
Happy Reading
"Selamat yah Arvan, Mira," ucap salah satu tamu, Yang pertama kali memberikaan selamat kepada pengantin baru itu.
"Mira?" Gumam Jenni menatap suaminya bingung.
Namun dia terus menahan rasa gemuruh di dalam hatinya, ketika semua orang Yang memberikaan selamat kepadanya, selalu menyebutkan nama Mira dan Mira.
Hingga membuat kebingungan di hatinya, "apa maksud mereka semua memanggilku Mira?" tanyanya berbisik kepada Arvan.
Akan tetapi Arvan memilih untuk diam dan enggan menjawab pertanyaan Jenni untuk Saat ini.
Jenni merasa bertambah kesal, ketika Arvan mulai tidak menanggapi pertanyaanya. Namum bukan Jenni namanya jika tidak bisa menemukan jawaban dari rasa penasaraanya.
Tadi di awal, waktu dirinya baru Saja masuk ke dalam ballroom hotel, dirinya tidak memperhatikan tulisan Yang berada di bagian depan_ Dan terleblh dirinya tidak melihat undangan cetak Yang disebarkan oleh Arvan.
Sesampainya di luar, betapa terkejutnya Jenni, ketika melihat nama Mira Yang berada di sana bukan namanya.
Lalu, di Saat dirinya ingin berjalan mundur, tak sengaja dia menabrak seseorang Yang memegang undangan pernikahannya. Dan lagi - lagi, di sana hanya tertulis nama Arvan dan Mira. Yang berarti Arvan memperkenalkan dirinya kepada semua masyarakat sebagai Mira.
'Aku tidak menyangka jika kamu benar - benar menyakiti aku sampai seperti ini Arvan,' lirihnya pelan, sambil meremas kuat kertas undangan Yang berada di tanganya itu.
"Jika kehadiranku tidak dianggap sama sekali, lalu untuk apa pesta resepsi ini diadakan?"
"Untuk siapa sebenarnya pesta ini ada?"
-Dia Yang mengajakku untuk membuat resepsi lalu ini apa?" tangis Jenni tidak dapat bisa dibendung 'agi. Sakit,kecewa, marah kini bersatu padu di dalam hati dan płkiranya.
Jenni melihat ke arah Arvan Yang tengah sibuk dengan berbicara dengan kolega - koleganya.
"Sebaiknya aku kabur Saja darinya," ucap Jenni, sambil perlahan mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Jenni menatap ke arah sekitarnya, dia sengaja melepas healls Yang dia gunakan, dan membuangnya ke sembarangan tempat. Tułuannya agar dia bisa dengan mudah berlari jika sampai dirinya terlihat oleh anak buah suaminya.
Sesampainya di Pintu masuk, Jenni melihat ada beberapa pengawal Yang terlihat mengawasi setiap jarak Yang ada. "Ahh, banyak sekali pengawalnya, kalau seperti ini terus, aku tidak akan bisa kabur," lirihnya pelan, sembari terus berpikir, bagaimana caranya dia bisa mengelabui para pengawal itu.
Namun, tiba - tiba saja, tatapan Jenni tidak sengaja melihat sebuah taman Yang terhubung oleh ballroom itu_ Dia melihat sebuah kolam renang besar, Yang bersebrangan dengan lift keluar. Membuat ide Jahat kini muncul di otaknya.
Bermodalkan sebagai pengantin Saat ini, Jenni dengan mudahnya berbaur dengan beberapa tamu Yang tengah berdiri di dekat sisi kolam renang.
"Maaf ya," batin Jenni, lalu mendorong dua tubuh wanita Yang menjadi umpanya jatuh kedalam kolam renang.
"Ahhhh tolong„tolong," teriak Jenni, berusaha menjadi seseorang Yang paling heboh di sana
Seluruh fokus pengawal kini teralihkan, semuanya terlihat berusaha memberikaan pertolongan kepada dua gadis Yang didorong oleh Jenni. Dan di dalam kesempataan itulah Jenni mengambil ancang - ancang untuk kabur.
Dia berjalan dengan sedikit menundukan tubuhnya agar Yang lain tidak menyadari bahwa pengantinya telah kabur dari acara pernikahaannya sendiri.
Di Saat dirinya telah berhasil sampai di gerbang sebelah sisi kiri hotel, Jenni berusaha mencoba mencari jalan keluar Yang aman, agar bisa terhindar dari beberapa secutiry.
*Ayolah Jenni, berpikir, ayo bepikir," gumamnya terus menerus, memaksa otaknya untuk bekerja keras Saat ini.
Sedangkan di dalam sana, terlihat Arvan Yang baru Saja mengetahu bahwa istrinya kabur dari pesta, kini murka semurka murkanya pada seluruh anak buahnya Yang dinilai tidak becus dalam bekerja.
"Apakah kalian semua bodoh? Ataukah gaji Yang aku berikan selama ini kepada kalian kurang? Sampai kalian menjaga satu orang wanita Saja agar tidak kabur kalian merasa sangat sulit? Ha?!" Arvan benar - benar tidak bisa mentoleransi Ini semua.
Dia akan membunuh siapa Saja Yang tidak pernah serius dalam pekerjaanya.
Arvan menyuruh seluruh anak buahnya untuk segera mengusir semua tamu, agar Jenni bisa segera mereka temukan.
Arvan menyuruh seluruh anak buahnya untuk segera mengusir semua tamu, agar Jenni bisa segera mereka temukan.
Arvan memperhatikan dengan jelas setiap sudut yang terlihat di dalam kamera untuk mencari keberadaan istrinya hingga tatapannya membulat ketika melihat Jenni yang dengan jahatnya melukai seseorang dengan cara mendorong dua wanita ke dalam kolam renang yang sangat dalam demi menjalankan rencananya. Membuat Arvan hanya mampu menghela nafasnya kasar.
"Kenapa dia semakin lama semakin berulah," batin Arvan, yang merasa pusing dengan sikap Jenni yang semakin hari selalu menuntutnya.
Sedangkan Jenni di luar sana, kini melihat semua tamu yang baru saja keluar pulang dari acara, dia segera memanfaatkan situasi untuk bergabung bersama mereka.
Akan tetapi, Saat baru saja dia bergabung, semua tamu yang tadi mengenalnya, kini mulai menegurnya. "Loh, Queen Mira, kok ada di sini?" tegur salah satu wanita, yang sontak membuat Jenni gelabakan. Karena banyak dari mereka yang ikut mengur dan menatap Jenni dengan tatapan penuh curiga.
Mendengar keributan dan nama Queen mereka dipanggil, sontak saja salah satu pengawal di sana mendatangi Jenni dan memaksanya untuk masuk ke dalam kamar hotel di mana Arvan telah menunggunya.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Kamu gak ada hak untuk memaksaku seperti ini! Robertt!" Teriak Jenni, berusaha untk lepas dari gengaman tangan asisten suaminya_ Karena tadi pengawal di luar tidak ingin mengambil resiko baru, maka dari itu mereka langsung menyerahkan Jenni kepada Robert yang tebgah berdiri menunggu kedatanganya.
'Jenni, bekerja samalah! Kamu mau kabur untuk apa? Kamu lupa kalau kamu terikat perjanjian terhadap Lord Arvan? Kamu lupa kalau sahabat kamu Lola ada bersama kami? Kalau kamu mau kabur Oke silahkan! Tapi apakah kamu tidak berpikir nasib Lola?" Robert mencoba untuk membujuk Jenni, agar tidak terus memberontak dari gengamannya.
Karena akibat pemberontakan itu, banyak sekali orang yang melihat ke arah mereka, Robert tidak mau jika semua orang tahu bahwa pernikahaan ini hanyalah sebuah pernikahaan paksa antara Jenni dan Arvan.
"Robert, aku juga tidak mau kabur seperti ini, tapi kamu harus paham tentang keadaan aku sekarang." Tangis Jenni kembali pecah dan langsung memeluk tubuh Robert dengan erat.
"Peluk aku Rober! Aku benar - benar membutuhkan orang yang perduli denganku, aku kangen kakakku, aku kangen sama semua canda tawa yang selalu terhias di hari - hariku."
"Tetapi, setelah aku menikah dengan bosmu itu, hidupku jadi hancur, semua impian dan cita - citaku musnah begitu saja, pernikahaan sepihak yang aku jalanin, menuntutku untuk menjadi seperti orang lain?"
"Jenni, aku mohon jangan seperti ini! Cepat kembali dan pergi ke kamar suami kamu," perintah Robert, merasa takut jika Arvan mendapatkan mereka tengah berpelukan seperti ini.
"Apakah jika aku adalah adik kandungmu, kamu juga akan bertingkah seperti ini kepadaku? Apakah kamu juga akan dengan teganya melihatku disakiti terus menerus oleh pria yang tidak bertanggung jawab?" tanya Jenni pada Robert "Jennnni," teriak seseorang yang begitu keras, memanggil nama wanita yang tengah nangis dalam pelukan Robert.
Seketika Jenni dan Robert langsung menjauhkan tubuh mereka, merasa canggung karena semua pasti mengira bahwa yang Saat ini menjadi pasangan pengantin itu adalah mereka.
Arvan menelan salivanya kasar, dirinya merasa sudah dibodohi oleh orang dua ini.
"Bagus kalian ya! Aku memintamu untuk mencari istriku yang sedang kabur, tetapi kalian malah enak - enakan berdua berpelukaan di sini ya?!" Arvan mulai terlihat dingin, sambil menatap keduanya penuh dengan tatapan intimidasi.
"Lord maaf bukan ucap Robert terhenti, ketika Arvan mengangkat tanganya untuk menghentikaan penjelasan Robert.
"Cukup! Aku tidak ingin mendegarkan penjelasaan apapun! Sekarang Jenni kamu ikut aku!" Arvan langsung menyeret Jenni untuk masuk ke dalam lift.
"Arvan lepaskan aku! Robert please tolong aku," pintanya memohon pertolongan dari Robert.
Sedangkan pria yang sedari tadi berdiri itu, hanya diam pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.
Dia sadar akan kesalahaan yang dia lakukan, hingga dia terus berpikir, hukuman apa yang akan Lord Arvan berikaan kepadanya. Tapi di dalam hati kecilnya dia selalu berdoa agar Jenni baik - baik saja.
"Jenni, bertahanlah sebentar lagi, kalau kamu bisa melahirkan keturunan untuknya, maka kamu akan lepas dari semua Ini, percayalah," batin Robert, menatap sendu ke arah Lift yang membawa Arvan dan Jenni pergi ke atas.
To Be Continue.
Hallo semua, jangan lupa beri dukunganya berupa likekomen dan hadiahnya ya.. agar mimin kembali semangat untuk updatenya.
Terima kasih.