Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 23



Dengan setia Lucas mendengarkan semua rencana yang sudah dijalankan, oleh Arvan tentang bagaimana dirinya untuk bisa menjebak dan menangkap Robert.


"Sebenarnya, apa yang selama ini ada di dalam pemikiran dan rencanmu Lord? Bukankah kamu hanya mencintai Mira, lalu sekarang ini apa?" tanya Lucas, yang masih merasa bingung, kenapa Arvan harus sampai mengorbankan hidup asistennya hanya demi seorang gadis yang baru saja dia kenal.


Arvan melirik tajam ke arah Lucas, bukan karena dia marah dengan pertanyaan dari Sang Psychopat itu, namun dia marah karena dirinya merasa sangat bodoh, karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang sangat mudah bagi siapapun.


"Sudahlah Lucas, jika kamu begitu tahu aku mencintai Mira, pasti kamu tidak akan bertanya banyak seperti ini kepadaku, lagian aku adalah Bosmu, jadi jangan pernah merasa sok akrab ataupun kamu harus mencampuri kehidupaanku."


"Dan satu lagi, dengan siapa aku berpasangan, itu sama sekali tidak ada urusanya dengan kamu! Apa kamu mengerti?!" Tegas Arvan, dengan hati yang terasa ketar ketir juga.


Karena biar bagaimanapun, Jenni adalah wanita yang telah dia nikahi. Dan Arvan akan terus mempertahankan itu, sampai akhirnya Jenni telah melahirkan keturunan untuknya.


Arvan sendiri sebenarnya sudah tidak ingin berulang kali menikah, cukup Jenni saja, wanita yang dia hancurkan kehidupannya, jangan ada wanita lain lagi, kecuali, ketika dokter menyatakan bahwa Jenni tidak bisa mengandung keturunan untuknya, barulah di situ Arvan akan menceraikaanya dan mencari wanita lain, yang memang mau menjual rahimnya untuk Arvan.


"Oke, as you Want it Lord," ucap Lucas, dia cukup mengerti apa yang sedang diinginkan oleh Bosnya ini. Jadi dia tidak akan lagi banyak bertanya, tentang apa yang harus dia kerjakan.


"Tetapi Anda harus ingat, bahwa aku tidak akan pernah melepaskan targetku sebelum dia bertemu dengan kematiaan," timpalnya lagi, sebelum akhirnya dia memilih untuk segera pergi dari markas Arvan itu.


Melihat langkah kaki Lucas yang kini kian menjauh, Arvan menyandarkan kepalanya sejenak, sembari menutup matanya dengan perlahan.


Sebenarnya dia sama sekali tidak yakin untuk mengikut sertakan Lucas di dalam masalah ini, mengingat betapa setianya Robert selama berada di bawah tanganya.


Tetapi ketika dirinya mengingat bahwa saat ini Robertlah yang membawa kabur istrinya, rasa amarah itu semakin memuncak. Sehingga pilihan terakhirnya adalah Lucas.


"Kamu harus menerima hukuman atas perbuataan yang kamu lakukan Robert, terlepas dari apapun alasan yang kamu lakukan, sebaik apapun niat kamu ingin menolong Jenni, tetapi kamu tetap salah, karena telah membawa wanita yang berstatus istri dari atasanmu itu," lirihnya dalam hati.


Sedangkan di sisi lain, Robert dan Jenni yang sudah berhasil, dan kini telah mendarat sempurna di India.


Terlihat mereka yang sedang melihat - lihat rumah yang akan ingin mereka tempati.


"Apakah, orang - orang di sini, hanya mempunyai rumah yang begini?" tanya Jenni pelan, karena baru pertama kalinya dia melihat sebuah rumah yang terbilang sangat kecil, dan bahkan hanva seukuran kamar mandi di


Mansionnya saja.


Robert menghela nafasnya berat, dia sangat tahu bahwa pemikiraan Jenni yang seperti ini pasti akan terjadi.


"Jenni, kita sekarang itu sedang melarikan diri, kita tidak mempunyai apapun sekarang, jadi aku harap kamu bisa menerima kondisi ini, karena uang yang aku miliki hanya mampu membeli rumah sekecil ini saja," tegas Robert, menasehati Jenni, agar tidak lagi mengeluh dengan keadaan ini.


"Tapi -"


"Jen, please, aku bukan Arvan yang memiliki segalanya dan bisa memberikanmu segalanya. Uangku dibekukan olehnya Jen." Robert sangat tahu, jika saat ini Jenni pasti akan terluka dengan kalimatnya.


"Ini yang aku tidak sukai dari wanita, selalu saja mengeluh tanpa tahu bagaimana perjuanganku," batinya, sembari menggelengkan kepalanya pusing.


Kali ini Jenni sudah tidak mempunyai pilihan Iain, karena biar bagaimanapun, Robert sudah terlalu banyak berjuang dan mempertaruhkan semuanya untuk dia.


Dan sudah seharusnya Jenni memberikan apresiasi untuk itu semua. Jenni yang melihat wajah lelah dari Robert, kini langsung memeluk tubuh kekar itu dengan erat, dia berpikir bahwa pelukan itu bisa membuat Robert sedikit tenang dari semua masalahnya.


"Maafkan aku, mungkin aku hanya tidak biasa tinggal di tempat seperti ini, tetapi bukan berarti aku tidak sukakan," lirihnya pelan, sembari terus memperat pelukaanya.


Namun ternyata tubuhnya yang mungil, serta tanganya yang kecil tidak cukup untuk melingkar di tubuh Robert yang terlalu atletis itu.


Robert menyingkirkan tangan Jenni dari tubuhnya, lalu menarik tubuh Jenni agar maju ke depan dan lalu menggendongnya. "Apakah kamu tahu? Aku awalnya tidak percaya dengan yang namanya cinta, sampai aku mengenalmu, aku mungkin tahu salah, ketika aku mencintai wanita yang sudah bersuami, tetapi ketika kamu mencintai seseorang maka yang kamu inginkan hanyalah kebahagaian orang itu, tanpa harus memilikinya."


"Tetapi berbeda denganmu, karena aku merasa, dengankulah kamu akan bisa mendapatkan kebahagiaan itu," ungkap Robert dengan tulus.


Entah dari mana semua keberanian yang dia dapatkan, sehingga dia begitu berani mengungkapkan kalimat - kalimat manis itu untuk wanita yang sangat dia cintai.


Jenni yang masih berada di dalam gendongan Robert, kini beralih mengusap lembut wajah lelah dari Robert itu, dia memang tidak bisa membalas cinta yang dimiliki pria ini. Tetapi dia bisa memberikan yang terbaik untuk membalas segala jasa yang telah Robert berikaan untuknya.


"Terima kasih ya, aku tidak menyangka jika di dunia ini, masih ada pria yang masih mau untuk berjuang demi cinta," ucapnya benar - benar tulus dari dalam hati, lalu dia menatap lekat ke - dua bola mata grey milik Robert. Dengan jelas dia bisa Melihat cinta yang sangat besar dari mata itu.


Dan di saat mereka sedang sama - sama saling memandang, Tiba - tiba saja, Jenni merasa perutnya yang bergejolak, hingga rasa mual meneyeluruh dan ingin mengeluarkan semuanya.


"Huueekk „ hueekkk„" Jenni langsung melompat, agar bisa bebas dari gendongan


Robert, dan beralih ke dapur untuk mengeluarkan segala isi perutnya.


"Jenni, are you Okay?" Tanya Robert, yang kini merasa bingung melihat Jenni tiba - tiba sakit di dalam keadaan seperti ini.


Jenni menggelengkan kepalanya pelan, lalu kembali memuntahkan seluruhnya, dia benar benar merasa sangat tidak nyaman dengan semua ini.


"Apakah pria itu sangat tidak peka? Tidak bisakah dia menggosok punggungku, atau paling tidak mengambilkan minum untukku, aahhh, pria ini benar - benar," ucapnya lirih dalam hati. Jenni terus saja melirik ke arah Robert yang seperti mandor memperhatikaan dirinya muntah, tanpa tahu harus berbuat apa. Dan entah untuk apa dia melihat seperti itu.


To Be Continue.


Hey teman - teman, jangan lupa ya, Like, Komen,Vote dan Hadiahnya untuk Mimin, agar Mimin semakin semangat updatenya.


Dan jangan lupa untuk mampir ke semua karya mimin di sini ya. Terima Kasih.