
Happy Reading BESTie 😘
Setelah selesai mengungkapkan niatnya bersama dengan keluarga Enrique.
Saat ini Jesper memilih untuk pulang ke Mansionya, untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh adiknya.
"Kakak pulang," seru Jesper, sedikit berteriak untuk memberitahu pada orang — orang Mansion jika dirinya sudah pulang.
Namun sepertinya Jenni sedang tidak berada di lantai bawah, sehingga dirinya tidak mendengar kepulangan kakaknya.
"Bi, Jenni di mana ya?" tanya Jesper, ketika melihat seorang pelayan yang lewat dihadapannya.
"Ohh, Nona Jenni sedang berenang di halaman belakang Tuan," jawab pelayan tersebut. "Ohh okeyy," balas Jesper lagi, dan langsung melangkahkan kakinya ke belakang untuk menemui adiknya.
"Jenni," panggil Jesper, yang berubah ekspresi ketika melihat lekukan tubuh sexy dan mulus milik Lola. Bahkan Jesper sampai harus menelan salivanya sendiri, merasa panas dengan hassratnya.
Jenni yang sedang berenang, tidak sengaja melihat kakaknya melamun dengan mata yang menatap sahabatnya itu, langsung keluar dari kolam renang, dan mendotong kakaknya masuk ke dalam kolam.
"Arrgghh Jenni," teriak Jesper, yang merasa terkejut ketika dia merasakan tubuhnya yang terasa melayang di atas air.
Byurrr, Jesper terjatuh ke dalam air, membuat Lola terkejut melihatnya. "Aahh Tuan," jerit Lola, dan langsung keluar dari dalam air, merasa malu ketika kakak dari Tuannya ini melihat tubuhnya yang hanya menggunakan bikkiini saja.
"Nona saya akan ke kamar saya terlebih dahulu," ucap Lola, yang langsung berlari mengambil handuk kimononya dan masuk ke dalam kamarnya yang berada di Vila belakang.
Jenni hanya diam melihat langkah Lola yang sedikit berlari ke arah Vila belakang dengan hembusan nafasnya yang kesal.
"Kenapa Sih kakak masuk tiba — tiba gak pakai ngomong dulu?" sentaknya pada Jesper yang malah menikmati keadaanya di dalam kolam renang.
"Kakakkan tidak tahu kalau kalian sedang berenang, kakak pikir hanya kalian yang berenang, bukan Lola," jawab Jesper dengan begitu santai. Membuat Jenni semakin merasa kesal dengan kakaknya.
"Kakak, kau memang sangat menyebalkan," keluh Jenni, sebelum dirinya juga memilih mengambil handuk Kimononya dan pergi berlari masuk ke lantai atas menuju kamarnya.
Sedangkan Jesper, yang merasa bahwa Jas yang dia gunakan semakin berat karena terkena air, memilih untuk segera keluar dan membersihkan tubuhnya. Sebelum dirinya mulai berbicara dengan adiknya dengan keputusan yang dia ambil tadi.
Tidak mengapa jika Jenni nanti akan marah padanya, baginya yang utama adalah keselamatan adiknya terlebih dahulu.
Walupun David dan Jacob adalah sama — sama pria yang katanya mencintai Jenni, tetapi
Jesper bisa tahu, jika David akan bisa membuat Jenni mencintainya dengan sebuah kelembutan. Tetapi jika Jacob? Jesper saja tidak yakin jika pria itu benar — benar mencintai adiknya.
Bahkan dia bisa merasakan, jika Jacob menggunakan Jenni untuk membuat dirinya mau bersatu dengan sekutu yang dibuat olehnya.
"Tidak masalah jika Jenni akan marah untuk sekarang, yang terpenting setelah berselang lama, Jenni pasti akan mencintai David." Batin Jesper, ketika dirinya sedang menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Lalu, tidak ingin membuang waktu lagi, Jesper segera melangkahkan kakinya menuju halaman belakang, tempat di mana adiknya berada.
Tadi dia sempat diberitahukan dengan pelayan yang mengantarkan coffe ke kamarnya, jika adiknya berada di sana.
"Jenni," panggil Jesper, ketika dirinya sudah melihat adiknya yang sedang duduk sambil merangkai bunga, dengan di temani oleh Lola.
Jesper menatap Lola dengan dingin, membuat Lola sadar bahwa saat ini dia harus pergi dari tempat itu. "Saya permisi dulu Nona, Tuan," pamit
Lola, dengan menundukan kepalanya hormat pada Jesper dan juga Jenni.
"Ada apa Sih kak? Kaya serius banget begitu," ucap Jenni, yang terus saja kembali fokus dengan bunga — bunga yang ada di depan matanya.
Jesper terdiam sejenak, dia sedang mengatur kalimat apa yang harus dia katakan kepada adiknya ini.
Dia ingin memeberitahukan tanpa harus Jenni mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.
"Jenni, kamu -,"
"Kalau kakak mau membicarakan masalah yang tadi pagi, aku sudah tahu kok jawabanya." Tebak Jenni dengan senyum manis yang tersungging dari bibirnya.
"Pasti kakak sudah membatalkannya kan, aku tahu tentang itu," ucap Jenni lagi dengan rasa bahagianya.
Jesper terdiam sejenak, dia merasa ragu ketika melihat senyum indah dari wajah adiknya ini.
"Maaf dek, tapi pada kenyataannya bukan seperti itu yang terjadi," lirih Jesper dengan pelan.
Sontak saja, senyum indah yang terpancar dari wajah Jenni, kini perlahan mulai menghilang. Dan bahkan digantikan oleh tatapan mata yang begitu tajam.
"Maksud kakak apa?" tanya Jenni dengan sedikit meninggikan suaranya.
Dia tidak terlalu bodoh untuk mengerti apa yang di maksud oleh kakaknya ini.
"Maaf Jenni, tetapi kenyataannya tidak seperti itu." Ucap Jesper lagi. Dia begitu ragu untuk menjelaskan semuanya. Apa lagi ketika dia melihat mata adiknya yang sudah berkaca — kaca, dan bersiap untuk menjatuhkan buliran kristalnya.
"Maafkan kakak dek, hanya saja kakak tidak mempunyai pilihan lain saat ini."
"Dan dengan tegas kakak menyatakan, bahwa kamu harus menikah dengan David, besok lusa."
Bagaikan disambar petir yang besar, Jenni merasa bahwa dirinya ingin mati saja saat ini. "Kak, kakak pasti sedang bercandakan saat ini?" tanya Jenni dengan gugup.
"Sepertinya kakak sedang tidak enak badan, hingga bicaranya saja ngelantur seperti itu," ucap Jenni lagi. Namun dengan air mata yang sudah terjatuh membasahi pipinya.
"Jenni, seumur kita hidup tanpa adanya papah dan mamah, kakak belum pernah sedikitpun meminta sesuatu dari kamu. Dan sekarang inilah saatnya kakak meminta kamu untuk menuruti keinginan kakak Jen, masa kamu juga tidak bisa?" Jesper kini mulai menunjukan sikap tegasnya pada Jenni.
Dia tahu bahwa ini semua terkesan sangat — sangat egois untuk Jenni. Tetapi memang inilah yang harus dia pilih.
"Jenni tahu kak, tetapi kakak bisa meminta apa pun dari Jenni, tetapi bukan dengan menikah kak, please, Jenni gak mau kak," tolaknya mentah — mentah.
"Jenni, keputusan kakak sudah sangat bulat! Dan tidak ada sekalipun kesempatan untukmu memilih." Tungkas Jesper lagi. Dan setelah itu dia langsung melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Jenni.
Jesper khawatir, ketika dirinya mendengar kalimat adiknya lagi, maka akan dipastikan jika dirinya akan merasa iba dan membatalkan semua rencana yang telah dia buat.
Sedangkan Jenni sendiri, saat ini sudah tidak bisa merespon atau mencerna apapun kalimat yang masuk di dalam pikirannya.
Dia hanya bisa terdiam, dengan air mata yang terus saja mengalir deras keluar. "Araarrrggghh," teriak Jenni dengan begity keras.
Praaanggg, dia membanting vas bunga yang ada dihadapannya hingga hancur berkeping — keping.
"Kenapa kakak harus bersikap egois kak ? Kenapa kakak tidak memikirkan perasaan Jenni? Kenapa kakak hanya mau memperalat Jenni untuk kegiatan bisnis kakak? Kenapa kak?" Teriaknya dengan begitu kuat. Membuat Lola yang berada di dapur sejenak mendengar teriakan nonanya dan segera langsung berlari mendatangi Jenni.
Ketika Lola berlari menuju halaman belakang, tidak sengaja dirinya berpapasan dengan Jesper yang kini menampilkan aura dinginya. Sehingga Lola berasa tidak ingin berada dihadapan pria itu lebih lama lagi, apa lagi dirinya mendapatkan sebuah tatapan tajam yang kini nyaris mematikannya.
"Aregghh," tanpa sengaja Lola nyaris terpeleset, dan nyaris jatuh ke lantai namun dengan cepat Jesper menangkapnya.
Kedua mata polos mereka kini berhasapan menjadi satu, membuat Jesper mengingat jelas lekukan tubuh Lola yang tadi sempat membuat libidonya sebagai seorang laki — laki kini bangkit.
"Tuan, lepaskan saya Tuan," pinta Lola, dengan pelan, namun suaranya sangat terdengar merdu hingga membuat Jesper yang sedang banyak pikiran kini terasuki oleh setan yang entah datangnya dari mana.
Sehingga bukannya melepaskan Lola, dia malah mengangkat tubuh wanita itu dengan penuh kelembutan.
"Tuan, Tuan lepaskan saya Tuan please, Nona Jenni sedang membutuhkan saya Tuan," pinta Lola lagi. Akan tetapi Jesper sama sekali tidak menggubrisnya.
Dia langsung membawa Lola masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dengan rapat. "Tuan, apa yang sedang Anda Iakukan Tuan?" Lola begitu ketakutan, ketika melihat Jesper sudah membuka kaos yang dia kenakan, sehingga terlihat begitu jelas otot — otoy tubuh pria tampan itu.
Jesper yang sudah terasuki oleh setan — setan yang terkutuk, kini langsung mendorong tubuh Lola ke dinding. Namun secepat kilat Lola langsung berlari untuk membuka pintu itu.
"Ahhh, sepertinya kamu lupa, bahwa kamy yang memancing hassratku ini tadi, bukankah begitu Lola?" Iirih Jesper pelan, tepat di belakang telinga wanita itu. Membuat Lola meremang dan merasa merinding sendiri.
To Be Continue.
Hai teman - teman, jangan lupa ya, beri dukungan untuk Mimin, dengan cara masukin buku ini ke dalam rak buku kalian ya, dan jangan lupa, sedekah hadiah, Like, Vote dan komentarnya untuk mimin ya.
Terima Kasih.