Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 47



Happy Reading BESTie 😘


Di saat ini terlihat pria yang sedang terduduk di dalam ruang kerjanya. Pria yang sudah beberapa bulan ini merasakan kehampaan di dalam hidupnya serta Penyesalan yang tidak akan pernah ada ujungnya.


"Jadi, apakah kakak sudah mendapatkan kabar dari Jenni?" pertanyaan itu lagi dan lagi terdengar di telinganya. Pertanyaan yang seperti menyatakan bahwa dirinya tidak pernah berbuat apa pun untuk mencari keberadaan adiknya.


"Aku masih belum mendapatkan kabar apa pun David, bersabarlah jika kamu tidak bisa membantu ikut mencarinya." Jesper berucap dengan tegas, menatap ke arah David yang saat ini juga menatapnya dengan intens.


David yang mendapatkan kalimat seperti itu, kini memilih untuk melangkahkan kakinya pergi. Dia tidak mau sampai harus terpancing emosi karena ucapan Jesper yang sepertinya tidak ingin bertanggung jawab dengan permasalahan ini.


Ketika Jesper melihat langkah David yang kini kian menghilang, hanya bisa menghela nafasnya berat.


Dia sungguh sangat paham bagaimana kecewanya keluarga Enrique terhadapnya. Hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan untuk mereka semua, tetapi harus berubah menjadi kekecewaan dalam sekejap.


"Jenni, kamu di mana dek? Kakak sangat — sangat merindukanmu dan Lola, aku takut jika Lola akan mengandung anak Kakak dek, apakah kamu tidak bisa berpikir, bagaimana nasib anak kakak kalau kamu membawa ibunya jauh dari ayahnya. Lagian bagaimana bisa kamu hidup di luar sana sedangkan trauma yang kamu miliki masih terus saja menghantui." Jesper berucap dengan menghela nafasnya berat.


Sungguh dia sama sekali tidak menyangka jika adiknya Jenni yang hidup dengan kasih sayangnya, dengan rasa trauma yang sudah beberapa tahun ini dia derita. Tetapi dengan nekat dia mengambil langkah untuk kabur dari jangkauan Jesper.


****


Sedangkan di sisi lain, saat ini terlihat Jenni dan Arvan yang sedang duduk menikmati makan malam mereka. Namun di saat pertengahan, tiba — tiba saja Jenni merasakan jika perutnya bergejolak dan ingin mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.


"Jangan ditahan, aku tahu kamu sedang mabuk karena kamu hamil kan." Arvan langsung berucap secara to the point pada wanita yang masih saja ingin membohonginya ini.


Sejenak Jenni terdiam, dia lupa jika Arvan sudah mengetahui bahwa dirinya tengah hamil. "Tidak, aku tidak ingin muntah, mungkin saja aku merasakan sudah cukup makannya malam ini." Jenni berucap dengan datar. Dia tidak mau Arvan mengira bahwa kehamilan ini sangatlah menyusahkan.


Merasa suasana mulai semakin canggung, akhirnya Jenni mulai berpamit mundur dari Arvan. "Aku lelah, bisakah aku lebih dulu ke kamar? Tanya Jenni dengan gugup. Dan tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Jenni sudah lebih dulu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan pria yang sampai saat ini masih menatapnya dengan lekat.


"Beraninya wanita ini, tanpa ada kata maaf, tanpa pernah mengakui kesalahannya, dia pergi begitu saja," batin Arvan yang kini merasa bahwa sudah cukup dia memberikan hati kepada Jenni. Terlebih lagi, ketika dia mendengar niat hati Jenni yang ingin sekali kabur sekaligus menyembunyikan tentang kehamilannya, itu sudah sangat membuat harga diri pria itu sangat terinjak — injak dengan pernyataan istri kontraknya itu.


Di dalam kamar, Jenni yang sedari tadi sudah menahan rasa mual yang sangat bergejolak, kini dia langsung mengeluarkan semua isi perutnya. "huekk „ hueekk„ hueekkk," suara muntahan yang terdengar begitu mengerikan di telinga siapa pun. Bahkan Jenni langsung terduduk begitu saja karena tidak kuat lagi menahan rasa bergejolaknya.


"hiskk„ hiskk„ hiskk, aarrrgghhhh," teriak Jenni sekuat — kuatnya. Bahkan wajah dan semua tubuhnya sudah terlihat memerah bagaikan kepiting rebus. "aaaarrrgghhh, aaarrgghhhhh," teriakan Jenni untuk ke sekian kalinya. Terdengar sangat begitu menyayat hati.


"Tuhan, tolong ambil nyawa ini sekarang juga Tuhan, Jenni sudah benar — benar capek, Jenni sudah berkorban tentang semuanya, Hati, Pikiran bahkan tenaga Jenni semuanya sudah habisa terkuras Tuhan, hiskk„ hiskk." Tangisan yang begitu pilu, sangat terlihat dan terasa sekali jika saat ini wanita itu sangatlah lelah dengan semua ini.


Dari awal sudah begitu banyak yang dia korbankan sampai detik ini, bahkan setelah kematian Lola, sama sekali tidak ada etikad baik dari Arvan untuk menghargainya, atau sekedar berduka saja dengan kematian Lola, Jenni sama sekali tidak melihat itu dari wajah Arvan.


"Kevin!!" teriak Arvan tepat di depan pintu kamarnya, memanggil asisten pengganti Robert untuk saat ini.


"Siap Lord, saya di sini," sahut Kevin yang terlihat muncul di hadapan Arvan dengan begitu cepat seperti kilat, padahal Arvan sendiri tidak tahu dari mana asalnya Kevin bermuala.


"Cepat pindahkan semua barang — barang Queen Jenni dari kamar utama ini! Dan semua barang — barangnya pindah ke kamar paviliun!" Perintah Arvan yang membuat Kevin tercengang mendengarnya.


"Apa maksudnya pria ini? Kemarin dia baru saja menikahi Queen Jenni dengan suasana yang begitu Romantis, seakan — akan ingin memperlihatkan kepada kami bahwa dia sangat mencintai istrinya, tetapi sekarang? Kenapa dengan tega dia mengusir Queen Jenni tinggal di Paviliun belakang?" batin Kevin, yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Lordnya ini,


"l — iya Lord," Kevin sangat gugup saat ini, entah rasa pengabdiannya yang begitu besar, atau rasa kemanusiaannya terhadap Jennilah yang memanggilnya.


"Apa kamu mendengar apa perintahku tadi?!" seru Arvan dengan penuh penekanan.


"Siap saya mendengarnya Lord," balas Kevin dengan lugas.


Setelah mendengar jawaban dari Kevin, Arvan langsung menaikkan tangannya untuk memberikan kode kepada Kevin, agar segera mengerjakan tugasnya.


Kevin menatap kepergian Arvan yang kian lama kian menghilang dari pandangannya. Entah apa penyebabnya pria ini sampai harus mengusir istrinya sendiri yang jelas — jelas sedang mengandung anaknya ke paviliun belakang. Padahal dia jelas tahu, jika paviliun itu sangatlah sepi.


Walau bangunannya terlihat sangat mewah dan berkelas, tetapi tetap saja di sana sangatlah sepi, dan sadarkah Arvan, atau tidak ingatkah dia bahwa tempat itu adalah sebuah tempat yang tidak pernah di sentuh oleh siapa pun selain mendiang Queen Mira.


Entahlah mau seperti apa lagi, Kevin hanya bisa diam tanpa bisa berkomentar sama sekali, karena dia sadar diri siapa perannya di mansion itu. Terlebih jika dia sampai berani berkomentar, maka akan dipastikan jika besok Iidahnya sudah tidak ada di tempatnya.


Tokk„tokk, Kevin mengetuk pintu kamar utama, dan dengan berat hati, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, Kevin tetap saja harus melakukan hal ini.


Kevin sudah berulang kali mencoba untuk mengetuk pintu tersebut, namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.


"Quenn, Queen ini saya Kevin Queen Jenni," panggil Kevin lagi untuk kesekian kalinya. Dan lagi — lagi tidak ada jawaban dari dalam sana, bahkan tanda — tanda pintu akan dibuka saja juga tidak ada.


Dan karena suasana yang sangat mencurigakan, Kevin langsung menyalakan earphone blutooth yang tersambung di telinga semua pengawal ataupun pelayan di Mansion ini.


"Lapor — Lapor, semua Monitor yang ada, jika kalian melihat Lord di sekeliling kalian, panggil dia dengan hormat, dan beritahu kepada beliau, jika


Queen Jenni sejak tadi tidak mau membuka kamarnya, dan bahkan tidak ada suara apa pun di dalam sana!! Segera laporkan kepada beliau!!" perintah Kevin kepada semua pengawal ataupun pelayan yang melihat Arvan.


To Be Continue.


Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.


Kayanya cerita mimin yang ini sangat - sangat tidak menarik ya? Jadi kalian sama sekali gak mau komen.


Gak apa - apa deh, walaupun mimin jadi sedih.


Mimin tetap berterima Kasih banyak sama kalian semua.


Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini.


Mimin mencintai kalian semua.


Terima Kasih Banyak.