Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 28



Happy Reading


Bestie 😘


Jenni menghela nafas panjang, dia tidak ingin menjadi titik masalah lagi untuk ke dua pria yang sebenarnya saling membutuhkan ini.


"Robert, maaf, tapi apakah kamu bisa memberikanku waktu untuk memikirkan semua ini, please," pinta Jenni, memohon dengan sangat kepada Robert, agar tidak terlalu memaksaanya untuk berpikir lebih keras.


"Jenni -,"


"Sebenarnya aku sangat ingin kembali ke Mansion kakakku, tetapi aku sadar, siapa suamiku. Aku tidak mau mengorbankan hidup kakakku hanya karena ke — egoisan dari Arvan," jelas Jenni pada Robert.


"Iya, kamu memang benar, karena jika kamu kembali ke Mansion Jasper, maka semuanya akan hancur berantakan." Kalimat Robert yang membuat Jenni merasa bingung sendiri.


"Dari mana kamu tahu? Jika nama kakak aku adalah Jesper?" tanya Jenni, sepertinya dia lupa siapa Robert sebenarnya.


Robert tersenyum dengan lebar ketika dirinya mendengar kalimat yang dipertanyankan oleh Jenni. "Apakah kamu tidak ingat siapa suami kamu? Dan apa pekerjan-nya?" Tanya Robert balik.


Jenni hanya terdiam sembari menggelengkan kepalanya pelan. Karena memang dia tidak tahu siapa Arvan.


Yang dia tahu Arvan hanyalah seorang pengusaha nomor satu dunia, namun dia sangat tidak tahu apa yang dikerjakaan oleh suaminya itu.


"Sudahlah, intinya, infromasi sekecil apapun, akan terasa mudah untuk kita mendapatkannya." Jelas Robert.


"Apakah Arvan juga tahu siapa kakak aku?" tanya Jenni lagi dengan ragu.


"Tidak, dia tidak pernah mengetahuinya, bahkan dia juga tidak ingin mengetahuinya," jawab Robert, membuat Jenni kembali tersadar jika dirinya memang bukan apa — apa untuk pria itu.


"Aku harusnya sadar sedari awal, jika aku adalah wanita yang sangat tidak diinginkan olehnya," ucap Jenni dengan tatapan sendu kosong ke depan.


Robert yang melihat kesedihaan di wajah Jenni, kini langsung beupaya untuk menenangkan hati wanita itu dengan cara memeluknya. "Tenanglah Jen, ada aku di sini, aku janji akan menjagamu dan mencintaimu, sampai di detik nafas terakhirku ini." Jenni tersenyum kikuk, namun segera melepaskan pelukan Robert di tubuhnya.


"Aku istirahat dulu ya, aku benar — benar sedang lelah sekarang." Izinnya pada Robert. "Aku antar ya," balas Robert yang masih merasa khawatir kepadanya.


Dengan cepat Jenni menggelengkan kepalanya pelan, dia merasa bukan anak kecil yang meski ke kamar saja haru diantar.


"Hem, baiklah Jen, selamat beristirahat, aku akan mencari makanan di luar dulu," pamitnya pada Jenni, yang kini meniawabnya denqan anggukan kepalanya pelan.


****


Brakkkk, suara gebrakan meja yang tedengar begitu keras, bahkan terlihat meja kaca itu sampai pecah akibat kemarahan pria itu.


"Berani — beraninya pria itu memeluk istriku seperti itu, "aarregghhh," teriak Arvan yang mulai menggila, ketika dirinya mendapatkan foto kemesran antara Jenni istrinya dan juga Robert asistennya.


Dengan nafas yang memburu, dirinya langsung menelepon Kevin, "cepat bawa istriku kembali sekarang juga!" Perintah Arvan sama sekali tidak bisa dibantah.


Kevin hanya mengiyakan saja perintah itu, karena dia paham, bagaimana kemarahaan seorang pria yang istrinya telah berselingkuh dengan orang dekatnya.


Walaupun di sini, Kevin bisa mendengar dengan jelas, bahwa Robertlah yang mencintai Jenni, bukan Jenni yang mencintai Robert.


Kevin terus mengawasi pergerakaan Robert dan Jenni. "Bos — bos, Tuan Robert sudah keluar," seru salah satu anak buahnya, menunjuk ke arah Robert yang baru saja keluar dari rumah.


Kevin menganggukan kepalanya dengan pelan, dan bergegas untuk menyuntikan obat bius kepada Robert.


"Saatnya," batin Kevin, dan langsung menusukan suntikan itu di leher Robert, ketika pria itu tengah berdiri menunggu angkutan umum.


"Aarggghh, sial," umpat Robert yang nyaris terjatuh dan menangkap tubuh Kevin. Namun Kevin secepat kilat memundurkan langkahnya ke belakang. Dan tersenyum puas ketika Robert sudah terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Beberapa orang sempat melihat ke arah mereka, apa Iagi posisi mereka saat ini sedang berada di seberang jalan. "Tidak apa — apa, dia adalah teman saya," ucap Kevin, berupaya mengelabui beberapa orang tersebut.


Dan sebelum makin banyak Iagi orang yang melihat mereka, Kevin sudah lebih dulu memberikan kode kepada anak buahnya untuk segera membawa Robert pergi dari sini.


Sedangkan dirinya memilih untuk menangani Jenni terlebih dahulu.


"Kalian bawa dia ke Jet yang telah aku sediakan, sisanya biar aku yang mengerjakannya." Ucap Kevin pada seluruhnya.


"Baik Bos," jawab mereka dengan serempak.


Namun, ketika Kevin baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah kecil milik Robert dan Jenni, kini terlihat ponselnya yang berdering.


Menandakan pesan masuk dari Arvan.


"Jangan kamu sentuh istriku! Dalam waktu beberapa jam Iagi aku akan sampai di sana, duduklah saja di ruang tamu rumah itu, dan jangan Iupa untuk makanan yang layak! Dan oh ya, minta dia untuk membersihkan tubuhnya dan kenakan baju khusus yang telah aku kirim," tulisnya dalam pesan singkat itu.


Kevin hanya bisa menghela nafasnya panjang, selalu saja Lordnya ini bertindak ditengah — tengah rencana yang telah mereka atur.


"Kamu belikan makanan di restoran termahal di Negara ini!" Perintah Kevin pada salah satu anak buahnya yang masih berjaga, sembari mengeluarkan uang banyak dari dompetnya.


"Baik Bos," jawabnya, dan langsung mengambil uang itu dan pergi dari hadapan Kevin. Ketika Kevin baru saja ingin duduk, terlihat seorang wanita yang datang dengan beberapa orang lainnya. "Permisi, Tuan, saya adalah MUA khusus yang berada di Mumbai ini, saya diperintahkan untuk memake — up dan merias Queen Jenni untuk persiapan malam pernikhaannya bersama dengan Lord kita," ucap wanita itu, sontak membuat Kevin menyeritkan keningnya bingung.


"Malam pernikahaan?" tanya Kevin bingung. Pasalnya dia sudah lebih dulu mengetahui tentang pesta pernikhaan Arvan yang dulu dan kini apa? Kenapa harus menikah lagi?


"Oh okey, kalian silahkan saja masuk dulu, dan tunggu sampai Queen Jenni bangun dari tidurnya," ucap Kevin, mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.


"Tetapi Tuan, kami harus memasangkan mahenndi di tangan Quenn," Kevin memilih untuk menggelengkan kepalanya pelan.


Memberikan kode kepada para MUA itu agar tidak bertidak bodoh membangun Jenni yang sedang beristirahat.


"Aku hanya perlu mengingatkan kalian, jika kenyamanan Queen adalah hal yang paling utama untuk Lord," tegas Kevin, yang membuat mereka langsung menelan salivanya mereka kasar.


Dan mau tidak mau, mereka akhrinya memilih untuk menunggu hingga Jenni terbangun dari tidur siangnya.


Sementara itu di Sisi lain, terlihat pria yang tadi sedang marah, kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Saat ini dia terlihat bahagia karena dia akan menikahi istrinya kembali dengan adat yang lebih sakral.


"Kali ini kita akan mengucapkan sumpah sehidup semati yang lebih sakral dari pada sebelumnya Jen," batin Arvan yang terlihat sangat bahagia dengan ini semua.


To Be Continue.


Hallo teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen,vote dan hadiahnya untuk mimin. Agar mimin semakin semangat updatenya.


Dan jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.


Terima Kasih.