
Happy Reading
Setelah segala perdebatan yang ada, kini mau tidak mau Jenni memilih untuk mengikuti permintaan kakaknya terlebih dahulu.
Dan sinilah mereka, di kamar Jenni dengan Jesper yang sedang menyuapi adiknya makan.
"Kakak," panggil Jenni pada kakaknya yang terlihat sedang memasang wajah datarnya.
"Hem," sahut Jesper dengan singkat.
"Kakak ada merasa aneh gak sih dari tadi?" Tanya Jenni dengan melihat — lihat ke sekitaran kamarnya.
Jesper mengedikan bahunya singkat, karena dia merasa jika semuanya hanya biasa — biasa saja. "Kakak tidak merasakan apapun Jen, kamu jangan mulai drama Iagi ya!" Jesper menegaskan adiknya, untuk tidak kembali membuat ulah, ataupun beralasan macam — macam, agar dirinya bisa mengubah keputusannya yang sudah matang itu.
Jenni yang mendapatkan kalimat seperti itu, kali ini benar — benar merasa jika kakanya sudah berubah, Jesper sudah tidak perduli Iagi dengannya, sehingga bisa bicara sekasar itu dengannya.
"Kakak, aku hanya ingin bilang, saat ini aku merasa bahwa sekitaran aku sedang aneh, karena seharian ini aku tidak melihat Lola ada di sini," sentak Jenni, dengan tatapan penuh kemarahan ke arah Jesper.
Dengan nafas yang mulai memburu, dan juga buliran kristal yang kembali mulai keluar dari pelupuk kedua bola mata indahnya, sangat — sangat memperlihatkan jika hati wanita itu, sedang terluka saat ini dengan sikap kakaknya yang seperti itu.
Perasannya benar — benar kacau saat ini, dia tidak mengerti kenapa semua ini terjadi kepadanya? Kenapa kakaknya mesti berubah dalam waktu sehari saja?
Padahal, masih jelas teringat di dalam otak Jenni, apa yang telah diucapkan oleh kakaknya kemarin.
Sedangkan Jesper, detik ini seketika langsung merasakan kebingungan yang melanda. "Gawat, bagaimana ini? Bisa — bisanya aku tidak fokus, bahkan diriku bisa sampai lupa, jika Lola adalah sosok yang paling berarti untuk Jenni." Batin Jesper, sembari memejamkan matanya untuk mengatur deru nafas yang sudah mulai berjalan tidak seimbang dengan detakan jantungnya.
"Jen," panggil Jesper, ketika adiknya mulai hening dan juga menatapnya dengan perasaan penuh amarah.
Jesper mencoba untuk menyentuh lengan adiknya, namun dengan cepat Jenni menepisnya.
"Jenni," panggilnya sekali Iagi.
Akan tetapi, kali ini Jenni memilih untuk membuang pandanganya dan melihat ke arah yang lainnya.
"Terakhir kali, aku bertemu dengan kakak, kemarin pagi, kakak pernah berkata kepadaku -," ucap Jenni terhenti, dan mulai beranjak dari duduknya, lalu berpindah duduk di Sisi tempat tidurnya yang kemarin terakhir Jenni melihat sosok kakaknya yang sangat mencintainya.
"Aku tidak tuli, dan aku bukanlah orang bodoh yang bisa memahami, dan bahkan mengingat dengan jelas apa yang Anda katakan kepada saya," Jenni berucap dengan mulai menggunakan bahasa formal pada Jesper.
Sontak saja, Jesper langsung membulatkan matanya besar, ketika mendengar adiknya harus sampai menggunakan bahasa Anda dan Saya. Karena dia begitu tahu, bahwa adiknya tidak akan pernah menggunakan bahasa — bahasa seperti itu, ketika sedang bersama keluarganya.
"Kenapa Anda menatap saya seperti itu?" Jenni mulai kembali meninggikan suaranya di depan Jesper.
Dengan tersenyum kecut, Jesper menggelengkan kepalanya pelan, dia bahkan tidak bisa mempercayai jika adiknya saat ini mulai bersikap kurang ajar kepadanya.
"Anda merasa kaget, kenapa saya bisa bicara dengan menganggap Anda begitu asing bagi saya?" Jenni memang sengaja bicara dengan bahasa — bahasa yang sangat formal, untuk menyadarkan kakaknya itu.
"Jenni, jaga cara bicaramu!"
"Bicara apa?" Jenni langsung memutus begitu saja kalimat yang dilontarkan oleh kakaknya.
"Bukankah Anda yang membuat saya merasakan bahwa saat ini saya sedang bersama dengan orang asing?"
"Anda bukan seperti kakak yang saya kenali selama ini, Anda berbeda, dan karena itulah aku menganggap Anda sebagai orang asing sekarang.
Dirinya merasa telah menjadi orang jahat saat ini, sebenarnya memang tidak akan pernah ada kepantasaan untuk dirinya mengatur, ataupun memaksa keinginannya untuk kehidupan adiknya.
Apa lagi yang akan menjalani kehidupan pernikahaan ini adalah adiknya, bukan dia, ataupun orang lain. Tentu saja, untuk masalah ini sejujurnya Jesper tidak berhak sama sekali menentukan siapa yang akan menikahi dan berumah tangga bersama dengan adiknya.
Namun, sekali lagi dan perlu kembali diingatkan dengan jelas, bahwa semua ini adalah sebuah keterpaksaan.
Jika tidak ada Jacob di sekitaraan mereka, dan mulai mengancam keselamatan Jenni. Jesper harus rela hidup untuk dibenci adiknya karena semua hal ini.
Mendapatkan kalimat Jenni yang sepertinya mulai menyudutkan keputusannya. Jesper kini memilih untuk segera melangkahkan kakinya pergi dari kamar Jenni .
Dia ingin kembali memberikan ruang wanita keras kepala itü untuk berpikir secara jernih tentang hasil dari keputusannya.
Sedangkan Jenni sendiri, sudah merasa bingung dan tidak tahu lagi harus bicara apa saat ini. Apa lagi dia sangat mengetahui jika kakaknya ini adalah seorang pria yang tegas dan tidak akan pernah mengubah keputusan yang telah dia nyatakan.
Dengan cepat Jesper melangkahkan kakinya maşuk ke dalam kamarnya. Dia ingin segera melihat keadaan Lola yang ditakutkan bisa merasakan depresi akibat ulah yang dia lakukan.
Ckleeekkk, Jesper membuka pintu kamarnya dengan perlahan, agar tidak terdengar ataupun menggangu kegiatan Lola di dalam sana.
"Tuan,” lirih Lola dengan pelan, ketika melihat Jesper yang sedang menutup pintu kamar.
Jesper menganggukan kepalanya pelan, dia paham jika saat ini pasti Lola sedang merasakan takut dan bahkan jijik dengan kehadirannya.
"Lola,” ucap Jesper, yang kini melangkahkan kakinya dan ingin mendekati wanita yang sedang menatapnya dengan lekat.
Namun, baru saja Jesper sampai di hadapan wanita itu, Lola sudah lebih dulu melarikan diri, dengan perasaanya yang sangat enggan bersentuhan dengan pria pujaanya itu.
"Tuan, tahukah Anda? Bagaimana rasanya? Ketika sebuah harta yang paling berharga untuk kita, tiba — tiba dihancurkan begitu saja, karena sebuah amarah yang tidak beralasan?” şuara Lola yang begitu parau, terdengar di telinga Jesper.
Perasaan Nyesal, tentü saja ada di dalam hatinya, bahkan tidak ada satupun orang yang tahu jika saat ini dirinya sangat marah kepada dirinya sendiri.
Dia marah, karena dia begitu bodoh dalam mengontrol emosi dan nafsu yang begitu meraja lela, hingga dirinya harus melakukan sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak pernah ingin dia lakukan.
Melihat Lola yang düdük di atas sofa kamarnya, dengan kaki yang dia tekuk dan tangan yang memeluk tubuhnya.
Jesper bisa melihat dengan jelas, bahwa tatapan mata wanita itü sangatlah kosong. Tidak ada keceriaan, tidak ada perasaan atas sebuah harapan lagi yang terpancar dari kedua mata indahnya.
Sehingga membuat Jesper langsung seketika berlutut dihadapan wanita itu. "Lola, maafkan akü, sungguh aku sangat menyesal karena tidak bisa mengatur emosi aku sendiri, maafkan aku, hisk„hiskk," tangisan Jesper kini tumpah.
Dia menundukan kepalanya tepat dihadapan Lola, jika di luar dia terlihat kuat dan dingin. Di saat ini, di depan Lola, di depan gadis yang sudah dihancurkan kehidupannya dalam semalam. Dirinya menangis dan ingin sekali meluapkan segala emosinya.
"Maaf, maafkan Aku Lola, please, maafkan."
To Be Continue.
Hallo Teman - Teman semua, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Mimin. agar Mimin lebih semangat lagi updatenya.
Dan jangan lupa juga untuk mampir ke karya Mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih.