
🌹 Happy Reading Bestie 😘
Flashback on
Arvan yang saat ini terlihat sangat bahagia, karena setelah perjalanan bisnis beberapa bulan ini, hari ini dia bisa kembali untuk melihat istri dan anaknya yang masih Di dalam kandungan.
Dia sudah begitu sangat antusias sekali melihat anaknya yang sudah begitu lama dia nantikan, akhirnya dalam waktu beberapa bulan lagi dia akan lahir dan akan hadir di tengah – tengah menjadi pelengkap kebahagiannya.
“Lord, ada yang ingin bertemu dengan Anda,” ucap Kevin pada Arvan, ketika pria itu baru saja menginjakkan kakinya di Mansion pribadinya.
Arvan menatap Kevin dengan tajam, dirinya merasa begitu kesal ketika jalannya kini dihalangi oleh Kevin.
“Lord, tetapi ini tentang bayi yang sedang di kandung oleh Queen Jenni,” sambung Kevin lagi dengan pelan.
Dia tahu, bahwa Arvan saat ini tidak bisa diganggu sama sekali, Namun, Kevin merasa bahwa hal ini sangat penting, sehingga ketika dirinya tidak memberitahu sekarang, maka itu akan menjadi masalah di kemudian hari.
Mendengar bahwa jika ini menyangkut dengan keadaan anaknya. Maka Arvan mau mengikuti Kevin untuk menemui orang itu.
“Lord, dia adalah dokter yang selama ini menangani kehamilan dari Queen Jenni,” ucap Kevin, menunjuk ke arah seorang dokter wanita yang kini tengah berlutut di lantai.
“Katakan, ada apa kamu ingin bertemu denganku?! Karena aku tidak mempunyai banyak waktu jika harus berbicara hal – hal yang tidak penting!” serkas Arvan tidak ingin bertele – tele.
Dokter wanita itu terlihat bergetar menunjukkan semua surat hasil pemeriksaan milik Jenni.
“Lord sendiri yang memberikan perintah kepada saya untuk melakukan pemeriksaan kepada istri dan bayi Anda Lord, dan saya juga seluruh rangkaian kesehatan yang ada hingga saya menemukan sebuah kejanggalan dan langsung melakukaan tes Dna pada kandungan Queen Jenni Lord, dan hasilnya –“ dokter wanita itu berhenti sejenak untuk menjelaskan, karena Arvan sudah lebih dulu membacanya dan bahkan saat ini sang pria berkuasa itu sudah meremas kertas itu dengan begitu kuat.
Dengan gerakan cepat, Arvan langsung mencengkram kuat rahang dokter wanita itu, “Berani – beraninya kamu membuat laporan palsu untuk saya!” Arvan sama sekali tidak memandang, siapa yang sedang dia siksa saat ini, baginya, mau wanita ataupun pria, tetapi jika menyinggung bayi yang dia anggap sebagai keturuanannya, maka dia akan sangat – sangat murka.
“Arrgghh, ampun Lord, saya sama sekali tidak bermaksud mau membohongi Anda, tetapi inilah kenyataanya Lord. Sa – saya tidak mungkin berbohong kepada keluarga ini Lord, apa lagi orang tua saya turun temurun selalu melayani keluarga ini tanpa sedikitpun ada kesalahan.” Jawab dokter wanita itu, berusaha meyakinkan Arvan, bahwa apa yang dia katakan ini tidak salah.
Arvan sudah tidak bisa mencerna sama sekali apa yang dikatakan oleh wanita itu, karena yang ada di dalam pikiraanya saat ini hanyalah pertanyaan kenapa Jenni tega melakukan ini kepadanya? Dan kenapa Jenni tega membohonginya?
Flashback Off
“Dan kamu percaya itu!!” pekik Jenni tepat ketika Arvan berkata jujur tentang apa alasan dia begitu marah saat ini.
Jenni berusaha bangkit dan menatap wajah Arvan dengan tatapan yang begitu marah, tatapan kecewa, sakit hati semuanya melebur jadi satu dan terpancar dari kedua bola mata indah itu.
“Van, tidak ada sedikitpun untungnya buat aku mau bohong sama kamu, ini bayi kamu atau bukan itu sama sekali Tidak ada pengaruh buat aku, ketika kamu tidak mau mengakuinya, It’s Fine Van, it’s okey,”
“Tapi satu yang kamu ingat! Ketika kamu suatu saat telah sadar dengan apa yang kamu lakukan kepadaku ini, maka kamu akan menyesalinya, sangat – sangat menyesalinya, aku jamin itu.” Kalimat Jenni begitu yakin mengatakan bahwa Arvan akan menyesal setelah ini.
Namun, bukan Arvan namanya, ketika dirinya harus terima di ancam seperti itu oleh wanita yang satu – satunya dia harap untuk melahirkan anak – anaknya.
“Dengan kata lain, kamu mengakui bahwa ini bukan anak aku, Iya –“
“Bukan tidak mau mengakui, tetapi tidak perlu ada yang di akui, karena bayi ini adalah bayi aku dan kamu, dan terserah kalau kamu merasa aku membohongi kamu dengan mengandung bayi orang lain, terserah, karena Tuhan gak akan diam ketika melihat anaknya terus menerus di sakiti oleh orang seperti kamu.” Skak matt, Arvan langsung terdiam tanpa tahu harus mengeluarkan kalimat apa lagi.
Namun, Jenni bisa melihat betapa marahnya Arvan saat ini kepadanya.
Jlebbbb, “Arrrgghhh,” jerit Jenni, ketika Arvan menusukkan sebuah suntikan dipinggangnya.
“Apa yang kamu lakukkan Arvan?!!!!” teriak Jenni, sambil mencengkram kuat lengan suaminya itu.
“Sakit jiwa kamu Arvan, ini bayi kamu, bayi kita, tega kamu,” tubuh Jenni melemah, wajahnya makin pucat, akan tetapi Arvan malah memilih untuk meninggalkannya begitu saja.
“Besok aku ke sini, pokoknya bayi itu sudah tidak boleh ada di dalam rahim istriku!!” perintah Arvan entah kepada siapa.
Namun, yang Jenni tahu, ada beberapa orang yang saat ini sedang berjalan ke arah kamarnya.
“Tidak, ini bayiku, tidak akan aku biarkan siapapun mengambilnya dariku, tidak akan,” gumam Jenni, dan berusaha sekuat mungkin berdiri dan bersembunyi.
Beruntung, Pelayan Lia pernah mengatakan kode pintu di Pavillion ini yang langsung terarah dekat dengan stasiun kereta.
Jenni berdiri di belakang pintu, agar dia bisa diam – diam melangkah, ketika kedua orang itu membelakanginya.
“Arrrrggghhh, bertahanlah sayang, anak mamah, tolong mamah Nak, kita berjuang sama – sama untuk keluar dari sini ya Anak mamah,” ucap Jenni, sembari mengusap perutnya yang sudah siap untuk meledak, padahal usianya baru saja 24 minggu,” Jenni hanya bisa menangis, ketika dirinya sudah tidak kuat lagi menahan sakit.
“Berapa kodenya?” gumam Jenni, ketika dirinya sudah sampai di belakang.
“281766” tekannya pada pasword pintu.
Dan ya, pelayan Lia benar jika itu memanglah kodenya. Hingga dirinya langsung tersenyum karena bisa lepas dari tempat terlucknud itu.
Namun, di sinilah masalah yang sebenarnya, Jenni menatap pusing ke arah sekitarnya, begitu banyak manusia hingga dia merasa phobia itu kembali menyerangnya.
“Arrrrggghhhh,” jeritan Jenni, memancing perhatian dari orang – orang di stasiun itu.
Entah ini adalah teriakan minta tolong, atau teriakan agar orang – orang itu berhenti untuk berbicara di tempat umum, yang membuatnya sangat takut.
Dan karena rasa sakit yang sudah tidak bisa dibendung lagi, serta darah yang mulai keluar dari jalan lahir sana, Jenni menatap ke arah ibu – ibu yang sedang memegang ponsel,
“Bisakah kamu menghubungi kakakku, dan mengantarku di rumah sakit terdekat di sini? Please,” Jenni memohon, dengan tubuh yang sudah terduduk di hadapan wanita paruh baya yang juga sedang menatapnya bingung.
To Be Continue.
Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.
Mimin tetap berterima Kasih banyak sama kalian semua.
Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini.
Mimin mencintai kalian semua.
Terima Kasih Banyak.