
Last ya teman-teman, ini terakhir!!
Mimin gak jadi Update 10 karna update 4 aja udah ada mulut sampah yang komen!
Mimin minta maaf yang gak suka dan hanya mau hina! Silahkan Unfov.
Buat kalian semua para pembaca setia mimin, yang masih menyayangi Mimin, sumpah kalian adalah yang terbaik, 🥰
Mimin mencintai kalian semua sekaligus yang udah kasar sama mimin, sekasar"nya kamu mimin hargai pendapat mu, dan terima kasih atas segalanya🙏🏻🙏🏻
Sampai bertemu di buku ya teman-teman, Tante-tante, om-om semua🥰
Mimin mencintai kalian semua❤️
Leo menatap tajam ke arah Griffin dengan tatapan penuh benci, “sialan loe anak pelacur, tunggu pembalasan gue.” Umpatnya lalu melangkah mengikuti guru tadi ke ruang sidang.
Griffin hanya cuek dan tidak takut sama sekali dengan ancaman itu, dengan santainya dia ikut melangkah ke arah ruang BK. “Duduk kalian berdua!” Tegas pak Setiono tersebut.
Dan dengan patuh keduanya duduk berjauhan, namun tatapan mereka sama-sama beradu pandang dan menyampaikan dendam masing -masing.
Pak Setiono terlihat menelpon ke bagian administrasi untuk meminta kontak kedua orang tua murid yang nakal ini.
Dan setelah menelpon, barulah Pak Setiono duduk berhadapan dengan dua Siswa yang sedang terlibat masalah di depanya. “Katakan ada masalah apa?” Tanyanya dengan penuh penekanan.
Grifiin yang memang malas bicara, kini memilih diam dan membiarkan Leo berkata terlebih dahulu,
“Dia memukul saya duluan Pak. Saya tidak tau apa kesalahan saya, sepertinya dia memiliki tempranen yang mengerikan sehingga memukul orang lain tanpa sebab,” adunya bohong kepada Guru.
Griffin tersenyum tipis mendengar jawaban penuh kebohongan serta penghinaan terhadapnya, “jadi begini pak, apakah pantas jika salah satu siswa di sekolah ini Membully dan menghina teman sekelasnya dengan menggunakan kalimat kasar. Ini juga sudah termasuk tindak pidana pak, penghinaan dan pencemaraan nama baik, karna dia mengatakan kepada seluruh teman-temannya jika Saya adalah seorang anak haram dan lahir dari wanita pelacur, jika di pikir apakah kalimat tersebut pantas di katakan oleh anak siswa berpendidikan, karna ini benar-benar sudah menyakikan secara batin,” jawab Griffin yang selalu bijak dalam menyampaikan kalimatnya. Dan inilah yang membuat seluruh guru menyukainya.
Bahkan bukan hanya itu saja, sejujurnya meskipun Leo adalah anak dari pengusaha kaya di dalam Negr, tepapi pihak yayasan sudah lebih dulu mendapatkan perintah dari kakek Griffin selaku pemilik sekolah untuk lebih mengawasi cucunya. Namun tidak memperlakukan ya dengan istimewa.
Dan beruntung yayasan dan kepalas sekolah adalah orang yang sangat bijak. Jadi meskipin Griffin adalah cucu dari pemilik sekolah, tetap saja dia di perlakukan seperti murid yang lainya tanpa perbedaan derajat atau tahta. Namun karna kepintaraanya lah dia selalu di sanjung dan di banggakan oleh pihak sekolah.
Tak lama keduanya di sidang, terlihat Jesper dan orang tua dari Leo datang melihat putra dan ccucu mereka yang terlibat masalah di sekolah.
Pak Setiono menyampaikan kembali apa yang di sampaikan pada dua siswa ini tadi. “Jadi dengan berat hati, saya memberikan waktu Skorse buat mereka selama 2 minggu ke depan, guna mereka menyadari kesalahan diri mereka masing-masing, dan setelah masa itu habis, mereka boleh masuk ke sekolah lagi,” keputusan Pak Setiono final.
Leo dan orang tuanya keluar dengan raut wajah yang menahan amarah menatap kea rah Griffin dan Jesper.
“Liat saja, aku akan menghancurkan pekerjaanmu karna sudah berani mengusik keturunan baharsyah.” Ancam Ferry Papah Leo.
Jesper hanya tersenyum menanggapinya, dan menunduk sebagai tanda menghormati, “silahkan saja Tuan, saya tidak pernah takut kehilangan apa pun di dunia ini, apa lagi jika hanya sebuah pekerjaan saja, yang terpenting cucu saya ini, tidak akan di gangu oleh ana kAnda yang begundal itu,” jawab Jesper dengan santainya, yang semakin memancing api yang berkobar di depanya.
“Cikhhh, keluarga miskin aja sombong,” umpat Ferry dan berlalu pergi meninggalkan Griffin dan Jesper begitu saja.
Setelah kepergian Leo dan Ferry, Jesper kini berlalu pergi meninggalkan Griffin yang masih tertunduk takut. Griffin yang melihat langkah kakeknya, kini langsung segera menyusul berjalan kaki di belakangnya.dan jalan penuh keheningan selama langkah mereka sampai ke rumah.
Sesampainya di rumah Jesper langsung duduk di kursi dengan memandang Griffin yang juga tengah duduk di hadapanya. “Apa ada yang ingin kamu katakan dengan kakek Griffin? Tanya Jesper dengan tatapan mengintimidasi.
“Ada kek,” jawabnya dengan menundukan kepalanya.
“Griffin minta maaf, karna tidak bisa mengontrol emosi seperti janji Griffin dulu, namun jika bukan karna dia memancing dengan membawa nama orang tua, mungkin saja aku tidak akan marah Kek, namun karna aku ingin membela orang tua yang belum aku kenal siapa, aku memukulnya,” serunya dengan nada yang lemah.
Sayonara🌹🌹