
🌹 Happy Reading 🌹
Keesokan harinya, kini terlihat Mario dan Eden yang tengah bersiap-siap untuk kembali ke Paris karna kedua anaknya Brio dan Brina yang tidak bisa di tinggal lebih lama lagi.
Mengingat bagaimana sifat kasar Brio dan sifat lembut Brina membuat kedua anak itu tidak bisa di satukan.
Brio yang jahat selalu tidak ingin membantu kesusahan adiknya, sedangkan Brina yang terkesan selalu mengadu segala hal tindakan yang terjadi pada Eden dan Mario, menambah kebencian Brio pada Brina.
Sebab setiap kali Brina mengadu, akan di pastikan jika Eden atau Mario akan memarahi Brio. Dan itulah yang membuat Anak laki-lakinya itu menjadi seseorang yang emosian bahkan tidak pernah perduli dengan lingkungan sekitar.
Jika bisa di bilang dari ketiga anak Mario, hanya Gabrio yang memiliki sifat dan karakter paling Minus, dia hanya takut pada Mommynya, namun tidak pada Daddynya yang terkesan lebih humble dari pada Eden.
"Daddy dan Mommy sudah mau berangkat sekarang?" tanya Briell yang seperti sudah melupakan kejadian semalam.
Mario menanggukan kepalanya singkat, lalu mendekat ke arah putrinya yang saat ini sedang duduk dengan memegang sebuah jus di tanganya.
Sedangkan Albert saat ini tengah sibuk menelpon seseorang yang entah siapa, Briell hanya acuh karna menganggap jika itu hanyalah teman baik atau teman bisnis suaminya dulu.
"Sebentar lagi sayang, tadi Papah Arvan mengatakan pada kita untuk tidak pergi dulu sebelum dia kembali ke sini," sahut Mario yang semakin memperat dekapanya itu.
Briell menyeritkan keningnya bingung mendengar jawaban dari Daddynya. "Kenapa? Memangnya apa yang ingin di lakukan oleh Papah? Sampai-sampai Daddy tidak boleh pergi sebelum dia datang?" tanya Briell yang kembali merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Mario melepaskan pelukanya itu, dan kini beralih merangkul istrinya. "Daddy juga tidak mengerti sayang, kita tunggu saja." balas Mario yang kini mengecup kening istrinya singkat.
Membuat Briell memutar bola matanya malas melihat Daddynya yang selalu saja ingin tampil mesra bersama dengan Mommynya.
"Sayang," tegur Albert yang baru saja menyelesaikan panggilanya.
"Siapa yang telpon kamu barusan?" Cecar Briell yang sedari tadi mencoba mengabaikan rasa penasaraan itu, namun seprtinya jiwa Caby juga penasaraan sehingga dia mengalah dan langsung menanyakanya pada Albert.
Albert sontak tersenyum bahagia melihat istrinya yang mulai posesiv kepadanya. "Kenapa sayang kamu cemburu? Kamu takut aku telponan sama cewek lain hem," godanya pada Briell yang saat ini langsung membuang padanganya ke arah lain.
"Cikh, aku gak cemburu. Cuman Caby aja yang ingin bertanya, Daddynya habis ngapain bukan aku, tapi Caby," elaknya yang dengan membawa nama Caby di kandunganya, membuat Albert yang tidak tahan dengan tingkah lucu istrinya itu langsung melahap bibir istrinya itu bahkan tanpa memperdulikan jika mertuanya itu melihat apa yang mereka sedang lakukan.
"Menantu tidak tau diri ya begini," sindir Mario secara halus, yang langsung mendapatakn cubitan di pingganya.
"Aaawww sakit sayang," keluhnya menatap tajam pada Eden.
"Terus aja kamu sindir menantu ku ya! Aku gak kasih jatah kamu nanti,"ancamnya yang saat ini sepertinya berada di kubu Albert.
Mario terdiam mendengar ancaman itu, biasa bahaya jika dia membuka mulutnya. Bisa-bisa kukubirdnya itu bisa ikut mejalankan puasa seperti Arvan dan Jesper, yang masih belum bisa di pastikan kapan mereka akan lebaran menyatakan hari kemenanganya.
Briell dan Albert tertawa lepas melihat ekspresi wajah Mario yang seperti anak kucing yang melunak pada induknya.
Apa lagi mengingat wajah marah Mario seperti semalam, jika di bandingkan sekarang. Maka ini akan terlihat jauh lebih menarik.
Namun di saat mereka sedang asik mentertawakan Mario, hingga pandangan Briell mengarah kepada pintu masuk yang terbuka, memperlihatkan Arvan dan Jesper yang baru saja memasuki ruangan ini.
"Papah, Uncle kalian baru-" seru Briell terhenti ketika melihat sosok yang berdiri di belakang Arvan dan Jesper saat ini.
"Alson," lirihnya pelan, dengan wajah yang sedikit memucat.
Albert yang juga sudah mengenali wajah dari kakakanya ini hanya mampu diam tanpa ekspresi, dia hanya mengeratkan rangkulanya pada pinggang istrinya agar tidak melemah, bahkan tidak ada yang bisa melihatnya sedang menahan amarahnya saat ini.
Dia mengepalkan tanganya menahan rasa kesalnya pada Arvan yang lancang membawa petaka dalam kehidupan rumah tangganya.
Sedangakn Mario dan Eden yang menyadari situasi yang kurang aman saat ini, langsung merangkul putrinya yang saat ini sedang berada di dalam dekapan Albert.
Mario bisa melihat sorot mata yang penuh kemarahaan itu, dia harus segera menyingkirkan putrinya sebelum menjadi pusat pelampiasaan dari menantunya yang dia sudah ketahui bahwa Albert juga mempunyai catatan kriminal dalam dunia Gelap.
Begitu juga dengan Arvan dan Jesper yang merasa harus segera menengahi masalah ini.
Arvam berjalan mendekat ke arah Albert yang saat ini sedang terdiam dengan tatapan membunuhnya, menatap ke arahnya dan juga Alson. "Boy, apa kamu tau dia siapa?" tanya Arvan yang mulai bersuara untuk menjelaskan perbuatanya saat ini.
Dia tidak ingin kedua putra yang baru saja dia temukan ini menjadi musuh hanya karna semmbuah takdir di yang mencintai wanita yang sama.
Albert yang merasa bahwa situasinya saat ini membuatnya terpukul mundur, lebih memilih membalikan tubuhnya dan mengacuhkan kehadiaran Arvan dan juga kakaknya yang baru pertama kali dia temui itu.
"Aku tidak tau apa niat Anda Tuan, tapi aku bukalah dia yang mungkin akan menurut atas permintaan Anda, jangan pernah memaksaku untuk menerima sesuatu hal yang tidak bisa aku terima nantinya." serunya lebih dulu, sebelum mendengar penjelasaan dari Papahnya dan juga saudaranya itu.
Ya, Arvan dan Jesper sedari kemarin pergi ke Kota Valencia untuk mengeluarkan Alson dari tahanan Aiden.
Selama ini Alson tidak pernah mati, dan kecelakaan itu bukanlah Alson yang berada di dalamnya, melainkan orang lain yang memang sudah di operasi platisk agar wajahnya mirip dengan korban.
Dan di saat Alson berada di jalan sepi, Aiden menculiknya dan memasukan orang yang sudah dia rubah itu menggantikan Alson dan melakukan bunuh diri dengan menabrakan dirinya pada truck yang berlawanan arah hingga jatuh ke dalam jurang.
Dan ketika pria itu tewas, saksi mata mengatakan bahwa yang berada di dalam situ adalah Alson, hingga membuat siapa pun percaya jika putra pertama Arvan itu telah mati.
Namun kenyataanya Aiden menyembunyikan dan menahanya di ujung kota Valencia dengan mengerahkan begitu banyak anggotanya agar Alson tidak lari dari gengamanya.
Albert melangkahkan kakinya terlebih dahulu sebelum mendengar penjelasaan Arvan.
"Albert tunggu," teriak Alson yang ingin melihat adiknya itu secara jelas.
Arvan sudah menceritakan semuanya kepada Alson, tentang pernikahaan Briell dan juga adiknya Albert.
Awalnya dia tidak terima, namun Arvan meyakinkanya bahwa Briell bukanlah jodoh yang di kirimkan Tuhan kepadanya, dan mungkin takdir meminta agar Albert lah yang berjodoh dengan Briell saat ini.
Albert yang mendengar panggilan dari suara asing itu, akhirnya memberhentikan langkahnya sejenak, menunggu apa yang akan di sampaikan oleh kakaknya ini.
Alson menoleh kepada Arvan untuk meminta izin mendekati adiknya itu, dan Arvan menjawabnya dengan sebuah kode anggukan kepala.
Lalu Alson menatap lagi ke arah Mario dan Eden yang di jawab dengan jawaban yang sama.
Sehingga membuatnya yakin untuk mendekat ke arah Albert yang merupakan adik kandungnya.
"Albert," panggilnya sekali lagi tepat di belakang tubuh adiknya, dan langsung membalikan tubuh Albert secara paksa. "Kamu adik ku tapi kenapa kamu menatap ku dengan penuh kebencian seperti itu ha?" tanyanya lembut pada Albert, dan tanpa aba-aba dia membawa tubuh adiknya masuk ke dalam dekapan tubuhnya.
Sungguh selama di kurung oleh Aiden, dia benar-benar merindukan keluarganya, terutama uncle Jesper yang selama ini merawatnya dari kecil.
"Kenapa kamu kembali? Kenapa kamu ada disini?" bentak Albert yang tidak mau jika kehadiran saudara kembarnya ini akan membuat rumah tangganya retak akibat cinta lama yang mungkin akan bersemi kembali.
Alson terkekeh mendengar adiknya yang sepertinya bersifat dominan seperti Papahnya. "Lalu apa yang kamu harapakan ha? Kamu mau jika saudara kembarmu ini mati? Dasar bodoh," balas Alson dengan tenang.
Beginlah sifat Alson yang membuat siapa pun tenang dan nyaman bersama denganya.
Sifat lembut dan bersih dari Jenii benar-benar menurun pada Alson, membuatnya tumbuh mejadi pria yang sangat di cintai oleh banyak orang, terutama Mario dan Eden yang dulu sudah sangat menyayangi Alson seperti anaknya sendiri.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra