Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 58



🌹 Happy Reading 🌹


Kediaman keluarga Lesham.


"Aaaarrrgggghhh brengsek, aku akan rebut Briell kembali, itu pasti Aaaarrrrggghhh," teriak Aiden seperti orang gila yang menghancurkan semua barang yang ada di Mansion mewah itu.


Sedari pulang tadi Aiden terus menerus mengamuk bagaikan orang gila.


"Cukup Aiden, jangan sakit jiwa kamu! Lepaskan dia, Briell bukan jodoh kamu. Biar kamu mau paksa seperti apa pun, dia gaka akan pernah kembali sama kamu ingat itu baik-baik," seru Stella yang sudah muak melihat kelakuan dari putranya ini.


Arnon yang mendengar istrinya malah membela orang lain juga ikut tersulutkan emosi, "sayang kamu gak bisa seperti ini, dari awal bukan begini perjanjianya. Anak kamu itu Aiden bukan dia, kenapa kamu malah membelanya." Arnon menolak keras apa yang di lakukan Stella saat ini. Baginya kebahagian putranya adalah yang nomor satu, dan itu berlaku sampai kapan pun.


"Arnon Giovano, jangan kamu terus-terusan meracuni pikiran putra kita seperti itu, di dunia ini ada yang bisa kita dapatkan, ada yang tidak bisa."


"Kamu mencintaiku, aku juga mencintaimu, dan itulah yang membuat kita bisa bersama sampai saat ini, untuk melewati segala masalah yang ada, namun berbeda dengan Aiden, dia mencintai Briell, namun Briell tidak mencintainya, bahkan Suaminya, lalu apa yang mau di perjuangkan saat ini ha?" Bentaknya memberikan ultimatum kepada kedua pria yang sama-sama kepala batu ini.


"Dulu memang dia mungkin mencintai kamu, tapi siapa yang mau terus menerus mencintai seorang pria yang bahkan dengan berani membunuh di depan matanya, kamu liat Papah kamu Aiden," tunjuknya pada Arnon suaminya yang kini tengah berdiri di sebelahnya.


Aiden menatap sekilas ke arah Papahnya dan mengalihkan lagi pandanganya. "Papah kamu tidak pernah membunuh tanpa alasan, bahkan dia tidak akan menganggu atau pun menggunakan hal kekerasan jika orang itu tidak mengusik hidupnya,"


"Dan kamu liat putra mu!" Perintahnya yang kali ini untuk suaminya.


"Kamu liat bagaimana caranya mengeluarkan pistol tanpa ragu untuk membunuh nyawa manusia, bahkan aku tidak pernah mengajarkan hal itu padanya,"tangis Stella pecah yang sudah tidak tau lagi mengapa keluarganya menjadi seperti ini.


Hidup dalam bayang-bayang setiap korban dari putranya yang sangat-sangat menggila.


"Apa sih yang sebenarnya kita cari sekarang? Harta kita gak akan pernah habis jika kamu tidak masuk ke dalam analisa hitam seperti itu Aiden, please Mamah mohon hentikan semua ini Nak," pintanya yang sudah berulang-ulang namun tidak pernah di dengarkan oleh Aiden.


Dan di saat Stella menangis memintanya untuk berhenti, Aiden lebih memilih melangkah masuk ke dalam kamarnya dan melampiaskan semua amarahnya di sana.


"Aiden mau kemana kamu, dengari Mamah dulu, berhenti lah Nak , Mamah mohon," teriaknya pada Aiden yang masih terus melangkah tanpa memperdulikan teriakan Stella.


Dan kini tatapan Stella jatuh pada kakaknya Arvan yang tengah duduk dengan laptop canggih yang di milikinya, yang dia yakini saat ini Kakaknya itu tengah mencari informasi tentang Morgan itu.


"Sekarang apa yang mau kakak lakukan?" tanyanya pada Arvan yang terus fokus pada Laptopnya.


Arvan melirik singkat ke arah Stella yang saat ini terdengar sangat brisik baginya.


"Shea cukup kamu bertanya terus menerus seperti itu sama kakak,"bentaknya tanpa sadar sudah berani bicara keras dengan adiknya.


"Kak, mau di lupakan seperti apa pun, Jeniffer tetap istri kakak, kalian belum pernah bercerai bukan, dan Shea sangat yakin jika Morgan itu adalah anak kalian berdua kak, Please jangan membuat kesalahan lagi," lirihnya pelan duduk di sebelah kakaknya.


Arvan terdiam, dia sangat-sangat tidak bisa berpikir saat ini, 25 tahun yang lalu Jeniffer meninggalkanya dalam kondisi hamil besar, dan hingga saat ini dia tidak mengetahui kemana istrinya itu. "Aku membutuhkan Robert saat ini." Gumamnya pelan langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi otak perusahaanya yaitu Robert.


15 menit dia berbicara pada Robert, dan sekejap mata informasi keluarga Emelio bisa berada di depan matanya. "Kenapa dia tidak memberitahu jika dia adalah anak dari keluarga Emilio." Ucapnya frustasi mengusap wajahnya kasar.


Aaarrrrggghhh buggghhhh, kali ini Arvan lah yang berulah memecahkan meja kaca di ruangan itu, bahkan dia menghancurkan Laptopnya hingga tak berbentuk lagi. "Aaarghh Jeniffer, begitu lama kamu sudah menipu seperti ini, aku butuh penjelasaan kamu," dia benar-benat frustasi saat ini, ketika dia melihat wajah Morgan yang sangat mirip dengan Jennifer istrinya, dan juga ikatan batin yang dekat saat dia menyentuh Morgan. Membuatnya yakin jika Morgan adalah putranya.


"Kakak menikahinya namun kakak masih terus menerus mencintai Mira, dan sekarang kakak liat semuanya terbalaskan pada putra kakak, dia mencintai istrinya, namun istrinya masih mencintai mantan tunanganya yang sudah meninggal." Seru Stella yang masih tidak mengetahui jika Alson adalah kembaran dari Morgan yang meninggal akibat ulah putranya.


Lagi-lagi Arvan terdiam, mengingat semua perlakukan buruknya pada Jennifer, dia mungkin tidak menyakiti fisik istrinya, namun dia menyakiti wanitanya secara batin.


Sebegitu jahatnya dia dulu hingga tidak pernah ada waktu menemani istrinya, bahkan dia sampai tidak tau jika bayinya merupakan bayi kembar.


"Jennifer meninggalkan ku Shea, dia membawa anak kami bersamanya dulu, dan apa yang aku harus lakukan ketika aku tidak bisa mencari keberadaanya, dia bagaikan hilang fi telan bumi." Lirihnya pelan tanpa sadar meneteskan air matanya mengingat sosok Jenni yang selama setahun menemaninya.


Wanita yang selalu sabar menghadapi sikap dinginya, wanita yang selalu rela membagi suami dengan mendiang masa lalu suaminya.


Namun entah di titik mana, dia memilih mundur dan meninggalkan Arvan dengan segala kenangan masa lalu yang masih di simpanya rapat.


"Aku akan mengunjungi keluarga Emilio untuk mencari keberadaan Jenni, aku akan berangkat dalam 20 menit lagi, perintahkan Jerry untuk menyiapkan jet ku sekarang juga!" Perintanya mutlak kepada Stella.


Arnon yang juga sudah mengetahui keadaan sebenarnya kali ini juga memilih diam, karna baginya urusan pribadi kakak iparnya itu sangat begitu rumit untuk di ikut campuri.


"Shea, pastikan Aiden menjauhi Morgan! Aku tidak mau sampai putramu melukai putraku! Ingat itu!" Ancamnya pada Stella yang merupakan ibu dari Aiden yang pasti saat ini sudah menyusun rencana untuk membunuh Morgan.


Dan Arvan tidak akan pernah membiarkan itu semua terjadi, dan beruntung saat ini dia masih belum mengetahui jika putra pertamanya Alson yang merupakan kembaran dari Morgan sudah terlebih dulu mati di tangan keponakanya sendiri.


Jika dia sampai mengetahui, tidak bisa di bayangkan bagaimana kemarahan seorang Arvan yang merupakan penguasa Dunia.


Bahkan Stella dan Arnon saja tidak pernah berani mengusik kehidupan pria satu ini. Pria yang hidupnya tidak pernah takut pada apa pun.


Dan semoga kenyataannya nanti bisa di terima dari pihak Morgan itu sendiri, mengingat betapa jahatnya perlakuan Arvan dahulu terjadap Jennifer ibunya.


o be continue.


*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra


Note :


Yang penasaran cerita Mira dan fernandez bisa baca karya Mimin yang pertama ya "Terpaksa Mengkhianati"


Nanti di sana terjawab apa yang ingin kalian ketahui.


Jadi cukup Mimin jelaskan ya, di sini Mimin akan tuliskan kisah Arvan dari awal mula nanti.


Jadi jangan di sangkut pautkan dengan cerita author sebelah. Jika kalian belum membaca karya sebelah, kalian bisa mendapatkan jawabnya di karya pertama mimin.


Terima kasih 🙏🏻🙏🏻