Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 11



๐ŸŒน **Happy Reading **๐ŸŒน


Setelah mendapatkan kabar jika Lola sudah ada di Mansion itu, Jenni langsung keluar dari kamarnya menuju ruang rawat Lola.


Bahkan dia lupa membereskan pecahan kaca dari foto Mira tadi, sangking merasa antusias tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatanya yang masih koma itu.


Dan ketika Jenni pergi ke ruangan Lola, Arvan masuk ke dalam kamar dan terkejut melihat kamar yang hancur bagaikan kapal pecah.


Kali ini pandanganya jatuh kepada foto kekasihnya yang hancur berserakan itu.


"Jenni, beraninya kamu," umpatnya menahan rasa amarah ketika melihat foto kesayanganya hancur akibat ulah istrinya.


Dan dengan cepat Arvan langsung menyusul Jenni yang sedang menunggu sahabatnya itu.


Bruuuggghhhh Arvan menendang pintu itu dengan paksa, bahkan dia tidak mengingat lagi jika saat ini di dalam sana ada pasien yang sedang koma.


"Arvan, apa-apaan sih kamu." Bentak Jenni yang marah melihat Arvan membanting pintu seperti itu.


Dan tanpa menjawab Arvan langsung menarik tangan Jenni untuk keluar dari ruangan itu menuju kamar pribadinya yang masih berantakan itu.


"Arvann lepas sakitt,,lepass," dia meronta menarik tanganya dari gengaman tangan Arvan yang semakin keras di pergelangan tanganya.


Namun Arvan tidak mendengar itu, di terus menarik Jenni hingga masuk ke dalam kamar, lalu menguncin pintu itu.


Buuuggghhh, Arvan membanting tubuh Jenni ke atas tempat tidur dengan sangat kasar.


"Bajingan, lepaskan aku, apa yang kamu lakukan ha?" bentaknya lagi ketika Arvan terus menerus menatapnya dengan kemarahaan.


"Apa yang sudah kamu lakukan ha? Kenapa kamu merusak foto Mira?" Teriak Arvan yang merasakan emosinya yang sudah memuncak saat ini.


Dia tidak bisa diam begitu saja melihat barang-barang wanita yang di cintainya hancur akibat pelampiasan dari istrinya.


"Hahahahha, hanya itu ha ? Hanya itu karna itu saja kamu sampai menarik ku dan membatingku seperti ini iya ha ?" Jenni tertawa menantang kemarahaan Arvan yang sudah melampaui batas itu.


"Aku sudah peringatkan kepadamu Jenni, untuk jangan pernah menyentuh barang-barang milik Mira, apa kamu mengerti," bentaknya lagi semakin menjadi.


Jenni yang merasa sakit hati di bentak seperti itu, kini malah semakin menggila dengan menghancurkan semua foto dan barang-barang berharga milik Mira.


Brruuuugggg,,praaangggg,pprraaanngggg brruugghhh.


Satu persatu foto Mira di pecahkan dan di hancurkan oleh Jenni tanpa tersisa.


"Jennifer apa-apaan kamu? Aku bilang berhenti!" Perintah Arvan yang memberikan sebuah peringatan pada Jenni namun tidak di gubris sama sekali.


"Jenni aku bilang berhenti," tegasnya lagi langsung menarik tangan Jenni untuk memberhentikan aksinya ini.


"Hancur,,hancurkan semuanya ,,hahaha semuanya sudah rusak Arvan, sudah rusak," tawanya di sela-sela tangisnya, melepaskan tangan Arvan yang kini telah melonggarkan tanganya dari gengaman miliknya.


"Semua sudah hancurkan, kamu bisa lihat kan ha! Kamu gak butakan Arvan iyakan." serunya lagi memandang sendu ke arah Arvan yang kini terdiam melihat sikap depresi dari Jenni.


"Arvan jawab, semua sudah hancurkan iya kan semuanya sudah rusak kan," tangisnya lagi mengguncangkan tubuh suaminya agar menjawab pertanyaanya.


Arvan menolehkan pandanganya ke arah lain karna enggan menatap ke arah Jenni saat ini. "Semuanya sudah hancur dan kamu yang mengahancurkan semuanya," balas Arvan dengan nada penuh penekananan.


"Begitu juga kehidupanku yang hancur dan rusak karna mu, aku hanyalah sebuah barang, sama seperti mereka yang baru saja aku hancurkan, aku hancur tapi kamu tidak bisa melihat karna kamu buta, kamu buta bukanya hanya mata namun hati," teriak Jenni sekencang-kencangnya mengungkapkan segala kehancuran hatinya.


Arvan kembali menoleh pada Jenni yang tengah terduduk lemah di antara pecahan beling saat ini, "jenni aku sudah memperingatkanmu sedari awal untuk tidak mencintaiku, lalu kenapa kamu mencintaiku, ini bukanlah salah ku namu salahmu yang begitu bodoh mencintai pria yang bukan milikmu," balas Arvan lagi membuat Jenni terasa tertampar oleh kalimat demi kalimat yang keluat dari mulut suaminya itu.


"Kamu bukan Tuhan, aku bukan malaikat yang mampu memohon pada Tuhan agar tidak mencintai suami ku sendiri, kamu hanya manusia biasa dan aku hanyalah barang yang bisa kamu gunakan kapan mu kamu mau,"


"Jenni cukup memanggil dirimu dengan sebutan barang-" bentak Arvan yang sama sekali tidak suka mendengar Jenni yang menganggap dirinya hanyalah sebuah mainan milik suaminya.


"Memang seperti itu kenyataanya Lord Arvan, aku hanyalah sebuah sepatu yang kamu gunankakan ketika kamu menginginkanya, dan ketika kamu bosan kamu bisa meletakanya dan menggantinya dengan yang lainya, iya kan," balasa Jenni lagi dengan sedikit berteriak.


Arvan mendekat ke arah Jenni dan menangkup wajah itu. "Dari awal aku sudah bilang aku sudah mencintai dan mempunyai wanita ku sendiri, jadi jangan pernah mencintaiku dan menaruh harapan kepadaku Jennifer ku mohon mengertilah, aku memang suami kamu tapi aku bukan milikmu Jenni, cinta dan hatiku hanya milik Mira, hanya Mira, maaf tapi aku hanya mau kamu tau posisi pernikahaan kita hanyalah sebuah ikatan pertemanan saja, ku mohon jangan mencintai pria yang hatinya bukan milkmu," pintanya dengan sangat menatap tulus ke arah mata Jenni yang dia sendiri bisa melihat luka itu.


"Maafkan aku Jenni, maafkan aku, tapi aku mencintainya," lirihnya pelan, dan melepaskan tanganya dari wajah Jenni.


Lalu dengan perlahan dia meletakan kepalnya di pangkuan istrinya, meminta kedamaian dari rasa kesepianya.


"Aku tau kamu tidak akan mencintaiku Arvan, aku cukup tau diri untuk menyadari posisi ku saat ini, tapi ku mohon aku bukanlah Mira, jangan samakan aku denganya, aku adalah aku, dan Mira adalah Mira, aku adalah istrimu dan Mira adalah cintamu, jadi aku minta sama kamu untuk tau membedakan mana aku dan Mira." Balas Jenni dengan pelan, namun mengalihkan pandanganya ke arah lain, tidak sanggup menatap ke arah wajah pria yang sudah memberikanya luka begitu dalam.


"Maafkan aku Jenni, aku memang egois tapi aku minta jangan pernah meninggalkan ku sebelum aku yang memintamu untuk pergi, tetaplah temani aku sebagai teman bukan sebagai istri yang sebenarnya." Jawab Arvan lagi yang hanya bisa di jawab gelengan kepala oleh Jenni.


"Apa yang kamu mau? Kamu mau aku merubah dekorasinya seperti keinginan mu? Aku akan melakukanya, tapi aku mohon jangan rusak barang Mira lagi, dia gak salah dan dia gak pernah melukaimu bukan, jadi kalo kamu mau marah lampiaskan ke aku aja, jangan ke dia oke," lirihnya lagi dengan santai, memohon tapi menyakitkan, itulah kalimat yang begitu pantas di ucapkan saat ini.


Jenni memilih diam tidak menjawab, karna menurutnya bicara saja juga percuma saat ini, Arvan tetap saja tidak akan pernah menerima dan mempercayai cinta dan perasaanya itu.


"Aku lelah mencintamu dengan tulus dan selalu berharap jika kamu akan melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan. Arvan apa kamu tau bahwa dengan mencintaimu itu membunuhku setiap hari untuk melihat dan menyadari bahwa kamu tidak merasakan hal yang sama denganku, apakah aku jahat jika mendoakan kesedihanmu agar memberiku kebahagiaan. Aku tahu kamu sudah menolak ku, tapi aku gak tau kenapa rasa cinta di hatiku ini rasanya tidak mau pergi, mungkin aku kurang berjuang untuk mendapatkan cintamu, meskipun kamu sudah mengatakan berulang-ulang jika kamu tidak akan mencintaku, tapi aku tetap meyakinkan hatiku untuk selalu mencintaimu, karna sekarang aku sudah tidak mungkin bisa lagi merasakan cinta dari pria lain, karna cintaku sudah stuck di kamu, walau aku yakin kamu tidak akan pernah tahu apa yang aku rasakan saat ini. Mungkin memang sakit rasanya, kecewa memang kecewa yang kudapatkan dari semua ini, tetapi hanya perlu mengingat jika akulah yang memilih untuk mencintaimu," ucapnya pelan dalam hati, merasakan sesal jika dialah yang salah karna sudah berani mencintai suaminya sendiri.


**To be continue. **


Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป


Follow IG Author @Andrieta_Rendra