Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 26



Happy Reading


"Lucas!" Bentak Arvan, ketika tidak menyukai jika Lucas bicara gantung kepadanya.


"Iya Lord," jawab Lucas dengan begitu santainya. Tanpa memperdulikaan Arvan yang saat ini sedang menampilkan wajah penuh emosi.


Lucas kembali mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, dan memperlihatkaanya pada Arvan. "anak buahku kemarin mengikuti mereka hingga sampai di rumah sakit, lalu dengan bosan mereka semua menunggu apa Robert dan Jenni keluar dari rumah sakit, dan setelah itu barulah mereka masuk dengan mengancam dokter tersebut untuk mengatakaan hal yang sebenarnya." terang Lucas dengan serius.


Arvan dan Delon hanya diam saja, menunggu sampai Lucas menyelesaikaan kalimatnya, karena mereka tahu jika Lucas adalah orang yang paling tidak menyukai jika dia sedang berbicara lalu dipotong se -enaknya, walaupun itu adalah Arvan sendiri.


"Ahh, aku paling malas jika harus bicara berputar - putar." Lucas menggelengkan kepalanya pusing kepada dirinya sendiri. Kembali membuat Arvan dan Delon sama - sama saling memandang satu sama lainnya.


"Jadi intinya apa?" Tanya Arvan untuk kesekian kalinya.


"Intinya Anda akan menjadi Papah," ucap Lucas dengan sangat lugas.


Namun, sepertinya otak Arvan memang sedang konslet saat ini. Sehingga dirinya sama sekali tidak menampilkan reaksi apapun.


Lucas memilih untuk mengabaikan reaksi Arvan, karena dia sendiri sebenarnya juga tidak tahu harus bersikap seperti apa jika mendengar cerita kehamilan.


"Sudahlah, aku sudah telat saat ini, sekarang aku pergi dulu," pamit Lucas, yang terdengar seperti menyelong. Karena dirinya yang meninggalkan Arvan begitu saja tanpa penjelasaan yang pasti.


Di saat Lucas telah melangkahkan kakinya pergi, barulah Arvan kembali tersadar dan menatap Delon untuk meminta jawaban yang sejelas - jelasnya.


"Apakah kamu mengerti apa yang dikatakan oleh Lucas tadi?" tanya Arvan pada Delon.


"Tahu Lord," jawabnya singkat.


"Katakan Tuan Lucas, Anda akan menjadi seorang papah," ucapnya lagi, mengulang apa yang dikatakaan oleh Lucas tadi.


"Maksudnya?" Delon menghela nafasnya kasar, entah bahasa apa yang harus dia gunakaan sekarang untuk membuat bosnya mengerti dengan apa yang dia katakaan.


"Maksudnya itu, istri Anda, Queen Jenni kita, itu sedang hamil Master Lord yang terhormat.


Arvan kembali terdiam, namun kali ini dia bukan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Delon, melainkan dirinya memang tidak tahu harne hergikan ana


harus bersikap apa.


"Hamil," lirihnya dengan tertawa sinis. Entah apa yang sedang dia tertawakan, entah nasibnya atau malah dia mentertawakan Jenni yang membawa kabur berita sebesar ini.


Arvan terlihat menghela nafasnya berat, Kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan Delon begitu yang kini juga menatapnya heran.


"Horor gak Sih kalau lihat bos ketawa sendiri seperti itu?" Delon mengedikan bahunya singkat, merasa bahwa Arvan benar - benar sudah tidak waras.


Di dalam ruanganya, Arvan terus mengingat kapan Jenni mengeluh datang bulan kepadanya untuk terakhir kalinya.


Namun tidak ada yang bisa menjadi tolak ukur untuk mencurigai wanita itu. Karena selama ini juga Jenni hanya ada bersamanya.


"Lucas," gumamnya, lalu segera mengambil ponselnya untuk segera menghubungi anak buahnya itu.


"The number you've dialed is out of range, please try again the other View minuets." Suara operator yang menjawab.


"Ahhh Sial!! Begini nih kalau anak buah se enaknya, bisa - bisanya dia menyampaikan brita hanya setengah seperti itu." Keluh Arvan dengan mengusap kepalanya pelan, karena sedari tadi pusing yang berlaku, sampai saat ini belum juga menghilang.


Arvan dengan Lucas, memang tidak terlihat seperti bos dengan anak buahnya. Bahkan orang luar sering mengira jika Lucaslah bos yang sebenarnya.


Mungkin saja, jika di kehidupan dulu Lucas tidak mempunyai hutang budi kepada keluarga Arvan, saat ini keluarga besar Cyberaya itu tidak akan pernah ada lagi, karena posisi mereka telah tergantikan oleh Lucas.


Akan tetapi, tidak akan pernah ada yang tahu, jika Arvan sebenarnya mempunyai kepribadian ganda. Kenapa disebut demikian?


Karena Arvan hanya akan menunjukan sikap aslinya jika dirinya benar - benar merasa marah dengan seseorang. Tetapi jika di saat seperti ini dirinya memilih untuk bersikap humble dan rendah hati kepada semuanya.


Setelah beberapa kali dirinya menghubungi Lucas, tetapi tidak tersambung, Arvan merasa galau sendiri. "Apa ini? Kenapa aku harus diam seperti ini?" Gumamnya tidak mengerti.


Tokk„ tokk, suara ketukan Pintu terdengar, mengejutkan Arvan yang saat ini sedang menatap ke arah laptopnya.


"Ya, masuk," sahut Arvan, dengan tatapan yang terus terfokus pada email - email yang masuk.


dirinya tidak boleh banyak bertanya. Dia hanya diperintahkan untuk mengantar sosok itu masuk ke dalam ruangan Arvan.


"Permisi Lord, ini adalah pria yang tadi Tuan Lucas katakan," ucapnya, sembari menundukan kepalanya hormat.


Arvan melirikan matanya sejenak, samar samar dia melihat sosok Kevin di sana. "Ahhh, ternyata waktunya sudah tiba," batin Arvan, yang sudah lebih dulu memahami, apa maksud dan tujuan Kevin di sini.


"Lord," panggil Kevin dengan pelan. Dia tidak berani meninggikan suaranya dihadapan Arvan seperti apa yang biasa Lucas, Robert maupun Delon lakukan.


Mungkin sebagaian dari mereka, menganggap semuanya sangat biasa, tetapi tidak dengan Kevin. Itulah yang membuat dirinya sangat disukai oleh Arvan.


"Kevin, apakah Lucas telah mengatakan semuanya denganmu?" tanya Arvan dengan nada yang serius.


Kevin mengangukan kepalanya singkat, sebagai jawaban atas pertanyaan Arvan.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan saat ini?" tanya Arvan lagi.


"Melakukan seperti biasa Lord, seperti yang


Tuan Lucas minta kepada Saya." Jawabnya tegas. "Memangnya apa yang pria itu minta?" tanya Arvan untuk kesekian kalinya.


"Membunuh, dan memotong," ungkap Kevin dengan sejujur mungkin.


Arvan menganggukan kepalanya paham, ini adalah kesalahaanya, karena sudah tahu dia adalah anak buah Arvan, dia malah terus bertanya seperti orang yang baru saling mengenali.


"Kevin, aku akan mengganti rencana itu," ucap Arvan, sontak membuat Kevin merasa bingung sendiri.


"Maksudnya mengganti apa Lord?" Kevin menatap Arvan dengan serius. Dia tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Master Lordnya itu.


Selama dia bekerja bersama dengan Lucas dan Arvan, belum pernah sekalipun dia mendengar kata mengganti rencana awal.


"Jangan bunuh Robert!" Perintah Arvan yang tedengar seperti permintaan.


Kevin menyeritkan keningnya bingung, kenapa? Itulah jawaban yang tersirat dari tatapan seriusnya.


Arvan menggelengkan kepalanya pelan, lalu berdiri dari tempatnya dan menatap Kevin dengan sendu.


"Jangan membunuh Robert, biarkan aku saja yang mengurusnya, oke?" Arvan terlihat begitu menyayangi asistennya itu.


Semarah - marahnya dia, tidak pernah sekalipun dia tega untuk membunuh Robert begitu saja.


Terlepas dari apa yang Robert Lakukan, semua itu juga adalah andil dari kesalahaanya.


Coba saja dia tidak bersikap seperti itu kepada Jenni, mungkin saja resiko orang ketiga itu tidak akan pernah masuk ke dalam kehidupan rumah tangga mereka.


"Lalu, jika Anda menginginkan seperti itu, lalu untuk apa Anda memanggil tuan Lucas, Lord?" tanya Kevin, yang sama sekali tidak memahami jalan pemikiran Arvan.


Karena setahunya, jika Lucas sampai turun tangan, itu berarti dia sudah sangat marah dan tidak ingin mengampuni siapapun itu. Tetapi kenapa?


"Kevin, terkadang kamu memang harus membutuhkan dia ketika kamu sedang diradang emosi yang sangat besar, tetapi bukan berati emosi lalu melenyapkan dia itu adalah sebuah keharusan bukan?"


"Aku hanya merasa, jika selama aku hidup, Robert selalu ada bersamaku tanpa pernah melakukan satu kesalahan sedikitpun, dan sekarang ketika dia melakukan kesalahan, itu juga karena aku, apakah aku tidak bisa ataupun tidak boleh memberikannya kesempatan untuk pertama dan terakhir kalinya?"


Kevin akhirnya mengerti, bagimana rapuhnya perasaan Arvan. Inilah yang Kevin kagumi dari sosok penguasa itu.


Di saat dirinya telah dikhianati oleh orang kepercayaanya, dirinya masih saja mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada orang itu.


"Baik Lord, saya mengerti apa yang sedang Anda inginkan saat ini," sahut Kevin. Membuat Arvan sedikit menampilkan senyumnya.


Arvan sangat hafal, jika Kevin sebenarnya bukanlah orang jahat, tetapi keadaan sekitarlah yang membuatnya harus bersikap layaknya seorang iblis walaupun sebenarnya hatinya dalah malaikat.


To Be Continue.


Hey teman - teman, jangan lupa ya, like, komen, Vote dan kasih hadiah ke mimin. Agar mimin lebih semangat lagi nulisnya ya.


Dan jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya. Terima Kasih.