Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 99



🌹 Happy Reading 🌹


"Terima kasih ya sayang," ucap Albert dengan penuh kelembutan, namun membuat Briell di ujung sana menyeritkan keningnya bingung.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Briell kepada Suamianya, yang tiba-tiba saja mengucapkan terima kasih, padahal dia tidak melakukan apa pun.


Albert tersenyum dengan manis, membuat Briell semakin merasakan kebingunan. "Terima kasih karna kamu sudah mau menerima ku dengan segala perbuatan dan kata-kata kasarku yang aku ucapkan dulu ke kamu, terima kasih karna kamu sudah mau belajar mencintaiku, terima kasih karna kamu sudah berhasil berusaha dan kini membalas cintaku, terima kasih karna sudah mau megandung Caby kita dan last terima kasih untuk kamu yang bersedia mendampingi ku saat ini. Aku gak tau mau bilang apa lagi selain rasa terima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kita dalam sebuah kesalahpahaman yang begitu indah, mungkin saja jika malam itu kamu tidak mabuk tidak akan pernah ada cerita tentang kita." serunya pelan, yang membuat Briell terlihat meneteskan air matanya dan mengusap perutnya lembut, tanpa dia bisa menjawab dan membalas ucapan dari suaminya itu.


Karna tiba-tiba saja bibirnya terasa keluh untuk menjawab persaan dari suaminya, sangking bahagia yang dia rasakan, hingga dia lupa membalas ungkapan cinta Albert.


"Gabriella Jonathan Emilio, thank you for loving me," ungkapanya penuh dengan rasa sayang.


Briell tersenyum bahagia mendengar ungkapan itu. "And thank you for faithfully waiting for me to love you," balasnya tak kalah lembut.


"Cepatlah pulang, aku dan Caby menunggumu," serunya lagi, yang di jawan anggukan kepala oleh Albert.


"Pasti sayang, aku sudah rindu berat nih," sahutnya dengan tertawa riang.


"Hahaa, ya sudah aku mau mandi dulu, ini tadi habis belajar masak belum mandi bau," pamit Briell ingin menutup panggilanya.


Mata Albert membulat sempurna ketika memdengar kata mau mandi dari istrinya. "Sayang kamu mau mandi?" tanyanya dengan hati-hati.


"Iya, aku mau mandi. Emangnya kenap ?" tanya Briell balik dengan nada bingung.


Albert terlihat berfikir sejenak untuk menyusun kalimat apa yang bisa membuat istrinya itu mengerti apa yang akan dia katakan. "Ehm, sayang aku takut kamu jatuh di kamar mandi, jadi boleh tidak kalo Ponselnya kamu bawa masuk, tapi jangan di matikan vidionya sayang, biar aku bisa liat kalo kamu baik-baik saja," ucapnya benar-benar modus.


Briell terlihat menampilkan wajahnya kesal, "kamu pikir aku bodoh apa, baru juga di sayang sekarang sudah mesum lagi, sudah mati aja sana kamu ke laut," jawabnya dengan kesal lalu langsung menutup panggilan telponya.


"Cikh, di kiranya aku bodoh apa dia mau liat aku gak pake baju, dasar ya kalo punya suami mesum ini, biar jauh aja pikiranya masih membuatku sakit kepala, hufffttt, aku mau mandi saja , rasanya kepalaku sudah mau pecah." Umpatnya yang benar-benar merasa kesal dengan ucapan mesum suaminya.


Sedangkan di sisi sana, Albert hanya bisa membenamkan wajahnya di bantal.


"Bodoh,,bodoh, kan kesel kan dia, kamu pikir istrimu itu bodoh apa tidak mengerti apa maksud dari kalimatmu, Aahhhhhhh Albert, kamu benar-benar sakit jiwa." Umpatnya memamaki dirinya sendiri, karna sudah berani membuat istrinya itu menjadi kesal.


Sedangkan di sisi lain, Arvan terlihat sedang melangkah masuk ke dalam ruangan Jenni.


Dia masuk dengan perlahan dan melihat Jenni yang sedang tertidur dengan sangat pulas.


Arvan terus menatap ke dalam wajah yang terlihat sangat lelah itu, bahkan tanpa sadar dia mengelus dan mencium kening istrinya singkat, membuat Jenni sontak bangkit dari tidurnya.


"Apa maksudmu? Mengapa kamu di sini?" Bentak Jenni kepada Arvan yang sudah lancang mencium dirinya tanpa izin.


Arvan tersenyum membalas bentakan dari Jenni, lalu dia kembali mengelus dan menangkupkam wajah Jenni walaupun ada brontakan dari si empunyanya.


Jenni terlihat meneteskan air matanya, menahan sakit mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arvan itu.


"Setelah semuanya, setelah 26 tahun kamu kemana ? Aku tersakiti selama puluhan tahun apa yang kamu lakukan, bahkan di saat aku berjuang antara hidup dan mati selama ini, dan juga melahirkan bayi kita, kamu kemana, kamu kemna Arvan jawab," ucapnya pelan lalu berteriak meluapkan emosinya dengan pria yang selalu se enaknya saja dalam menentukan dan menggerkan kehidupanya.


Arvan tertunduk malu, dia tau jika kesalahanya adalah yang paling fatal, kesalahan yang mungkin dengan kematian saja tidak akan pernah bisa menghapus rasa sakit di mata dan hati istrinya.


"Jenni, tolong kasih aku kesempatan, jika tidak untuk ku maka lakukan untuk anak-anak kita." Pintanya lagi, sambil beralih menggengam tangan lembut penuh luka itu.


Jenni tersenyum sinis mendengar ucapan Arvan yang benar-benar tidak mempunyai malu sama sekali. "26 tahun yang lalu, aku memohon di kakimu, bersujud di kakimu bahkan bersumpah demi nama mendiang orang tua ku dan mengatakan jika bayi ku adalah bayimu, tapi apa yang kamu yakinkan ? Apa yang kamu percayai? Aku istrimu tapi kamu tidak mempercayaiku kan, kamu dengan lantangnya mengatakan jika bayi ku bukanlah bayimu, anak ku hanya anak ku saja bukan anak ku Arvan Varizal apa kamu mengerti." Teriaknya dengan air mata yang terus menerus mengalir.


Tanpa mereka sadari jika Alson tengah berdiri di depan ruangan sana dan mendengar segalanya.


Dia tau apa yang di rasakan Mamahnya, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan semuanya pada Papahnya, karna ini memang hanyalah sebuah fitnah yang berkepanjangan.


Alson terududuk di depan pintu menahan sakit akibat pertengakaran ini, dia ingin keduanya kembali bersatu agar dirinya dan Albert bisa mendapatkan sebuah kasih sayang orang tua yang tertunda.


"Alson janji Mah, Alson gak akan pernah menyakiti hati seorang wanita apa lagi itu istri Alson nantinya." Janjinya dalam hati sambil menundukan kepalanya mendengar seluruh pertengakaran yang terjadi di dalam sana.


Baginya memberikan ruang untuk Papah dan Mamahnya kali ini adalah hal yang paling benar, dan semoga saja Mamahnya itu mau memaafkan Papahnya yang melakukan kesalah besar itu.


Di dalam ruangan Arvan terlihat berlutut di kaki Jenni dengan sebuah air mata penyesalan yang begitu dalam. "Katakan Jenni, hukuman apa yang kamu mau berikan agar kamu mau memaafkan ku," tegasnya menatap ke arah istrinya yang saat ini mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Bunuh aku Jenni,,bunuh aku jika memang itu bisa menyembuhkan lukamu, bunuh aku sayang, aku gak kuat menahan rasa penyesalan ini," tangisnya histeris ketika tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari wanitanya itu.


Jenni beralih menatap tajam ke arah Arvan yang terlihat sangat menyedihkan saat ini. "Bahkan darahmu saja tidak akan bisa mencuci rasa sakit hati yang ada di hatiku, kematianmu tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka di hatiku, dan anak-anak ku yang hidup berjuang sendiri selama 25 tahun terutama Albert yang di culik dan tidak tau siapa yang merawatnya, apa kamu bisa menggantinya ha? Bahkan mungkin neraka saja tidak mau menerima kematianmu itu," jawab Jenni dengan tatapan penuh amarah yang tidak akan ada bisa memandamkanya.


Sakit yang dia rasakan selama puluhan tahun ini, tidak akan dia ulangi kembali dengan terjerumus ke dalam rantai cinta masa lalu Arvan.


Calon suami Mimin 🥰🥰



To be continue.


*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra