Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 94



🌹 Happy Reading 🌹


Pada malam harinya, seluruh pasukan yang sudah di siapkan kini terlihat telah menempatkan dan menggunakan atributnya masing-masing.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 5 jam dengan menggunakan pesawat tempur yang kecepatanya melebihi rata-rata, kini pasukan Arvan telah sampai di depan gerbang Mansion kerjaan Jacob.


Brio terlihat fokus dengan Ipadnya yang di arahkan pada kunci sandi yang berada di gerbang itu.


Dan tak lama kemudian muncul tulisan password disabled yang menandakan jika kata sandi gerbang itu sudah di matikan.


Karna jika belum, maka akan bahaya bagi mereka, dengan keadaan dinding gerbang yang mengandung getaran berbahaya sangat sulit jika memasuki tanpa di nonaktifkan terlebih dahulu.


"Sekarang kalian bertiga berjalan dengan menolehlah ke belakang, agar kita tidak menerima serangan dari manapun," perintahnya pada tiga sahabat Albert.


"Baik Lord" jawab mereka serentak lalu membalikan tubuhnya mengikuti perintaah yang di katakan oleh Arvan.


Dan dengan kecanggihan alat yang di gunakan, mereka berhasil masuk tanpa takut dengan alat-alat meriam otomatis yang di gunakan Jacob di sekeliling Mansion.


Namun baru saja mereka memasuki Mansion, tiba-tiba saja dari arah atas ada seseorang yang menembak, namun gerakan itu telah di baca lebih dulu oleh Stella, " menepi," perintah Stella yang tau kemana arah peluru itu mendarat.


Duaaarrrr pistol yang hampir mirip dengan basoka itu akhirnya melesetkan pelurunya di tempat lain.


Dan dengan gerakan tak terbaca, Zein langsung mengarahkan pelurunya tepat di kepala penembak itu.


Zein bisa membaca pergerakan dan letak dimana penembak itu bersembunyi, tanpa harus meneropongnya, dan dengan sekali tembakan itu. Zein berhasil membunuhnya tanpa ampun.


Arvan tersenyum bahagia melihat itu. "Good job Ziein, jangan kasih lepas, dan untuk yang lain tingkatkan kewaspadaan kalian." Ucapnya lagi dengan tegas.


"Baik Lord" balas mereka serentak.


Mereka terus berjalan sambil memegang senjata mereka masing-masing.


Namun mereka tidak menyadari jika dari atas sana Jacob sudah melihat dan menyambut kedatangan mereka.


" Tuan apakah kita sudah bisa memberikan perlawanan," ucap Miko, asisten Jacob.


"Biarkan saja dulu mereka bertemu, dan setelah itu lenyapkan mereka semua sekaligus," seru Jacob dengan tersenyum iblis.


"Baik Tuan," jawab Miko lagi. Lalu kembali menyiapkan pasukan untuk melawan pasukan Arvan.


"Takdir mu sudah selesai sampai di sini Arvan, tidak sia-sia aku merantainya saat ini, akhirnya kamu datang sendiri untuk mengantarkan nyawamu itu." Lirihnya pelan sambil terus membaca pergerakan pasukan Arvan dari atas saana.


Sedangkan pasukan Arvan kembali dan terus melangkah dengan tingkat kewaspadaan yang siaga. "Lord, apakah anda tidak merasakan sebuah keanehan dalam hal ini." sahut Robert yang sudah merasa lain ketika awal dia masuk Mansion ini.


Stella menoleh pada Robert, begitupula yang lainya, "apa maksudmu Robert?" tanya Mario agar lebih jelas lagi.


Robert mengarahakan pandanganya ke sekelililng, dan tidak menemukan siapa-siapa selain satu penembak tadi.


"Ini perangkap, mereka sudah mengetahui kedatangan kita," sahut Robert penuh dengan keyakinan.


Arvan menoleh pada Gina dan Brio yang sudah mengerti harus apa. "Semua alat dan atribut pertahanan telah akitiv Lord, dia bisa menahan serangan sebesat apa pun, tapi hindari bagian kepala yang tak berlindung," seru Gina yang juga merasa deg-degan.


Dddooooorr, Stella melepaskan tembakanya dan menewaskan satu lagi anak buah dari Jacob.


Namun sepertinya dia adalah orang penting dari pasukanya, terilahat dari pistol yang orang itu pakai.


"Terus jalan, dan pastikan keamanan kalian masing-masing." Seru Stella yang mulai mendapatkan sinyal warning dari Irisnya.


Namun belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba segerombolan pasukan keluar dan menyerang mereka.


Arvan menarik nafasnya sejenak, lalu menghembuskanya dengan tenang.


Doorr,,door,,dooorr,doorr,,dooor,door,door


Dengan sekali gerakan Arvan berhasil melumpuhkan sekitar 15 lawan dengan banyak peluru yang dia punya.


Baginya di dunia gelap, menghabisi lawan sebanyak mungkin dengan hitungan detik dan menit itu sudah sangat biasa, karna mereka harus menyimpan tenaga untun hal yang lebih besar lagi nantinya.


Lagi dan lagi beberapa pasukan muncul dari arah belakang dan mulai melepaskan peluru mereka masing-masing.


Sehingga moment baku tembak itupun terjadi, karna kali ini sekitar 100 orang yang muncul di hadapan mereka yang hanya 12 orang.


Doorrr,,dooorr,doorr. Peluru masing-masing dilesatka dari pistolnya.


Namun karna keahlian dari pasukan Arvan yang sudah tidak di ragukan lagi, mereka mampu menyeimbangi lawan yang kini sudah mulai berkurang.


"Aduhh," keluh Alson yang terkena peluru meleset nyaris mengenai kepanya.


Jika dia tidak menghindar maka dia akan tewas seketika.


"Alson are you okay son?" Tanya Arvan yang khawatir dengan keadaan putra pertamanya.


"Aku oke Pah," jawabnya dengan penuh keyakinan.


Jenni yang berada di tengah lapangan itu sontak terbangun mendengar suara tembakan yang saling bersahutan, "mereka datang, iya mereka datang,hisskk,,hissk,, putraku datang," tangisnya pecah dengan keadaan yang sudah melemah. Dia begitu bahagia dan menaruh harapan jika itu adalah putranya yang datang untuk menyelamatkanya.


Dan kurang lebih waktu setengah jam, pasukan Arvan berhasil melumpuhkan dan menewasakan 100 pasukan Jacob yang tak berguna itu. Meskipun Alson mengalami luka robek sedikit di bagian wajah. Namun untung saja tidak ada yang parah dalam pasukanya.


Sehingga mereka dengan santai terus melangkahkan kakinya mencari sosok Jenni yang masih belum tau di sekap di mana.


Mereka terus berjalan hingga masuk ke dalam Mansion itu, dan melihat sosok yang tengah berdiri lemah dengan tangan dan kaki yang di rantai.


"Pah, itu," tunjuk Albert yang melihat sosok itu duluan.


Arvan menoleh kepada arah yang di tunjukan oleh putranya. Dan dia juga melihat sosok wanita yang sangat kurus namun tidak bisa melihat jelas wajahnya karna pencahayaan yang sangat kurang.


Dan untuk memastikan, Arvan melangkahkan kakinya mendekat ke arah wanita itu.


"Pahh-" panggil Albert agar Papahnya itu tidak sembarangan mengenali orang.


Namun Arvan menaikan tanganya satu yang menandakan bahwa dia baik- baik saja dan tidak akan terjadi hal apa pun.


Dia terus melangkah mendekat ke arah wanita yang kini sudah terduduk, mungkin dia tidak mampu untuk berdiri lama.


"Jennifer," panggilnya pelan, melihat sosok yang membelakanginya saat ini.


Jenni yang merasa di panggil dan mengenali suara itu, akhirnya menolehkan kepalanya pelan.


Deeeeeeggggg tatapan mereka bertemu di dalam suasana yang gelap, namun Arvan masih bisa jelas mengenali jika wajah itu adalah wajah istrinya.


Namun di saat Arvan ingin mendekat, tiba-tiba saja.


Duuuaaaaaaarrrrrr bola Meriam di lepaskan. Mengarah pada Arvan dan juga Jenni yang sedang berdiri di bawah tower.


"Jenni Awaaaasss," teriak Arvan dengan sangat kencang.


Bbboooooommnmmmm.


To be continue.


*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra