
😭 Happy Reading 😭
"Griffin sayang, tumbuhlah dengan baik Nak, jangan memilih-milih apa pun yang di berikan oleh pengasuhmu, Nak berhati-hatilah dalam menjalani hidup ini, jangan mudah percaya dengan orang baru dan ingat jangan mudah sembarang memilih teman ya Nak, lebih baik kamu memiliki teman sedikit di bandingkan banyak namun pengkhianat." ucap Albert dengan pesan terakhirnya.
"Hisskk,,hisskk, Griffin sayang Mamah tidak terlalu pintar dalam merangkai kata, tapi yang pasti belajarlah dengan giat Nak, kamu harus tau jika di dunia ini semua manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekuranganya masing-masing, jika nanti kamu tidak bisa melakukan suatu hal, maka jangan menyerah namun berusahalah agar kamu bisa melakukanya, Griffin selalu ingatlah untuk menghargai orang yang lebih tua Nak, dan oh iya, ini paling penting sayang, ini adalah tentang wanita. Mamah tidak begitu mengerti soal ini karna Mamah juga adalah seorang wanita, namun kamu harus tau jika di dunia ini terdiri dari pria dan wanita, dan suatu saat nanti wajar jika kamu akan jatuh cinta, namun jika itu terjadi, maka jatuh cintalah dengan wanita yang baik, dan jika bisa wanita itu bersifat seperti Mamah,hisskkk,,hissskkk,,hisskk," tangisnya tidak tahan lagi menahan haru atas semua ini.
"Eeenngghh," terdengar nafas Albert yang sudah semakin menjauh.
"Hisskk,,hiskk, Griffin sebenarnya begitu banyak yang ingin Mamah sampaikan sama kamu, tentang bagaimana indahnya impian Mamah hidup bahagia bersama dengan mu dan Papah, Griffin putraku, mulai sekarang kamu akan merasakan sakit dengan hidup keras penuh perjuangan, percayalah pada dirimu sendiri, dan teruslah Bermimpilah nak, dan percaya jika suatu saat mimpi itu akan menjadi nyata. Hissskkk,,hissskk Mamah rasanya ingin lebih lama lagi bersamamu Nak, hisskk,,hiskk Mamah mencintamu, Mamah mencintamu Nak," tangisnya yang sudah tidak terbendungkan lagi.
Albert sudah nyaris menutup matanya, begitu pula dengan Briell.
Buggghhh tubuh mereka berdua sudah benar-benar ambruk dengan nafas yang nyaris hilang.
Albert dan Briell memandang bayi yang kini sudah di gendong kembali oleh Letty dan mendekatkanya di tubuh Briell untuk menciumnya.
"Griffin, Papah mencintamu nak, cuuuppp," ucapan terakhir Albert sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Briell menatap Letty yang kini menangis histeris melihat tuanya sudah tidak ada saat ini. "Bi maafkan kami yang sudah menghabiskan waktuMu, tolong bawa dia pergi dan bersembunyi dari sini bi, dan ketika ada pesawat nanti baru kalian boleh keluar, aaarrrggghhhh,, Mamah mencintaimu Griffin Jonathan Manopo," ucapan akhirnya sebelum dia ikut menyusul Albert yang lebih dulu meninggalkanya.
"Hissskkk,,hissskkk Tuan,,nyonya, maafkan saya yang dari awal tidak mengatakan ramalan ini, hissskk, saya hanya begitu takut untuk menyampaikanya," tangis Letty yang begitu menyesal karna tidak memberitahunya dari awal.
Dia sudah melihat kematian ini sedari awal melihat mereka, namun dia juga tidak begitu menyangka jika hari ini akan begitu cepat terjadi.
"Aku harus segera menyelamatkan bayi ini," lirihnya pelan lalu bangkit dan ingin berlari.
Jleeeebbbbbbb, tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menusuknya dengan dalam.
"Aaarrrggghh,,Uhhhuukkk,,uhhhukkk," jeritanya menahan sakit di dadanya yang di tusuk.
"Hoeeekk,,hooeeekkk," tangis Griffin yang memberikan sinyal pada Mario untuk segera datang.
Mario yang mendengar suara tangisan bayi, langsung segera datang ke arah sumber suara, namun betapa terkejutnya dia melihat putri dan menantunya kini sudah tidak bernyawa.
"Tidakk,,ini tidak mungkinn, Briell anak ku, briell nak,nak, bangunnnn,,briell, hissskkk,,hisskk, Albertt,Albert,, tidakkk ini gak mungkin, Aaaaahhh hiskk, Briell ini Daddy sayang nak bangun jangan tinggalin Daddy Briell," tangisnya seperti orang gila yang kehilangan arah tujuan melihat kedua tubuh yang mati dalam satu pelukan.
Lalu Mario menatap ke arah Letty yang masih berusaha membuka matanya dan menunjuk sebuah arah yang tadi di lalu penjahat yang membawa Griffin. "Dimana cucuku? Dimana," teriaknya pada Letty yang terus menerus menunjuk arah itu.
"Aaaaarrrrrggghhhhhhhhhhhh," teriaknya yang tidak tahan menahan sakit melihat kematian anaknya sendiri di depan matanya.
Dan kemudian terdengar suara pesawat Arvan yang benar-benar datang terlambat.
Arvan yang mendengar suara teriakan Mario langsung berlari menghampirinya.
"Mario ada ap-" ucapnya terputus melihat jasad kedua anaknya yang saling berpelukan.
"Albertt Nak, bangunn ini Papah datang sayang, kamu pasti lagi ngerjain Papah kan Nak, kamu marah sama Papah karna datang terlambatkan, Albert nak, bangggguuuunnn," teriaknya tidak terima jika putranya mati begitu saja.
Lalu dia beralih pada Briell yang terlihat sangat menderita saat ini. "Briell bangun jelaskan pada Papah apa yang terjadi, di mana Cucu Papah, hisskk,,kenapa kalian gak ada yang bangun," teriaknya lagi mengguncang-guncang tubuh keduanya.
Arvan melihat ke arah Mario yang berlutut di depan jasad anak-anak mereka.
Lalu Arvan mendekatinya dan bersujud di kaki Mario. "Aku terlambat Mario, bunuh aku juga,aku terlambat,,hisskk,,hisskkk aku harus apa sekarang, Tuhhhaaannnn gantikan nyawaku dengan nyawa mereka," tangis Arvan yang menjerit bersujud di bawah kaki Mario.
Namun Mario tidak memperdulikanya dan mendekati tubuh putrinya lagi. "Briell sayang, kamu ingatkan Nak bagaimana pertama kali pertemuan kita, di saat tatapan mata itu memandang tajam ke arah Daddy, apakah bisa sekarang Daddy meminta tatapan itu lagi Nak? Apakah bisa sekarang Briell membuka mata dan menatap penuh benci ke arah Daddy, Briell ingatkan nak, saat pertama kali Briell memanggil ku dengan sebutan Daddy, apa sekarang Briell bisa mengulangnya kembali dan panggil Daddy Nak, panggil Daddy seperti di saat jika Brio adik kamu menarik rambutmu dengan kencang, kamu selalu teriak memanggil nama Daddy Briell, kenapa sekarang ketika seperti ini kamu tidak menanggil Daddy nak, Briell bangun sayang panggil Daddy dan sebut nama Daddy, Briell," Tangisnya yang sudah tidak tau lagi bagaimana caranya agar Briell kembali bangun dan memanggil dirinya.
Lalu dia mendekat ke arah Arvan yang terlihat menahan sakit sesak memeluk tubuh putranya. "Apa kamu tau Arvan, aku tidak pernah menduga jika kedua tanganku ini akan mengantar kepergian putriku, harusnya kedua tanganyalah yang mengantarku di hari tua nanti. Arvan tidak bisakah kamu menciptakan sebuah nyawa? Kamu bisa menciptakan apa pun di dunia itu robot itu semua, lalu apakah bisa kamu menciptkan nyawa? Hisskk Arvan jawab!" Bentaknya pada Arvan yang terus menenggelamkan kepalanya pada wajah putranya, menciumnya dan memandang wajah yang masih menyimpan seribu luka itu.
"Papah tau nak, kamu pasti mengkhawatirkan putramu, papah janji akan mendapatkanya kembali, Papah janji," tangisnya mengupkan janji yang dia yakini akan membawa cucunya itu kembali.
The end.
Guys masih ada extra chapter ya, jangan di Unfov dulu ya sayang-sayang semuanya, maafkan mimin yang harus membuat Sad Ending, karna Mimin sudah terlanjur membuat karya Griffin yang lebih seru nantinya.
Terima kasih semuanya yang sudah mengikuti jejak Mimin sampai chapter ini.
Jujur setiap komentar kalian pasti mimin baca dan menjadi ide buat di chapter selanjutnya, karna mimin bukanlah tipe penulis yang menggunakan Outline menulis di buku dan menyalinya di layar, namun mimin adalah penulis yang berpikir sambil mengetik naskah, jadi ketika mimin membaca komentar kalian dan menarik itu akan membuat mimin berpikir lagi untuk menulis ide kalian.
Jadi secara tidak langsung ketika sebuah karya mimin terlahir itu tidak murni ide mimin, namun hasil dari komentar kalian lah yang membuat ide itu muncul.
Dan itulah yang membuat mimin sangat mencintai kalian semua, terima kasih All, kalian semua lah yang terbaik 🥰🥰🙏🏻🙏🏻🙏🏻❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️