
Happy Reading 😘
Sudah dua jam lamanya Jesper tidur di dalam ?kamar milik adiknya, entah kenapa dia merasa begitu sangat nyaman ketika tidur dengan menghirup aroma permen karet yang menjadi khas dari adik kecilnya itu.
Seperti terobsesi dengan marshmallow, semua barang — barang milik Jenni memang lembut seperti kapas.
"Nona, makan malam telah siap," ujar Lola, mengingatkan majikannya itu, jika jam makan malam telah tiba.
"Baik Lola, sebentar lagi aku dan Kak Jesper akan turun," sahut Jenni, sembari melihat ke arah kakaknya yang masih saja tidur.
"Kakak, bangunn, aku udah lapar nih," ucap Jenni, lalu menggoyang — goyangkan tubuh kakaknya agar segera terbangun dari mimpi indahnya.
Namun, bukannya terbangun, Jesper malah memperbaiki posisinya dan kembali tidur dengan nyenyak.
"Kakak, ayo kita turun ke bawah! Aku itu lapar banget tahu," ucapnya lagi, sedikit meninggikan suaranya. Dan kali ini barulah Jesper mulai membuka matanya dengan perlahan.
"Iya — iya dek, kakak bangun," lirih Jesper dengan pelan. Pasalanya dia begitu menghafal sifat adiknya ini.
Jika dirinya tidak terbangun, maka akan dipastikan jika Jenni tidak akan memakan makan malamnya.
Begitulah Jenni di setiap harinya, dia ganya mengerti keadaan jika di siang hari, karena adanya Lola yang akan menemaninya makan.
Namun jika di pagi hari dan malam hari Jesper tidak bisa menemaninya, maka Jenni akan memilih tidak akan makan sama sekali.
Saat ini Jenni terlihat sudah duduk di meja makan, dia sudah sangat bosan menunggu kakaknya yang tadi memilih untuk mandi terlebih dahulu.
"Lola, kamu pikir berapa lama lagi kakak aku itu akan turun?" tanya Jenni pada sahabatnya yang terlihat berdiri dibelakangnya.
Lola hanya diam saja, sambil menampilkan senyum manisnya, karena pertanyaan itu sudah lima belas kali Jenni tanyakan kepadanya.
"Mungkin sebentar lagi tuan Jesper akan turun Nona," jawab Lola untuk kesekian kalinya. Jenni hanya mengedusnya nafasnya kesal, "terlalu menyebalkan," ucapnya dengan pelan.
Lola hanya bisa sabar mendengar umpatan demi umpatan yang dikeluarkan oleh Jenni.
Sampai saat Jesper terlihat turun dari kamar atas. "Ahhh akhirnya sang yang mulia turun juga dari kamarnya," singgung Jenni dengan pelan.
Jesper hanya tersenyum dengan menampilkan wajah tidak bersalah, mendengar singgungan adiknya yang pasti kesal karenannya.
"Maaf — maaf dek, namanya juga kakak mandi," ucap Jesper, berusaha membela dirinya.
Jenni hanya diam sembari mulai mempersiapkan makanan untuk kakaknya.
Jika saja tidak ada yang mengetahuinya, pasti orang lain akan mengira jika mereka adalah sepasang suami istri. Keharmonisan keduanya, membuat orang lain melihatnya pasti merasakan iri.
"Kakak, apakah kakak sudah memiliki wanita yang kakak cintai?" tanya Jenni tiba — tiba, membuat Lola yang sedari tadi ada dibelakang mereka merasa malu sendiri.
Jesper terdiam sejenak, namun dengan cepat dia mengatur perasaanya, "enggak ada," jawabnya dengan cepat.
"Tidak ada, atau belum ada?" tanya Jenni lagi, meyakinkan jawaban dari kakaknya. "Belum ada," jawab Jesper lagi.
"Kenapa?" Tanya Jenni.
Jesper mengehal nafasnya berat, lalu meletakan peralatan makannya, menghentinkan sejenak kegiatan makannya.
"Bagaimana mau ada? Jika setiap kali aku melakukan kecan, kamu selalu saja ingin ikut," jawab Jesper dengan sedikit melirik tajam kepada adiknya.
Benar — benar sangat menyebalkan bukan, di saat dia sudah mendaftarkan dirinya untuk mengikuti sebuah kencan buta dengan anak teman — teman pengusahanya, adiknya itu pasti saja mengetahuinya.
Sehingga begitu mudahnya adiknya itu datang dan memaksa untuk gabung bersama dengan mereka dan menghancurkan dinner romantis yang telah mereka buat, hingga akhirnya rencana itu gagal lagi dan membuat Jesper tetap menjomblo seperti sedia kala.
Jenni hanya menyengir ketika mendengar jawaban dari kakanya, "slow dong kakak, kan aku hanya ingin melihat wanita yang akan menjadi pasangan dari kakak aku tercinta ini, jangan sampai kakak aku jatuh ke dalam tangan wanita salah yang seperti nenek lampir," balas Jenni, memperjelaskan niatnya pada kakaknya itu. "Lalu menurutmu siapa wanita yang terbaik untuk kakak?" tanya Jesper pada Jenni.
Kini giliran pria itu yang bertanya kepada adiknya.
"Siapa?" tanya Jesper pada pelayan itu. "Dari post scurity di depan Tuan," jawab pelayan tersebut.
Jesper menatap Jenni sejenak, "apakah kamu ada order barang — barang lagi?" tanya Jesper pada Jenni.
Sebab, adiknya itu memang tidak di — izinkan olehnya untuk keluar dari Mansion, dia benar — benar menjadiakan adik kecilnya itu seperti putri rapunzel.
Karena dia hanya memiliki Jenni sebagai satu — satunya harta yang dia miliki, dia sama sekali tidak mau jika adiknya itu terluka ataupun sampai kenapa — kenapa di luar sana.
Itulah sebabnya, kenapa Jesper membiarkan saja adiknya mengorder apapun barang keinginannya, karena ketika Jesper mengajak adiknya itu untuk keluar, maka Jenni pasti akan menggunakannya.
"Tidak," jawab Jenni dengan cepat.
"Lagian, kalaupun aku mengorder barang dari luar, pastinya itu datangnya Siang kakak, bukan malam — malam seperti ini," sambungnya lagi.
Dan sejenak Jesper menganggukan kepalanya pelan, karena memang benar yang dikatakan oleh Jenni.
"Berikan padaku bi," pinta Jesper, yang langsung mengambil alih telpon tersebut. "Ya," jawab Jesper, ketika dirinya sudah meletakan telpon itu ditelinganya.
"Keluarga besar Enrique?" gumam Jesper bingung, sembari menatap adiknya yang tetap saja melanjutakan makannya. Karena dia merasa tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kakaknya itu.
"Persilahkan mereka masuk," sambung Jesper lagi.
Namun kali ini Jennilah yang menatap kakaknya bingung, karena seumur hidup mereka, kakaknya itu tidak pernah meminta ataupun mengizinkan orang lain untuk masuk ke dalam Mansion mereka.
"Kakak," lirih Jenni dengan pelan. Jesper melirik singkat ke arah Lola, "bawa Jenni masuk ke dalam kamarnya," pinta Jesper kepada Lola.
Dia sangat tidak ingin, jika adiknya itu bertemu dengan orang lain, selama ini Jenni memang sengaja disembunyikan oleh Jesper, karena tidak ingin ada lawan bisnis yang mengincar adiknya.
Jesper sendiri tidak mengerti kenapa keluarga besar ini sampai datang ke Mansionnya secara tiba — tiba seperti ini.
Memang tidak ada catatan jelek untuk keluarga itu, sehingga Jesper juga tidak bisa mencurigai mereka sama sekali.
"Kakak, siapa mereka? Kenapa kakak mengizinkan mereka masuk?" tanya Jenni, seakan dirinya tidak terima dengan keputusan kakaknya yang menerima tamu di dalam Mansion.
"Jenni, kakak juga tidak tahu, kenapa mereka datang ke Sini secara tiba — tiba, tetapi keluarga kita masih memiliki etika yang baik, dengan tidak mengusir orang lain atau bahkan tidak menerima mereka untuk bertamu, apakah kamu mengerti?!" Jesper menjelaskan lagi kepada adiknya, agar tidak bersikap angkuh kepada orang lain.
Karena tidak ada salahnya bagi mereka menerima tamu ini, mungkin saja menang ada sesuatu yang penting, hingga keluarga mereka berani datang ke Mansion keluarga Emilio.
Mendengar penjelesaan kakaknya, Jenni hanya memasang wajah kesalnya, dia merasa sangat kesal, ketika waktu dirinta bersama dengan kakaknya harus diganggu dengan kedatangan orang lain.
Bagi Jenni, sudah cukup waktu kakaknya habis di kantor dengan orang — orang bisnis tersebut, tetapi ketika di rumah, waktu Jesper hanya milik Jenni, tetapi sekarang apa? Seperti kesepakataan yang telah di — ingkari, membuat Jenni erasa sangat tidak menyukainya.
"Jenni, ini hanya sebentar saja, kakak janji setelah ini kakak akan ke kamar kamu, oke,"
Jesper terus berusaha untuk membujuk adiknya.
Dengan wajah yang sangat ditekut, Jenni sudah tidak mempunyai pilihan Iain, selain mengizinkan kakaknya menemui tamu itu, "Oke Fine," jawabnya ketus, lalu memberikan kode kepada Lola agar segera mengikutinya.
Jesper hanya bisa menghela nafasnya berat, sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah adiknya yang sangat manja sekali.
Tetapi itu bukan masalah bagi Jesper, selama adiknya itu hanya merepotkannya dan manja kepadanya, itu sangatlah membuatnya merasa sangat bahagia, karena itu menandakan bahwa dirinya masih sangat berguna untuk adik satu — satunya yang dia miliki.
To Be Continue.
Hallo Teman - Teman, Jangan lupa ya untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Mimin, agar Mimin bisa lebih semangat lagi updatenya.
Dan jangan lupa ya untuk mampir ke karya Mimin yang Iainnya.
Terima Kasih.