Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 7



🌹 **Happy Reading **🌹


Ke esokan harinya, kini Arvan dan Jenni terlihat sedang sarapan bersama.


Arvan terlihat makan dengan tenang, yang menampilkan aura sang penguasa, sedangkan Jenni hanya sibuk mengaduk-aduk makananya saja, dengan sesekali melirik ke arah suaminya.


"Kenapa kamu tidak makan hem?" tanyanya dengan lembut.


Jenni mengerucutkan bibirnya, lalu menggerak-gerakanya ke kanan dan kiri, membuat Arvan menjadi gemas melihatnya.


Cuppp, Arvan mencium singkat bibir Jenni yang sedari tadi seperti menggodanya.


Mata Jenni membulat seketika di saat mendapatkan ciuman tiba-tiba dari suaminya.


"What?" tanya Arvan ketika melihat Jenni yang melotot ke arahnya.


"Ngapain cium-cium hem?" tanyanya balik dengam wajah yang kesal.


Arvan rasanya ingin tertawa saat ini melihat wajah kesal dari istrinya. "Siapa yang menggoda duluan,?" tanya Arvan balik tanpa menjawab pertanyan Istrinya.


"Siapa yang menggoda, aku dari tadi diam kok, kamu aja mesum," balas Jenni tidak terima jika dirinya di tuduh menggoda suaminya.


Lagi-lagi Arvan tersenyum mendengar jawaban dari istrinya. "Aku siapa mu?" tanya Arvan dengam serius.


Jenni menyeritkan keningnya bingung. "Apasih ini cowok, gak waras pagi-pagi." kesalnya dalam hati menatap Arvan dengan tatapan permusuhan.


"Jawab Jennifer, aku ini siapa mu?" tanya Arvan dengan tegas.


Jenni mengenduskan nafasanya kasar, rasanya dia malas sekali meladeni pria ini. "Suami," jawabnya tanpa nyawa, terlihat dari wajahnya yang seperti orang sedang mengantuk.


"Jenni yang sopan kalo di tanya suami itu," ucap Arvan lagi yang sedikit kesal melihat tingkah dan jawaban dari istri kecilnya itu.


Jenni merasa risih sedari tadi namanya di panggil terus menerus. "Jenni,,Jenni,,Jenni, bisa diam gak sih? Panggil sana Mira biar gak brisik,"Jawabnya dengan santai, membuat Arvan hanya bisa menggelengkan kepalanya pusing.


"Terus kamu mau aku panggil apa? Biar gak brisik?" Arvan berkali-kali mencoba untuk meluluhkan hati Jenni yang sudah terlanjur membatu itu.


Bukan salah Jenni, tapi ini memang salahnya yang sudah berbuat tidak adil untuknya.


Dia mengikat seorang gadis yang masih dan baru ingin bebas menikmati dunia luar dengan sebuah pernikahaan tanpa cinta.


Pernikahaan impian semua wanita, termasuk Jenni. Kini hancur begitu saja dengan hadirnya ke egoisan dan ke angkuhan darinya.


Dia sadar jika ini tidak seharusnya terjadi, namun dia membutuhkan pewaris dari segala kekayaanya, sehingga ketika dia melihat Jenni, dia melihat sosok yang sangat tepat untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Namun bukan menjadi ratu di hatinya.


"Panggil apa ? Aku mau kamu diam aja, aku pusing kamu panggil terus tau," balasnya kesal.


Dia merasa kesal sedari pagi karna Arvan benar-benar merusak paginya.


"Apa aku salah memanggil istriku sendiri, enggak kan, kecuali aku memanggil wanita lain baru kamu marah, aneh," Imbuh Arvan yang semakin membuat Jenni bertambah kesal.


"Aku gak perduli, mau kamu panggil wanita lain kek, wanita mana kek, panggil Mira sekalian aku juga gak perduli, aku gak larang kamu panggil aku, tapi kamu harus tau, aku ini bukan robot, yang sedari pagi ketika kamu lihat aku bicara pada pelayan pria kamu selalu memanggil ku. Ingat kamu itu hanya suami di atas kertas, jangan pernah memberikan harapan seperti ini selayaknya suami yang ingin di layani oleh istri dengan baik, namun tanyakan pada dirimu, apakah kamu sudah memberikan hal yang terbaik buat istrimu?" cerca Jenni yang sudah tidak tahan lagi, meskipun ini baru di awal, tapi dia sudah muak melihat Arvan yang selalu tersenyum manis menatap foto Mira, sedangkan dengan dirinya yang notabenya adalah istrinya, dia selalu tersenyum sinis.


Braaaagghhhhh Arvan memukul meja dengan sangat keras, hingga beberapa peralatan jatuh dan pecah di lantai.


Namun itu sama sekali tidak membuat Jenni takut akan sikap Arvan yang seperti ini, dia tidak ingin lemah ketika berhadapan dengan Arvan.


"Jenni, cukup ya! Aku ini suami kamu, jangan berani-beraninya kamu bicara seperti itu sama aku," bentak Arvan yang mulai lelah dengan sikap santai dari istrinya itu.


Jenni tersenyum sinisi mendengar ucapan dari Arvan, "suami,, suami yang mana yang tega melarang istrinya untuk gak jatuh cinta sama dia? Suami mana yang sudah punya istri tapi masih mencintai wanita masa lalunya, jawab aku Arvan jawab," balasnya dengan tatapan tajam ke arah Arvan.


Arvan berusaha menenangkan Jenni yang sedang panas hati saat ini. "Jenni tenanglah, aku suami mu, meskipun aku tidak bisa mencintai kamu, tapi aku tetaplah suamimu, maaf aku tadi sedikit emosi, tapi harusnya kamu juga gak seperti itu, Mira gak gangu hubungan kita layakanya wanita di luar sana yang menganggu hubungan rumah tangga orang lain, Mira tetaplah Mira. Dia tidak akan kembali, kamu jangan pernah takut jika dia akan merebutku dari mu. Oke," lirihnya pelan, lalu memeluk tubuh istrinya, memberikan kedamaian agar Jenni tidak bersikap kekanakan seperti ini.


Jenni terlihat menangis di dalam dekapan tubuh Arvan, ini berat baginya, harus menerima kenyataan jika suaminya bukanlah miliknya.


"Jika suatu saat aku gak sanggup untuk bertahan hidup dengan suami yang mencintai wanita lain, apakah aku boleh pergi?" tanya Jenni pelan, takut Arvan tersingungg lagi.


Arvan semakin mengeratkan pelukanya, sebagai jawaban yang langsung di mengertti oleh Jenni.


Setelah beberapa saat mereka berpelukan, Arvan mulai melepaskanya dengan perlahan. "Apa ada yang kamu butuhkan atau inginkan saat ini hem?" tanya Arvan dengan mode lembut, tidak seperti tadi yang memiliki emosi yang tinggi.


Jenni berfikir sejenak apa yang dia inginkan. "Aku ingin belajar merangkai bunga, sepertinya nyaman jika suasana sejuk seperti ini dengan hobby baru seperti itu,"balas Jenni yang sepertinya harus mulai membiasakan dirinya dengan situasi seperti ini.


Arvan tersenyum manis kepada Jenni, senyum yang biasanya hanya di perlihatkan pada gambar Mira, kini akhirnya dia bisa dapatkan juga. "Apa pun yang kamu inginkan, aku akan berusha untuk memberikanya."Jawab Arvan dengan tulus, membuat Jenni ingin sekali memukul kepala suaminya ini.


"Jangan berjanji jika kamu tidak bisa menepatinya Lord,"imbuhnya dengan pelan, namun senyum manis masih setia di bibirnya walaupun hatinya terluka.


"Yes, I will prove my promise, remember that," Arvan menolak jika dirinya di sebut tidak bisa menepati janjinya.


"Bagaimana jika aku menginginkan cintamu? Apa kamu juga akan memberikanya?" tanya Jenni dengan nada yang meledek.


Lagi-lagi Arvan tertawa kecil mendengar permintaan dari istrinya. "Apakah kamu benar-benar mengingikanya?" tanya Arvan balik dengan nada mesumnya.


Lama gak update Visual Papah Arvan nih😘



**To be continue. **


Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra