kamu tutupi dari aku," pintanya sekali lagi pda Briell.
"Apa pun yang kamu katakan, atau sesakit apa pun itu kenyataan dari kejujuran mu itu, aku akan menerimanya," timpalnya lagi, dan entah kenapa saat ini perasaanya tiba-tiba merasakan jika ada hal buruk yang terjadi sebelum ini.
Lagi-lagi bibir Briell terasa sangat kaku dan susah untuk mengatakanya pada Morgan, "akuu,,aku," ucapnya terhenti menundukan kepalanya dan mecoba menghindari kontak mata dengan Briell.
"Maafkan aku karna sudah mengkhianati pernikahaan kita ini," tangisnya pecah bersamaan dengan kejujuran yang mutlak dan pasti akan sangat menyakitkan.
Deeeegggggggg
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya gengs **🙏🏻😊*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra