Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Spolier 3



Gengs, karna ini hanyalah sebuah Spoiler, maka Isi babnya tidak beraturan ya, bisa jadi salah satu bab mereka ada yang di awal, tengah dan akhir.


Anggap saja jika ini hanyalah sebuah Iklan.


Jadi jangan tanya kenapa kok Gak ada misi peneyelamtan dan kenapa langsung umur 10 tahun?


Ingat baca judul ya ! Ini hanyalah Spoiler, yang artinya hanya cuplikan-cuplikasn cerita saja 🙏🏻


Selamat menikmati 🙏🏻


Setelah sampai di sebuah lapangan khusus latihan menembak. Kini Zein memberikan Pistol Desert Eagle, yang merupakan senjata oaling mematikan di dunia.


Aiden dan Zein tidak bermain-main dalam melatih mereka. Hingga berani memberikan senjata ini.


Ketiganya sudah fokus memegang senjatanya masing-masing, tanpa di bekali apapun oleh Aiden dan Zein, seperti biasanya yang pasti dei bekali kacamata dan lain-lain.


Kali ini Aiden membiarkan ketiga anak ini berlatih tanpa menggunakan apapun, agar melatihnya terbiasa di medan perang nanti.


"Ready," teriak Zein memberikan kode pada mereka untuk mulai mengeker senjatanya.


"Bersiap!" Teriak Zein lagi, dan anak-anak itu mulai membidik targetnya.


"Lepaskan!" Teriak Zein lagi.


"Dorr,dorr,dorr," tembakan yang mereka lepaskan dan terlihat hampr sempurna di awal permulaaan.


Aiden dan Zein merasa puas melihat anak-anak yang cepat sekali menangkap apa yang di ajarkan kepada mereka.


"Lagi," teriak Aiden memerintah anak-anak itu agar mengulangi tembakan mereka sampai benar-benar sempurna.


Hampir 3 jam lamanya mereka berlatih dan kini semua tembakan sampai tepat pada sasaranya. Bahkan mereka sudah bisa bergerak lincah dengan menembakan 5 peluru dalam hitungan detik. Dan ini menambahkan nilai plus bagi ketiganya.


Aiden dan Zein kembali tersenyum puas melihat perkembangan dari mereka bertiga. Dan kini saatnya menguji kelincahan mereka.


Aiden dan Zein kini kembali mengambil senjata mereka, yang kali ini hanya berisikan peluru palsu.


"Siap mengerti," balas mereka.


Aiden dan Zein benar-benar tidak memberikan mereka istirahat. Karna bagi keduanya di medan perang yang sesungguhnya tidak ada kata letih ataupun capek dalam menghabisi musuh. Kalian bisa beristirahat jika memang sudah selesai.


"Bagus, jika begitu ayo kita mulai." Teriak Aiden dan mulai menembakan senjatanya ke sembarangan arah. Hingga mereka kini bisa melihat betapa lincahnya anak-anak dalam bergerak menghindari peluru.


Latihan kali ini hanya sebentar saja, hingga akhirnya anak-anak kembali di berikan senjata untuk membalas serangan.


Hingga aksi baku tembak senjata palsupun terjadi, dan ini membuat mereka semakin gencar menggunakan senjata.


Sampai pada akhirnya Zein kembali memerikan senjata asli dan melatih mereka bersama dengan para prajurit TNI dan Polisi yang sudah sangat handal dalam bidang ini.


Pelatihan ketiganya memanglah tidak main-main, hingga Aiden harus mendatangkan TNI dan Polisi untuk melatih mereka.


Seminggu ini waktu mereka hanya habis untuk berlatih-berlatih dan berlatih.


Di usia Griffin dan Derry yang baru menginjak 11 tahun dan juga Lyla yang baru berusia 10 tahun. Hal ini mamanglah sangat luar biasa.


Tapi meningat siapa orang tua mereka, dan niat untuk membalaskan dendam serta memimpin dunia. Hal ini wajiblah mereka lakukan.


Mereka tidak marah dan tidak ingin membuang waktu dengan permainan anak kecil. Bagi mereka permainan menantang maut ini adalah satu poin paling menyenangkan bagi mereka.


"Hufftt, huftt bagaiaman perasaan kalian hari ini?" Tanya Griffin pada teman-temannya.


"Not bad," jawab Lyla.


Sedangkan Derry sebenanrnya masih bingung sampai detik ini, mengapa dia harus berlatih sekeras ini, sedangkan dia tidak merasa mempunyai musuh sama sekali.


"Derry apakah kamu mengenal wajah pembunuh orang tua kamu?" tanya Griffin tiba-tiba menanyakan tentang kehidupan Derry.


"Ya aku mengenalnya, bahkan sangat mengingatnya, dan suatu saat berbekal dari ilmu yang saat ini aku punya, pasti aku akan membalaskan dendam mereka." Balas Derry dengan menampilkan kilatan amarah di matanya.


Griffin tersenyum bahagia melihat itu, dia merasa tujuan hidupnya sama dengan Derry, dan itu akan membuat mereka saling mendukung satu sama lain.