
🌹 Happy Reading 🌹
Kini Briell tengah menatap ke arah Vincent dengan sorotan mata yang seakan-akan ingin membunuh.
"Aku beri peringatan untuk yang pertama dan terakhir untuk kamu ! Jangan pernah mencampuri urusan ku. Atau ku injak batang lehermu!" Ancamnya yang sama sekali tidak terlihat seperti main-main.
Vincent mencoba meneguk salivanya kasar melihat aura penguasa dari dalam diri Nyonya Morgan saat ini, "gila nih cewek, pantes aja si bos seperti tunduk sama dia, soalnya istrinya ini benar-benar sudah seperti jelmaan MahaKali, yang cantik dan anggun namun menakutkan," ucapnya dalam hati tanpa berani menyahuti ataupun menatap kembali mata dari jelmaan Dewi Kali ini.
"Apa kamu mengerti!!!" bentak Briell secara tiba-tiba membuat jantung Vincent seakan sudah mau keluar dari tempatnya.
Karna tak mendapatkan jawaban yang cepat, membuat Briell semakin mendekatkan wajahnya dan menatap mata Vincent dengan sangat lekad, "do you understand what I'm saying just now!!" bentaknya lagi-lagi, menegaskan pertanyaanya pada asisten suaminya itu.
"Yes madam," sahut Vincent dengan pelan.
"Pergi dari hadapnku sekarang ! Sebelum ku injak batamg lehermu itu," tirahnya mengusir Vincent yang notabenya adalah karyawan di perusahaan itu.
Seakan-akan dirinya adalah bos di kantor suaminya.
Gleeek.
Lagi-lagi dengan bersusah payah dia menelan salivanya kasar, dan buru-buru melangkah tanpa berpamitan pada si Nyonya.
"Sumpah demi neptunus, kalo aku ketemu sama orang tuanya si Nyonya, akan ku pastikan untuk bertanya apa yang mereka makan selama hamil, agar suatu saat kalau memiliki istri ( ingat garis bawahi kata Kalau ), aku sendiri yang akan membuat istriku menghindari makanan itu, agar tidak mempunyai keturunan mulut beracun seperti dia," umpatnya terus menerus sambil terus melangkahkan kakinya, sebelum kena amukan Singa.
Briell yang melihat Vincent sudah berlalu pergi, kini dia juga dengan segera melangakah dan memilih untuk pulang ke Mansion milik Mario, yang selama ini menjadi tempat tinggalnya selama di Indonesia.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam 20 menit, waktu yang cukup lama di gunakan untuk sampai ke Mansion pribadi yang sengaja di beli Mario di pinggiran kota di dekat pesisir pantai, dengan tujuan mendapatkan ketenangan ketika dulu merawat istrinya.
Kini Briell terlihat sedang memarkirkan mobilnya dengan rapi di garasi Mansionya.
Di sini Briell hanya tinggal sendiri, hanya paling ada beberapa Security dan pekerja di Mansion namun tidak banyak hanya beberapa saja, karna Briell paling tidak suka jika banyak yang mengusik kehidupannya.
Dengan langkah yang letih dia memasuki Mansion itu, namun di saat dia baru sampai di tengah Mansion, tiba-tiba dia merasakan sebuah pelukan tangan kekar di perutnya.
"I miss you so much my dear,"
Deeegggg
Jantung Briell berpacu dengan sangat cept ketika mendengar suara siapa yang sekarang ini sedang memeluknya erat.
"Aiden, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya pelan, karna bahaya jika dia sampai berani membentak Aiden.
"Yes darling its me, calon suami kamu," serunya santai namun penuh ketegasaan.
Dan belum sempat Briell menjawab, Aiden sudah terlebih dulu menggendong tubuh Briell dengan ala Anak koala dan langsung melum***at habis bibir Briell tanpa izin dan bertanya telebih dahulu.
Cukup lama waktu yang mereka gunakan untuk saling bertukaran salivanya, hingga Briell menarik rambut Aiden agar ciuman panas itu terlepas dan tidak menjalar kemana-kemana.
Ketika bibir mereka terlepas Aiden langsung tersenyum menandakan kebahagia di hatinya, lalu tanpa menurukan tubuh Briell, dia melangkah duduk di sofa membawa kepala Briell bersandar di dada bidangnya dengan tanganya mengelus punggung dan rambut Briell dengan lembut, tak lupa sesekali dia memberikan kecupan singkat di kening kesayanganya itu.
Briell menuruti saja apa pun yang di inginkan oleh Aiden selama itu masih di batas kewajaraan, sekali lagi ini bukan karna dia takut, tetapi ini karna dia letih berbicara hingga mulutnya berbusa, karna pasti tidak akan pernah di dengar dengan si Pria kepala Batu.
"Aiden, kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi," ucapnya mengangkat kepalanya menatap lekat wajah pria itu.
Dengan senyum yang mengembang di bibirnya Aiden mengangkat tanganya untuk membelai wajah wanita kesayangannya itu.
"Aku sedang mempersiapkan kedatangan Daddy Sayang." jawabnya dengan santai.
Deeeggg
Lagi-lagi kalimat Aiden barusan membuatnya gelisah tidak menentu, "Daddy siapa?" tanyanya bodoh, karna dia tau jika panggilan itu hanya akan di gunakan untuk Mario saja.
Dan benar saja, Aiden langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Briell, "sayang, Daddy kita cuman satu Mario, kenapa kamu masih bertanya lagi, aneh sekali kamu," Balasnya dengan memeluk tubuh Briell dengan erat.
Briell benar-benar merasa risih dengan sikap Aiden sekarang, biar bagaimanapun ini tetap salah, dia sudah menikah dengan Morgan dan tidak boleh memberikan harapan kepada dua pria sekaligus seperti ini.
"Aiden, tolong jangan begini," ujarnya sambil berusaha melepaskan dekapan Aiden yang semakin membuatnya terjun di lembah rasa bersalah pada suaminya.
"Briell jangan membuatku marah dengan sikap penolakan kamu yang seperti ini!" Tegasnya mbuat Briell terdiam untuk sesaat.
"Kamu tidak perlu kembali bersama denganya, karna perusahaan suami kamu itu sekarang mungkin sudah hancur dan tak tersisa lagi," Serunya dengan santai namun berhasil membuat Briell menatap ke dalam matanya dengan tajam.
"Katakan apa yang sudah kamu lakukan Aiden," bentaknya meminta penjelasaan dari pria gila itu.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya gengs **🙏🏻😊*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra