
Happy Reading Bestieπ
Setelah mendapatkan tugas dari Arvan, barulah Kevin kini berangkat ke India, di tempat sesuai yang diberikan oleh Lucas sebelumnya.
Arvan menugaskan dirinya untuk hanya memantau apa yang sedang mereka lakukan, dan jika ada kesempataan barulah mereka boleh membawa Jenni pulang ke Mansion.
Di Sisi lain, Jenni yang tengah duduk bersama dengan Robert saat ini sangtalah terlihat canggung. Robert yang terus saja diam, membuat Jenni bingung harus memulai berbicara dari mana.
"Robert,"
"Jenni," ucap mereka secara bersamaan.
"Eh, kamu saja yang dulu bicara," ucap Jenni, akhirnya mendapatkan bahan untuk meminta pria itu untuk memulainya.
"Tidak Jen, lebih baik kamu dulu saja," balas
Robert yang terdengar seperti memerintah.
Jenni tersenyum kikuk, dia sendiri saja bingung apa yang tadi ingin dia katakan.
"Ehm, jadi gini -," lirihnya dengan gugup. Dia tidak tahu harus memulai dari mana.
"Ehm bagaimana -,"
"Izinkan aku yang menjadi ayah dari bayi kamu." Ucap Robert memotong kalimat Jenni begitu saja.
Sontak saja Jenni membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Robert.
Jenni mengerjap β ngerjapkan pandangannya, dan berharap bahwa yang dikatakan oleh Robert tadi bukanlah sebuah imajinasi belaka.
"Soory," ucap Jenni, ingin mendengar sekali lagi apa yang dikatakan oleh Robert tadi.
"Kamu tidak salah dengar Jen, aku serius ingin menjadi ayah dari bayi kamu," ulangnya sekali lagi.
Namun kali ini, Jenni bukannya merasa senang, melainkan dia malah menangis, membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya nanti.
"Robert, aku -," bibirnya sangat keluh untuk bisa membalas ataupun memberikan respon kepada pria itu.
Mengerti akan situasi, Robert kini memilih untuk berlutut dihadapan Jenni, dia benar β benar ingin menunjukan keseriusaanya. "Jen, mungkin saja kamu sudah tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan saat ini, aku tahu seberapa sakit yang kamu alami di dalam pernikahaanmu sebelumnya, tetapi aku mohon, ajarkan aku menjadi laki β laki yang mungkin bisa mengerti kamu."
Jenni menangis mendengar semua ungkapan hati dari Robert. Tetapi kenapa sekarang? Kenapa tidak dari dulu, sebelum dirinya menikah dengan Arvan.
"Jenni, aku mungkin tidak tahu apa itu sebuah hubungan, apa itu cinta dan apa itu ketulusan, yang aku tahu dan yang aku pelajari selama ini hanyalah tentang bagaimana caranya bisa melindungi Lord Arvan, bagaimana caranya membunuh, dan bagaimana dengan mengenali setiap pengkhinat yang ada, aku adalah seorang pria yang cacat dalam tindakan, tetapi sekarang aku yakin, semua perbuataan yang aku lakukaan saat ini, mungkin itulah yang biasa manusia sebut dengan cinta."
"Jenni, percayakah kamu jika aku mengatakan aku mencintaimu? Hem?" Robert akhirnya memilih untuk mengatakan segalanya. Perasaannya yang masih terlalu ambigu untuk dijelaskan, saat ini dia memilih untuk mengungkapkanya.
"Kenapa kamu mengungkapkan semuanya sekarang? Apakah ini hanya karena kamu kasihan kepadaku? Atau apa?" Jenni tidak bisa mempercayai sebuah perasaan tulus untuk saat ini.
Dia sudah lelah dalam mencintai seseorang yang bahkan sama sekali tidak pernah menganggapnya ada.
"Kamu terlambat Robert, kamu terlambat, hisk, hisk," tangis Jenni kini kembali pecah, bahkan kali ini lebih histeris dari pada sebelumnya.
Bahkan dia sudah tidak bisa mendefinasikan perasan sakit yang seperti apa lagi yang dia rasakan.
Robert menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak setuju jika Jenni mengatakan bahwa dirinya sudah terlambat.
"Tidak Jen, aku tidak terlambat, semuanya masih bisa diperbaiki Jen, aku mencintai kamu, dan aku akan menerima anak ini, anak kamu bersama dengan pria Iain." Robert mengatakaan semuanya dengan penuh keyakinan. Jenni bahkan tidak bisa melihat celah keraguan dari tatapan mata itu.
"Enggak Robert, aku gak bisa, sekarang sulit untuk aku percaya dengan laki β laki, kamu tahu -"
"Aku tahu Jen, tetapi aku bukan Arvan, aku dan dia berbeda." Robert masih terus berusaha meyakinkan Jenni jika cinta yang dia miliki itu sangatlah tulus.
"Apa beda? Sekarang kamu bisa bilang beda, tetapi nanti? Mau bilang apa? Kamu punya mantan yang belum selesai juga? Atau mantan kamu meninggal? Atau apa? Mantan kamu bercerai sama suaminya terus nyesel dan minta balikan sama kamu gitu?" Tuduh Jenni dengan frontal. Dia benar β benar menganggap jika semua laki β laki pasti memiliki kisah masa lalu bersama mantan β mantan mereka.
Bukannya marah, Robert malah menggaruk kepalanya bingung. "Mantan siapa?" tanyanya dengan polos. Membuat suasana yang tadinya tegang, kini berubah dengan rasa kesal.
"Ya, aku tidak tahu, mantan kamulah pastinya." Ketusnya semakin membuay Robert bingung.
"Aku tidak mempunyai mantan Jen, aku ini hidup bersama robot β robot buatan dari Lord Arvan, kamu pikir apa? Aku mau gitu berhubungan dengan Robot?" Jelas Robert dengan santai. Menceritakan bahwa hidupnya sangat kelam di masa lalu.
Jenni gelabakan sendiri mendengar penjelasan dari Robert itu, dia mengalihkan pandanganya agar tidak terlihat malu dihadapan pria ini.
"Kasih aku satu alasan kenapa kamu tiba β tiba berbicara seperti ini denganku," ucap Jenni meminta penjelasaan dari Robert.
"Karena aku takut, jika kamu mengetahui kamu hamil, maka kamu akan kembali dengan Arvan dan lalu mencampakan aku begitu saja," balasnya, tanpa ada rasa malu, ataupun canggung sama sekali.
Jenni mencoba mengatur degupan jantungnya, biar bagaimanapun perasaan Robert kepadanya tidak boleh terlalu lama dibiarkan.
Dia harus segera bertidak, agar Robert mau membenci atau setidaknya hanya menganggap jika dirinya adalah adik kecil.
"Robert, bukan aku tidak menginginkan kamu menjadi ayah dari anak aku, tetapi kamu bisa membayangkan bukan? Jika ada seorang anak yang terlahir, dan menganggap kamu sebagai ayahnya namun ternyata bukan, aku gak tahu, akan sesakit apa anakku nanti," imbuh Jenni, yang menolak Robert secara halus.
"Tidak perlu dibilang, hanya kita saja yang akan menyimpan rahasia ini seumur hidup Jen, please, kasih aku kesempatan sekali ini aja, buat buktikan sama kamu kalau aku bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak β anak kita kelak."
"Kamu percaya itukan Jen?" Tanya Robert sekali lagi. Dan kali ini Jenni menjawabnya dengan menganggukan kepalanya pelan, sambil tersenyum tipis. Membuat Robert berpikir bahwa Jenni telah menerima cintanya.
"Jen, apakah itu artinya kamu akan menerimaku?" tanya Robert lagi.
"Aku belum tahu," jawab Jenni, sembari melangkahkan kakinya sedikit, untuk mencari ruang yang bisa membuatnya bebas dari tatapan Robert.
Jenni memeluk dirinya sendiri, lalu menatap ke arah cermin yang menampilkan dirinya sendiri.
Dia bisa melihat dengan jelas, bagaimana dirinya sekarang, Robert mengubah warna kulitnya menjadi sangat gelap, Robert memberikannya pakaian seperti penduduk asli di India. Mereka benar β benar mengganti identitas mereka, seperti terlahir kembali, dengan identitas baru, lingkungan baru bahkan kebudayan yang baru.
Semua itu mereka lakukan hanya karena harus menghindari Arvan, sosok pria yang dengan tega menghancurkan hidup dan dunia β nya.
To Be Continue.
Hallo teman - teman, jangan lupa ya, Like,
vote, komen dan hadiahnya untuk karya Mimin ya, agar mimin lebih semangat lagi untuk updatenya.
Dan jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih.