
Happy Reading
Saat ini, Jenni dan Pelayan Lia, terlihat sedang duduk di dekat kolam, sambil merangkai bunga – bunga segar yang tadi dibawakan oleh beberapa pengawal.
“Wahh, tangan Anda ini sangat hebat ya Queen, coba lihat deh, Paviliun yang dulunya hanya di dominasi dengan warna hijau yang berasal dari alam, kini jadi berubah menjadi beraneka warna dengan hiasan bunga – bunga ini,” Lia memuji, hasil dari kreativitasi istri Lordnya itu.
“Dan ini bukanlah hanya sebuah pujian yang tidak beralasan, melainkan ini sebuah pujian yang memang berasal dari hati.” Sambung Pelayan Lia lagi, yang kini membuat wajah Jenni langsung bersemu – semu merah bagaikan kepiting rebus dibuat olehnya.
“Bibi, jangan terlalu memuji aku seperti itu, nanti yang ada saya bisa besar kepala lagi,” balas Jenni dengan sedikit menggelengkan kepalanya pelan, karena merasa geli dengan pujian yang terus menurus diberikan kepadanya.
Keduanya saling tertawa, seperti tidak ada beban yang ada dipikiran mereka. Sampai akhirnya tawa itu terhenti, dan kembali terganti dengan suasana hening yang tercipta di antara mereka.
“Bi, apakah Bibi percaya sebuah takdir?” Tanya Jenni, tiba – tiba memecahkan suasana dengan sebuah pertanyaan konyol yang terlontar dari mulutnya.
“Saya sendiri tidak pernah begitu paham akan sebuah takdir yang bergulir Queen, jadi saya tidak bisa mengatakan bahwa saya percaya maupun tidak percaya.” Jawab pelayan Lia, dengan menatap kosong ke depan.
“Tetapi, Saya pernah mendengar, ketika seseorang mengatakan -,”
“Sebuah Takdir itu adalah ketetapan dari Tuhan atas jalan hidup kita, Namun, ingat! Jika itu hanyalah sebuah ketetapan, dan bukan jalan yang pasti.” Lia kembali menghentikan kalimatnya, dan mengalihkan pandangannya untuk melihat wajah Jenni yang saat ini masih terlihat bingung dengan penjelasannya.
Lia tersenyum dan dengan perlahan menggenggam jemari tangan Jenni, untuk semakin membuat wanita itu yakin dengan penjelasan yang akan dia berikan.
“Queen dengarkan ini semua baik – baik!”
“Setelah semua ini selesai, belajarlah untuk menulis dan menentukan takdirmu sendiri, dengan sebuah harapan dan rancangan kehidupan yang telah kamu yakini bahwa itu akan menjadi takdi kamu yang sebenarnya.” Jenni tersenyum kikuk dengan penjelasan yang diberikan oleh Pelayan Lia.
Bahkan dia kini kembaki menjawabnya dengan sebuah gelengan kepalanya pelan.
“Bibi tahu? Tujuh bulan yang lalu, aku juga pernah ingin mencari takdir dan kehidupan aku sendiri, aku menolak takdir yang Tuhan dan bahkan takdir terbaik yang kakak aku berikan kepadaku, semua aku menolaknya dengan begitu aroghantnya aku ingin menulis dan menjalani takdir yang aku sudah rencanakan.” Emosi Jenni kini kembali terpancing, jika mengingat sebuah masa kelam yang terjadi atas keangkuhannya sendiri.
Buliran kristal kembali jatuh bergulir keluar dari kedua mata indahnya. Sakit ketika dia harus mengingat alasan dan bagaimana bisa semua masalah ini terjadi.
“Bi, seandainya dulu aku tidak angkuh, aku tidak aroghant dalam melawan dan menentang keputusan kakak, semua ini tidak akan terjadi bi.”
“Seandainya aku memilih dan menerima pernikahan antara aku dan David, pasti aku tidak akan bertemu dengan pria biadab seperti Arvan bi.” Entah apa yang membuat Jenni, ingin sekali mengeluarkan segala beban di dalam hatinya. Beban masalah yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.
“David, dia adalah pria yang baik bi, dia bersedia melindungi aku walaupun dia sebenarnya juga takut, dia yang berusaha bersikap angkuh padahal dirinya adalah pria yang sangat cemen, tetapi itu sangat membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pria yang sangat bertanggung jawab dan bahkan layak disebut pria yang baik untuk memimpin sebuah keluarga.”
“Sedangkan Arvan?”
“Memang mungkin benar dia adalah seorang Lord dan pemimpin di antara kita semua, dia kuat, dia segalanya, dia berani, tetapi dia adalah pria yang gagal dalam melindungi keluarganya sendiri.”
“Jika, waktu bisa aku putar kembali, aku pasti akan lebih memilih menikah dengan David, walaupun itu hanyalah sebuah keterpaksaan, tetapi dia tidak akan pernah menyakiti hati seorang wanita.”
Plokkkk,, plokkk,, plokkk, suara tepukan tangan terdengar dari arah luar, dan sontak membuat Jenni dan pelayan Lia langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
“Lord,” ucap Lia dengan takut, karena saat ini dirinya telah ketahuan tengah duduk berdua dengan seorang Queen, bahkan terlibat pembicaraan yang serius.
Hingga saat ini dirinya langsung menangis histeris dan bahkan berlutut di depan Arvan.
“Bi, kenapa Bibi berlutut seperti itu, bi?” pekik Jenni yang juga ikut merasa khawatir dengan situasi ini.
Arvan tersenyum melihat ketakutan dari wajah pelayan Lia, lalu dia menoleh ke arah pengawalnya yang lain untuk memberikan kode pekerjaan yang selanjutnya harus dikerjakan.
Dengan cepat dua pengawal pria itu langsung menarik Jenni dan mengunci tangan istri dari Lordnya itu. “Arvan, apa yang kamu lakukan Arvan lepaskan aku!!” Pekik Jenni dengan keras, bahkan Arvan sama sekali tidak memperdulikaan jika saat ini dirinya tengah hamil.
Plaaaaakkkkk, suara tamparan terdengar cukup keras mendarat di pipi Jenni. Hingga membuat wanita itu merasakan sakit yang sangat luar biasa di pipinya. Bahkan rasa sakit itu, sampai harus membuat telinganya berdengung dengan kuat.
Entah apa yang mendasari Arvan melakukan hal itu kepada Jenni, tetapi yang jelasnya saat ini, perbuatan yang Arvan lakukan, lebih tepat dikatakan sebagai kelakuan seorang binatang dan tidak layak sama sekali dibilang sebagai seorang wanita.
Suara isakan tangis Lia kini terdengar di suasana hening itu.
Bahkan Jenni sampai tidak bisa mengeluarkan suara tangisannya lagi, sangking dirinya berusaha kuat menahan rasa sakit di pipi yang kini menjalar ke urat – urat dikepalanya.
Dengan nafas yang memburu, Arvan kini mulai menggulung rambut panjang Jenni di jemari tangannya lalu di detik selanjutnya pria itu menarik rambut itu dengan sangat keras, hingga membuat Jenni tersungkur kebelakang. Namun seberusaha mungkin Jenni tetap saja menahan suaranya agar tidak keluar, walaupun rasa sakitnya begitu dahsyat, namun dia tidak mau terlihat lemah di hadapan pria bidab ini.
“Apakah kamu tidak ingin mengatakan lagi, jika kamu lebih baik menikah dengan pria lain?” Tantang Arvan, dengan nada yang begitu santai, sama sekali tidak memperlihatkan perasaan bersalahnya.
Namun, Jenni hanya diam saja dengan menatap Arvan dengan sorotan yang penuh dengan dendam. “Kevviiiinnn,” Pekik Arvan dengan begitu nyaring, memanggil nama dari sang asisten dewa kematian itu.
Dan seakan tahu dengan apa tugas yang diperintahkan, Kevin langsung menghirup nafasnya panjang, lalu menghembuskannya dengan berat.
Clettaakkkk, dalam gerakan yang tidak terbaca sejak kapan Kevin mulai mengeker pistolnya ke arah kepala Lia.
Mata Jenni langsung membulat seketika melihat hal itu. “Arvan,, Arvan tidak,, pleaseee,, pleasee, Arvann, aku mohon,” Jenni barulah membuka suarnya dengan begitu memohon kepada suaminya, agar tidak berbuat jahat dan menyakiti wanita yang dalam beberapa bulan ini telah merawatnya dan yang sudah dia anggap sebagai pengganti ibunya.
Arvan hanya tersenyum tipis ketika Jenni mulai mengeluarkan suaranya memohon untuk keselemataan orang lain.
“Liaaaa! Katakan apa kesalahanmu?” Tegas Arvan, ingin Jenni mendengar dengan jelas, apa peraturan yang telah ditetapkan di Mansion bahkan di paviliun ini.
Dengan sisa tenaga yang ada Lia menaikan pandanganya, lalu menatap ke arah Jenni, yang saat ini juga sedang menatapnya untuk menunggu jawabn yang akan dia Keluarkan, terkait peraturan yang sama sekali dia tidak tahu.
To Be Continue.
Hallo teman - teman Semua, jangan lupa ya untuk Like, Komen dan Hadiahnya untuk Mimin, agar mimin lebih semangat lagi updatenya.
Terima Kasih karena sudah mendukung Mimin sampai di detik ini dan tahap ini.
Mimin mencintai kalian semua.
Terima Kasih Banyak.