
🌹 Happy Reading 🌹
Setelah menyelesaikan sarapan pagi tadi, kini seluruh keluarga telah kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.
Albert yang masih setia menemani istrinya bermain air, karna tiba-tiba saja Briell ingin merasakan segarnya air di siang hari.
Dan dari jauh nampak Arvan yang berdiri dari kejauhan melihat Putra dan menantunya yang sedang bermain tertawa bahagia.
"Lihat lah sayang, putra kita sekarang sudah menemukan tambatan hatinya, sebentar lagi kita akan mempunyai cucu sayang, seandainya kamu mau sedikit lagi berjuang untuk memperjuangkan cintaku, maka saat ini pasti kita akan selalu bersama." lirihnya pelan di saat dia selalu mengingat kata-kata yang selalu di lontarkan dari Jenni.
"Aku mau belajar mencinta wanita lain, aku ingin memulai kisah yang baru untuk mencintai wanita lain." Ujar Arvan setiap kali Jenni tidak memperdulikan dirinya.
"Aku akan selalu mendukungmu untuk belajar mencintai cinta yang baru, aku pastikan itu." jawab Jenni dengan pelan.
"Jenni kamu kan mencintaiku, kenapa kamu tidak pernah memintaku untuk aku belajar mencintaimu, mengapa kamu malah mendukungku mencintai yang lain?"Tanya Arvan yang sebenarnya selalu kesal dengan sikap istrinya itu, Arvan selalu mencoba membuat Jenni cemburu, namun sepertinya karna sudah terlalu sering tersakiti, maka kali ini semua sudah tidak mempan kembali.
"Kebahagiaan dalam Mencintai itu adalah merelakan, karna aku tau jika aku tidaklah sempurna, dan mungkin jika ada wanita yang juga tidak sempurna, maka aku jauh lebih tidak sempurna."
"Ketika kamu sudah membuang ku, dan menolak cinta ku dulu, apa yang bisa aku lakukan? Meskipun sekarang kamu bilang, mau belajar mencintaiku, semua itu sudah percuma. Karna Aku hanyalah sebuah sampah yang sudah di buang oleh pemiliknya, dan ketika sampah sudah di buang, maka di saat kamu ingin memungutnya kembali, itu tidak akan pernah bisa lagi, karna sampah itu sudah bergabung dengan sampah-sampah yang lainya dan akan sulit kamu menemukanya kembali." balas Jenni yang sudah merasa cukup untuknya berjuang selama ini, namun dirinya hanya merasakan sakitnya mencintai dengan sendiri.
Tess,,tess,,test,, air mata Arvan lagi-lagi menetes, ketika mengingat kalimat yang di lontarkan Jenni kepadanya, kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum dia kabur dari Mansion milik Arvan, kalimat yang singkat, namun mampu membuat penyesalan seumur hidup baginya.
"Jenni, kembali lah sayang, aku mohon,,hissk,hisskk, apa kamu tidak ingin kembali berjuang agar aku bisa mencintaimu? Apakah mungkin jika saat ini aku mengatakan Aku mencintaimu, kamu akan kembali bersama ku? Kembali bersama dengan anak-anak." tangisnya pelan memandang wajah Albert yang sangat mirip dengan Jenni Mamahnya.
Dan tiba-tiba dari belakang, dia merasakan jika bahunya di tepuk oleh seseorang yang tak lain adalah Jesper, kakak iparnya.
"Apakah Anda sudah merasa bahagia saat ini Lord ?" tanyanya yang sedikit dengan nada yang menyindir.
Arvan yang tau jika di dalam hati Jesper, tentulah masih menyimpan amarah yang sangat besar.
Bagaimana tidak, Arvan menikahi adik kesayanganya tanpa permisi ataupun Izin dari sang kakak, terlebih selama kehidupan pernikahaan, bukanya kebahagiaan, dia malah memberikan luka pada adiknya yang mungkin tidak pernah dia lakukan. Dan terakhir, dia malah membiarkan Jenni pergi tanpa perduli dengan kondisinya yang sedang hamil besar, dan membiarknanya melahirkan sendiri tanpa siapa pun. Yang membuatnya tidak lebih dari seorang pembunuh istrinya sendiri.
"Aku bahagia karna bisa menemukan putraku, namun aku tidak bahagia karna cintaku pergi meninggalkan kami, tanpa dia mendengar terlebih dahulu jika aku Sudah Mencintanya." Lirihnya pelan, namun di balas dengan tawa yang sangat dingin dari Jesper.
Bahkan tanpa dia sadari air matanya itu juga kembali ikut menetes, mengingat masa-masa indahnya bersama dengan Jenni sebelum dia kabur dari rumah, tidak bisa di pungkiri jika di dalam hati Jesper juga merasa bila dia mempunyai andil terbesar dari semua ini.
Sungguh jika bisa, saat ini dia ingin sekali ikut bersama dengan Jenni dan orang tuanya.
"Apa Anda tau Lord, di dalam hati ini, di sini juga menyimpan sebuah rasa penyesalaan yang sangat dalam,"tunjuknya pada Dadanya dan sedikit memukulnya, karna lagi-dan lagi dia mulai merasakan sesak karna terlalu sakit menanggung penyesalan yang tidak akan pernah ada ujungnya.
"Saya merasa lelah menanggung semua beban ini, saya hidup namun bagaikan mati, saya kesepian dan tidak memiliki penyemangat dalam hidup, dulu Jenni selalu saja membuat rumah ini jadi berwarna dengan semua canda tawanya, dengan segala tingkah jahilnya, dirinya yang sedikit Lambat Loding, membuat dirinya semakin terlihat menggemaskan, adik ku harusnya mendapatkan kebahagian yang utuh, tapi kenapa aku memaksanya untuk menerima sebuah perjodohan yang tidak dia inginkan.hiskk,.hiskk," rasa penyesalan yang memang terasa sangat menyakitkan baginya.
Dia hanya bisa mengutuk hari di mana dia membentak Jenni hanya karna adiknya itu melawan dan menolak permintaan perjodohan itu.
Padahal dia sangat tau jika hati adiknya itu sangatlah cengeng, adiknya itu sangat mudah untuk memaafkan dan menerima siapapun yang ingin dekat denganya.
Dia di ciptakan dengan begitu sempurna dengan hati dan sikap yang selalu membuat hati siapa pun menjadi teduh bersampingan denganya.
"Namun ketika Jenni melahirkan baby kembar yang di beri nama Alson dan Albert, di saat itu saya sedikit merasa bahagia, karna Jenni memberikan saya dua jagoan yang akan menemani hari-hariku walapun tanpa kehadiran wanita di hidup saya. Saya selalu ingin di pertemukan dengan wanita yang sifanya sama dengan Jenni, namun hingga saat ini saya masih belum bisa mendapatkanya, terlebih di usia saya yang sudah cukup tua saat ini,membuat saya tersadar bahwa diri ini memang di takdirkan untuk sendiri." ucapnya dengan pelan, menggambarkan pada Arvan bagaimana rasa sakitnya dia sebagai kakak yang di mana adik kesayanganya di perlakukan kurang adil oleh orang baru seperti Arvan.
Arvan mengalihkan pandanganya kembali pada Albert, dia mengingat laporan yang di berikan pada Robert dulu, jika putranya Albert selalu di perlalukan kurang adil di keluarga angkatnya.
"Tuhan, mengapa semua perlakuan buruk ku di masa lalu, engkau turunkan pada putra ku Tuhan, mengapa tidak aku saja yang menerima." Jeritanya batinya yang merasa bahwa cukup bagi putranya itu menanggung dosa kesalahanya di masa lalu.
Cinta tak terbalaskan, ketidakadilan, di acuhkan semua itu adalah sikap yang dulu selalu di perlihatkan oleh Arvan untuk Jenny.
"Aku bangga sayang, meskipun Albert memwarisi sifat dan keperibadianku, namun sikap kelembutanya itu menurun dari mu, entah bagaimana sikap Alson nanti, aku masih belum mengetahuinya, tapi yang jelas Alson adalah foto coppyan dari mu, dan apa kamu tau sayang, aku berharap ketika Alson kembali nanti. Tidak ada pertengkaran di antar putra kita untuk memperebutkan satu wanita yang sama, dukung aku untuk bisa mengendalikan dua putra kita, dan yang utama adalah Albert yang mempunyai sifat keras kepalaku." batinya lagi tanpa mengalihkan pandanganya dari putranya yang terlihat nampak bahagia dengan pernikaahaanya.
Sama sekali tidak terlihat jika di dalam pernikahaanya, dia yang berjuang untuk sebuah cinta dari istrinya.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra