
๐น Happy Reading ๐น
Ketika di malam harinya, Briell tengah berdiri dengan menatap ke arah deburan ombak di malam hari.
Tiba-tiba Albert datang dengan membawakan sebuah syal untuk menghangatkan tubuh istrinya.
"Sayang, ayo masuk yukk," ajaknya pada Briell yang sedang tersenyum ramah ke arahnya.
Namun Albert sontak terkejut melihat wajah istrinya yang pucat seperti itu.
"Sayang, are you okay?" Tanyanya dengan suara yang begitu sangat khawatir.
"Aku hanya butuh istirahat sayang, ayo kita ke kamar, sepertinya aku sedikit lelah," jawabnya dengan lemah, lalu menggandeng tangan suaminya menuju kamar pribadi mereka.
"Aku panggilkan dokter ya sayang, aku takut ada apa-apa nanti." Ucap Albert yang menarik tangan istrinya itu.
Briell menggelengkan kepalanya pelan. "Gak perlu sayang, aku oke kok hanya perlu beristirahat, besok juga sudah baikan." balasanya lagi, lalu memilih masuk ke kamar dan segera membaringkan tubuhnya yang sudah sangat berat itu.
Albert hanya diam dan mengikuti langkah istrinya untuk ikut berbaring di sebelah Briell, dan mengusap perutnya dari belakang.
Sebenarnya Briell tiba-tiba saja merasakan kontraksi berlebihan seperti ingin melahirkan, namun dia memilih diam karna takut jika itu hanyalah sebuah reaksi dari rasa kelelahanya saja.
Dia tidak ingin jika dia mengatakanya pada Albert, maka akan di pastikan suami dan Daddynya itu akan membatalkan acara Babby moon ini.
Albert yang mengelus perut istrinya itu bisa merasakan bahwa perut Briell saat ini tiba-tiba saja menjadi kencang.
Dan bahkan tanpa aba-aba dia langsung berdiri dan memanggil dokter-dokter itu untuk memeriksa keadaan Briell.
"Cepat kalian periksa istriku," perintahnya yang mengejutkan Briell.
Sontak Briell langsung bangkit dari tidurnya melihat dokter-dokter yang masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, kamu apa-apaan sih, aku kan sudah bilang gak papah." Bentaknya pada suaminya yang masih saja tidak percaya bahwa dirinya baik-baik saja.
Melihat dokter yang masuk di kamar putrinya, membuat Mario langsung melangkah mengikuti para dokter itu. "Ini ada apa ? Briell kenapa ?" Tanya Mario dengan melihat ekspresi sedih dari Albert.
"Dad Briell baik-baik saja, tidak perlu di periksa dokter seperti ini dulu." Tolaknya tidak inginfi periksa.
Mario memandang ke arah Albert yang sepertinya menangkap sesuatu yang ganjil. "Tunggu apa lagi kalian? Cepat periksa putriku!" Perintshnya dengan tegas pada dokter-dokter yang hanya berdiri saja melihati. Tanpa memperdulikan ucapan Briell yang tidak ingin di periksa.
Briell akhirnya pasrah dan membiarkan dokter-dokter itu memeriksa dirinya dan kandunganya.
"Sepertinya nona Briell tengah mengalami kontraksi Tuan, dan apa ini? Air ketubanya merembes keluar, ini harus segera cepat di berikan suntikan perangsang tuan." Lapor salah satu Dokter senior yang memeriksa keadaan Briell.
Albert langsung menampillkan wajah khawatirnya. "Bagaimana bisa kontraksi? Ini bahkan baru masuk bulan ke tujuh dok, bukakah melahirkan itu baru akan terjadi di bulan ke sembilan,lalu bagaimana bisa?" Tanyanya denga wajah yang pucat melihat istrinya yang semakin melemah.
Tanpa izin dokter tadi menyuntikan obat perangsang untuk Briell agar cepat bisa kontraksi dan membuka jalan lahirnya.
"Kita tunggu dalam waktu beberapa jam kedepan ini Tuan, kita akan selalu memeriksa pembukaanya." Balas dokter itu tanpa menjawab pertanyaan Albert.
Albert terduduk lesuh mengingat keadaan istrinya yang melahirkan sebelum waktunya, sedangkan Mario sudah pergi keluar menyuruh beberapa pembantu untuk membelikan perlengkapan bayi untuk cucunya yang ingin lahir tiba-tiba itu.
"Dok jelaskan kenapa istri saya bisa melahirkan di usia kandungan yang baru memasuki 25 minggu?" Cercanya lagi dengan pertanyaan yang sangat mendesak.
"Ini semua terjadi ketika kontraksi rahim mengakibatkan terbukanya leher rahim (serviks), sehingga membuat janin memasuki jalan lahir Tuan." Jelasnya singkat namun cepat di pahami oleh Albert.
Lalu dia langsung cepat melangkah pada istrinya yang sedang menahan sakit akibat kontraksi yang lebih sering dan sakit.
"Sayang tahan ya, sebentar lagi kita akan bertemu Griffin sayang." Ucapanya mengelus lembut perut istrinya yang sudah semakin mengencang itu.
Lalu dia beralih mendekatkan wajahnya untuk mendengar suara putranya. "Son, jangan nakal ya, kasian Mamah kesakitan Nak, cepat keluar ya, kami mencintaimu." Ucapnya pelan berbicara pada putranya yang ada di perut Briell.
Kemudian terlihat dokter yang meletakan alat fetal doppler untuk memeriksa detak jantung bayi. "Ssserrkkkk, deg,deg,,degg,,deegg," suara detakan jantung bayi yang terdengar sedikit melemah itu.
"Nona, bernafaslah dengan teratur agar bayinya juga lega." Ucap dokter memberikan saran pada Briell.
Dan tiba saatnya Mario kembali lagi masuk ke dalam ruangan. "Bagaimana keadaanya? Apakah semua tekendali?" tanya dengan sangat khawatir juga.
"Detak jantungnya melemah Tuan, ini harus segera di keluarkan." Ucap Dokter itu yang masih menempelkan alat fetal doppler itu di perut Briell.
"Aaaarrrgggghhhh,,eemmmhhhhhh,," rintihan Briell mulai terdengar keras.
Namun dia sedikit masih bisa menahanya dengan menggengam bantal dengan sangat kuat, sedangkan Albert terlihat mengusap lembut punggung istrinya agar bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya.
Dokter yang semakin mendengar detak jantunh melemah, kini mengambil tindakan cepat.
"Tuan kita harus segera mengeluarkanya." Ujar dokter itu yang semakin membuat Albert khawtir.
"Lalu bagaimana Dok, bahkan pembukaanya saja belum cukup," sahut Albert yang bingung dengan keadaan.
Dokter tadi langsung memasukan jarinya ke mulut rahim Briell untuk memeriksa pembukaanya. "Ini sudah bukaan ke empat, kita harus merobeknya Tuan, ini harus segera di lahirkan," ucap Dokter itu dengan dokter yang lain sudah menyiapkan alat-alat yang memang sudah di sediakan dengan begitu lengkap.
Albert terdiam menatap ke arah Mario dan Briell. Yang sama-sama menganggukan kepala mereka.
"Daddy keluar dulu, kamu di sini temani istrimu melahirkan," pamit Mario yang lebih memilih keluar saat ini.
Dokter yang sudah siap kini langsung menggunting jalan lahir itu dengan besar.
"Aaarrrggghhhh sakitttt," teriak Briell karna itu sama sekali tidak di berikan obat bius.
Albert memeluk istrinya agar bisa menyalurkan kekuatanya. "Kamu bisa sayang, kamu pasti bisa." Serunya memberikan semangat untuk istrinya.
Dokter sudah melihat kepala bayi yang hendak keluar itu. "Ayo Nona terus dorong," perintah dokter yang meminta Brielk untuk mengejan.
"Aaahhhhhrrrgghh, uhhuuff,,aaahhhrregghh," teriaknya mengejen mengerahkan seluruh tenanganyaz.
Dan karna memang tenaganya yang masih seimbang, bayinya itu keluar dengan beberapa kali tekanan.
"Sayang anak kita lahir sayang, terima kasih," tangisnya hari mencium kening istrinya yang masih terlihat ngos-ngosan itu.
Namun tidak ada terdengar suara tangisan sama sekali dari bayi itu, yang sontak membuat Briell dan Albert menatap ke arah dokter. "Ada apa dok?" Tanya Albert yang langsung melihat ke arah bayi yang bergerak-gerak.
"Dok, bayi saya hidup namun kenapa tidak menangis?" Cercanya lagi dengan perasaan yang begitu khawatir.
"Kami masih belum bisa memastikan tuan, biarkan kami mengerjakan tugas kami dulu," balas dokter itu yang langsung mengalihkan bayi mereka ke tempat khusus dan memancing tangisan bayi itu.
"Sayangg, ada apa dengan Grifiin," tangis Briell pecah melihat bayinya yang tidak mau menangis.
Albert langsung sigap memeluk istrinya untuk memberikan ketenangan. "Tenanglah sayang, Griffin tidak apa-apa, dia masih bergerak sayang mungkin hanya butuh rangsangam sedikit dia akan menangis, kita berdoa saja," ucapnya agar istrinya itu tidak terlalu khawatir, meskipun sesungguhnya dia yang sangat khawatir.
To be continue.
Detik-detik Tamat gengs, jangan jadi pembaca gelap dong๐ญ๐ญ
*Sedekah ya sedekah **๐ญ๐ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya๐๐ *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ๐ญ๐ญ๐ญ
Terima kasih๐๐ป๐๐ป
Follow IG Author @Andrieta_Rendra