
🌹 Happy Reading 🌹
Briell sama sekali tidak memperdulikan panggilan suaminya itu, dia malah semakin memeluk tubuh Morgan dengan erat, "please biarkan seperti ini sebentar saja ?" dia memohon agar Morgan mengizinkanya untuk mendekap tubuh itu lebih lama lagi.
Dan tanpa dia sadari jika seutas senyum mengembang di bibir Morgan, dia berpikir jika istrinya itu sedikit demi sedikit mulai belajar untuk menerima dan mencintanya seperti dirinya yang mencintai Briell.
Padahal fakta yang dia tidak ketahui jika Briell memeluk tubuhnya itu karna sedari tadi melihat semua gerakan dan cara Morgan berbicara semuanya benar-benar mirip dan mengingatkanya pada sosok pria yang sangat di cintainya, hingga Briell lepas kendali dan langsung memeluk tubuh yang di anggap Alson itu.
Bahkan dia tidak segan-segan menciumi pungungg Morgan dan terus menerus mendekapnya seakan tidak ingin melepaskanya.
Morgan yang merasakan desiran berbeda di jantungnya, dia langsung menarik tubuh Briell agar berbalik memeluk dari arah depan. "Briell Aku mencintaimu," lirihnya pelan namun begitu jelas terdengar di telinga Briell.
Sedangkan si nyonya seakan menikmati kehangatan dalam dekapan itu, sampai-sampai dia terlena dan lupa akan segalanya, "aku juga mencintai mu Alson,"
Deegggg
Mendengar istrinya menyebutkan nama pria lain dalam ungkapan cinta itu, membuat Morgan mengepalkan tanganya menahan seluruh emosi yang sudah siap meledak mengeluarkan lavanya.
Bahkan dia sampai dengan berani mendorong tubuh Briell agar terlepas dari tubuhnya. "Morgan apa sih kamu," bentak Briell yang tidak terima dengan perlakuan pria di depanya ini.
Namun dia bisa melihat dengan jelas wajah Morgan yang berubah kemerahan menahan sebuah amarah yang besar, bahkan tatapan matanya itu berubah menjadi tajam dan tak bersahabat sama sekali. "Morgan kamu kenapa ? Jawab aku!" sentaknya sekali lagi dengan suara yang sedikit meninggi.
Morgan yang sudah tidak mampu lagi menahan emosinya, kini langsung menarik tangan Briell paksa dan menyeret istrinya untuk keluar dari ruanganya saat ini juga.
"Lepasin tangan aku!! Morgan kamu itu kenapa ha?" tanyanya sekali lagi benar-benar tidak menyadari jika dia sudah berbuat kesalahan yang sangat fatal saat ini.
Namun Morgan memilih menulikan pendengarannya, dia benar-benar merasakan sakit yang teramat di saat mendengar wanita yang di cintainya bahkan terlebih itu istrinya sendiri mengungkapkan rasa cinta namun bukan untuknya melainkan menyebutkan nama pria lain yang tidak dia ketahui siapa.
Setelah dia membuka pintu, dia langsung mendorong tubuh Briell keluar lalu menutup pintu itu dengan kasar, dia tau jika ini salah.
Namun dia benar-benar ingin marah saat ini, kecewa,marah,sakit hati bahkan dia rasanya ingin menangis saat ini. Dia benar-benar bingung bagaimana mengekspresikan kekecewaan luka goresan di hatinya.
Terlihat berlebihan dan dramatis memang, tapi ini lah Morgan, dia adalah sosok yang dari kecil selalu di patahkan harapan dan hatinya, inilah Morgan yang selalu bersikap dingin di luar agar bisa menutupi luka di hatinya, ini lah Morgan yang paling membenci orang asing karna ketika dia melihat orang asing, maka itu seperti mencerminkan dirinya bahwa dia jugalah orang asing di keluarganya.
"Aaaaaaaarrrgggghhhh, kenapa sakit Tuhan, kenapa kamu mematahkan harapanku lagi dan lagi seperti ini, aku hanya ingin di cintai, apa itu salah ? Apa seluruh rasa cinta dan kasih sayang itu memang haram untuk ku?" ucapnya frustasi dengan menjambak rambutnya sendiri.
Dia begitu lelah dengan roda kehidupan yang tidak pernah mengarah kepadanya, dia selalu kecewa,kecewa dan kecewa, seperti kalimat itulah yang hanya ada di kamus kehidupanya.
Dia menangis bukan karna dia lemah, dia lembut bukan karna dia tidak berani, hanya saja dia tidak ingin orang lain tau bagaimana rasa depresinya seorang pria yang dingin tak tersentuh.
Sementara dia meluapkan rasa sakit dan kecewanya seorang diri.
Di luar ruangan Briell masih terdiam menatap pintu yang tadi di tutup dengan kasar itu, dia masih bingung dengan sikap kasar Morgan yang tiba-tiba saja mengusirnya.
Dia berdiri dengan melamun sampai-sampai dia tidak menyadari jika masih ada Vincent dan Novi yang masih setia menunggunya sedari tadi.
Sedangkan Martin dan James terlihat sudah menghilangkan diri kembali ke habitatnya.
"Nyonya," seru Vincent yang melihat Briell dengan tatapan tajamnya seperti biasa.
Dia mengalihkan tatapanya pada Novi yang sedari tadi mungkin sudah bosan menunggunya itu.
"Novi, tetap jalankan apa yang aku suruhkan," perintahnya pada Novi agar tetap menjalankam misinya untuk menjadikan Novi sebagai jalang untuk Victor, agar mudah baginya mendapatkan segala informasi dari pria itu.
"Nyonya, sebaikanya batalakan niat Anda yang terlalu ingin ikut campir dalam urusan keluarga Terrence, saya yakin jika Suami Anda juga pasti tidak akan suka dengan cara seperti ini," ucapnya memberikan sebuah peringatan untuk Briell agar tidak semenah-menah dalam melangkah terlalu jauh.
Namun peringatan itu sama sekali tidak di gubris oleh Briell, bahkan dia tidak sedikitpun menoleh pada Vincent yang sedari tadi berdiri di sebelahnya.
"Pergi!! Dan kerjakan semua perintahku dengan baik!" Titahnya pada Novi untuk segera menjalankan perintah yang dia suruh.
"Nyonya, sebaiknya Anda berhentikan semua ini sebelum-" ucap Vincent terhenti di saat mendapatkan tatapan membunuh dari Briell.
"Aku tidak ada urusan dengan kamu! Jadi lebih baik kamu diam! Dan bekerja dengan baik!" tegasnya pada Vincent yang sama sekali tidak pantas untuk mengatur atau mengahalau rencana yang dia buat.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya gengs **🙏🏻😊*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra