
🌹 Happy Reading 🌹
"Kita kasih surprise yuk untuk para Oppa-Oppa di depan," ajak Briell yang sudah tidak sabar melihat ekspresi dari ketiga calon kakek di luar sana.
Albert tersenyum mendengar istrinya yang sangat antusias sekali dengan kehamilan ini. "Semoga dengan kehadiran Baby ini, akan membuat rasa cinta di hati kamu itu juga muncul ya sayang," harapnya sambil mengusap perut istrinya yang masih rata itu.
Briell juga membalasnya dengan sebuah senyuman yang lembut, bahkan dia menggengam tangan suaminya yang berada di atas perutnya saat ini. "Perlahan tapi pasti, cinta itu akan tumbuh beserta baby yang akan tumbuh besar nantinya, aku juga akan berusaha menumbuhkan rasa cintaku dengan perlahan, kamu tau kenapa?" tanyanya serius pada Albert.
"Kenapa sayang?" tanya Albert yang selalu tidak mengerti jika istrinya ini memakai kalimat-kalimat ambigu.
Briell membawa gengaman tangan suaminya menuju tempat di mana jantungnya berdetak. "Karna di sini, di hati ini sudah pernah berjanji akan menemani mu selamanya dalam keadaan apa pun, kamu yang mencintaiku, dan kamu juga adalah ayah dari bayiku, maka aku merasa jika aku tidak memberikan mu sebuah cinta, maka itu semua tidak akan adil." Jawabnya dengan penuh kelembutan.
Lalu dia mengalihkan pandanganya ke arah lain, dengan menatap ke arah kekosongan.
"Kemarin, di saat kamu mengatakan jika Alson kemungkinan masih hidup, aku kaget, dan aku bertanya pada hatiku, apakah aku masih mencintainya atau tidak?" ucapnya memandang suaminya kembali.
"Lalu?" tanya Albert yang penasaraan dengan jawaban itu.
Briell tersenyum mendengar suaminya yang begitu penasaraan akan perasaanya saat ini. "Aku mencintainya itu dulu, tapi sekarang aku memilih di cintai oleh kamu, aku memilih mencintai kamu ayah dari bayi ku, bagiku dia hanyalah sebuah masa lalu. Meskipun dia pernah ada di hati ku, tapi sekarang tempatnya sudah tergantikan oleh mu, kamu tau kenapa ?" balasnya lagi, yang kembali mendapatkan gelengan kepala dari suaminya.
"Seseorang pernah mengajarkan ku arti dari sebuah kata, "Penyesalan Karna Sebuah Cinta Yang Datang Terlambat", aku tidak ingin hidup di dalam sebuah penyesalan yang akhirnya akan membuatku hidup tersiksa." ucapnya dengan tenang.
"Mamah Jenni mengajarkan ku arti dari sebuah Perjuangan Cinta yang sebenarnya, kenangan indah Mamah Jenni membuatku tersadar, jika berjuang itu bukan hanya satu orang, melainkan keduanya. Namun Tuhan memberikan kita bonus untuk berjuang bersama dengan bayi ini. Aku mencintaimu Albert, Aku tidak ingin terlambat menyadari jika Aku mencintamu, hiskk,,aku mencintaimu, kini dan selamanya," tangisnya yang akhirnya kembali pecah menahan kebahagiaan yang tak terkira saat ini.
Sedari pagi dia memang merasakan jika dia ingin mengatakan hal ini, karna kemarin di saat Albert mengatakn padanya jika Alson cintanya masih hidup, di situ Briell terus menerus berfikir, dimana hatinya saat ini berpijak. Apakah masih bersama dengan cinta lamanya, atau kah sudah bersama dengan suaminya yang saat ini juga mencintanya dengan tulus.
"Terima kasih sayang, terima kasih karna kamu sudah mau membalas cintaku ini, terima kasih Gabriella, terima kasih," harunya terus menerus menciumi kening istrinya, sungguh inilah yang dia tunggu selama ini.
Kehadiran bayi serta cinta dari istrinya yang datang secara bersamaan, membuatnya tak henti-hentinya mengucapkan syukur yang berlimpah pada sang pencipta.
"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba mengatakan kamu mencintaiku ? Ini bukan bercanda kan sayang? Kamu gak lagi ngerjain aku kan?" Albert benar-benar harus memastikan ini semua.
Dia tidak mau jika ini hanyalah sebuah drama yang di mainkan oleh istrinya, dia tidak mau jika dirinya sudah terbang ke langit, dan seketika di jatuhkan kembali ke dasar jurang.
Briell menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari apa yang di fikirkan oleh suaminya.
Siapa pun mungkin bingung dengan pernyataan cinta yang tiba-tiba ini, namun inilah kenyataan yang ada, dia sudah mencintai suaminya namun entah kapan pastinya, tapi dia yakin bahwa inilah perasaanya saat ini.
Mungkin orang lain akan berpendapatan jika dia terlalu mudah jatuh cinta, namun lagi-lagi dia di hadapkan oleh kenyataan yang ada, jika di Dunia ini, manusia lebih baik di cintai dari pada harus mencintai.
"Kenapa kamu bisa berubah pikiran sayang? Dan mengapa tiba-tiba kamu menyatakan cintamu itu?" tanya Albert yang begitu penasaraan dengan jawaban istrinya.
"Semalam kamu ingatkan waktu aku menangis mencarimu?" tanya Briell yang ingin bercerita tentang mengapa dia bisa mengungkapkan perasaanya hari ini.
"Memangnya ada apa dengan semalam sayang?"tanyanya balik, yang sudah tidak tahan lagi dengan jawaban istrinya.
"Semalam aku bermimpi, ada sosok cahaya yang mengatakan padaku untuk memilih sebuah jalan kanan dan kiri."
"Lalu aku memilih Kiri, yang aku sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Namun di saat aku tersadar, aku melihat sosok Alson dan kamu di ke dua ujung jalan sana. Namun karna aku memilih kiri, yang menandakan aku memilih Alsob, tiba-tiba saja cahaya putih itu menarikmu dan membawamu pergi jauh, dan jauh sekali, hingga aku tersadar meskipun Alson berada di sampingku, namun aku mengingkan mu. Aku lebih mengingkan kamu dari dirinya. Percaya atau tidak tapi itulah yang terjadi semalam, hingga aku meyakinkan diriku sendiri jika aku sudah Mencintai kamu Albert Emilio Manopo." Ungkapnya penuh dengan keyakinan yang penuh di matanya.
Dengan sigap Albert langsung memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. "Aku berhasil sayang, aku berhasil memiliki cintamu, aku berhasil." Tangisnya yang bahkan tidak malu jika nanti di sebut cengeng oleh istrinya.
Briell tertawa melihat suaminya yang begitu erat memeluknya. "Sayang, udah ih lepasin, sesak tau badan mu itu kekar meluk aku erat gitu, ntar Baby gak nafas loh," ejeknya yang melihat suaminya ini bagaikan Teletubhis yang selalu saja ingin berpelukan.
"Heheheh maaf ya Mommy Sayang, maafin Daddy juga ya Cabynya Daddy," ujarnya kecil sambil mengelus perut istrinya lagi, namun membuat Briell mengerutkan keningnya bingung.
"Caby?" tanyanya merasa aneh dengan nama panggilan suaminya pada anaknya.
Albert tertawa kecil melihat istrinya dengan wajah yang bingung seperti itu. "Iya sayang, Caby, Calon Baby, masa gak ngerti?" balasnya dengan penuh rasa sayang.
Briell menganggukan kepalanya paham. "Ohhh Calon Baby, heeheh calon baby ya Nak, sehat-sehat sayang."lirihnya pelan ikut menggengam tangan suaminya yang masih mengelus perutnya.
Yang sepertinya akan menjadi kebiasaan baru buat Albert akan mengelus perut Briell setiap saat.
"Ya sudah, ayo kita keluar yuk, aku sudah gak sabar mau ngasih tau Daddy sama Papah," ajak Briell yang penasaraan dengan reaksi dari kedua calon Oppa itu. Terutama Uncle Jesper yang pasti akan merasa bahagia karna kedatangan anggota baru di dalam Tiga berpengaruh di Dunia itu.
Albert mengikuti langkah istrinya yang terlihat sangat antusias menyambut kehadiran Bayi yang ada di kandunganya saat ini.
Namun Albert jauh lebih bahagia, karna hari ini, adalah hari di mana kebahagaiannya itu di mulai.
Hari dimana kehidupanya sempurna karna berkat cinta dari istrinya yang akan mengelilingi setiap harinya, serta bayi yang akan menjadi penyempurna hubungan keduanya.
"Semoga ini adalah awal dari kebahagiaan yang sesungguhnya," doanya dalam hati, yang menaruh harapan pada setiap katanya itu.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra