Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 16



Setelah melakukan kegiataan panas mereka tadi, kini Arvan dan Jenni terlihat tengah mengeringkan rambut mereka bersamaan.


Karena tadi Arvan merasa tidak tega dengan keadaan istrinya Yang lemas setelah melayaninya, iłu membuat Arvan berinisiatif untuk menggendong Jenni dan membawanya untuk mandi bersama.


"Van, aku lapar," keluh Jenni pada Arvan, sembari memegangi perutnya Yang sedari tadi sudah berbunyi.


Arvan melirik ke arah jam dinding, dan melihat bahwa ini sudah terlalu larut untuk meminta para pelayan untuk memasak.


"Bagaimana kalau aku saja Yang masak untuk kamu?" tanya Arvan dengan senyum Yang mengembang di wajahnya.


Jenni membulatkan matanya seketika, antara ragu dan tidak percaya dengan apa Yang dikatakan oleh suaminya.


"Aku tahu kamu tidak menyukaiku, tetapi bukan begini caranya kamu untuk membunuhku," jawab Jenni dengan suaranya Yang terdengar sangat sedih.


"Memangnya siapa Yang mau membunuhmu?" Arvan menyeritkan keningnya bingung dengan kalimat Yang dilontarkan oleh istrinya.


"Ahhh iłu, kamu pasti mau masak buat aku pasti kamu mau taruh racunkan," Jenni menuduh Arvan tanpa alasan Yang jelas. Membuat pria iłu rasanya ingin sekali menjitak kepala istrinya ini.


"Iya, aku mau kasih kamu racun, mau gak? Aku ada beli racun sianida," bukannya marah, Arvan malah menggoda Jenni agar terlihat semakin kesal.


Dengan menyeritkan matanya łajam, Jenni malah memancing haaassrat dari Arvan kini kembali muncul. "Nah kan, kamu jangan seperti iłu kalau tidak ingin aku makan lagi," Arvan terus Saja menggoda istrinya Yang saat ini telah menjadi hiburan baru untuknya.


"Sudahlah, biar aku masak sendiri aja, lagian kamu kenapa juga mempekerjakaan pelayan sampai jam segini aja," ketus Jenni, dia melangkahkan kakinya berjalan keluar, karena merasa tidak suka dengan cara Arvan seperti iłu.


Pasalnya selama ini di Mansion miliknya pelayan akan selesai bekerja dan beristirahat di saat dirinya dan kakaknya sudah tertidur.


Tetapi Arvan, Yang merupakan seorang Master Lord, malah membiarkan semua pelayannya tidur di Jam 10.


Arvan menggelengkan kepalanya pusing melihat istrinya Yang selalu saja mengeluh tentang kerja dari pelayannya.


"Kamu mau masak apa?" tanya Arvan ketika dirinya telah sampai di dapur dan melihat Jenni Yang masih melihat lihat semua barang masakan.


Dia bukan tidak tahu, bahwa istrinya ini iłu sama sekali tidak bisa memasak, bahkan Arvan sangat tahu jika Jenni Saja tidak bisa membedakan mana garam dan mana gula.


"Jangan brisik deh, aku lagi konsentrasi ini," Jenni meletakan jari tanganya di bibir Arvan, agar suaminya iłu bisa diam dan tidak menggangunya.


"Sudahlah lebih baik aku order Saja, dari pada malam ini harus hipertensi ketika diberikan makan garanm," batin Arvan, lalu segera mengeluarkan ponselnya, sambil terus memantau pergerakan istrinya, Yang sedang memasak dan memasukan garam hingga 5 sendok. Membuat Arvan hanya bisa mengehela nafasanya kasar.


"Iłu garam, bukan gula, juga dikurangin, kamu mau mati bunuh diri sendiri?" Tegur Arvan pada Jenni, namun Yang ditegur hanya menyipitkan matanya łajam.


"Aku yang masak, jadi suka - suka aku mau berbuat apa," ketusnya, membuat Arvan langsung terdiam tanpa ingin berkata apapun lagi.


"Aahhh, terserahnyalah, ntar kalau keasinan dia juga yang rasa bukan aku," gumam Arvan, memilih menyerah dan tidak ingin menganggu kegiatan Jenni lagi.


Di saat Arvan sudah mulai mengabaikan kegiataan istrinya, kini terdengar suara jeritan Jenni yang tidak henti - hentinya terdengar hingga nyaris membuat gendang telinga milik Arvan nyaris pecah.


"Apasih Jen? Kamu itu tidak mau dibantuin, tapi teriak terus," sahut Arvan, yang terlihat sedang duduk di meja makan, dan cukup sedikit jauh dari posisi Jenni saat ini.


"Ituu," tunjuk Jenni pada hasil masakannya.


"Apa?" Arvan benar - benar sudah merasa kehabisan kesabaraan menghadapi istrinya ini.


"Telurnya kenapa gak sama kaya biasa aku makan?" tanya Jenni bingung. Pasalanya jika bisa dia memakan telur bewarna putih, maka telur ini tidak menampilkan warna sama sekali, atau masih terlihat warna cream.


Dengan pasrah Arvan bangkit dari posisinya dan melihat hasil masakaan istrinya yang tadi mengakui tidak ingin diganggu.


"Asataga Jennifer," pekik Arvan sudah terdengar sangat luar biasa, ketika melihat makanan yang tidak biasa.


Bahkan sangking nyaringnya, Jenni sampai menutup telinga karena tidak kuat mendengar suara suaminya yang bagaikan guntur Itu.


Arvan menggelengkan kepalanya pusing lalu dengan cepat mematikan kompor yang masih menyala, dan siap membakar habis dapur ini jika Jenni tidak cepat dijauhkan dari dalam sana.


"Loh, kok kamu matikan, aku belum selesai masak," protes Jenni, namun tidak diperdulikan sama sekali oleh Arvan.


"Jenni, sudah stop!" Kali ini Arvan bertindak tegas, agar istrinya itu tidak bisa se - enaknya dengan dirinya lagi


Jenni terdiam dan tidak berani lagi untuk protes kepada Arvan, bahkan dia langsung duduk tak berkutik, ketika mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.


Arvan mencoba untuk mengatur nafasnya, sembari terus menatap Jenni dengan lekat. "Coba kamu ambil itu tadi masakan yang ada di dalam! aku mau lihat kamu memakan masakan kamu sendirl," Jenni menelan salivanya kasar, karena dia sendlri tidak yakln dengan apa yang dia masak tadi,


"Tapi aku rasa aku sudah benar kok masaknya, menurut feeling aku begitu," balasnya masih ingln membela diri.


Karena merasa tidak akan pernah habis berdebat dengan istrinya.


Arvan memilih untuk masuk ke dalam dan mengambil sebuah mangkok kecil dan satu buah telur, lalu membawanya tepat dihadapan Jenni.


"Kamu lihat ya!"


"Ini telur," ucapnya pada Jenni, sambil menunjukan satu butir telor di tanganya.


Tok ,tok, prakkk, Arvan mengetuk sedikit telur itu lalu memecahkaanya ke dalam mangkok.


"ini kulit telur! ini isinya," ucap Arvan memperlihatkan kedua tanganya yang memegang kulit dengan telur yang baru saja dia pecahkan.


Jenni yang sepertinya tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal, kini memilih untuk diam, dan pura - pura menatap ke arah lain.


"Jenni, apakah kulit telur İni bisa dimakan? Atau kamu memang tidak tahu bagaimana cara memecahkan telur?" tanya Arvan mulai mengintimidasi istrinya.


"Lord, apakah benar Anda yang memesan İni tadi?" tanya mereka dengan sangat berhatİ - hati.


Karena ketika di saat dia maşuk saja, aura dingin darİ Lord mereka saja sudah terasa, dia takut, jika sekarang Lord Arvan tidak bisa memaki istrinya, maka amarah İtü akan dilampiaskan oleh seluruh anak buahnya,


Arvan menganggukan kepalanya pelan, menjawab pertanyaan darİ anak buahnya.


Lalu dengan sopan pengawal itu langsung beralih ke dapur unluk meletakaan makanan tersebut.


"Kamu, panggil beberapa koki dan pelayan yang ada! Aku mau mereka menyiapkan makanan itu untuk saya dan istri saya, dan jangan lupa untuk membersihkan kekacauan yang Quuen kalian buat, apa kamu mengerti?!"


"Baİk Lord," jawabnya sambil menundukan kepalanya hormat. Lalu Arvan mengangkat tanganya untukmemberikan kode kepada pengawal İtu, unluk segera pergi dari sana.


Dengan nafas yang berat, Arvan kembali fokus untuk mengajarkan istrinya cara untuk menghormati suami. "Jenni, aku tidak masalah jika kamu memang ingin belajar masak untuk akü, tapi kamu tahu dengan kondisi kamu, yang bahkan tidak pernah tahu bedanya gula dan garam."


"Kamu harus paham terlebih dahulu, sebelum kamu benar - benar terjun di dalamnya."


"Dan yang paling penting, ketika aku mengatakan jangan, itu berarti jangan! Apa kamu mengerti Jenni?!" Arvan sudah seberusaha mungkin menurunkan harga dirinya yang merupakan seorang Lord yang tegas, kini berubah menjadi lemah dihadapan istrinya.


"Kamu tahu, dulu Mira tidak pernah melakukan ini kepadaku, dia selalu menuruti dan selalu tunduk akan semua peraturan yang aku buat, gak seperti kamu yang şelalu menyusahkan," kalimat yang sama sekali tidak sengaja dia keluarkan itu, sontak membuat Jenni yang sedari tadi bersikap cuek, kini berubah menatap Arvan dengan air mata yang mulai luruh kembali jaluh membasam pipinya.


"Karena aku bukan Mira! Aku punya hati, aku punya perasaan, dan aku punya keinginan, Gak seperti kekasih yang kamu cintai itu yang kamu bilang selalu nurut sama kamu, persis kaya boneka."


"Tapi sekarang caba kamu lihat, boneka kesayangan kamu, boneka yang satu - satunya kamu cintai, sekarang mana?


Rusakkan? Gimana perasaan kamu?"


Jenni kembali meluapkan emosinya, dia sudah sangat tidak tahan ketika apa pun yang dia lakukan selalu saja di samgkut pautkan oleh Mira.


Braaakkkkk, Arvan yang tidak terima dengan kalimat Jenni, langsung menggebrak meja dengan sangat keras.


"Kamu yang sopan ya Jenni! Jaga cara bicara kamu terhadapku, jangan pernah kamu menjelekan tentang sifatku! Aku ini masih suami kamu!" Sentaknya, dengan nafas yang memburu dan nyaris memukul Jenni.


Karena sudah tidak sanggup melihat kemarahan Arvan yang lebih membela Mira dari pada dirinya, Jenni memilih untuk pergi dari meja makan itu.


Dia tidak menyangka sama sekali jika respon Arvan akan semarah itu dengannya, padahal dirinya hanya mencoba untuk masak, agar bisa menjadi istri yang baik, Namun lagi - lagi Arvan hanya ingin membandingkan dirinya dengan mendiang Mira.


Kenapa? Kenapa setiap ada pertengkaran di antara mereka, Arvan selalu membanding - bandingkan dia dengan Mira? Kenapa selalu seperti ini? Apakah memang dia hidup tidak harus memiki perasaan sakit? Kenapa hal ini selalu terjadi lagİ dan lagİ, tidak bisakah Aryan hanya membalas tentang dirinya?


Keinginan Jenni, ketika mereka sedang berantem atau beradu pendapat, tidak bisakah Arvan hanya membahas tentang mereka? Kenapa harus membawa Mira dan Mira?


Ketika Jenni mengatakan ingin menerima semuanya, tentang perasaan Cinta Arvan kepada Mira yang tidak bisa dihapuskan, bukan berarti dia akan menerima jika selalu dibandingkan sepetti İni oleh Mira.


Sebenarnya dari jauh - jauh hari, Jenni ingin sekali mengakhiri hubungan pernikahaan tanpa cinta ini, namun dia harus terus bersabar, sambil menunggu Lala bangun dari komanya, dan mereka bisa sama - sama kabur.


Arvan yang masih sangat emosi dengan Jenni, kini tesadar ketika sang koki baru saja menyiapkan makan malam mereka. Dia baru ingat kalau Jenni istrinya belum makam


"Bawakan makanan ini ke dalam kamar saya! Karena saya akan makan bersama dengan Queen kalian," perintah Arvan kepada pelayannya.


"Baİk Lord," jawab mereka dengan Hormat.


Memang seakan tidak mempunyai malu, Arvan merasa tidak ada masalah yang terjadi sebelumnya antara dia dan Jenni.


Karena dengan santainya kini dia berjalan masuk dan melihat Jenni tanpa ada perasaan bersalah sekalipun.


"Mau apa kamu?" Ketus Jenni, tanpa mengingat siapa status Arvan sebenarnya.


Namun, bukannya menjawab, Arvan malah memilih untuk langsung duduk di sebelah İstrinya, dan memerintah para pelayan untuk mengambilkan meja mereka. Sebelum menghidangkan makan malam.


"Aku tidak mau makan," tegas Jenni, ingin memberitahu pada Arvan bahwa dia sedang sangat marah saat İni.


"Terus? Aku tidak bertanya apakah kamu ingin makan atau tidak," balas Arvan, yang sontak langsung membuat Jenni, kikuk mendengarnya.


"Makan sekarang!" Perintah Arvan, ketika semua makanan sudah tersedia dengan rapi.


"Akukan sudah bilang, aku tidak mau makan!" Jenni tetap kekeh menahan rasa gengsinya, walaupun dia jelas - jelas lapar dan ingin makan saat ini.


Ckrucuk - ckrucuk, suara perut Jenni yang tidak sinkron dengan mulut sang pemilik perut.


"Ah, oh iya, kamu tidak mau makan, tetapi perut kamu butuh makan. lagian kamu butuh tenaga untuk menangiskan, jadi kamu harus makan, setelah makan baru kamu boleh menangis lagi," ucap Arvan, sama sekali tidak menunjukan perhatiaannya pada Jenni.


Boro - boro mau minta maaf, kini malah dia yang menyuruh Jenni untuk kembali menangis setelah menghabiskan makanan mereka.


"Makan!" perintah Arvan lagi, ketika melihat Jenni yang masih belum bergerak menyentuh nasinya.


Karena tidak mau memperpanjang masalah. akhimya Jenni kembali mengalah untuk makan, walaupun itu semua terlihat sangat terpaksa.


Dia menahan seluruh rasa kesal yang ada di dalam hatinya. bahkan di saat dia sedang makan, air matanya tetap jatuh dan tumpah begitu saja membasahi pipinya. Dan ini benar - benar menandakan bagaimana hancur perasaan hatinya saat ini.


Arvan bukan tidak tahu. jika Jenni sedang menangis, namun, Jenni harus terbiasa dan kuat menahan semua rasa sakit ini. Agar Jenni bisa paham bahwa apapun yang dia inginkan saat ini, tidak akan pemah menjadi hak miliknya.


To Be Continue.


Hey teman -temam jangan lupa ya, like,komen,Vote dan kasih hadiah ke karya mimin yang ini. Agar mimin bisa semakin semangat untuk updatenya.


Terima kasih.