
🌹 Happy Reading 🌹
Degggg
Semua yang ditakuti oleh Briell akhirnya terjadi, dan dia tidak akan pernah membiarkan semua ini semakin berlarit-larut.
Tidak boleh ada sebuah perasaan cinta di dalam hubungan mereka ini. Dari awal semuanya hanyalah sebuah kesalahan dan biarkan tetap menjadi kesalahan sampai akhirnya mereka berpisah nantinya.
Briell memanglah sosok wanita yang kejam dan aroghant, namun bukan berarti dia tidak memiliki hati dan jiwa untuk merasakan kesakitan orang lain.
Dingin dan kasar adalah sifat yang sedari kecil sudah lumrah melekat di dalam dirinya, dan itu juga hanyalah sebagai perlindungannya dari orang-orang di luar sana.
"Morgan, sepertinya kamu sudah salah dalam megartikan perasaan kamu itu," seru Briell menepis seluruh ungkapan cinta dari suaminya.
Sontak ucapan Briell itu membuat Morgan kini kembali menatap ke arah Istrinya. "Aku gak ngerti apa yang sedang kamu bicarakan," sahutnya bingung.
Briell tersenyum sinis dengan Morgan yang bodoh atau pura-pura bodoh dalam mengartikan kalimatnya barusan.
Dia kini beralih melangkahkan kakinya untuk duduk kembali di kursi kebesaraan milik suaminya, sambul menatap sosok yang masih setia berdiri dengan wajah nampak sangat dingin tanpa senyum indahnya seperti kemarin.
"Kamu bukan mencintaiku Morgan, tetapi kamu hanya obsesi dan kagum denganku yang memang sangat cantik ini," serunya masih sempat-sempatnya membanggakan dirinya dengan tujuan ingin mencairkan suasana yang terasa panas ini.
Sedangkan Morgan membalasnya dengan menggelengkan kepalanya lemah, "aku bukan orang bodoh Briell, apa kamu berpikir jika aku adalah manusia paling tak berakal jika tidak bisa membedakan mana cinta dan yang mana obsesi," balasanya dengan nada tegas namun tenang.
Dia sangat tau bagaimana sifat istrinya yang paling tidak suka di paksa melakukan hal yang tidak dia inginkan. Seminggu hidup bersama Briell membuatnya tau jika rasa egois di dalam diri istrinya itulah yang paling mendominasi.
Setelah mengatakan itu Morgan kembali menatap pandangan luar gedung, namun tatapanya terasa kosong entah kemana.
"Briell bolehkah aku memberitahukanmu satu rahasia," ucapnya tiba-tiba.
Briell menyeritkan keningnya bingung, "apa itu?" Tanyanya dengan cepat, karna jiwa penasaraanya yang begitu tinggi saat ini.
"That is not possible, aku tau kamu begitu mencintai Dedemit belanda itu kemarin." Kesalnya menanggap suaminya itu terlalu drama.
Morgan mengerti bahwa kejujuranya kali ini pasti akan sangat di ragukan bahkan mungkin tidak akan pernah ada yang percaya, namun inilah kebenaranya. Morgan tidak pernah mencintai sosok Clarissa si pengkhianat cinta.
"Aku tidak pernah mencinta dia, yang aku rasakan denganya hanyalah sebuah rasa kagum dan rasa takut kehilangan." ucapnya jujur dan tulus dari hati.
"Dulu sewaktu aku selalu merasa kesepian karna selalu di asingkan dan di kucilkan di keluargaku, dia datang membawa sebuah kenyamanaan dan menawarkanku sebuah hubungan pertemanan, dia selau ada untuk ku dan membantuku untuk keluar dari jurang kehampaan. Dia adalah sosok wanita yang sempurna,dia dengan segala kelembutan hatinya terus meyakinkan aku jika dia mencintaiku dengan tulus dan akan selalu bersamaku sampai kapan pun itu," lirihnya dengan suaranya yang terdengar sangat parau.
Briell masih dengan setia mendengarkan seluruh isi hati dari suaminya itu dengan mencoba menetralkan rasa ibanya agar tidak masuk ke dalam jurang berbahaya.
"Harusnya bukan aku yang malam itu masuk ke kamarmu Morgan, dan seharusnya bukan aku wanita yang kamu cintai, aku yakin suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan pendamping yang sangat pantas untuk pria yang tulus seperti kamu, namun itu bukan aku." ucapnya dalam hati bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
"Di saat dia mengungkapkan rasa cintanya itu, aku menerimanya dan mencoba untuk belajar mencintanya. Namun selama dua tahun aku mencoba tetap saja rasa itu tidak bisa tumbuh, aku tidak tau mengapa tidak bisa mencintainya." tandasnya dengan menutup matanya karna dia sedikit merasa pusing dengan semua masalah yang ada.
"Jika kamu tidak mencintainya, lalu mengapa kamu ingin menikahnya," cerca Briell dengan Morgan yang bodoh.
"Aku hanya tidak mau menjadi seorang pria yang brengsek dengan tidak menghargainya yang sudah lama menemaniku dan banyak membantuku, aku bukanlah seorang pria yang tidak tau caranya membalas budi kebaikan seseorang." balasnya dengan tegas.
Dan tiba-tiba, entah datang dari mana atau mengapa bisa, intinya saat ini Briell sedang memeluk tubuh Morgan dari belakang dan mendekapnya dengan sangat erat.
Morgan yang mendapatkan pelukan tiba-tiba itu sontak terkejut dengan apa yang di lakukan istrinya itu saat ini. "Briell," tegurnya lembut mengingatkan Briell agar tidak bersikap seperti ini kepadanya.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya gengs **🙏🏻😊*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra