Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 65



🌹 Happy Reading 🌹


Masih di kediaman keluarga Emilio, terlihat Albert yang menangis membaca buku harian milik Mamahnya.


Karna sudah begitu larut, keluarga Jonathan memilih untuk menginap di rumah itu.


"Sayang," tegur Briell memeluk tubuh Albert yang tengah tertunduk menangis dengan memangku sebuah box berisikan barang-barang Mamahnya.


Albert mencium tangan Briell yang bergelantungan di lehernya, di balas dengan kecupan singkat yang di berikan Briell di kepala suaminya.


"Aku membencinya sayang, demi apa pun aku mengutuk kehidupan ku bersamanya, mengapa aku memiliki seorang Papah seperti dia, aku membencinya Briell, hiskk,,hisk, aku membencinya," tangisnya lagi-lagi pecah di saat dia mengingat jika memiliki seoarang Papah seperti Arvan.


Apa mau di kata, ini memang takdirnya, sedari kecil dia ingin sekali mendapatkan sebuah kasih sayang yang tulus dari orang tuanya, dan di saat dia mendengar jika Papahnya masih hidup, dia merasakan bahagia. Namun setelah mengetahui kebenaranya, mengetahui semua perlakuan buruk Papahnya terhadap Mamahnya.


"Mamah sangat menderita sayang, Mamah bagaikan seorang wanita yang tak berharga ketika mencintai seorang pria yang mencintai masa lalunya, aku harus apa sekarang," Albert benar-benar tidak mengerti mengapa takdir begitu jahat mempermainkan kehidupanya.


Jika dulu Mamahnya mencintai seorang pria yang mencintai masa lalunya, maka kini berbalik padanya, hukum karma yang Tuhan berikan kepada Papahnya kini menurun padanya, dia yang mencintai seorang wanita yang juga masih mencintai masa lalunya, dan lebih parahnya masa lalu wanita yang dia cintai ini adalah saudara kembarnya dia sendiri.


Bahkan tanpa dia sadari jika Briell sendiri menyesali apa yang terjadi, hingga saat ini dia masih belum mengerti apakah dia sudah jatuh cinta pada suaminya sendiri atau tidak.


Jujur jika mungkin ada yang bertanya, "apakah kamu sudah mencintai suamimu?" Jawabnya tentu saja belum, namun di saat dia melihat suaminya terluka seperti ini, dan bahkan ketika kemarin Daddynya ingin memisahkanya, ada rasa tidak rela di dalam hatinya.


"Albert, aku memang belum mencintai kamu, tapi percayalah, aku akan selalu bersamamu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu walau apa pun yang terjadi." Janji dengan penuh keyakinan tanpa ada keraguan sedikitpu dari setiap perkataanya.


Albert tersenyum tipis mendengar semua itu, lalu dia menarik tangan istrinya agar duduk di pangkuanya. "Aku tidak berharap lebih kepadamu Briell, aku hanya meminta kamu untuk mencintai ku, bukan memaksanya." balasnya pelan dengan penuh ketenangan.


Briell yang mendengar kalimat itu semakin merasa bersalah terhadap perasaanya sendiri. "Briell, apa yang kamu lakukan, dia suami kamu, Alson hanyalah masa lalu kamu, lupakan dia dan mulailah mencintai suami kamu ini," gumamnya pelan sambil menatap dalam ke arah wajah suaminya yang sedang memandang ke arah langit lepas.


Albert menarik nafasnya sejenak, lalu mengalihkan pandanganya pada Briell, "Alson masih hidup," Lirihnya pelan namun masih terdengar jelas di telinga Briell, dan sontak berdiri memperbaiki posisinya.


"Apa yang kamu katakan Albert? Itu gak mungkin, polisi sendiri yang mengatakan jika tubuhnya hanyut di sungai lepas," bantah Briell yang menolak kenyataan jika Alson sebenarnya masih hidup.


Albert tersenyum, lalu dia berdiri memandang langit malam yang penuh dengan bintang-bintang bersinar.


"Kamu tau sayang, entah mengapa aku merasakan bahwa kakak ku itu masih hidup, jantungnya masih berdetak dan nafasnya masih berhembus, namun aku tidak tau, apakah itu hanya sebuah perasaan saja atau sebuah kenyataan. Yang pasti jika suatu saat dia kembali, maka aku hanya akan menunggu keputusanmu saja, tetap bertahan bersama ku, atau kembali merajut kasih bersamanya," serunya pelan, tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganya dari langit.


Briell terperangah mendengar semua ini, di dunia kedokteran memang mereka pelajari, jika seseorang yang kembar pasti bisa meraskan hati dan kehidupan jiwa di antara keduanya, dan jika itu memang benar, berarti memang ada kemungkinan besar jika Alson masih hidup, namun entah di mana. Mengingat memang mayatnya tidak ada yang menemukan dulu.


"Apakah cintamu hanya sebesar itu ?" tanyanya dengan suara yang sedikit di naikan.


Mendapatkan pertanyaan itu, sontak Albert langsung menoleh pada Briell, "apa kamu meragukan cintaku?" tanyanya balik tanpa menjawab pertanyaan istrinya.


Briell yang kesal langsung melangkahkan kakinya dan berdiri tepat di hadapan Albert, agar suaminya ini memandangnya bukan memandang langit.


Albert mendadak bingung dengan sikap istrinya kali ini, "sayang, kamu itu kenapa ? Aku tidak ada membedakan kamu dengan langit? Aku hanya merilekskan pikiranku saat ini, jika kamu bertanya seperti itu, maka aku akan menjawab jika kamu lebih indah dari segala-galanya," jawab Albert dengan memeluk tubuh istrinya yang selalu berubah-ubah persaan.


Kadang marah,kadang manja, kadang emosi, dan kadang-kadang menangis.


"Jika aku lebih indah dari segalanya, maka pertahankan aku, jika suatu saat kenyataan Alson memang kembali dan hadir di antara kita, maka pertahankan aku, gunakan cintamu itu agar aku yakin jika kamu pantas bersama ku." Tandasnya penuh dengan harapan jika suaminya ini akan bersikap sedikit lebih egois seperti Aiden untuk mempertahankanya meskipun suatu saat nanti Alson kembali.


Albert tersenyum mendengar kalimat dari istrinya, "jika kamu tidak mencintaiku, maka bagaimana aku mau bersikap tidak tau diri seperti Aiden yang bahkan rela melakukan cara kotor untuk mendapatkan mu." balasnya tidak yakin dengan kemampuanya.


Briell yang bertambah kesal langsung loncat ke dalam gendongan suaminya, dan dengan sigap Albert menahan tubuh istrinya dengan kedua tanganya.


"Aku menyanyangimu, namun aku belum mencintaimu, maka berusahalah lebih keras lagi untuk menaikan sebuah rasa sayang itu menjadi sebuah rasa cinta yang sangat besar, buatlah aku takut untuk kehilangan kamu." bisiknya pelan di telinga Albert, bahkan sedikit mengigitnya.


Sontak tubuh Albert menggeriang geli mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya, " sayang kamu kenapa sih ? Sedari tadi kamu aneh tau," Seru Albert yang kali ini tidak tahan lagi untuk menegur istrinya.


Briell memutar bola matanya malas, karna suaminya ini bodoh untuk mengerti kode darinya. "Kamu gak ngerti kode apa yang aku berikan tadi ?" Tanyanya kesal, karna ini kali kedua Albert tidak mengerti jika dirinya memberikan sebuah kode.


Dan dengan polosnya Albert menggelengkan kepalanya, karna dia benar-benar tidak mempunyai telepati untuk mengerti kode-kode yang ada di kamus istrinya itu.


Dengan emosi Briell memaksa untuk turun dari gendongan suaminya itu. Lalu melangkahkan kakinya pergi.


"Jangan menemuiku sebelum kamu mengerti apa kode dariku!!" Ancamnya yang mengeluarkan satu jarinya serta tatapan tajam bak seorang singa yang sedang memantau mangsanya.


Albert yang bingung tidak menggubris sama sekali ancaman itu, dia juga ikut berlari mengejar istrinya yang entah kemana. "Sayang jelasin dulu apa maksudnya," teriaknya frustasi mengejar istrinya, yang sepertinya sekarang tengah menangis.


Namun di pertengahan jalan, kini dirinya di hadapkan oleh singa Tua yang sedang menatapnya tajam.


Albert menelan salivanya kasar, dan memilih membalikan tubuhnya untuk melangkah pergi. "Tamatlah riwayatmu kali ini Albert," gumamnya meringis, mengingat jika pasti dia akan mendapatkan sebuah hukuman berbahaya.


To be continue.


*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra


Mampir ke sebelah ya, cerita Arvan sudah mulai Mimin Publish, langsung cek Profil ya😘😘


Sekali lagi Mimin ingatkan ya teman-teman, jika karya Arvan milik Mimin tidak ada sangkut pautnya dengan karya sebelah, yang berarti karya Mimin murni asli dari kisah baru. Tidak ada damara dan Arnold di dalamnya.


Terima kasih 🙏🏻