
🌹 Happy Reading 🌹
Pada malam harinya, saat ini terlihat Alson yang tengah duduk di sisi kolam renang Mansionya.
Menikmati waktu malam, dan indahnya gemerlap bintang di langit.
Dia benar-benar bahagia kali ini, entah kenapa wajah galak Vika selalu terbayang di ingatanya.
Sungguh lucu bukan, jatuh cinta pada pandangan pertama, terasa classic tapi this real.
Di saat dia sedang sibuk mengingat wajah cantik itu, tiba-tiba saja Arvan muncul dari dalam, menedekat dan duduk di samping putranya.
"Eh, Papah," serunya terkejut melihat sosok Papahnya yang berada di sampingnya.
Arvan tersenyum dengan manis menatap ke arah putranya, dan kini dia beralih menatap pada sinar rembulan malam.
"Apakah dia cantik?" tanya Arvan langsung to the point.
Alson menoleh sekilas pada Papahnya, dia bingung apa yang sedang Papahnya ini bicarakan.
"Maksudnya Pah?" ucapnya menyeritkan keningnya, merasa sangat ambigu dengan pertanyaan itu.
Arvan lagi-lagi tersenyum mendengar jawaban dari putranya, yang terkesan menyembunyikan.
"Wanita yang kamu temui di taman petang ini, apakah dia berhasil membuatmu jatuh cinta?" tanya Arvan lagi, yang langsung membuat Alson membuang wajahnya jauh, menahan senyum yang nyaris keluar di depan Papahnya.
Alson memilih tidak menjawab pertanyaan itu, karna dia masih belum tau siapa wanita tadi, apakah dia teman atau lawan.
"Papah sudah mengetahui siapa dia Son, jadi kamu tidak perlu khawatir akan identitasnya." Jawab Arvan yang sudah mengantongi identitas dari Vika.
"Maksudnya siapa ? Ini beneran Alson, maksudnya Papah dapat informasi Vika?" jawabnya dengan lemah, karna merasa malu di ketahui oleh Papahnya.
Arvan menatap ke arah rembulam malam yang terlihat damai nan indah, "dia adalah Avika Natalia Fortuta, wanita cantik berusia 25 tahun berprofesi sebagai modeling cantik yang terkenal di berbagai Negara, dan wajah imutnya membuat dirinya yang menjadi favorite di masyarakat." Seru Arvan menjelaskan apa yang sudah dia dapatkan.
Alson diam dan mendengarkan semuanya secara saksama.
"Dia adalah seoarang anak yatim, karna dia kehilangan ayahnya di saat usianya baru menginjak 17 tahun, dia bukanlah wanita yang berasal dari keluarga kaya, dia bekerja untuk memenuhi kebutuhanya dengan ibunya, sehingga menjadi layak." Timpal Arvan lagi yang kali ini melihat wajah manis dari putranya.
"Apakah kamu benar-benar jatuh cinta Son?" Tanya Arvan serius.
Alson memilih mengalihkan pandanganya ke arah bintang malam, kembali mengingat wajah Vika yang selalu menghiasi pikiranya.
"Alson tidak tau jelas Pah, apakah aku sudah jatuh atau hanya rasa kagum saja, tapi yang jelasnya Alson suka melihatnya tersenyum di tengah raut wajah galaknya." balasnya yang menolak jika di katakan dirinya telah jatuh cinta.
Tiba-tiba lagi dia langsung teringat satu hal, "Pah apakah maksud dari, Kekayaan bukanlah hasil yang menentukan? Apakah Alson di suruh miskin terlebib dahulu baru bisa mendapatkanya Pah?" tanyanya yang sedari tadi bingung dengan kalimat itu.
Arvan beranjak dari duduknya, ingin beristirahat untuk perjalanan besok. "Suatu saat kamu pasti akan menepukan jawabanya Son," sahutanya sebelum melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Alson dengan jawaban yang masih ambigu.
"Entahlah, kalo jodohkan gak akan kemana," gumamnya lagi, lalu mengikuti jejak Papahnya untuk beristirahat menghadapi hari panjang besok.
**********
Ke esokan harinya.
Terlihat 4 pesawat Jet pribadi Arvan yang khusus mengantarakan ke Sanova dan Markas Cyberaya yang berada di tengah-tengah samudra atalantik.
"Robert pastikan semuanya sudah siap,"
"Baik Lord, semua sudah sesuai dengan apa yang anda inginkan." Jawab Robert dengan tegas.
"Kirim kapten Dominic untuk menlindungi Satelite dunia yang berada di luar Bumi, dan Gina aktivkam seluruh dinding pelindung yang berada di Sanova dan Markas." Ucapnya pada Gina dan Robert yang merupakan otak-otaknya dalam melakukan apa pun.
"Sayang kamu hati-hati ya, pulanglah dengan membawa kemenangan, jangan bercanda dan seriuslah dalam hal ini." ucap Briell yang mengingatkan suaminya yang sekarang selalu tidak pernah serius dalam melakukan suatu hal.
Albert tersenyum melihat istrinya yang begitu peduli padanya. "Sayang, aku pastu akan berusaha untuk kembali, demi Caby, demi kamu," balasnya yang memberikaan kecupan-kecupan singkat di kepala istrinya.
"Kalian berdua tau tempat umum ya, sadar juga banyak yang tidak mempunyai pasangan di sini." Suara Bariton Mario terdengar menyinggung anak dan menantunya.
Briell langsung menoleh kepada Mario yang kini ada di belakang tubuhnya.
"Daddy ssstttttt," sahut Briell yang merasa tergangu dengan suara Daddynya.
"Kalian-" balasnya lagi namun terputus di saat suara Arvan yang terdengar mememerintahkam Jet yang mengarah ke Sanova untuk berangkat saat ini juga, meningat cuaca yang saat ini kurang mendukung.
Briell kembali memeluk suaminya sebagai pelukan perpisahaan kali ini. "Aku pergi ya," pamitnya pada suaminya yang saat ini sedang mendekapnya.
"Hati-hati ya, jaga diri dan jaga Caby, aku mencintaimu," lirihnya pelan di telinga istrinya.
"Aku juga mencintaimu,"balas Briell tanpa ragu.
Lalu mereka berdua melepaskan pelukanya, dan kini Briell beralih pada Daddynya, lalu memeluknya. "Daddy hati-hati ya, Mommy, Briell dan Brina menunggu Daddy menjemput kami, ingat itu," serunya yang menangis di pelukan Mario.
"Cup,,cup, sayang jangan nangis ya, malu sama Caby kalo Mamahnya nangis oke, Daddy pasti akan melindungi suamimu kok tenang saja," goda Mario yang tau jika di hati putrinya ini sangat-sangat merasa khawatir pada situasi ini.
Eden berjalan mendekat ke arah Briell dan Mario. "Aku mencintaimu Honey," ucap Eden yang mencium bibir Mario lalu ikut memeluknya bersama dengan Briell yang masih mendekap tubuh Daddynya.
"Aku mencintaimu my wife, aku mencintai mu my daughter, cup,,cup," dia memberikan dua kecupan untuk wanita-wanita kesayanganya.
Lalu Eden melepas pelukanya dan beralih kepada putranya yang saat ini masih saja sibuk bermain game, tanpa ada rasa takut sama sekali jika dia akan menghadapi sebuah perang. "Brio kurangi game mu, serius dalam misi ini, Mommy tidak mau kamu terluka hanya karna ketidakseirusanmu." Eden memberikan peringatan pada si Angry Bird.
Dan seperti biasa, jika dia sedang bermain game, maka dia tidak akan menyahuti di sekelilingnya, membuat Eden hanya mencium kening putranya saja sambil mengenduskan nafasnya kasar.
"Eden sudah waktunya," suara Stella terdengar mengingatkan Eden dan Briell untuk segera berangkat saat ini.
Eden menaggukan kepalanya singkat, lalu menggandengn tangan Briell dan Brina untuk masuk ke dalam Jet pribadi milik Arvan yang di khususkan terbang ke Sanova Island.
Pulau yang satupun orang tidak ada yang mengetahui di mana letak posisinya.
Bahkan Arnon, Stella dan yang lain tidak tau letaknya, dia hanya pergi dengan Jet khusus tanpa pernah bertanya lokasi pastinya.
Dan itulah yang menyebabkan mengapa Arvan selalu menggunakan pulau ini sebagai tempat persembunyian yang paling aman.
Tak lama Jet pribadi tujuan Sanova berangkat.
Mereka semua juga sudah masuk ke dalam Jet yang mengarah ke Markas Cyberaya yang berada di tengah lautan samudera.
"Are you ready?" teriak Arvan, menanyakan kesiapan timnya dalam berperang.
"Yes, we are," jawab mereka semua serentak, lalu detik kemudian, Jet itu mengudara dengan cepat namun pasti menuju markas senjata dan bersiap menjalankan misi penyelamatan.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra