Love Me Please My Wife

Love Me Please My Wife
Chapter 80 Warning !!!



🌹 Happy Reading 🌹


Albert menampilkan wajah amarahnya saat ini, karna sampai detik ini masih tidak ada yang mau berbicara denganya mengenai apa yang terjadi sebenarnya.


"Kenapa kalian diam aja? Jawab ! Papah jawab ? Aku anak Papah bukan ha? Kenapa tidak ada yang mau menjawab ?" bentaknya frustasi, karna yang ada hanya sebuah keheningan saja.


Alson berdiri mengahampiri adiknya yang sedari tadi hanya bisa membentak-bentak saja, " Albert, jika kamu tidak bisa di atur untuk tenang terlebib dahulu. Kakak sendiri yang akan melemparmu jauh-jauh dan tidak akan mendengar masalah ini, apa kamu mengerti?" Serunya dengan tegas yang langsung membuat Albert terdiam dan mendudukan tubuhnya dengan kasar.


"Bagus," timpal Alson kembali di saat melihat adiknya itu calm down meskipun tidak menjawabnya.


Arvan yang melihat kedua putranya sudah tenang, kali ini dia memberikan kode kepada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka sedari jauh.


"Masuk," perintah Arvan pada segerombolan orang yang terlihat membawa dua orang yang terlihat seperti dokter yang sedang di tawan.


Yang lain hanya bisa melihat dengan menampilkan wajah mereka dengan bingung, terutama Albert yang mengetahui Papahnya itu selalu bersikap baik, tapi kali ini dia bisa melihat jelas jika Arvan melakukan tindak kekerasan seperti apa yang biasa dia lakukan.


"Bawa dia kemari!" titah Arvan menyuruh anak buahnya membawa seorang dokter wanita berlutut di kakinya.


Dan dengan patuh body guard itu menurutinya.


Albert lagi-lagi menoleh ke arah kakaknya yang diam saja tanpa berekspresi, dan dia kembali menoleh pada Jesper yang juga menampilkan wajah yang sama.


"Apa yang sebenarnya terjadi ? Dan Papah, kenapa Papah terlihat sangat marah saat ini? Aaarrhggh kenapa semua pada diam," Batinya yang merasa muak dengan keadaan ini.


Arvan yang sudah muak melihat dokter wanita itu, kini mulai berjalan mendekatinya.


"Pah, Alson mohon jangan pakai kekerasan," pintanya yang memang tidak pernah melihat tindakan kriminal sedari kecil.


Dia memang tau cara memegang senjata, tapi dia tidak pernah tau cara menyiksa dan membunuh seseorang, walaupun orang itu salah.


Arvan menoleh sekilas pada putra pertamanya. "Boy, biar dia mendapatkan apa yang harus dia dapatkan," balas Arvan yang membuat Alson hanya mampu menggelengkan kepalanya, sambil mempersiapkan diri dengan apa pun tindakan yang akan di lakukan oleh Papahnya.


"Aaaarrrgggghhh, sakit Lord ampuunnnn," jeritan dokter wanita itu yang kesakitan, di saat Arvan mulai menjambak rambutnya dengan sangat-sangat keras hingga darah segar keluar dari ujung-ujung rambut itu.


Terlihat urat-urat kemarahan dari wajah Arvan yang sangat menakutkan kali ini. Semakin dia mendengar jeritan semakin dia menambahkan kuatnya jambakan itu. "Katakan apa yang sudah kamu lakukan! Kamu yang ku percaya sebagai dokter kandungan istri ku! Kenapa kamu berbohong ha, buuuuggghhhh,,bugghh,," bentak Arvan sambil menghantamkan kepala dokter itu ke lantai dengan sangat keras, menganggap kepala dokter itu adalah sebuah batu yang bisa menghancurkan tehel lantai itu.


"Papah, jangan seperti ini Pah tolong," Seru Alson yang benar-benar tidak mampu melihat yang seperti ini.


Dia merasa degupan jantungnya yang begitu cepat melihat Papahnya yang berbuat layaknya seorang malaikat maut.


Namun inilah sosok Arvan yang tidak di ketahui banyak orang.


Dia adalah seoarang laki-laki yang penyayang, bahkan dia suka menolong dan sangat dermawan.


Tapi dia mempunyai sosok gelap yang tidak banyak di ketahui jika dirinya adalah sosok yang terkejam dari yang terkejam, bahkan dia lebih kejam dari Lucas, namun dia mampu menutupinya sifat iblisnya dengan sikap lemah lembut yang dia miliki.


"Hisskk,,hisskk ampun Lord,Sakit,,hissskk, sakit," Tangisanya yang sudah tidak karuan menahan sakit yang sangat hebat.


Bagaimana tidak, bahkan bisa di lihat dengan nyata jika kepala itu sudah retak tidak karuan, seandainya bisa dokter itu mungkin meminta untuk lenyap saat ini juga, dari pada menahan sakit seperti ini.


"Katakan!" Perintahnya lagi dengan meminta sebuah rantai yang berpaku dari anak buahnya.


"Hisskk,,hisskk maafkan saya Lord, saya terpaksa melakukanya karna di ancam oleh tuan Jacob Lord, dia mengatakan jika saya tidak mau memalsukan data kehamilan dari Queen Jenni, maka seluruh anak saya akan di bakar hidup-hidup Lord, tolong ampuni saya," Tangisnya yang sebenarnya dia tau jika ini sudah sangat tidak berguna lagi.


Arvan tersenyum sinis kali ini, lalu dia memberikan kode pada anak buahnya agar memperlihatkan sebuah vidio untuk dokter pengkhianat ini.


Dengan rasa takut, dokter wanita itu memeberanikan diri mengangkat keplanya yang sudah tertutupi dengan darah yang terus menerus mengalir dari luka-luka retakan itu.


"Tidaaadaaakkk Lord jangann," teriaknya sehisteris mungkin.


Arvan memperlihatkan sebuah vidio yang di dalamnya terlihat satu keluarga hingga suami, anak dan cucunya di bakar hidup-hidup satu persatu.


"Kamu tau siapa yang berkuasa, maka pintarlah dalam berpikir." ucap Arvan untuk terakhir kali, lalu melilitkan rantai berpaku itu di leher dokter wanita itu.


"Aaarrgghhh,," teriaknya semakin kencang menahan sakit yang sudah tidak bisa di ungkapkan lagi.


Dan karna tidak tahan mendengar teriakanya itu, salah satu anak buah Arvan menusuk mulut dokter itu dengansebuah samurai hingga tembus sampai belakang.


Hingga mata dokter itu lari ke atas menahan sakit yang luar biasa, sampai saat dia tidak bernafas matanya itu tidak bisa lagi tertutup, karna bola matanya yang hitam sudah lari entah kemana.


Alson memejamkan matanya lemah, dia benar-benar tidak sanggup melihat ini semua lagi, sedangkan Albert yang merasa geram ingin ikut berperan dalam menyiksa wanita itu.


Namun langkahnya lebih dulu di tahan oleh Jesper, sehingga membuatnya kembali duduk dan menatap malas pada Unclenya.


Arvan terlihat menatap dengan penuh amarah, dia marah pada dirinya sendiri.


Dia marah pada dirinya yang sudah begitu bodoh mempercayai perkataan dari dokter brengsek itu.


Dokter wanita kepercayaan keluarganya dari masa Mamahnya masih hidup kini begitu tega membohonginya selama bertahun-tahun lamanya.


Dokter itu berkhianat dengan memalsukan data DNA milik bayi yang di kandung oleh Jenni.


"Aaaarrrggghhhhh," teriaknya sambil mengeluarkan air mata penyesalanya.


"Hisskkk, bodoh,,bodoh,, kenapa kamu baru mengetahuinya sekarang Arvan kamu bodoh, arrgghh," teriaknya frustasi dengan segala tindak kebodohanya yang lebih mempercayai orang lain di bandingkan istrinya sendiri.


Albert berdiri, mendekati Papahnya yang kini sedang menangis merenung, dengan darah yang masih berlumuran di tanganya.


"Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu Pah?" tanya Albert to the point pada Papahnya.


Arvan langsung menoleh pada putranya yang kini sedang bediri di hadapanya. "Papah bodoh, karna mempercayai tuduhan yang mengatakan jika Mamah Jenni hamil dari orang lain, dan bukan dari Papah, dan itu yang membuat Papah tutup mata selama ini hingga tidak ada sama sekali niat untuk mencari kalian berdua hisskk,,hisskk, dan ketika Papah melihat kamu yang begitu mirip dengan Mamah, dan di situ Papah baru menyadari jika Papah sudah di tipi selama ini," tangisnya lagi dengan mengungkapkan segala kejadian di masa lalu.


Albert hanya berekspresi datar saat ini, dia tidak tau harus bersikap apa.


Dia ingin sekali meninju kepala papahnya agar otaknya itu tidak bodoh lagi. "Pah, bukankah kamu Lord, Papah yang memiliki IQ tertinggi di dunia, lalu kenapa Papah bisa percaya dengan segala kebohonga yang ada?" bentak Albert juga terlihat sangat frustasi dengan keadaan saat ini.


Berbeda dengan Jesper yang memang sudah mendengar semuanya dari awal, sehingga dia hanya mampu terdiam saat ini.


Sedangkan Alson, dia mendadak lemas melihat tindak kekejama yang di lakukan tepat di depan matanya.


To be continue.


*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *


Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻


Follow IG Author @Andrieta_Rendra