
Happy Reading
Jenni berdiri tepat di hadapan Arvan dengan membawa sebuah pistol yang sangat mematikan itu.
Lalu dengan perlahan dia mengambil tangan Arvan, dan meletakan pistol tersebut di dalam gengaman tangan suaminya.
“Aku sudah capek, aku lelah dengan semua ini,” Tangis Jenni begitu sendu terdengar di telinga Arvan. Sambil mengarahkan pistol itu ke kepalanya.
Namun, dengan cepat Arvan menarik tanganya dan melepaskan pistol tersebut begitu saja.
“Aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah hinamu itu,” ucap Arvan, yang kini mulai bersuara dan menatap ke arah Jenni dengan tatapan yang menghina.
“Apa maksud kamu bicara seperti itu?” sentak Jenni, yang kembali berteriak di depan wajah Arvan.
Plaaaakkkkk, Arvan kembali menampar wajah itu dengan begitu keras, hingga Jenni tersungkur ke belakang, karena tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.
Jenni memegangi pipinya yang terasa begitu panas, hingga ketika dirinya menundukkan pandangannya itu, Jenni bisa melihat, ada darah yang menetes dari sudut bibir dan juga hidungnya, karena kepalanya yang begitu sakit menahan tamparan itu.
“Sungguh biadab,” gumam Jenni, dengan berusaha menghapus darah yang terus saja keluar dari hidungnya.
Sedangkan Arvan, dia saat ini benar – benar sangat benci ketika melihat wanita yang tidak lain adalah istrinya ini.
“Kamu adalah manusia yang paling tidak memiliki hati, kamu benar – benar manusia yang sangat terkutuk, kamu dengan berani menyiksaku, baik fisik maupun batin, padahal jelas – jelas kamu tahu jika aku sedang mengandung anak kamu.” Jenni berucap dengan begitu berani, tanpa dirinya harus melihat wajah pria yang saat ini sudah menganggapnya seperti sebuah kotoran yang harus dihilangkan.
Arvan berjongkok agar bisa sejejer dengan posisi Jenni saat ini, awalnya dia kembali bersikap lembut, dengan mengusap lembut kepala dan rambut Jenni, bahkan dia masih sempat menghirup aroma rambut wanita itu, tanpa memperdulikan sikap Jenni yang mulai ketakutan dengannya.
“Katakan kepadaku, apakah seorang wanita yang sudah mengkhianati suaminya, harus diperlakukan dengan baik?” tanya Arvan dengan berbisik pelan di dekat telinga Jenni.
Jenni yang sejak tadi sudah ketakutan, seketika membulatkan matanya besar, ketika dia harus mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Arvan.
“Kenapa sayang? Kenapa ekspresimu begitu kaget di saat aku menanyakan tentang persoalan ini?” Tanya Arvan lagi, yang meskipun dia tidak melihat langsung ekspresi Jenni, di karenakan wanita itu sedang menundukkan kepalanya, tetapi Arvan sangat tahu, rasa terkejut itu diperlihatkan Jenni, dari gerakan kepala dan juga bahu yang tentu saja, Arvan sebagai seorang ke dua setelah Lucas, yang sangat menghafal dan bisa membaca gerakan tipis dari lawan – lawan mereka. Walaupun dirinya tidak tahu pasti, tetap saja Arvan sedikit banyak mengetahui hal itu dari Lucas.
“Apakah saat ini mulutmu sudah mendadak bisu, sehingga dirimu tidak memberikan respon apa – apa? Atau bahkan, kamu tidak mempunyai sebuah alasan lagi, untuk mengelak, bahwa dirimu, benar – benar berselingkuh dibelakangku, hingga mengandung bayi ini?”
DEG, bagaikan disambar oleh petir, Jenni mendengar tuduhan Arvan yang sangat – sangat tidak beralasan.
“Tadi, kamu tidak sengaja mendengar pembicaraanku dengan pelayan Lia, tentang aku yang lebih merasa baik ketika aku menikah dengan mantan pria yang akan dijodohkan denganku Van, bukan membahas tentang sebuah perselingkuhan yang kamu tuduhkan seperti itu!!!” Jenni berucap, hingga harus meninggikan suaranya di akhir kalimat.
“Oh ya?, apakah benar seperti itu?” tanya Arvan dengan ekspresi wajah yang sangat meremehkan.
“Sepertinya kamu memang harus lebih banyak bercermin pada dirimu sendiri, apakah dirimu sudah bersikap baik menjadi seorang suami, atau tidak.” Jawaban Jenni seperti final, dia sudah sangat tidak ingin berdebat, dengan Arvan, yang dia ketahui saat ini masih emosi dengan kejadian tadi.
Walaupun sejujurnya, Jenni sendiri sampai detik ini masih belum paham, kejadian yang mana yang membuat Arvan sang suami bisa marah, hingga harus membunuh pelayan Lia dan bahkan menyiksanya seperti ini.
Namun, satu saja yang dianggap Jenni sebagai pokok masalah dari inti ini adalah, pelayan Lia yang tadi melanggar etika, dan juga peraturan yang Mira buat, kini dilanggar dengan sengaja oleh pelayan Lia dan juga dirinya.
Mungkin, antara ini bisa dibilang adalah hal wajar dan tidak wajar. Kenapa bisa disebut sebagai hal yang wajar? Karena peraturan itu dibuat oleh Mira, kekasih, cinta dan bahkan mungkin segala – galanya untuk Arvan, dan kenapa dimasukkan ke dalam golongan hal yang tidak wajar? Karena seharusnya, Arvan sebagai seorang pemimpin masyarakat, seorang pria yang di luar telah dianggap baik dan bijaksana, alangkah baiknya dia memberikan sebuah toleransi kepada pelayan Lia dan Jenni yang tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya, agar diberi peringatan untuk mematuhi peraturan yang dibuat oleh Mira, tanpa harus membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain yang sangat cukup berjasa di dalam kehidupannya.
Tetapi ya itu tadi, karena menurut Arvan Mira adalah segala – galanya, maka jiwa dan akal sehat dirinya pun, sampai detik ini harus bergantungan dengan wanita masa lalu itu.
Mendengar Kalimat Jenni yang seperti itu, seketika membuat Arvan kembali tersulutkan emosi, lantaran tersinggung dengan kalimat itu. Awalnya dia mungkin mulai ingin bersikap baik, dan berbincang baik dengan Jenni. Tetapi sepertinya niat itu dia urungkan, ketika mendengar kalimat Jenni yang seperti menghina dirinya. Merasa bahwa dirinya sebagai seorang suami sangatlah tidak berguna, sehingga Jenni harus memintanya untuk berkaca.
“Apakah wanita murahan yang tidak berguna seperti kamu ini, pantas bicara seperti itu denganku? Ha?” suara Arvan yang mulai menaikan oktav dalam suaranya.
Jenni bahkan harus memejamkan matanya, ketika harus merasakan suara yang bagaikan petir itu harus berteriak di depan telinganya.
“Ya benar, aku adalah wanita murahan –“
“Jelas, kamu memanglah seorang ***** yang sama sekali tidak memiliki harga diri.”
“Iya Lord Arvan yang terhormat, saya memang seperti itu, apapun yang Anda katakan, iya saya memang begitu apa adanya.” Jenni yang semula tidak berani menatap wajah Arvan, kini mulai membalikkan tubuhnya, untuk melihat secara jelas, bagaimana tampang wajah pria yang berkedok suami ini menghinanya dengan kata – kata yang sangat begitu tidak pantasnya dirinya mendengar hal itu.
“Bagus kalau kamu sudah tahu diri, dan tahu bahwa wanita seperti kamu, yang bahkan rela melemparkan tubuhnya demi mendapatkan kepuasan pria lain ini, sudah mengetahui bahwa dirinya memanglah seorang wanita yang haus akan sebuah hubungan seksual. Bukankah begitu?” Jenni kembali membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
Apakah pria yang di hadapannya ini adalah benar – benar suaminya Arvan, apakah tidak? Ataukah Arvan mempunyai saudara kembar hingga bisa berbeda karakter dan sifat seperti ini?
Tetapi jika bukan, bagaimana bisa seorang pria yang merupakan pemimpin ini mempunyai sebuah Kepribadian Ganda? Bahkan mendengar kalimat itu, Jenni harus menahan sesak di dadanya, yang terasa seperti sedang dihujani dengan ribuan anak panah, yang siap mengambil nyawanya pada tusukan yang di akhir.
To Be Continue.
Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.
Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini.
Mimin mencintai kalian semua.
Terima Kasih Banyak.