
🌹 Happy Reading 🌹
"Daddy," panggilnya lagi, dan melangkah mendekat ke arah Mario dengan masih menggengam tangan suaminya.
Sedangkan seluruh keluarga Terrence hanya bisa saling menatap bingung, terutama Trevor yang mendengar menantunya itu memanggil Tuan Mario dengan sebutan Daddy.
Briell melangkah memeluk tubuh Mario dengan sayang, "Daddy, I miss you so much." Lirihnya pelan dan di balas kecupan singkat oleh Mario. "Daddy Miss you to so Much darling." sahut Mario dengan lembut.
Lalu di detik kemudian Briell melepaskan pelukanya, dan bermaksud mengenalkan Morgan pada Mario. "Daddy, ini Morgan sua-" ucapnya terhenti melihat sosok seseorang pria yang sangat tidak ingin di temuinya ada baru saja masuk dan berdiri di belakang Mario.
"Aiden kenapa kamu juga ada di sini," sontaknya terkejut melihat sosok pria yang di bencinya itu.
Aiden hanya tertawa manis mendengar pertanyaan tak bermutu dari wanita kesayanganya ini, "sayang, apa kamu lupa jika ini adalah rumah sakit milik Papah Arnon, jadi tidak salah bukan jika aku berada di sini untuk menemui tunanganku." Jawabnya yakin tanpa perduli dengan Morgan yang notabennya adalah suami Briell.
Briell tidak menyahuti ucapan gila Aiden itu sama sekali, dia lebih memilih fokus kepada suaminya, yang terlihat juga sedang menatap tajam ke arah Aiden.
"Oh no, semoga tidak akan ada masalah setelah ini." Batinya resah dengan keadaan yang tiba-tiba seperti ini.
"Bapak," tegurnya pada suaminya, tak lupa dia melingkarkan tanganya di lengan kekar milik Morgan agar lebih rileks dalam situasi ini.
Morgan yang merasakan sentuhan nyaman dari istrinya, kini mulai meredupkam rasa amarahnya, dia sangat marah ketika ada pria lain memanggil istrinya dengan panggilan sayang serta dengan lantangnya mengatakan jika dia adalah tunangan dari istri kesayanganya.
Sungguh sosok inilah yang tidak pernah ada yang ketahui dari dalam diri Morgan, sosok mengerikan hanya dia dan ketiga sahabatnya saja yang mengetahui.
Jika dia sudah marah, maka jiwanya tidak kurang lebih seperti Aiden, namun dia bukan seorang iblis jahat yang mampu membunuh seseorang. Dia hanya akan berubah menjadi menakutkan ketika kesayanganya di gangu seperti ini.
"Bapak sayang," panggil Briell sekali lagi karna tidak mendapatkan sahutan dari suaminya.
"Iya sayang, aku oke," balasnya cepat, tidak ingin istrinya itu khawatir.
Aiden terlihat mengepalkan tanganya menahan amarah yang sangat besar saat ini, rasanya dia ingin sekali menghancurkan mulut dan tangan Morgan yang sudah berani memanggil kesayanganyanya itu, apa lagi dengan jelas dia bisa melihat jika tangan keduanya saling berpegangan.
"Shitt!! Tunggu kamu setelah ini! Dia milik ku, selamanya akan jadi milik ku, jika kamu tidak mau melepaskanya, maka aku yang akan membuatmu untuk melepaskanya, that so simple," batinya mengeluarkan senyuman licik menatap ke arah Morgan.
Briell yang melihat kilatan amarah dari sorot mata keduanya, langsung berusaha mencairkan suasana yang sangat dingin ini. "Daddy ini Morgan suami Briell satu-satunya dan kami sudah sah," seru Briell dengan lantang mengenalkan Morgan sebagai suaminya.
Bugggghhhhhh praaanngggg, Aiden meluapkan emosinya dengan memecahkan kaca jendela yang berada di dalam ruangan itu. "Daddy," panggilnya pada Mario, meminta ketegasaan.
Mario,Briell, Morgan dan yang lain sontak menatap ke arah Aiden yang terlihat sangat murka saat ini.
Tak terkecuali Briell yang sangat marah mendengar Aiden meminta pembelaan dari Mario.
"Stop Aiden, dia Daddy ku, bukan Daddy mu! Dan kamu ingat satu hal, hanya dia suami ku dan pantas jadi suami, apa kamu mengerti." Bentak Briell yang sudah muak dengan keadaan.
Mario yang melihat anaknya mulai emosi langsung menenangkan putrinya dengan cara memeluknya, "calm down Baby, no need to shout like that," ucap Mario mengusap lembut punggu putrinya.
Mendengar kalimat yang barusan keluar dari mulut Briell, benar-benar membuat Morgan sangat bahagia saat ini, di tengah kondisi dia mengetahui jika dirinya bukanlah anak kandung dari keluarga Terrence, Tuhan memberikan Hati istrinya yang dulu bukan untuknya, kini berbalik memilihnya.
Berbeda dengan Aiden yang langsung melangkah ke arah Morgan dan tidak tahan lagi dia ingin melayangkan sebuah pukulan.
"Aaarrggghhh dasar pria tak berguna," umpatnya mengepalkan tanganya dan mengarahkan ke wajah Morgan.
"Lancang sekali kamu rakyat jelata bicara seperti itu kepada Tuanmu, kamu itu hanyalah seoarang sampah yang tidak berguna, tidak akan pernah pantas dengan seorang Ratu kerajaan seperti Briell." balasnya dengan nada meremehkan.
Lalu Aiden beralih kepada keluarga Terrence yang sedari tadi hanya terdiam melihat semua kejadian mengejutkam di depanya ini.
Terutama Clarissa yang tidak meyangka jika wanita yang tadi di hina adalah seoarang putri kerajaan Jonathan.
Bahkan saat ini seluruh badanya terasa mati rasa, karna sedari tadi Mario menatapnya tanpa henti.
Aiden melangkah mendekat ke arah Trevor yang di ketahui sebagai Papah dari Morgan.
"Jadi dia ini orang tua kamu kan?" tanyanya dengan senyuman licik.
Briell yang melihat Aiden seperti itu, sudah sangat hafal jika pria ini pasti akan melakukan hal gila. "Daddy, kenapa Daddy diam saja! Katakan sesuatu," pinta Briell memohon kepada Mario, agar menghentikan kegilaan dari Aiden.
Namun bukanya memberhentikan, Mario malah melangkah duduk ke sofa, untuk melihat adegan selanjutnya yang akan membuatnya puas untuk menghukum keluarga yang telah berani menghina putrinya.
"Kenapa kalian terdiam saat ini? Apakah kalian mendadak bisu ha? Kemana mulut lantang kalian tadi yang menghina dan mencaci maki anak saya," bentak Mario yang akhirnya mulai angkat bicara.
Sedangkan Briell kini beralih melangkah memeluk tubuh Suaminya, "Pak Mesum bagaimana ini?" lirihnya pelan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, "tenang sayang, aku pasti akan berusaha untuk meyakinkan Daddy jika aku yang terbaik," bisiknya dengan pelan di telinga Briell. Cuppp dia memberikan ciuman penuh sayang di kepala istrinya.
Mario yang sedari tadi menatap kemesraan keduanya hanya mampu menggelengkan kepalanya perlahan, "berani juga nyalinya anak ini," Gumamnya dalam hati melihat Morgan yang tanpa takut mencium dan memeluk putri kesayanganya tepat di depan matanya.
Sedangkan Aiden rasanya saat ini ingin sekali membakar rumah sakit ini sekaligus seluruh manusia di dalamnya untuk memperingatkan semua manusia bahwa Briell hanyalah miliknya. Apa lagi dia melihat tidak ada pembelaan sedikitpun dari Mario yang menyatakan dukungan terhadapnya.
"Aaaarrrgggghhh buuugggghhh." Karna marah dia melayangkan satu tendangan telak kepada Victor yang terududuk di ranjang Pasien agar terjatuh ke bawah.
Siapapun yang melihat tendangan itu, pasti akan menutup mata ketakutan, karna Aiden benar-benar menendang tubuh Victor bagaikan sebuah bola.
"Ampuni saya Lord, apa salah saya," tangis Victor menahan sakit di punggungnya yang terasa seperti di patahkan saat ini.
Bahkan Trevor, Clarissa dan Rose tau jika itu sangat sakit sekali, pasalnya Victor tidak pernah mengeluh kesakitan selama telah selesai oprasi.
Dan sepertinya Aiden menendang keras tepat di jahitan operasi milik Victor.
Briell yang mendengar jeritan kesakitan seperti itu, hanya mampu menekan dan mendekap tubuh Morgan lebih dalam lagi.
Dia memang sudah biasa berada di situasi seperti ini, bahkan lebih parah.
Dan Morgan, dia juga sama sekali tidak kasihan melihat Aiden memperlakukan kelurganya seperti itu. Mengingat bagaimana perlakuan mereka terhadap dirinya dulu, di tambah lagi kenyataan mereka bukanlah keluarga kandung yang mengartikan jika Dirinya hanyalah di pungut sebagai pendonor untuk Victor.
"Lord, maafkan segala kesalahan kami, tolong jangan perlakukan kami seperti ini," pinta Rose yang sakit hati melihat putra kesayanganya di siksa seperti itu.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra