
“Bisakah kamu menghubungi kakakku, dan mengantarku di rumah sakit terdekat di sini? Please,” Jenni memohon, dengan tubuh yang sudah terduduk di hadapan wanita paruh baya yang juga sedang menatapnya bingung.
Tetapi wanita itu seperti enggan untuk membantunya, membuat Jenni harus berusaha kembali berdiri untuk mencari bantuan lainnya lagi.
Dengan rasa sakit yang dia tahan, Jenni berusaha mencari seseorang yang masih mempunyai hati nurani untuk mau membantunya menghubungi Jesper dan juga membawanya ke rumah sakit.
“Ya Tuhan, bantulah anakmu ini ya Tuhan,” lirihnya pelan, sambil terus menahan kesadarannya untuk terus berjalan.
Hingga tanpa dia sadari dirinya telah berada di tengah jalan, namun sama sekali tidak memperdulikkan suara mobil yang berulang kali memberikannya klakson untuk menyingkir.
“Hey,, Hey,, pinggir dari jalanan ini!! Apa kamu mau mati ya??!!” Teriak salah satu pengendara yang terlihat begitu marah.
“Apakah wanita ini gila?! Mengapa dia tidak menghiraukan kita?!” Sahut suara yang lainnya lagi.
Jenni yang sudah bingung, serta menahan rasa sakitnya, kini merasakan kepalanya begitu kunang, hingga dirinya terjatuh di tengah jalan, tanpa memperdulikan mobil - mobil yang terus saja mengklakson dirinya.
“Tolong sa,,saya,” mohonnya dengan suara yang begitu pelan, tapi dia yakin Beberapa warga yang melihat dirinya terjatuh pasti mendengarnya, hanya melihat saja tanpa berpikir untuk segera menolongnya, malahan dirinya dijadikan sebagai tontonan gratis untuk mereka.
“Tolong saya, please, saya mohon,” ucapnya lirih berulang - ulang kali, hingga dirinya menangis, karena tidak ada satupun yang mau mendekat dan menolongnya. Sampai salah satu orang tiba - tiba terlihat turun dari sebuah mobil untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Hey - hey, ada apa ini?” Tanya seseorang itu kepada salah satu warga yang mengerubungi Jenni.
“Itu Tuan, sepertinya ada seorang Gembel yang mau melahirkan,” jawab warga tersebut.
Mendengar hal itu, sosok itu langsung segera membelah kerumunan yang begitu rame itu. “Kalian gila apa? Lihat manusia lain lagi sekarat seperti ini, kalian hanya melihatnya saja.” Pekik sosok itu dengan penuh rasa kesal.
Karena tidak ada yang menanggapinya, sosok itu bertambah kesal, dan memilih untuk terus maju, agar bisa segera membantu wanita yang mau melahirkan itu.
“Tolong,, tolong saya,” mohon suara yang sudah jelas terdengar di telinganya.
“Jenni,” lirihnya pelan, ketika melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.
“Tolong saya, please,” rintih Jenni, dengan ke dua mata yang tertutup.
“Jenni,” panggilnya sekali lagi, dan segera menunduk untuk memastikan bahwa yang dilihatnya ini salah.
Wanita yang sudah dia cari selama ini, tidak mungkin sekarang menjadi seorang Gembel dengan kondisi yang sedang hamil.
Namun, sepertinya dia benar - benar harus menelan pil pahit, karena harapannya itu telah sirna, wanita yang di hadapannya saat ini memang benar Jenni. “Jenni, tapi?” Gumamnya masih dengan perasaan yang tidak menyangka, hingga membuatnya terpaku sejenak.
“Tolongin saya,” terdengar lagi suara rintih kesakitan Jenni yang langsung menyadarkan sosok itu.
“Iya ,, iya Jenni ,, aku akan menolongmu,” serunya, dan langsung bergegas menggendong tubuh Jenni yang sudah begitu lemah, dan memasukkan ke dalam Taxi.
“Bertahanlah Jenn, aku di sini, sekarang aku di sini, bertahanlah,” ucapnya dengan rasa yang sangat - sangat begitu mengkhawatirkan kondisi wanita yang saat ini berada di pangkuannya.
Mobil terus saja melaju menuju rumah sakit terdekat, tanpa mereka sadari bahwa sedari tadi ada yang sedang mengikuti mereka.
“Aku sedang mengikutinya Tuan, mungkin waktu yang kita tunggu telah tiba Tuan.” Lapor pria yang sedang mengikuti Taxi yang sedang membawa Jenni.
***
“Dokter ,, Suster ,,” teriaknya, hingga membuat pengunjung lain menatapnya dengan bingung.
“Dokter ,, Suster ,,” teriaknya lagi, karena tidak ada yang kunjung mendatanginya.
Hingga ke tiga kalinya dia memanggil, barulah terlihat seorang berjas putih dan berpakaian rumah sakit berlari ke arahnya.
“Ada apa ini Tuan?” Tanya seseorang yang diyakini sebagai dokter dan telah mengambil aloh ranjang rumah sakit untuk di dorong.
Sosok itu merasa sangat khawatir, hingga dirinya sama sekali tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan padanya.
Merasa tidak ada waktu untuk menunggu jawabannya, Sang dokter dengan dibantu beberapa Suster dan Staff yang lainnya, segera membawa Jenni masuk ke dalam ruang operasi.
Sedangkan sosok yang tadi mengantarnya, kini terlihat benar - benar terpaku dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya.
“Ba ,, ba ,, bagai ,, bagaimana bisa? Jenni? Tadi itu beneran Jennikan?” Dirinya terus bermonolog mencari jawaban dari apa yang sedang dia pikirkan.
Mau tidak percaya tapi pada kenyataanya seperti itu. Mau percaya, tapi otak kecilnya mengatakan bahwa itu bisa saja salah. Hingga tanpa dia sadari air mata itu terjatuh menetes dari pipinya.
“Ha?”
“Ha?”
“Hahahaahahahahhaahhaahaa,” dirinya tertawa dengan begitu nyaring, untuk berusaha menutup rasa luka di hatinya.
“Aku telah mencarimu selama ini, sampai aku tidak fokus bekerja dan membuat perusahaan Papah mengalami kerugiaan berulang kali, keluargaku bangkrut, karena aku terus saja memikirkanmu dan menganggap bahwa kamu akan kembali padaku, tapi liat sekarang apa?”
“Kamu malah aku temukan dengan keadaan hamil dari orang lain, dan parahnya menjadi gembel dipinggir jalan.”
“Hahahahahahaha, David ,, Davidd, bodoh sekali kamu.” Serunya menertawakan dirinya sendiri.
Diri yang terlalu memuja cinta Jenni, hingga dirinya tidak tahu bagaimana rasanya mengungkapkan kesakitaan yang dia dapatkan saat ini.
Sakit ditinggal Jenni dulu telah membuat dirinya menggila hingga membuat Papahnya bangkrut dan sekarang tidak mungkin dia harus menerima anak dari orang lain lagi.
Menertawakaan diri adalah hal yang begitu tepat saat ini.
David yang terus saja menunggu keadaan Jenni yang masih berjuang di dalam ruang operasi sana.
Dia benar - benar begitu marah saat ini, dia sedang berpikir bagaimana bisa dirinya membalas atas semua perlakuaan Jenni saat ini.
“Aku pasti akan membuatmu merasakaan sakit karena kehilangaan seseorang Jenni, lihat saja.” Ungkapnya dengan perasaan yang begitu marah.
Dia terus bermonolog sendiri, sampai saat dokter mendatanginya dan mengatakan bahwa keadaan ke dua bayi Jenni saat ini sehat karena tindakan yang tepat dilakukkan, tetapi tidak dengan Jenni yang jatuh Koma, hingga membuat senyum di wajah pria itu terbit.
Dengan diam - diam, dia mencoba untuk memasuki ruang bayi, dengan niat jahatnya ingin mencuri salah satu putra Jenni sebagai balasan atas rasa sakit hatinya.
\~ The End \~