
🌹 Happy Reading 🌹
"Mommy, Briell tidak akan kenapa-kenapa Mommy, Briell janji bakal hidup dengan bahagia di luar sana, karna Briellkan punya Morgan sekarang. Ya kan sayang," Serunya lalu menatap ke arah Morgan dengan sengaja menekankan panggilan "sayang" agar Daddynta itu mendengar jika mereka saling menyayangi satu sama lain.
Morgan yang bingung dengan keadaan seketika menjadi gugup tak karuan "ii-iya Saaa--yang," sahutnya pelan dan gugup.
Mario beralih mendudukan tubuhnya di sofa, dan menatap tajam ke arah Morgan dan Briell.
"Jika kalian berdua merasa mampu hidup tanpa harta dari Daddy, maka silahkan melangkah pergi dari Mansion ini! Daddy tidak memerlukan anak yang suka menentang keputusan Daddy," keputusanya final, bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan tangisan istrinya yang pasti menolak keputusanya ini.
"Baik kalo begitu keputusanya, Briell akan terima," serunya tanpa ragu, lalu mengambil tangan Morgan dan menggenggamnya.
Dia memperlihakan tanganya dan tangan Morgan yang sedang menyatu. "Dia suamiku, dan aku sekrang pengikutnya, aku akan menghargainya seperti Mommy yang menghargai Daddy, aku akan belajar mencintainya, seperti Mommy yang dulu belajar mencintai Daddy, Cinta dan kehidupan saat ini bukanlah soal harta,tahta dan kedudukan Daddy, melainkan dari rasa Cinta dan ketulusan yang sebenarnya. Banyak di luar sana yang hidup bergelimangan harta contohnya saja Uncle Arvan yang tidak memiliki keluarga karna harta dan cinta tulusnya pada mendiang Aunty Mira, ini yang di sebutkan sebagai cinta dan ketulusan, aku bahagia bersama dengan Morgan, dan akan ku pastikan kebahagianku sendiri bersamanya," ucapnya memohon pengertian dari Mario.
"Briell, kamu baru mengenalnya, bahkan kalian menikah belum ada dua minggu, bagaimana bisa kamu menilai seorang pria yang bahkan dulunya pernah menghina dirimu ha?" Bentaknya lagi dan lagi, membuat siapa pun yang mendengarnya pasti akan ketakutan, namun tidak dengan Briell dia harus melawan Daddynya saat ini.
Dia tidak mau kejadian seperti Alson terulang lagi, dulu Mario juga tidak mersetui hubungan Briell dan Alson, namun lantaran karna tangisan Eden, Mario terpaksa mengiyakan lamaran daro Alson itu.
Dan sontak ketika terdengar kabar kematian dari kekasih putrinya itu yang di sebabkan oleh Aiden, dia hanya membiarkan saja tanpa melihat dan melakukan sesuatu.
"Tuan-" baru saja Morgan ini membuka suaranya, Briell menahanya untuk tidak berbicara apa pun pada Daddy saat ini. Karna itu sangat-sangatlah tak berguna.
Bbbuggghhhh
Kali ini Eden yang berlutut pada suaminya, "dulu aku pernah mendengar Mamah Roza pernah bilang suami itu adalah malaikat di rumah tangga, apa pun yang dia katakan, apa pun yang dia pikirkan semua itu Benar adanya, dulu kamu menyayangi Briell itu benar Benar, kamu menuntun kehidupan dan melimpahkanya rasa cinta itu Benar, kamu melindunginya dengan nyawa kamu sendiri itu juga Benar, kamu menjadi kebanggan keluarga kita itu juga Benar, tapi sekarang! Kamu mau membiarkanya pergi itu Salah, seorang ibu di pisahkan oleh putrinya itu Salah, keluarga kita sekarang nyaris hancur berantakan Ini Salah," tangisnya memohon pada suaminya agar terbuka dengan pemikiran angkuhnya itu.
Briell yang melihat Mommynya sampai berlutut seperti itu benar-benar merasakan sakit hati yang sangat dalam, tadi Morgan sekarangMommynya yang berlutut hanya karna dirinya. "Mommy." Tangisnya pecah lalu dia juga berlutut memeluk tubuh Mommnya.
"Jika semua yang kamu lakukan sekarang adalah sebuah kesalahan, lalu bagaimana kamu di sebut Malaikat? Malaikat tidak pernah salah dalam bertindak, suami ku hanyalah seorang Suami, bukanlah seorang malaikat," timpalnya lagi lalu memilih berdiri dan melangkahkan kakinya pergi.
Mario yang menoleh berencana ingin memeluk istrinya. "Eden." Panggilanya pelan kepada istrinya.
Eden yang di panggil oleh Mario, sontak memghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya. "Aku sudah bilang Mario, sudah cukup semua ini cukup," serunya lalu melangkah pergi.
Kali ini Morgan tidak bisa diam saja, dia berdiri di hadapan Mario lagi, "saya akan menceraikan istri saya tuan," ucapnya yakin, namun menangis tak kuasa menahan segala gejolak rasa di hatinya.
Dengan cepat Briell mendekat ke arah Morgan, "apa-apaan kamu Morgan, enggak aku gak mau cerai, sekarang lebih baik kita keluar dan memulai kehidupan baru kita," sahut Briell yang tidak terima dengan keputusan sepihak dari Morgan.
Di saat dirinya ingin berjuang hidup dan menentang keputusan Daddynya, Morgan malah ingin menyerah dengan keadaan "sayang, Please, kamu harus mengerti. Aku tidak mau menjadi penyebab hancurnya keluarga kamu, aku mohon sayang, kamu tau apa pun itu kebahagiaan kamu, aku akan perjuangkan walaupun itu adalah sebuah kenyataan yang akan sakit seperti aku harus merelakanmu denganya." Timpalnya lagi, kali ini dengan rasa percaya diri yang sangat-sangat rendah.
Kebersamaan mereka hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah mungkin menjadi sebuah kenyataan. Bagaikan terang dan gelap yang tidak akan pernah mungkin menyatu dalam sebuah ikatan.
"Maafkan aku jika keputusan itu menyakitkan hati kamu, tapi inilah kenyataanya, aku adalah aku dan tidak mempunyai harta dan tahta seperti keluarga kamu, aku adalah aku yang tidak mempunyai kebranianan mecintai seorang putri raja, kenyataan yang tak sebanding lah yang membuat kita harus berpisah seperti ini. Tapi percayalah sayang, di sini di hati ini akan hanya ada nama kamu, sebagi istriku yang sah." Kalimatnya yang mampu membuat hati siapapun pasti tergerak. Kecuali hati batu seperti Mario.
Morgan mengecup singkat kening Briell sebagai tanda perpisahaan terakhirnya, "Morgan please bawa aku ikut bersama mu," pintanya yang semakin membuat Morgan merasakan sakit yang luar biasa.
Bahkan di saat mencium kening Istrinya, tubuhnya terasa bergetar tak sanggup membayakan perpisahaan ini.
"Jaga diri kamu ya sayang, jaga kesehataan," pesanya terakhirnya untuk Briell, sebelum melangkahkan kakinya pergi.
"Morgan please jangan," Tolak Briell yang tidak ingin berpisah dari Morgan.
"Aaaaarrrggghhhh," teriaknya ketika Morgan memilih kekeh pada keputusanya, dia berlari masuk ke dalam kamarnya, tidak tahan dengan kondisi saat ini.
Terisa Morgan dan Mario yang masih berada di dalam ruangan itu, "sa-ya, akan mempercepat perceraian saya dengan Briell Tuan, anda jangan khawatir saya tidak akan bohong dengan keputusan saya ini, dan bahkan saya akan pergi dari kehidupanya agar dia bisa kembali bersama dengan Aiden, pria yang pantas mendampinginya." serunya pada Mario dengan menundukan kepalanya, tidak ingin di bilang cengeng hanya karna dia menangis.
Sebenarnya Mario juga sangat tidak ingin keadaan seperti ini terjadi, baginya kepentingan keluarga serta kebahagiaan keluarganya adalah yang nomor satu. Tapi apa sekarang bahkan dia membiarkan istri dan putri kesayanganya menangis karna ulah yang dia buat.
Hanya lantaran karna sebuah kekuasaan dia mampu menyakiti hati istri dan putrinya, "ini tidak bisa, ya benar ini semua adalah kesalahan, aku tidak ingin kehilangan istri dan putri ku hanya karna keputusanku kali ini," hatinya seperti tergoyahakan oleh tangisan ke tiga manusia ini.
Dia menoleh ke arah Morgan yang terlihat sangat tulus mencintai putrinya.
"Apakah kamu mencintai dan menyayangi putriku dengan tulus! Tatap aku dan katakan dengan lantang." perintah Mario yang langsung di ikuti oleh Morgan.
Perlahan tapi pasti dia mengangkat kepalanya menatap kedua bola mata Iblis milik Mario.
"Saya mencintai putri anda Tuan Mario Jonathan, saya mencintai Gabriella Jonathan dengan segenap hati dan kehidupan saya, bahkan saya rela mati detik ini juga untuk membuktikan segalanya." Teriaknya dengan lantang, membuat Mario yakin bisa melihat rasa cinta itu dari dalam diri Morgan.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra