Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 40



🌹 Happy Reading 🌹


Saat ini di sebuah Apartemen terlihat seorang pria tengah duduk dengan di kelilingi beberapa botol Wine beralcohol tinggi.


Pria itu tak henti-hentinya meneguk minuman beralcohol itu guna menghilangkan semua beban yang ada di otaknya.


"Hiskk,,hiskk,,hisk kenapa semuanya jadi seperti ini Tuhan, mengapaaaa," teriaknya frustasi.


"Kenapa kamu memberikan hati untuk jatuh cinta, jika pada akhirnya akan di patahkan seperti ini." tangisnya benar-benar menggambarkan bagaimana hancurnya perasaan beserta hatinya saat ini.


Pria itu tidak lain adalah Morgan, dia begitu marah dan kecewa pada dirinya sendiri.


Dia membenci dirinya yang tidak bisa memberikan sebuah perlindungan sama sekali untuk wanita yang di cintainya, terlebih lagi dia sekarang merasa sangat-sangat rendah setelah mengetahui jika istrinya itu bukanlah orang sembarangan melainkan seorang putri dari keluarga Jonathan.


Siapa yang tidak tau sepak terjang Mario, dia sangat terkenal di seluruh antero Dunia karna kekejaman yang di lakukan terhadap lawan bisnisnya.


Siapa pun pengusaha yang ingin melakukan kerja sama tidak akan pernah ada yang berani bermain-main pada sosok Mario , dan di tambah lagi pria yang saat ini menyukai istrinya juga merupakan penguasa Dunia terang dan Gelap.


Sedangkan dirinya hanyalah seorang kacung bahwahan keluarga Terrence. Memang dia adalah anak dari keluarga itu, namun sikap seluruh anggota keluarga tidak ada yang pernah menunjukan bahwa dia ada dan bernyawa.


Sungguh sangat menyedihkan bukan, pria yang kemaren sempat menghina dan merendahkan martabat istrinya di awal pernikahaan, kini merasakan jika dirinya benar-benar terhempaskan ke dasar lautan dengan mengetahui fakta yang ada, bahkan mungkin dia saat ini begitu malu untuk bertemu dengan istrinya, malu dengan semua penghinaan yang dulu terlontarkan dari mulutnya itu.


Karna emosi yang meraja lela, dia sampai mampu menyakiti hati seseorang yang juga termasuk korban.


Dalam keheningan dia menatap ke arah jari tanganya yang masih tersematkan sebuah cincin di jari manisnya.


Cuppp,, dia mengecup jari itu hingga beberapa saat, lalu dengan perlahan dia melepaskan cincin yang merupakan lambang pernikahaanya bersama dengan Briell, "maafkan aku sayang, ternyata benar, kamu tercipta bukanlah untuk ku miliki. Kita berdua bagaikan langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa bersatu," lirihnya pelan sambil memegangi dadanya yang sangat terasa sesak saat ini.


"Mau di paksa seperti apa pun, kita tidak akan pernah mungkin bisa bersama, karna kamu bagaikan sebuah bintang yang bercahaya layanya diamond yang berharga dengan semburat cahaya gemerlap malam di atas sana, sedangkan aku hanyalah seorang manusia lemah yang hanya mampu berpijak di Bumi, dan mustahil bagiku untuk bisa terbang menggapai mu di atas sana bagaikan seorang malikat bersayap," tangisnya kecil dan terus menerus meneguk Alcohol itu agar segera membuatnya lupa akan semua rasa sakit hatinya.


++++++++


Sedangkan di sisi lain masih di kediaman keluarga Terrence.


Terlihat seorang wanita yang tengah duduk di pinggiran sebuah kolam renang yang besar di rumah itu, dia merasa dilema saat ini, dia ingin mengakhiri pernikahaanya bersama Morgan saat ini, namun hatinya seperti memberikan sebuah isyarat jika dia harus bersama dengan suaminya.


Dalam diam dia menatap ke arah langit yang begituh penuh dengan cahaya bintang yang bertaburan.


"Cuacanya cerah ya." Tegur seseorang dari belakang.


Sontak Briell terkejut dengan suara seseorang yang tiba-tiba saja menegurnya.


"Victor," serunya ketika melihat sosok yang baru saja tiba.


Victor tersenyum manis ke arah Briell, namun dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. "Kenapa kamu sendirian di sini ? Suami kamu mana?" Tanyanya basa basi, padahal dia sudah tau jika saat ini Morgan sedang tidak di rumah.


Bahkan dia tau jika tadi Morgan pergi dengan emosi yang memuncak, dan dia sangat yakin jika saat ini mereka tengah bertengkar.


Dan sungguh itu yang di inginkan oleh Victor selama ini, dia mau Morgan sehari saja tidak pulang agar dia mempunyai waktu lebih lama untuk menggoda istri dari adiknya ini.


Briell yang muak dengan manusia tak bemoral di hadapanya ini, sama sekali tidak ada niat untuk menjawab ataupun berbicara dengan pria HIV ini.


Dia mencap Victor sebagai pria HIV karna dia merasa jijik dengan seorang pria yang suka bergonta ganti pasangan setiap waktunya.


Namun itu termasuk sebuah keuntungan baginya hari ini, karna dengan sikap Victor sebagai penjahat Kela**in ini, dia dengan begitu mudahnya memperalat Novi tadi untuk menggoda Victor untuk menjalankan rencanya.


Dan bahkan kurang dari waktu satu jam, misi itu telah selesai di lakukan, yang menandakan jika dia sudah berhubungan intim dengan pria itu.


Liciknya Briell adalah, dia meminta Novi yang notabenya adalah penderita HIV langsung untuk mendekati dan berhubungan intim dengan Victor, dan sekarang tinggal tunggu bom waktu itu keluar maka pussss, semuanya selesai.


Sekarang tinggal Clarissa yang akan menerima lanjutanya, karna pasti saat ini Virus HIV itu sudah menular pada Victor dan akan di sebarluaskan pada Clarissa dan wanita jalang lainya sebagai bentuk balas dendamnya akibat otak bodohnya yang berani sekali menjebaknya ke dalam masalah yang sangat besar.


Tanpa berbicara Briell langsung melangkah untuk meninggalkan Victor begitu saja.


Namun Victor tidak membiarkan itu, dia menarik tangan Briell agar tidak pergi kemana-mana dan menemuaninya malam ini.


"Briell kamu mau kemana? Aku bahkan baru saja datang di sini," serunya sambil menahan tangan iparnya itu.


Briell yang sangat tidak suka jika orang lain yang tidak di kenalnya itu berani menyentuh tubuhnya meskipun hanya seujung kuku.


"Lepaskan tangan aku!" Ucapnya tegas dengan sebuah tatapan tajam yang membunuh.


Sontak Victor langsung melepaskan tangan Briell dengan sebuah senyum penuh arti.


Dan tak lama datanglah seorang pelayan yang mengantarkan sebuah minuman yang tadi di pesan oleh Briell.


"Nyonya ini minumanya," ucap pelayan itu dengan sopan menyodorkan sebuah nampah berisikan air itu pada Briell.


"Thanks bi," balasnya dan langsung mengambil minuman itu, dia benar-benar haus saat ini,dia baru sadar jika marah-marah itu ternyata juga butuh minum.


Dan di saat Briell meneguk minuman itu, Victor menatapnya dengan senyuman licik yang benar-benar memuakan.


"Ini bi," serunya menyerahkan kembali gelas kosong itu, dia meneguk semua mimuman itu tanpa sisa.


"Terima kasih nyonya, jika begitu saya permisi terlebih dahulu," jawab pelayan itu, lalu melangkah mengundurkan diri.


Victor menatap ke arah Briell dengan tatapan mesranya yang di iringi sebuah senyum kemenangan. " 3...2..1."" Hitunganya dalam hati dengan rencana jahatnya.


To be continue.


*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya gengs **🙏🏻😊*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra