
๐น **Happy Reading **๐น
Setelah kepergian Arvan, Jenni memilih untuk berjalan-jalan di sekitaran halaman belakang Mansion ini.
Dia ingin mencari udara segar untuk menghilangkan rasa kekesalan yang berada di dalam dirinya.
Hingga pandanganya jatuh kepada kolam renang buatan yang sangat indah.
Karna kolam itu terlihat seperti terbuat dari dinding kaca, dan di sekelilingnya terlihat sebuah danau yang sangat indah.
Membuat siapa pun yang berenang akan di suguhkan oleh pemandang hijau dari danau dan bukit di sekitarnya.
"Wow, ini indah sekali rasanya aku jadi ingin berenang," lirihnya dengan pelan, lalu melirik ke arah jam tanganya yang menunjukan jika hari masih pagi.
"Nanti saja lah, mungkin agak soreaan dikit," ucapnya pada diri sendiri.
Lalu dia kembali melangkahkan kakinya ke taman sebelah yang terlihat seperti taman bunga.
"Sepertinya tempat ini cocok untuk menjadi temapat favorite ku sambil belajar merangkai bunga." Imbuhnya pelan sambil menikmati keindaham taman bunga yang sangat indah itu.
Taman yang sangat terawat, dengan di tumbuhkan bunga mawar prancis dengan berbagai macam warna, dan wangi khas bunga itu yang membuat hati siapa pun menjadi tenang.
Namun ketika dia asyik mengitari taman bunga itu, dia melihat ada sebuah nama yang tertulis di kursi panjang khusus taman itu.
"Mira&Arvan," bacanya sambil memutarkan bola matanya malas.
"Bagaimana mau di lupakan jika barang-barangnya saja masih terpapang di sekeliling Mansion ini," lirihnya pelan, dengan kembali melihat-lihat tempat lainya.
Dan tak lama kemudian, dia melihat satu ruangan yang tak jauh dari tempat itu.
Ruangan yang terbuat dari dinding kaca dan luas di dalamnya, Jenni mencoba masuk ke dalam ruangan itu. Namun tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluk pingganya dari belakang.
Sontak dia terkejut, karna dia pikir jika Arvan saat ini sedang bekerja, siapa yang memeluknya saat ini.
Tapi dia seperti mengenali bau parfum pria ini, dan pada akhirnya dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya secara kasar. "Ini bahkan belum dua jam dari kepergianmu tadi, mengapa kamu pulang?" Cercanya pada laki-laki yang se enaknya saja dalam bekerja ini.
Arvan terdiam karna dirinya juga tidak tau mengapa dia pulang, "aku ada pekerjaan di rumah," jawabnya bohong.
"Oh benarkah?" jawab Jenni lagi tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu.
Dia tau jika di sekitar sini pastti ada ruangan rahasia, sehingga Arvan sengaja pulang ketika meihat dirinya yang berada di sekitaran ruangan itu.
"Iyah, aku hanya ingin beristirahat lebih lama saja di rumah," balasnya lagi, lalu melepaskan pelukanya dari pinggang Jenni.
Jenni langsung membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah wajah Arvan. "Aku tau kamu adalah pemimpin, aku tau kamu adalah pemilik perusahaan dan seluruh kerjaan bisnis lainya, tapi apakah sebagai pemimpin sikap bolos se enaknya seperti ini adalah perbuataan yang layak di contoh hem?" Jenni sebisa mungkin memberikan Arvan nasihat agar hidupnya tidak semaunya gini lagi.
"Jadi katakan ada apa kamu pulang lagi? Bukankah urusan Lola sudah di kerjakan oleh Robert," tanyanya lagi karna pasti ada sesuatu yang membuat pria kurang kerjaan ini pulang.
Arvan menatap sejenal ke arah wajah Jenni yang sangat imut baginya. "Aku ingin mengadakan resepsi pernikahaan kita," ucapnya pelan namun jelas.
"Apa? Gimana-gimana? Coba ulang," tanyanya sekali lagi, ingin memastikan bahwa pendengaranya itu tidak bermasalah.
Arvan tau jika ini salah, namun ini adalah permintaan khusus dari sang adik yang tidak mau jika kakaknya hanya memanfaatkan pernikahaan ini sepihak.
"Aku ingin kita mengadakan resepsi pernikahaan kita sebagai peresmian hubungan kita ini," ucapnya kembali, tapi dengan suara ya g lebih nyaring dan jelas. Namun membuat Jenni terdiam tak bersuara.
Dan di detik kemudian Jenni tertawa, namun bukanya tertawa bahagia dia malah sedikit mengeluarkan air mata. " resepsi untuk apa ? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika pernikahaan kita ini hanyalah sebuah hubungan sahabat? Lalu respsi untuk apa ha ? Apa kamu mau mengatakan kepada semua orang, jika aku, wajah ku ini adalah sosok istri yang tak di anggap oleh suaminya, sperti itu." Teriaknya kesal, karna Arvan selalu saja bertindak tanpa berfikir akibat dari perbuatanya.
"Jenni maksud aku tidak seperti itu, aku mengadakan resepsi ini karna permintaaan dari adik ku, Aku sudah menolaknya tapi dia memaksa, dia begitu berharga bagiku Jenni jadi aku tidak ingin mengecewakanya ataupun melukai hatinya." Jawab Arvan lagi, namun jawabanya kali ini benar-benar membuat hati Jenni merasa sangat sesak.
Dia mengalihkan wajahnya ke arah lain, agar Arvan tidak melihat tetesan air matanya yang berhasil lolos,meskipun sudah dia tahan.
"Tidak ingin mengecewakan dan melukai hati adiknya, dia juga selalu mengatakan hal itu ketika aku menyinggung soal Mira, dia terlalu bijak untuk keluarga dan kekasihnya, namun dia lupa jika akulah istrinya yang sudah di kecewakan dan di lukai, hahah benar-benar menyedihkan sekali hidupmu Jenni," batinya menertawakan nasibnya yang begitu malang.
"Jenni apa kamu mendengar ku?" Tanyanya lagi.
Jenni menghapus air matanya dengan cepat, agar tidak di lihat dan di ketahui oleh pria tak berperasaan itu. "Aku mendengarmu, apa pun yang kamu katakan, aku pasti mendengarmu," balasnya dengan sebuah nada yang menyindir.
"Aku sebenarnya tidak memerlukan pendapat darimu, karna aku sudah menyiapkan semuanya persis seperti apa yang dulu Miraku inginkan." ucapnya lagi, mengingat bagaimana Mira selalu antusias jika membahas soal resepsi pernikahaan.
Dan ide dekorasi yang di inginkan oleh kekasihnya itu dulu, kini dia gunakan untuk resepsi pernikahaanya dengan Jenni.
"Tapi aku bukan Miramu, mengapa kamu menggunakan idenya, itu resepsi kita Arvan bukan resepsimu dengan kekasihmu itu," kali ini Jenni tidak bisa terima dengan apa yang di lakukan oleh suaminya ini.
"Aku tau kamu bukan Mira, dan selamanya tidak akan pernah bisa menjadi Mira, tapi di sini aku yang menetukan nasib dan jalan ceritanya, dulu dia sangat menginginkan dekorasi ini, namun sayang dia memilih meninggalkan ku sebelum aku mewujudkanya, dan sekarang aku mewujudkanya namun di gantikan olehmu, jadi kamu jangan bertanya mengapa aku lebih memilih menggunakan idenya, karna satu jawabanya, aku mencintainya," tegas Arvan yang semakin membuat Jenni mengeretakan giginya menahan sakit mendengar suaminya sendiri mencintai wanita lain walaupun itu sudah mati.
Jenni tertawa sinis tanpa menjawab kata-kata dari suaminya. Dia menggelengkan kepalanya singkat sebelum dia melangkahkan kakinya meninggalkan Arvan seorang diri dengan mata yang terus menatap ke arah Jenni.
**Jenni yang malang **๐๐
๏ฟผ
**To be continue. **
Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya๐๐
Terima kasih๐๐ป๐๐ป
Follow IG Author @Andrieta_Rendra