Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 100



🌹 Happy Reading 🌹


Arvan kali ini bersujud di bawah kaki Jenni, memohon pengampunan dari istrinya itu, berharap agar Jenni masih mau kembali bersama denganya.


"Apa yang kamu lakukan ? Aku bukan Tuhan yang bisa kamu sembau seperti itu," lirihnya pelan menaikan kakinya di ranjang rumah sakit.


"Aku mohon maafkan aku Jenni, demi putra kita, demi calon keturunan kita, aku mohon ampuni aku," pintanya lagi.


Namun Jenni sama sekali tidak menjawabnya, malah memilih memandang ke arah luar pemandangan.


Dan tiba-tiba saja pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Alson dan Albert yang baru saja memasuki ruangan itu.


Rupanya Alson yang sudah tidak tahan mendengar pertengkaraan orang tuanya itu, memilih memanggil adiknya yang lebih memahami masalah seperti ini.


Dan ketika mereka berdua memasuki ruangan Jenni, mereka terkejut melihat Arvan yang bersujud di kaki Mamahnya.


"Papah," seru kedunya lalu Alson mendekat ke arah Arvan, sedangkan Albert mendekat ke arah Jenni.


"Kalian berdua kenapa di sini? Albert kembali lah ke ruanganmu son, kamu harus beristirahat agar cepat kembali," seru Arvan yang tidak ingin anak-anaknya ini melihat hal yang seharusnya tidak mereka lihat.


Alson membantu Arvan untuk bangikt dari lantai, dan mendudukanya di kursi, karna kondisi Arvan yang juga baru saja mendapatkan perawatan di perutnya yang tertusuk, jadi kondisinya kini melemah.


Albert memandang ke arah Alson yang saat ini sedang menatapnya, meminta sebuah kode agar dirinya berbicara terlebih dahulu. Dan Alson mengizinkanya.


"Pah, Mah, kalian mau sampai kapan seperti ini? Apa kalian tidak malu dengan usia kalian masih berkonflik seperti ini ?" tanya Albert yang mengarah pada Papah dan Mamahnya yang sama-sama terdiam tanpa mampu menjawab.


Namun air mata dari keduanya bisa menyimpulkan jika mereka berdua sama-sama saling menahan luka sakit di hatinya.


Jenni dengan luka yang terus di sakiti selama puluhan tahun, sedangkan Arvan dengan penyesalaanya yang entah di mulai dan berakhir kapan.


"Mah, dulu juga Albert merasakan hal yang sama dengan yang Mamah rasakan," lirihnya lagi pelan, dan membuat Jenni menatap dalam ke arahnya.


"Albert mencintai Briell yang mencintai kekasihnya yang sudah tiada," tambahnya lagi lalu menatap ke arah Kakaknya.


Jenni menatap sendu ke arah putranya itu, lalu menangis memeluk tubuh putra yang dulu dia sempat kehilanganya sebelum dirinya juga ikut di culik.


"Kasihan kamu Nak, kamu pasti hidup dengan tersiksa kan," balas Jenni yang berfikir jika putranya itu juga merasakan sakit yang sama dengan dirinya.


Lalu dia menoleh ke arah Arvan yang sedang tertunduk saat ini. "Arvan kamu lihat kan, karmamu itu turun pada Albert putraku, kamu menyakitiku dan itu semua berbalik pada putraku, apa sekarang kamu puas ha," bentaknya yang masih terus menyalahakn Arvan dengan semua keadaan ini.


"Maafkan aku Jenni, tapi aku-"


"Omong kosong kamu, setelah bertahun-tahun baru kamu menyadari itu semua terlambat," serunya memotong kalimat Arvan yang ingin mencoba menjelaskanya.


Albert langsung memeluk tubuh Mamahnya agar amarahnya itu meredah.


"Mah sabar dulu, Albert belum selesai berbicara," ucapnya tegas membuat Jenni diam dan larut dalam pelukan hangat putrnya.


sedangkan Alson, memilih dan merangkul tubuh Papahnya untuk menyalurkan kekuatanya.


"Mah, Albert tidak merasakan sedih karna meskipun aku tau istriku tidak mencintaiku, semua itu sama sekali tidak menyurutkan semangatku untuk membantunya melupakan masa lalu dan belajar mencintaku Mah, dan apakah Mamah tau, siapa pria masa lalu istriku yang hingga saat ini masih membuatku was,,was." Imbuhnya pelan tanpa melepaskan pelukan itu.


"Siapa Nak? Siap pria itu? Mamah akan menghajar dan memukul bokingnya karna sudah membuat anak Mamah ini berjuang mendapatkan cinta dari orang yang mempunyai masa lalu." Balas Jenni pelan, namun terdengar jelas di pendengaran.


"Dia," tunjuk Albert yang menunjuk kakaknya itu.


Jenni menolehkan kepalanya melihat anak pertamanya. "Dia kakak kamu sayang." Balas Jenni lagi.


"Iya dia Mah, kakak adalah sosok yang di cintai oleh istriku dulu." Sahut Albert yang membuat Jenni terdiam dan menatap lesuh ke arah Putra-putranya.


Dia sedang berfikir takdir apa yang sedang bermain di dalam keluarganya ini, dia bingung sampai kapan ini akan berakhir.


Lalu menuntun Papahnya itu berjalan ke arah Mamahnya.


Albert menanggukan kepalanya pelan sebagai kode telepati untuk kakaknya.


Alson meletakan tangan Papahnya di atas gengaman tangan Mamahnya.


Lalu keduanya kini berlutut di bawaha kaki Arvan dan Jenni dengan ikut menggenggam tangan menyatukan dengan tangan Papah dan Mamahnya.


"Kembali lah, kami mohon," pinta kedunya dengan bersamaan.


Deeegggg jantung Jenni terasa ingin berhenti saat ini juga, dia bingung harus berkata apa, dia tidak ingin memaafkan dan kembali bersama dengan pria yang selama ini sudah menyakitinya, namun takdir mempermainkanya lewat ke dua buah hatinya yang berharap jika dirinya kembali bersama dengan pria yang selalu menyakitinya.


"Mah, kami tau Papah salah, dan mungkin sangat salah, tapi bukankah di dunia ini tidak ada manusia suci Mah, semuanya pasti pernah melakukan kesalahan maupun itu dia sadar atau tidak, dan Albert rasa bukan keinginan Papah untuk selalu terjebak dengan cinta masa lalu Mah," ucap Albert yang masih terus mencoba memberikan Mamahnya ini sebuah pengertian.


"Mah, Apakah Mamah tau jika Alson juga merasakan hal itu Mah, Alson menjaga jodoh dari adik Alson sendiri dan bahkan itu bertahun-tahun, tapi Alson mencoba Ikhlas Mah, karna Alson tau jika Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana lain untuk Alson kelak dengan wanita taman itu," sambungnya yang sontak mendapatkan pukulan dari adiknya.


"Aduhhh kenapa kamu memukulku," bentaknya pada Albert yang kali ini pura-pura memandang ke arah Mamahnya.


"Berhenti membahas gadis taman, ini kita lagi menyatukan orang tua kita, bukan gadis tamanmu." Bisiknya tegas mengingatkan kakaknya untuk sejenak melupakan Vika dari pikiranya itu.


Arvan memandang sendu ke arah Jenni, dia mulai menceritakan kejadian awal hingga dirinya bertemu dengan Albert dan mengetahui semuanya.


"Bodoh, aku benci kamu Arvan,,aku benci kamu,,seumur hidup ini aku membencimu," tangisnya histeris, namun Arvan segera mendekapnya walaupun Jenni membrontaknya.


"Maafkan aku sayang, bencilah aku tapi jangan tinggalkan aku, balaslah aku tapi jangan ceraikan aku," lirinya pelan pada Jenni yang saat ini menangis di pelukanya.


"Aku membenci mu Arvan,,aku membencimu," ucapnya berulang-ulang menegaskan bahwa yang ada di hatinya hanyalah tersisa rasa benci yang mendalam.


Arvan tak mampu membalasnya, baginya biarkan saja dulu Jenni membencinya untuk memulihkan lukanya. Yang terpenting Jenni tidak meninggalkanya lagi dan itu tidak akan pernah terjadi.


Alson dan Albert yang melihat Mamah dan Papahnya kini kembali, ikut menangis terharu.


Bahkan mereka juga ikut berpelukan mengungkapkan rasa persaudaraan yang selama ini tidak pernah mereka rasakan.


"Maafkan aku kak, tapi aku mencintainya," tangis Albert yang meminta maaf pada kakaknya yang sangat bijak melepaskan Briell untuk dirinya.


"Iya, bukan salah kamu, ini hanyalah permainan sebuah takdir, jaga dia baik-baik ya," balas Alson dengan menepuk pelan pundak adiknya.


Lalu mereka melepaskan pelukanya mereka, dan beralih memeluk Arvan dan Jenni yang masih berpelukan saat ini.


Mereka berempat menangis di dalam dekapan hangat keluarga yang baru kembali bersatu, meskipun masih ada benci di antara Mamah dan Papahnya, namun tidak menutup kemungkinan jika suatu saat benci itu akan berubah kembali menjadi cinta.


"Aku mencintai kalian, Papah mencintai kalian Alson,Albert maafin Papah." Ucapnya dengan menagis terharu ketika mendapatkan kembali keluarganya yang sudah berpuluh-puluh tahun ini terpisahkan.


Nah,,nah banyak betul yang minta foto selingkuhanya Mimin heh,😏😏


Awas jangan naksir ya, selingkuhan Mimin ini.



To be continue.


*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra