
πΉ Happy Reading πΉ
"Good Morning Morgan," seru Briell dengan senyuman manisnya, yang sontak membuat Morgan langsung terkena diabetes saat itu juga.
"Good afternoon sayang, ini udah jam 9," sahutnya dengan tersenyum bahagia.
Bagaimana dia tidak bahagia, Briell benar-benar berubah menjadi humble saat ini, meskipun dia bingung apa alasanya, tapi ini adalah suatu awalan yang baik.
Tapi dia tidak bisa terlalu senang terlebih dahulu, di hadapan mereka masih ada orang-orang hebat yang berdiri tegak siap menghadang perjalanan mereka. Mampu atau tidak ya Morgan melewati itu semua tergantung dari dukungan dari wanita yang di cintainya saat ini.
Karna dengan kekuatan cinta sejati, maka semua tangga kehidupan percintaan akan terasa mudah untuk dilewati.
"Morgan," tegur Briell melihat suaminya yang tersenyum sambil melamun.
"Eh iya sayang, ada apa? Tadi Daddy kamu--," tanyanya ragu, namun dia begitu penasraan dengan apa yang di katakan oleh mertuanya itu ( ciealah mertua gengsπ). Ketika mendengar suaranya.
"Aku belum bicara apa-apa, sambungan telponya udah mati." balasnya santai, tidak setakut tadi.
Morgan ingin bertanya lebih lanjut, namun dia takut dengan pertanyaan itu, apakah akan bisa di terima oleh istrinya saat ini atau tidak.
Briell yang melihat suaminya dengan ekspresi seperti itupun mengerti jika ada sesuatu yang ganjal di dalam hatinya. Dia langsung menggengam tangan Morgan memberikan sebuaj keyakinan bahwa dia saat ini memberikan kesempatan untuk Suaminya itu. "Whatever you want to ask, you can ask me, and I'll will answer truthfully," ucapnya dengan sebuah kelembutan pada Morgan.
Namun Morgan masih terlihat ragu untuk membuka pertanyaanya saat ini, "ehm,, aku mau nanya tentang kenapa kamu baik dan mau menerima pernikahaan kita saat ini?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari mulutnya itu, membuat Briell tersadar jika dia bertindak menggunakan hatinya saat ini.
Briell tersenyum mendengar itu, dan sumpah demi neptunus jika Briell terus-terusan seperti itu, di jamin Morgan akan kena serangan jantung mendadak.
"Karna aku percaya, ketulusan hati yang kamu miliki saat ini akan merubah segalanya seiring berjalannya waktu nanti.
Morgan terlihat menanggukan kepalanya mengerti, jika saat ini istrinya itu memang masih belum membalas cintanya, namun dia bahagia jika di dalam hati itu masih mau belajar untuk menerimanya.
"Lalu apakah Daddy tau tentang pernikhaan kita ini?" tanyanya untuk kedua kali, dan mulai mengarah ke daerah sensitif.
"Dia belum tau, aku akan memberitahukan secara langsung nanti," jawabnya singkat dengan wajah datarnya.
"Kenapa ?" Morgan bingung mengapa istrinya harus menyembunyikan pernikahaan mereka, apakah sehina itu dirinya hingga istrinya malu untuk mengakuinya.
"Karna Aiden." Jawabnya dengan singkat.
"Kamu belum menjelaskan kepadaku tentang Aiden," imbuhnya pelan dengan nada yang tegas.
Briell menarik nafasnya panjang, sejenak dia memejamkan matanya untuk mengambil kekuatan yang sesunguhnya.
"Aiden adalah mantan kekasihku tiga tahun yang lalu, dia adalah seorang pria yang ambisius dalam melakukan sesuatu hal, ketika dia sudah memastikan bahwa sesuatu adalah miliknya. Maka itu mutlak untuk selamanya," Ucapnya serius menatap ke arah mata Morgan.
Briell mengalihkan pandanganya ke lain arah, mengingat seluruh kenanganya bersama dengan Alson, "Ya, foto itu adalah miliknya, dan Alson adalah mantan kekasihku yang sangat aku cintai dulu, dan apa kamu tau?" tanyanya balik pada Morgan yang saat ini tengah serius mendengarkanya.
"Apa?" Tanyanya dengan ke dua alis yang saling bertautan.
"Entah ini hanylah perasaanku saja, atau memang ada rahasia di balik ini semua, kamu itu seperti jelmaan dari Alson, kalian begitu mirip dari mulai, senyum, kelembutan, dan lain-lain," serunya dengan senyum yang merekah.
Morgan langsung memutar bola matanya malas mendengar seluruh perkataan istrinya itu, "aku mirip ? Gak, aku lebih tampan," tolaknya dengan ketus tidak ingin di cap sebagai jelmaan mantan si istri.
Briell tertawa mendengar suaminya yang tiba-tiba jadi jutek sebab tidak ingin di samakan dengan Alson.
Apa lagi kenyataan itu memang benar adanya, sifat ke duanya benar-benar serupa, dari cara bicara dan yang lainya, termasuk senyum itu, yang membuat siapa pun mabuk kepayang.
"Lalu kemana dia ? Mengapa kalian tidak bersama jika katanya saling mencintai," Sinisnya dengan nada yang sangat-sangat tidak suka.
Briell tau, jika saat ini Morgan tengah menahan rasa cemburu di hatinya, ketika dia bilang mencintai Alson. "You dont worry, he is dead already," balasnya dengan tenang.
"Aku gak cemburu, lagian buat apa cemburu? sekarang kamu sudah bersamaku," jawabnya dengan santai.
"But ada satu masalah yang saat ini masih aku takuti," lirih Briell lagi kali ini dengan wajah yang sulit untuk di artikan.
Morgan mendengarkan semua itu dengan saksama, tanpa memotong kalimat Briell.
"Alson meninggal karna ulah dari Aiden yang begitu terobsesi terhadap ku, dan aku takut hal itu terjadi lagi dengan kamu, aku takut jika Aiden sampai melukai atau bahkan membunuhmu, aku bingung harus bagaimana untuk melawanya, kekuatan dan keberanianku tidak seperti dirinya, kamu tau aku seperti kalah telak sebelum berjuang," Briell mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada di hatinya, agar ke depanya tidak akan ada masalah di dalam rumah tangga mereka.
Morgan menatap istrinya yang saat ini tetlihat tengah berfikir frustasi akibat tekanan batin yang di berikan Aiden kepadanya.
Tanpa menjawab dia langsung memeluk tubuh Briell dengan erat, menenangkan jiwa yang sedang ketakutan. Bukanya dia tidak takut dengan Aiden, tapi kali ini dia harus melindungi istrinya, bukan malah sebaliknya.
"Sayang, kamu gak usah khawatir ya. Memang kamu melihatku yang lemah dan seperti tidak berdaya, namun aku tidak seperti itu. Aku lemah hanya karna aku menyayangi kalian semua. Namun jika kali ini rumah tangga ku terancam oleh seseorang, maka aku tidak akan pernah membiarkan pria itu menghancurkanya. Aku akan melindungi kamu sampai di titik darah penghabisanku ini." Ucapnya dengan sorot mata yang penuh dengan keberanian.
Bahkan Briell saja belum pernah melihat Morgan yang seperti ini, "apakah kamu juga mempunyai jiwa pembunuh ??" Tanyanya dalam hati, dia tidak berani bertanya langsung pada suaminya. Dia takut menyinggung perasaan pria yang sedang bertransformasi ini.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya gengs **ππ»π*
Terima kasihππ»ππ»
Follow IG Author @Andrieta_Rendra