
🌹 Happy Reading 🌹
Kebahagian kini mulai terlihat dari wajah seluruh anggota keluarga itu, terkhususnya adalah Alson dan Albert yang sangat beruntung karna masih di pertemukan, mengingat kemarin jika Alson di kabarkan sudah meninggal.
Namun tidak bisa di pungkiri, jika di dalam hati Albret masih tersimpan sedikit kekhawatiran jika nanti istrinya itu akan berpaling darinya, mengingat sifat Alson yang sangat lembut seperti ini sangat berbeda dengan dirinya.
"Well, kalian sudah pada bertemu kan ? Daddy pulang dulu ya, kasian Brio dan Brina di tinggal lama," seru Mario di tengah-tengah keseriusan orang-orang yang memandang ke arah saudara kembar itu.
Alson tersenyum mendengar suara Mario yang sedari dulu memang selalu mendiktaktornya. "Daddy apa kabar ?" tanyanya berbasa-basi.
Mario membalas sapaan Alson dengan balik tersenyum, "baik, kamu juga harus baik ya, jagain adik kamu yang masih labil itu," ucapnya menunjuk ke arah Albert.
"Kenapa aku?" bantah Albert menujuk dirinya sendiri tidak terima jika di katain labil oleh Mertuanya.
Sedangkan Briell yang lelah berdiri saat ini, memutuskan pergi ke kamar tanpa berpamitan, dia masih kesel dengan seluruh orang ini termasuk pada suaminya yang tidak mempercayai cintanya.
"Loh, Briell kamu mau kemana Nak?" Tanya Eden yang melihat putrinya ingin melngkahkan kakinya pergi.
"Briell ngantuk Mom, Briell mau istirahat dulu," sahutnya pelan.
Albert yang mendengar istrinya sedang mengantuk saat ini, melirik jam tanganya singkat. "Tapi ini baru jam 8.00am sayang, kita kan baru bangun satu jam yang lalu,"ucap Albert yang masih belum memahami hormon kehamilan.
Alson tersenyum melihat adiknya yang ternyata masih belum mengetahui banyak hal-hal sensitif yang berada di sekitarnya. "Istrimu lagi hamil Albert, wajar jika dia selalu mengantuk dan lapar, karna itu adalah bawaan bayi yang ada di kandunganya, jadi kamu harus lebih mengerti lagi," saran Alson pada Albert yang terlihat memang jauh lebih dewasa di bandingkan adiknya.
Padahal jika di lihat, usia mereka itu sama hanya berbeda bebrapa menit saja. Namun keduanya memang memiliki sifat yang sangat bertolak belakang, Alson dengan sifat dan kelembutan Jessi, sedangkan Albert dengan sifat tegas dan kejam dari Arvan.
Membuat mereka benar-benar saling melengkapi.
Albert hanya diam mendengarkan saran dari kakaknya, sambil mencernanya dengan baik, lalu dia melangkah mendekat ke arah istrinya dan menggendongnya. "Aarrhh Albert turunin malu di liatin," perintah Briell dengan kesal karna merasa malu dengan kelakuan suaminya ini.
"Kenapa malu sayang? Kita kan suami istri, jadi gak masalah dong kalo kita mesra begini," sahutnya yang membuat seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu malas mendengarnya.
"Albert, setelah kamu mengantar istrimu itu beristirahat, temui Papah di ruangan khusus yang kemarin ya, Papah ada yang ingin dibicarakan dengan kalian berdua," Pintanya yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Albert.
Setelah itu Albert mengantar istrinya terlebih dulu beristirahat di kamar, karna dia takut jika nanti istrinya itu akan kelelahan.
"Ya sudah, silahkan kalian rapat keluarga. Dua pasukan ku sudah menunggu diriku sedari kemarin," ucap Mario yang berpamitan pada Arvan, Alson dan Jesper.
"Kami pamit dulu ya semua kak Arvan, kak Jesper, Alson baik-baik ya, jangan berantem, sabar jagain adik-adiknya itu, dan terima kasih sudah mau mengikhlaskan Briell untuk Albert," ujar Eden dengan sangat-sangat lembut pada Alson yang sudah mau mengikhlaskan keadaan ini.
Padahal dia masih tau jelas dari mata Alson jika dia masih mencintai Briell, namun karna dia lebih mementingkan keluarga dan adiknya, maka dia lebih memilih mengikhlaskanya.
"Terima kasih Mom, Alson janji akan jaga adik semua dengan baik, Mommy tenang saja," balasnya dengan ramah.
Mario kini melangkah mendekat ke arah Arvan. "Kamu harus segera membawanya kembali," peringatanya pada Arvan yang saat ini hanya terdiam mendengar kalimat dari Mario.
"Itu pasti," jawabnya dengan sinis, merasa jika sahabatnya itu sangat-sangat meremehkan dirinya.
Setelah kepergian Mario dan Eden, suasana kini menjadi sangat tegang di dalam rumah itu.
Tatapan Arvan yang tadinya hangat kini berubah penuh kemarahan, sedangkan Alson dan Jesper yang melihat itu hanya bisa terdiam karna takut.
Aaarrggghhh buggghhhh teriakan Arvan terdengar dengan meninju dinding marmer yang berada di ruangan itu hingga retak.
Terlihat darah segar yang mengalir dari kepalan jarinya itu.
"Pah, kendalikan diri Papah, semuanya gak akan selesai jika hanya seperti ini Pah, please Alson mohon," lirih Alson yang tidak tega melihat Arvan menyakiti dirinya sendiri seperti ini.
"Alson kamu tau kan Papah sudah cerita sama kamu tentang semuanya, lalu bagaimana Papah tidak merasa bersalah dengan semua kejadian ini, Papah merasa sangat-sangat tidak berguna, terutama untuk kalian semua, dan dia." balasnya frustasi dengan keadaan.
Dia merasa lelah, ketika dia ingin hidup bahagia bersama dengan kedua putranya, kini masalah datang lagi, bahkan lebih bertubi-tubi, dan dia sangat tidak mau jika kedua putranya lah yang akan menjadi korban jika dia salah dalam memilih pilihan.
Tiba-tiba di selah mereka tengah bersitegang, Albert datang setelah menidurkan istrinya terllebih dahulu. "Ada apa ini? Bukanya tadi Papah meminta untuk bertemu di ruang rahasia? Kenapa malah di ruang tamu," tanyanya dengan santai, karna memang dia belum mengerti hal yang sebenarnya.
Alson dan Jesper yangmelihat kedatangan Albert hanya memandang dengan datar. "Duduklah Albert, biar kita menyelesaikan semuanya dengan cepat, aku sudah sangat ingin bertemu denganya." tandanya yang membuat Albert menyeritkan keningnya bingung.
"Siapa ? Dia siapa ?" tanya Albert bingung.
"Mamah kita." Tandasnya lagi yang sontak membuat Albert terkejut mendengarnya.
"Mamah? Mamah siapa ? Can you tell me?"Tanyanya dengan tegas.
Arvan semakin bingung ingin memberikan jawab apa saat ini pada putra bungsunya, dia takut jika Albert akan semakin kecewa denganya setelah mendengar semua ini.
Lain halnya dengan Alson yang sedikit di beri penjelasan sudah bisa mengerti akan situasi, berbeda dengan Albert yang pasti akan menampilkan ekspresi yang sangat berbeda.
"Kalian bisa bicara kan? Kalian tidak bisu! Cepat jawab aku!" bentaknya pada Papah dan Unclenya.
Jesper berdiri mensejajarkan dirinya dengan keponakan labilnya itu. "Albert, kamu tenang dulu! Bagaimana kita ingin memulai jikankamu terus menerus seperti ini." pinta Jesper dengan lembut menuntut Albert agar duduk dengan tenang terlebih dahulu.
Sedangkan Alson langsung mengendus nafasnya kasar sambil menggelengkan kepalanya, frustasi melihat sikap angkuh dari adiknya itu.
"Pah kita bisa mulai sekarang?" pinta Alson yang sudah tidak sabar memulai semuanya lagi.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra