Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 106



🌹 Happy Reading 🌹


Ke esokan harinya, Briell dan Albert langsung pergi berkonsultasi dengan dokter kandungan, untuk menanyakan keinganan mereka untuk pergi Babbymoon.


Dan setelah mendapakan izin dari dokter tadi, kini mereka berdua tengah menghadap orang tua mereka untuk meminta izin Babby moon.


"Pokoknya Daddy tidak mengizinkan kalian untuk pergi, titik. Gak ada koma, gak ada bantah, gak ada spasi, pokoknya titik," tegasnya dengan mutlak melarang anak-anaknya itu untuk pergi baby moon.


"Iya Papah setuju, kalian itu harusnya tinggal diam dirumah nikmati masa-masa kehamilan, bukan malah keluar kluyuran gak jelas gitu," sahut Arvan yang selalu sependapat dengan Mario.


Keduanya kini hanya bisa terdiam lesuh, mema dang ke arah Mamah dan Mommy yang berada di hadapan mereka.


Namun kedua wanita itu hanya bisa menjawab dengan gedikan bahu mereka singkat sebagai tanda jika mereka tidak mempunyai alasan untuk membantah oppa-oppa itu.


"Pah,Dad, ini bentar aja kok, paling lama empat hari deh janji, please ya," mohon Briell dengan menampilkan air matanya yang mulai menetes agar membuat kedua pria tua itu merasa iba dan memperbolehkan mereka.


Albert yang melihat istrinya sedang berakting saat ini, ikut menampilkan wajah memelasnya.


"Iya Pah,Dad, please lah kali ini aja sebelum Caby lahir, lagian kan kita berdua belum pernah honeymoon, yang ada kita berdua di rumah aja," ucapnya lagi namun kali ini membuat Arvan dan Mario saling berpandangan satu sama lain.


"Papah menyerahkan semuanya sama Daddy, bagaimana keputusanya." Jawab Arvan yanv malah menyerahkan semua keputusan pada Mario.


"Kok aku?" Elaknya tidak terima jika di suruh memutuskan ini semua sendiri.


Arvan hanya mengedikan bahunya singkat bahwa dia tidak ingin mengambil resiko melarang anak-anak pergi.


Mario menatap ke arah Albert dan Briell yang sedang memohon saat ini.


"Baiklah, kalian boleh pergi. Tapi dengan di dampingi beberapa dokter dan pengawal." ucapnya yang akan menjadikan baby moon ini pergi tamasya membawa banyak orang.


Sontak Albert dan Briell langsung tersenyum bahagia, "yeyy, terima kasih Dad," ucap mereka kegirangan.


Lalu beralih memeluk Mario dan yang lainya.


"Jaga kesehatan loh selama di sana, jangan capek-capek," seru Eden yang memberikan nasehat pada putrinya.


"Iya Mommy kamu benar, kalo lelah langsung istirahat saja ya jangan di paksa," sahut Jenni yang juga ikut memberikan wejangan pada menantunya.


Briell langsung menanggukan kepalanya singkat, "iya Mom, Mah, Briell akan menjaga Caby sebaik mungkin," janjinya dengan penuh keyakinan.


Kini beralih pada Albert yang mengikuti jejak istrinya berpamitan pada Eden dan Jenni.


"Ingat istrinya itu di perhatikan, jagain dia takutnya dia kelewatan batas," seru Eden lembut namun tegas.


"Iyah Mom,aman," sahutnya dengan santai dan beralih pada Mamahnya.


"Perhatiakan makanan istrinya ya, pokoknya harus di awasi jangan bermain terlalu lama di luar, oke," nasehat Jenni pada Albert.


"Siap,siap kalian semua jangan khawatir, Albert pasti akan menjaga istri Albert dengan sebaik mungkin." Ucapnya dengan penuh keyakinan, membuat para orang tua kini terlihat lega mendengaranya.


Dan setelah itu, mereka berdua langsung cepat melangkah ke kamar untuk bersiap-siap pergi.


Sedangkan Arvan langsung memanggil Robert untuk menyiapkan beberapa pengawal untuk anak-anaknya.


"Roobbeerrttt," teriaknya memanggil asistenya itu.


Tak lama kemudian, muncullah sosok Robert yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. "Saya di sini Lord," sahutnya dengan menundukan kepalanya hormat.


"Siapkan beberapa dokter terbaik dan pengawal untuk menemani perjalanan Albert dan Briell, pastikan mereka benar-benar bisa menjaga keamanan anak-anak ku," perintahnya dengan tegas kepada Robert yang langusng menundukan kepalanya.


"Baik Lord, segera akan saya siapkan." Balasnya dengan hormat, lalu dia melangkah pergi untuk memberikan privasi kepada dua pasangan itu.


Dia tidak tau mengapa hatinya gelisah, seperti ada sesuatu tapi entah apa.


Eden yang melihat Mario pergi ke kamar, kini langsung menyusulnya.


Eden melihat Mario yang sedang terduduk namun wajahnya sangat pucat. "Sayang, kamu kenapa ? Kamu sakit?" Tanya Eden yang begitu khawatir dengan kondisi Mario.


Dia mengusap lembut wajah suaminya yang kini nampak berbeda. Mario langsung mengambil tangan istrinya yang sedang mengusap lembut wajahnya lalu mengecupnya.


"Aku gak tau sayang, Briell baik-baik saja, Brina dan Brio juga sedang di kamar bermain game, tapi entah kenapa perasaanku ini rasanya gelisah sekali, dadaku rasanya sesak seperti kehilangan sesutu tapi entah apa, aku juga bingung." Lirihnya pelan memberitahukan pada istrinya apa yang dia rasakan saat ini.


Eden yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama, kini memilih tidak menjawab pertanyaan ucapan suaminya itu, dia memilih untuk membawa kepala Mario untuk bersandar di dadanya. "Banyak-banyak berdoa saja ya, semoga kita semua akan baik-baik saja." Balasnya tidak yakin dengan jawabanya.


Mereka juga tidak bisa memastikan apa yang membuat mereka begitu gelisah, namun mereka berusaha menepis itu semua, karna kenytaanya anak-anak mereka semua baik-baik saja.


Berbeda dengan Arvan dan Jenni yang saat ini terlihat lebih membaik.


"Apa kamu juga ingin Baby moon ?" Tanyanya dengan pelan dengan istrinya yang sudah lumayan melunak ini.


Jenni sudah memaafkan Arvan, namun dia masih menutup hati untuk suaminya itu, karna perinsip awalnya mereka kembali hanya demi anak, bukan demi cinta.


Membuat Arvan masih harus berjuang keras untuk mengembalikan rasa cinta yang sudah lama hilang itu.


Namun beruntungnya Jenni masih mau tidur sekamar denganya, tapi tidak mau terjadi apa-apa.


Seperti layaknya dulu, Hubungan pernikhaan dengan ikataan pertemenan tanpa Cinta.


"Kalo berlibur oke, tapi kalo kamu mau sekedar untuk bercinta, maka lebih baik jangan." Jawabnya lembut namun penuh penekanan.


Arvan terlihat menarik nafasnya dalam-dalam, "Jenni apakah begini rasa sakitnya di abaikan?" pertanyaanya bodoh yang membuat Jenni menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan itu.


"Jika kamu sudah merasakanya, itu bukan seberapa di banding yang aku rasakan."


"Aku mengabaikan mu, just mengabaikan bukan mencintai orang lain, sedangkan kamu mengabaikan dengan mencintai masa lalu, dan kamu gak akan mungkin merasakan itu karna aku tidak mempunyai cinta obsesi masa lalu." Balasnya yang membuat Arvan menelan salivanya kasar.


"Maaf, aku tau salah, tapi jangan di ungkit terus." Pinta Arvan yang sudah capek dengan segala sindiran-sindiran halus yang di berikan oleh Jenni.


"Baiklah, sekarang kita lupakan semua fokus pada anak-anak saja, jangan pernah menyakiti mereka dengan segala perdebatan kita ini, kamu mengerti." Ucap Jenni dengan pelan, lalu di jawab anggukan kepala oleh Arvan.


Dan sontak Arvan langsung memeluk erat tubuh yang selama ini selalu dia rindukan. "Terima kasih sudah memberikan ku kesempatan terakhir, aku tidak akan mengecewakan mu lagi, itu pasti." Janjinya dengan tulus dia ucapkan sebagai sumpah kehidupanya kini dan nanti.


To be continue.


Detik-detik Tamat gengs, jangan jadi pembaca gelap dong😭😭


*Sedekah ya sedekah **😭😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra


Coming soon ya teman-teman, akan mimin publish tanggal 31 ini.



Untuk kisah Aiden,Brio dan Brina nanti akan mimin publish satu-persatu ya, agar kalian gak bingung oke🥰🥰


Love you semua cinta-cinta Mimin.