
🌹 Happy Reading 🌹
"Menjauh atau aku akan mengirimu beserta putramu ini untuk menebus dosa atau kematian putraku," ancaman yang di keluarkan Arvan dengan tegas.
Deeegg jantung Stella berpacu dengan sangat cepat mendengar ucapan Arvan yang megatakan kematian putra.
Sekilas Stella menoleh pada putrnya, lalu kembali menatap ke arah Arvan. "Kak, begitu banyak yang dia telah bunuh, kakak tidak pernah mempermasalahkan itu. Lalu mengapa sekarang kakak mengatakan jika dia membunuh putra kakak. Bukankah benar jika Morgan itu adalah putra kakak. Dan berarti dia masih hidup kak bukan mati," bantah Stella yang bingung dengam keadaan ini.
Arvan tersenyum dengan tipis mendengar jawaban dari adiknya. "Karna kamu yang begitu memanjakanya, itu sebabnya dia tidak tai bagaimana cara menggunakan kekuatnya itu dengan benar, kamu tau dia aku latih hanya untuk membunuh musuh, bukan membunuh putraku," teriaknya tepat di depan wajah adiknya.
Jujur Stella saat ini sangat ketakutan, dia pernah melihat sosok Arvan yang ini di saat Papahnya meninggal. Namun setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, dia tidak pernah melihatnya lagi. Karna Arvan yang selalu memecahkan masalah dengan secara kekeluargaan.
"Siapa sebenarnya putra kakak? Putra yang mana? Morgan masih hidup kak, tolong jangan membuat Shea pusing dengan semua ini." sedari tadi memang hanya Stella yang berani bicara.
Sedangkan Arnon hanya diam dengan tangannya yang sudah mendapatkan pertolongan pertama dari anak perempuanya beserta menantunya.
Stella menoleh ke arah Aiden yang wajahnya sudah sangat-sangat pucat. "Lepaskan kaki kakak!" Bentaknya sekali lagi, dan kali ini Arvan menyingkirkan kakinya dari perut Aiden.
"Katakan siapa putra kakak itu, sampai kakak berani menyerang keluarga kakak seperti ini." Stella benar-benar masih belum terima dengan kelakuan kakaknya ini. Bahkan sekarang rasa benci itu muncul di hatinya untuk Arvan.
Jika dulu dia sangat menyayangi kakaknya maka sekarang tatapan kebencian di layangkan oleh Stella kepadanya.
Arvan membalikan tubuhnya, dengan senyum iblis yang terpancar di auranya. "Alson Emilio Manopo, putra pertamaku saudara kembar dari Albert Emilio Manopo yang kalian kenal sebagai Morgan saat ini." Ucapnya pelan namun sontak membuat Aiden menoleh tak percaya dengan apa yang di katakan oleh pamanya ini.
"Aaapa,,aaapa yang Uncle katakan? Alson dan Albert siapa?" tanyanya yang meyakini pendengaranya tidak salah.
Arvan diam tidak menjawab, lalu Aiden menatap ke arah Mamahnya untuk meminta jawaban atas apa yang dia dengar. "Mah Alson dan Albert Morgan atau siapa pun itu apa kita Mah? Apa hubungan Uncle sama dia? Mengapa Uncle menyerangku hanya karna mereka Mah?" Tanyanya benar-benar bingung saat ini. Dia tidak akan terima jika benar ke dua orang asing itu adalah sepupunya.
Arvan menoleh kembali ke arah Aiden yang tergeletak tidak berdaya memegangi perutnya yang sakit, serta bagian kepalnya yang masih mengeluarkan darah. "Kamu harus bertanggung jawab atas nyawa putraku Alson yang kamu bunuh beberapa bulan yang lalu," ucapnya pelan namun penuh dengan tekanan di setiap kalimatnya.
"Alson putra paman? Bagaimana bisa?" Sahutnya tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
Stella langsung tersenyum sinis mendengar perkataan dari kakaknya itu, "sekarang baru sadar iya, marah, emosi, mau melenyapkan seseorang, munafik kamu kak," seru Stella dengan berani menatap ke arah kakanya.
Plaakkkkk satu pukulan dari Stella berhasil menghempaskan pistol itu jauh.
"Jangan ikut campur kamu Shea! Ini adalah urusan ku dengan anak kamu," bentaknya dengan tegas, yang membuat Stella sedari tadi menangis kini tertawa menghina.
"Hey Arvan, kamu itu harusnya bercermin pada dirimu! Dulu aku sudah memperingatkanmu jangan pernah menyia-nyiakan orang yang sudah tulus mencintamu, tapi kamu menyia-nyikanya. Hingga dia pergi dan melahirkan anak-anaknya tanpa kamu. Dan sekarang ketika besar jika orang lain tidak mengenali jika mereka adalah putramu, lalu yang salah siapa? Anak aku iya, ngaca kamu bos," singungnya benar-benar marah ketika kakaknya ini baru menggila sekarang.
Dulu dia kemana saja, di saat Jenni memohon cinta dan kasih sayang, dia kemana? Dia hanya terpaut dengan masa lalunya yang entah sampai kapan.
Arvan terdiam, memang benar apa yang di katakan adiknya, dia yang salah sepenuhnya. Jika dari awal dia datang atau menyadari jika Alson adalah putranya, maka kejadian ini pasti tidak akan pernah terjadi. Mengingat baru beberapa bulan yang lalu dia meninggalkan dunia.
Stella yang marah kini bahkan sudah tidak perduli dengan kesedihan kakanya.
"Robbbeerrtt," teriak Arvan memanggil asistenya yang selalu sigap tanggap itu.
"Di dini Lord," sahutnya yang muncul di belakang Arvan.
"Bawa Aiden ke Sanova Island! Kurung dia sampai dia menyadari kesalahanya dan meminta maaf pada keluarga besar Emilio," perintahnya tegas, yang membuat Stella menoleh kepadanya.
Sanova Island adalah pulau khusus keluarga Manopo yang tidak di ketahui oleh siapa pun, tidak ada orang lain yang bisa masuk ke sana karna penjagaan dan sistemnya yang begitu kuat, di pulau itu lah dulu Jenni tinggal, karna tidak ingin melihat wajah Arvan dan cinta pertama suaminya, dan Arvan memilih mengasingkanya di Sanova Island, termasuk Stella yang dulu pernah di sana di saat dirinya di kejar oleh musuh.
"Kakak kamu gak bisa melakukan semua ini Lord Arvan," dia harus menolak anaknya di bawa ke pulau itu, dia tidak mau anaknya hidup di pulau tak berpenghuni seperti itu.
"Shea jangan halangi jalan ku! Anak ini harus di beri pelajaran," balasnya yang muak melihat adiknya tidak mengerti jika ini adalah untuk kebaikan Aiden itu sendiri.
Stella lagi-lagi berdiri Di hadapan Arvan dengan beraninya, "aku tidak mengenali mu Lord, kemana kakak ku yang dulu sayang menyayangi dan mencintaiku dengan anak-anak ku? Kemana kakak ku yang dulu selalu membela putraku? Kemana dulu Lord Arvan yang mengatakan menyesal menelantarkan istrinya, sehingga hatinya tergerak untuk membantu seluruh wanita yang mengalami kesulitan. Aku adalah wanita, dan yang kamu sakiti saat ini adalah putraku, keponakanmu, keturunan mu, apa tidak bisa kamu membicarakan ini semua dengan baik-baik, semua ini tidak akan pernah terjadi jika dari awal kamu tidak dengan angkuhnya menolak cinta dan pengabdian dari Jennifer dan memilih mencintai bayangan kematian yang tidak jelas. Aku paham kamu dulu mencintai Mira, tapi apa tidak bisa kamu memberikanya ruang tersendiri di hatimu itu. Dan sekarang jika kamu mengatakan kamu mencintai Jennifer maka itu semua sia-sia, karna memang nasib sial anda Lord, mencintai sesuatu yang sudah hilang," sindir Stella dengan sinis. Lalu dia beralih menolong anaknya yang semakin nampak pucat.
"Aku akan mengajarkan putraku sendiri, aku yang akan menghukumnya sendiri, jadi saya minta anda pergi dari sini," pintanya dengan hormat kepada kakaknya sendiri.
"Jangan pernah menemui ku jika kamu masih belum menyadari apa kesalahanmu dari awal, jika kamu merasa ini semua benar, maka lakukanlah, buatlah dendam antara kita semua hingga habis tak tersisa." timpalnya lagi dengan membopong putranya.
Roger yang sedari tadi hanya diam, kini beralih menolong Iparnya dan membawanya ke kamar.
Sedangkan Stella masih dengan setia menatap tajam ke arah Arvan. "Intropeksi dulu baru menyalahkan orang lain." Lirihnya pelan, sebelum melangkahkan kakinya masuk.
"Aaaaaarrgggghhhhhh," teriak Arvan tak karuan merasa beban hidupnya yang sangat berat.
"Robert balikan seluruh hartaku atas nama Albert! Sudah cukup saatnya aku mengalihkan semua asetku menjadi miliknya." Titahnya dengan serius pada Robert.
"Tapi Lord, apakah dia akan menerimnya?" Tanya Robert yang memang selalu membantah keingan Arvan dengan perdebatan-debatan kecil.
Arvan tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Aku mempunyai caraku sendiri agar putraku mau menerima ku dan hartaku." Ucapnya penuh kelicikan.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
Mampir ke sebelah ya, cerita Arvan sudah mulai Mimin Publish, langsung cek Profil ya😘😘