
Happy Reding BESTie 😘
"Ada apa ini Lia?" Tanya Kevin yang langsung membentak pelayan Lia ketika melihat Queen Jenni yang muntah — muntah seperti itu.
Lia menggelengkan kepalanya pelan, "Saya tidak tahu Tuan Kevin, tadi selesai Queen memakan sarapannya, beliau langsung muntah — muntah seperti itu, dan lagi ketika saya ingin memberikan minyak angin di perutnya, Queen semakin merasakan gejolak mual yang memuncak," Lia berusaha memberikan penjelasan kepada Kevin dan Bara.
"Tenanglah Tuan, hal seperti ini memang wajar terjadi kepada seorang ibu hamil," Bara menengahi permasalahan ini, dia juga merasa kasihan kepada Lia, karena dibentak seperti itu oleh Kevin.
Padahal dia jelas tahu, bahwa Jenni sakit bukanlah karena kesalahan dari pelayan paruh baya itu.
"Cepatlah kamu periksa Queen Jenni! Jangan sampai hal buruk terjadi kepadanya, jika Tidak kamu akan tahu sendirikan akibatnya." Kevin tidak ingin banyak bicara saat ini, Yang dia mau pekerjaan konyol ini akan segera selesai, dan mengembalikan pekerjaannya yang sesungguhnya.
Bara yang mendapatkan kalimat yang tidak bersahabat dari Kevin, kini langsung segera memeriksa keadaan Jenni. "Tekanan darahnya semakin tinggi tuan, saya mohon beritahu kepada Lord, jika -," ucap Bara terhenti, ketika dirinya mengingat kalimat yang dilontarkan oleh Arvan semalam.
"Oh, maaf, Maksud saya," lagi — lagi Bara menghentikan kalimatnya, di saat Kevin mulai menatapnya dengan lekat.
"Astaga Tuhan, dosa apakah saya selama hidup ini? Kenapa bisa saya diperkerjakan dengan keluarga ini Tuhan," batin Bara, yang kini memilih untuk mengambil sendiri langkah yang terbaik untuk pasiennya.
"Bi Lia, saya sudah memakaikan infus untuk Queen Jenni, jika dalam waktu 6 jam kedepan cairan infus ini habis, maka gantikan saja dengan cairan baru yang akan saya letakkan di atas meja." Ucap Bara pada bi Lia yang masih ada di dalam sana.
"Dan ini, adalah Obat — obatan yang memang sudah saya bawakan dari rumah sakit tadi," Bara kembali memperlihatkan enam kantung yang di setiap masing — masing kantungnya terdapat sebuah suntikan yang berisikan cairan.
"Bi, semua Obat — obatan ini, wajib di simpan di dalam kulkas ya, dan pastikan suhunya tetap stabil, lalu setiap jam yang sudah saya tentukan, bibi harus memberikan cairan itu kepada Queen Jenni, bisa?!" Bara berbicara serius dengan Lia, selaku orang yang akan menjaga Jenni selama berada di Paviliun ini.
"Baik, dokter, saya bisa melakukannya, dan saya berjanji akan memberikan Obat — Obat itu semua sesuai jadwal." Lia menjawab dengan yakin, bahwa dia akan benar — benar merawat Queen Jenni dengan sangat baik.
Bara menganggukan kepalanya pelan, dan mulai mengajarkan Lia, bagaimana caranya memasukan cairan Obat itu ke dalam sambungan infus milik Jenni.
"Setelah ini, jangan berikan makanan berat terlebih dahulu kepada Queen, wajibkan memakan buah — buahan yang segar saja, seperti apel, orange, kiwi atau apa pun yang bisa masuk saja lebih dulu, dan oh ya, semangka juga bagus untuk bisa menurunkan tekanan ya, dan jangan biarkan Queen Jenni terlalu banyak pikiran, agar tekanannya tidak terus melonjak terlalu naik ya." Begitu banyak penjelasan yang diberikan Bara pada Lia.
Dia begitu khawatir, karena masalah hipertensi yang di alami oleh Queen Jenni saat ini adalah hal yang terbilang sangat berbahaya. Terlebih lagi, dalam keadaan hamil seperti ini, harusnya Lord Arvan sendirilah yang bergerak untuk merawat istrinya, dan tidak memberikan beban pikiran seperti ini.
Atau setidaknya, jika memang dirinya tidak mau perduli kepada istrinya, maka lakukanlah ini untuk darah dagingnya.
****
Hari demi hari Jenni lewati, bahkan hari — hari yang suram kini telah berganti menjadi bulan. Dan dengan bantuan cairan infus yang menggantikan nutrisi serta cairan di tubuhnya. Tindakan ini memang sengaja dilakukan agar tubuhnya tidak terkena dehidrasi karena sulitnya makanan atau minum yang masuk ke dalam tubuhnya, bahkan bayi — bayi yang ada di dalam kandungannya kini juga ikut terkena dampak dari turunnya kesehatan ibunya.
"Queen, ayo coba makan buah ini lagi Queen," bujuk Lia untuk ke sekian kalinya pada hari ini.
Jenni hanya tersenyum saja dan menggelengkan kepalanya pelan, "Bi, bisakah kamu membuat jus saja dengan menggunakan buah itu?" Jenni sama sekali tidak ingin menyia — nyiakan apa yang telah dilakukan pelayan Lia kepadanya, tetapi dia juga sudah bisa menduga, bahwa buah — buahan itu tidak akan pernah bisa masuk ke dalam tubuhnya.
Lia segera menganggukan kepalanya pelan, dan langsung berlari ke dapur untuk membuatkan jus buah khusus untuk Queenya.
"Sudah Lima bulan usia kandungan Queen Jenni, dan selama Lima bulan lebih ini juga Lord Arvan tidak pernah seharipun datang untuk menjenguk atau bahkan sekedar menanyakan kabar dari istrinya," Lia menghela nafasnya berat, sambil terus memandangi wanita yang sedang hamil itu dari jauh.
"Kenapa ya, Tuhan harus memberikan sebuah takdir buruk kepada wanita baik seperti Queen Jenni?"
"Kenapa sebuah perjanjian itu masih terus dilanjutkan, padahal jelas — jelas, jaminan dari perjanjian itu sudah tidak ada." Lia selalu saja berkomat — kamit dan bergumam sendiri, karena hatinya juga ikut terasa sakit karena perbuatan dari pria bejad itu.
"Bi„Bi„ apakah Jusnya sudah jadi? Tanya Jenni, tanpa mengalihkan Pandangannya dari kegiatan yang dia lakukan saat ini.
Sontak saja, Lia yang sedari tadi hanya diam dan terus mengomentari urusan rumah tangga majikannya kini langsung gelabakan sendiri karena belum membuat apa — apa.
"Iya — iya Queen, sebentar lagi akan jadi," sahut Lia, yang segera mempercepat pergerakannya untuk membuatkan Jenni jus.
Dan setelah lima menit berlalu, akhirnya jus buas naga yang dibuat oleh Lia kini telah jadi, dan siap untuk dihidangkan.
"Ini Queen jusnya," Lia meletakan segelas jus tanpa gula dan penuh dengan susu itu tepat
"Bi, apakah kamu tahu? Baby yang ada di dalam kandungan aku ini, sedari tadi mulai aktiv bergerak." Jenni yang sudah menganggap Lia sebagai ibu angkatnya, kini dengan antusias memberitahukan kepada Lia jika bayinya sudah kembali mulai aktiv lagi, padahal dua bulan yang lalu Bara pernah mengatakan bahwa bayi yang ada di dalam kandungan Jenni ini, sudah tidak menunjukkan tanda — tanda kehidupannya sama sekali.
Lia yang juga begitu penasaran kini juga ikut meletakan tangannya di atas perut wanita itu.
Dugg„dugg„dugg, suara tendangan serta gerakan pelan yang sudah mulai terasa walaupun pelan itu, membuat senyum bahagia di kedua wajah wanita yang saat ini sedang saling pandang.
"Selamat ya Queen, perjuangan dan keyakinan Anda tentang keselamatan bayi ini, sekarang mulai membuahkan hasil," Ucap Lia dengan tulus, menatap lekat ke dalam mata indah milik Jenni.
"Berjuanglah lebih keras Queen, tunjukan kepada Dunia, bahwa Anda tidak lemah, Anda kuat, Anda bisa, jangan biarkan manusia lain menginjak — injak harga diri Anda."
"Ingat, Tuhan tidak akan pernah membiarkan anak — anaknya berjalan, dan berusaha menghadapi persoalan ataupun masalahnya sendiri, Anda hanya cukup harus percaya! Akan mukjizatnya, akan kuasanya, akan penyertaannya yang akan selalu melindungi Anda, dari semua ini."
Mendengar semua nasihat yang diberikan Lia kepadanya, membuat Jenni merasa sangat begitu tersentuh. Dia tidak menyangka, bahwa di dunia ini, masih ada orang yang bersikap baik kepadanya.
"Terima Kasih Bi, Terima Kasih karena sudah menemaniku dan selalu ada di saat aku membutuhkan sebuah support, dan dorongan untuk bisa bangkit dari semua Iuka ini." Jenni mengucapkan semuanya dengan bersungguh — sungguh. Tidak tahu apa jadinya jika dirinya harus berjalan sendiri tanpa siapapun yang memegang untuk terus berdiri tegak dan yakin akan kasih Tuhan itu nyata.
To Be Continue.
Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.
Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini.
Mimin mencintai kalian semua.
Terima Kasih Banyak.