Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 70



🌹 Happy Reading 🌹


Mentari pagi mulai menyapa, membangunkan kedua insan yang tengah tertidur saling berpelukan ini.


"Good morning sayang,"sapa Albert ketika melihat mata istrinya yang nyaris terbuka.


"Good morning to hubby," balasnya dengan mata yang masih tertutup.


Albert merasa gemash melihat tingkah istrinya ini, dia langsung mencium dan melahap bibir mungil istrinya, "emuaaacchhh,,emuucchh,"


"Tidurlah sayang, aku akan membawakan sarapanmu kesini," ucapnya sambil mengelus tubuh istrinya, karna melihat istrinya yang enggan untuk bangun, membuat Albert berinisiatif untuk mengambilkan Breakfast istrinya.


Namun dengan cepat Briell tersadar, "aku mau ikut turun, aku pengen berenang di belakang sana," pintanya pada Albert, agar di izinkan untuk berenang di pantai belakang rumah.


Albert langsung melirik jam yang ada di kamar, dia ingin melihat jam terlebih dahulu sebelum mengizikan istrinya itu berenang.


"Sayang ini sudah jam setengah 8, kamu boleh berenang tapi hanya sampai pukul 9 ya, soalnya pukul 10 aku takut kamu kepanasaan." balasnya atas permintaan istrinya.


Dengan cepat Briell menganggukan kepalanya, dia menuruti apa yang di katakan oleh suaminya ini.


"Ya sudah, sekarang kamu bangun gih, terus siap-siap, aku tunggu di bawah ya," seru Albert lagi, sambil membangkitkan dirinya dari tidur.


Setelah bersiap-siap, kini Albert turun dari kamarnya, dengan niatan ingin mencari udara segar.


Namun kini pandanganya terfokus pada dua pria tua yang sedang bertengkar di meja makan.


"Menantu dan anak ku tidak suka makan sandwich seperti itu," bantah Mario yang kesal karna ada Arvan yang pagi ini menganggunya.


"Tidak, aku yakin pasti Anak dan Menantuku itu suka dengan sandwich ini," debatnya lagi, merasa dirinya yang paling mengerti selera makan anak-anaknya.


Bahkan saat ini Eden dan Jesper sampai mengurut kening mereke pusing dengan tingkah laku dua pria tua ini.


Albert yang melihat itu, dengan cepat menghampiri mereka. "Daddy, Papah masih di sini?" tanyanya sinis pada Papahnya yang dia pikir sudah pulang dari semalam.


Arvan yang tau jika pertanyaan itu adalah untuknya, kini menampilkan senyum manisnya. "Hey boy, iya Papah masih di sini, Papah mau nemanin kamu dan istri kamu liburan di sini," jawabnya dengan santai.


"Woy, jika anak-anak bulan madu itu jangan di gangu, kamu buat apa nemanin dasar kelamaan gak di hidupin ya gitu," sindir Mario pada Arvan yang terlihat sangat menganggu sekali.


Arvan sontak langsung menoleh pada kukubirdnya yang memang sudah lama tidak pernah aktiv itu. "Masih mending dia, tapi sudah menghasilkan anak dua yang hebat-hebat, coba kamu liat Jesper," tunjuknya pada pria yang sedari tadi hanya diam saja di sebelah Eden.


"Kenapa saya?"Tanyanya tidak terima dengan arah pembicaraan dua orang ini.


"Usiamu sudah memasuki kepala 4 kapan kamu akan menikah? apakah kukibirdmu itu masih hidup?" Sindir Arvan yang merasa lebih unggul dari iparnya itu.


Jesper memandang ke arah luar, dia mengingat sosok wanita yang sedari dulu sudah membuatnya jatuh cinta, namun wanita itu menolak kehadirnya. "Saya rasa pernikahaan itu sudah tidak penting sekarang, karna yang terpenting adalah bagaimana caranya agar anak-anak bisa hidup bahagia sekarang." Sahutnya yang memang malas dengan sebuah kehidupan pernikahaan.


Mario dan Arvan langsung memutar bola matanya malas mendengar apa yang di katakan oleh bujang lapuk ini.


Dan di saat mereka tengah asik berdebat, Briell turun dengan mengenakan pakaian yang sangat sexy.



"Sayang kamu sudah siap?" tanya Albert yang datang menghampirinya.


Telihat Briell yang tengah kebingungan menatap kehadiran Arvan di sini.


"Ehm, sepertinya aku tidak jadi berenang, besok-besok saja," balasnya dengan sebuah senyuman.


Dan setelah itu Briell langsung menghampiri Daddy dan Mommynya.


"Good morning Dad,"


"Good morning Mom," sapanya memberikan dua kecupan untuk Daddy dan Mommnya.


Lalu dia beralih duduk di sebelah Arvan yang masih terdapat kursi kosong, namun masih berjarak satu kursi, karna Briell tau jika nanti Albert akan duduk tepat di sebelah papahnya.


"Uncle Arvan sejak kapan ada di sini?" tanya Briell yang sedari tadi bingung melihat kehadiran Arvan yang berada di tengah-tengah keluarganya.


Arvan tersenyum kecil mendengar pertanyaan menantunya itu. "Papah datang ke sini untuk bertemu dengan putra Papah Nak," jawabnya sambil melirik ke arah Albert yang masih berdiri di ujung sana.


Dan karna merasa jika dia sedang di perhatikan, Albert melangkah berjalan ke arah meja makan, untuk bergabung bersama.


Meskipun dia masih merasa risih dengan kehadiran Arvan, namun dia mencoba untuk menepisnya.


Eden yang melihat wajah menantunya itu akhirnya ikut bersuara.


"Albert, Mommy tau apa yang kamu rasakan saat ini," serunya yang tiba-tiba langsung mendapatkan perhatian dari seluruhnya.


Sedangkan Albert hanya terdiam sambil mengaduk-aduk makananya.


"Albert, di dunia ini tidak ada orang suci yang tak berdosa, semuanya pasti ada melakukan kesalahan baik itu kesalahan besar maupun kecil. Bahkan Mommy yakin jika kamu dan Briell di awal pernikahaan pasti berfikir bahwa pernikahaan kalian ini salah, namun seiring berjalanya waktu, akhirnya kalian bisa menerima pernikahaan ini dengan ikhlaskan." Timpalnya yang ingin memberikan sebuah nasehat penting untuk menantunya.


"Mom, ini semua gak semudah yang di bayangkan," tolak Albert di saat Eden mulai menasehatinya.


Dia tau jika mertuanya ini ingin agar dirinya mau memaafkan Papahnya, namun itu sangat sulit untuk saat ini.


"Mommy tau itu gak mudah Albert, tapi kamu juga harus tau jika di dunia ini semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, baik itu kesalahan dengan di sengaja atau tidak."


"Mommy memang tidak tau, dan mungkin tidak akan pernah tau bagaimana penderitaan Mamah Jenni terdahulu seperti apa, tapi yang Mommy tau, kamu tidak bisa membenci Papah kamu seperti itu Nak, itu gak baik," serunya lagi menatap lembut ke arah Albert.


"Aku tidak membencinya," tolak Albert yang merasa di sudutkan saat ini.


Eden langsung melangkah mengambil posisi di sebelah Albert, menggeser tempat duduk milik putrinya yang sedari tadi lebih memilih diam tanpa suara.


Eden membawa Albert masuk ke dalam pelukanya, dan itu semua terlihat jelas oleh Arvan dan Mario.


"Semua ibu pasti tidak ingin Anaknya membenci Ayahnya Nak, sebesar apa pun kesalahanya dia adalah Ayah kamu, mungkin kamu memang tidak bicara aku membencinya, tidak, kamu tidak bicara seperti itu."


"Tali dari tatapan matamu Mommy bisa melihat bahwa kamu sangat membencinya." Ucap Eden dengan lembut. Sambil memeberikan dekapan hangatnya pada menantunya sebagai seorang ibu kandung.


Arvan yang melihat putranya menangis di dekapa Eden, kini mengalihkan pandanganya ke lain sisi, dia merasa sakit melihat jika bukan Jenni yang memberikan kehangatan pada putranya. Dan itu adalah kesalahanya.


Mario yang tadinya melihat ke arah istri dan menantunya, kini beralih melihat Arvan yang sedang memegang dadanya sakit. "Sabar Bro, suatu saat nanti Albert akan luluh, percayalah." Lirih Mario sambil menepuk singkat bahu Sahabatnya itu.


To be continue.


*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra