
Happy Reading
"Jadi apakah kamu tidak menyukai jika aku menculikmu, hem?" Tanya Robert datar, namun anehnya Jenni malah jadi salah tingkah sendiri.
"Kenapa tersenyum?" tanya Robert, ingin menggoda, namun terdengar seperti membentak.
"Memangnya tidak boleh?!" Sahut Jenni, dengan berupaya galak, namun itu sama sekali tidak membuat Robert takut ataupun tersinggung.
Jenni dan Robert saat ini memilih untuk duduk di salah satu kursi untuk menunggu keberangkataan mereka. Karena tadi mereka sudah melakukan cek in tiket.
"Di sini dingin banget ya," singgung Jenni, sembari mengusap kedua lenganya yang terbuka, karena tadi sepertinya Robert mengenakan baju yang sedikit terbuka.
"lyah, benar deh ini itu suasannya dingin banget," serunya lagi pada Robert yang saat ini terlihat membaca koran.
Jenni mengerucutkan bibirnya maju, karena sedari tadi dia ingin melihat Robert peka atas situasi yang ada. Namun, bukannya perduli, sepertinya Robert terlihat sama sekali tidak menggubris atau bahkan tidak mengerti dengan keadaan sekitar.
"Hishh, Bisa - bisanya pria ini sangat tidak peka dengan singgungan yang aku berikan." Gumamnya kesal.
Merasa sedang diabaikan, Jenni memilih untuk melihat ke arah sekelilingnya. Begitu banyak yang dia perhatikan, dan seketika pandanganya fokus pada seorang wanita yang tengah hamil besar, dengan terdapat seorang pria disebelahnya dan sedang mengusap perut besarnya itu.
Terlihat sangat bahagia sekali, hingga tanpa sadar Jenni mengusap perutnya sendiri. Dan dia tersadar jika sudah beberapa minggu ini dia belum mendapatkan tamu bulanannya.
"Robert, bisakah kita ke apotik yang ada di sana dulu," ajaknya pada Robert, yang baru kali ini menganggap keberadaanya.
"Apakah kamu sedang sakit?" tanya Robert dan lalu segera mengecek suhu tubuh Jenni, mengingat jika wanita itu tadi sempat pingsan.
Jenni menggelengkan kepalanya, dan langsung menyingkirkan tangan Robert dari wajahnya.
"lhhh, aku mau ke apotik itu bukan berarti aku sakit," protesnya, yang membuat Jenni langsunb menyeritkan keningnya bingung.
"Aaahh, sudahlah, gak jadi aja, belum pergi saja sudah banyak ditanya seperti itu," ucap Jenni, sembari menampilkan wajah cemberut.
Karena dia merasa setelah ini hidupnya akan penuh banyak masalah, apa lagi ketika dirinya harus berusaha mengerti tentang kebutuhannya sendiri, dia tidak yakin apakah dia bisa atau tidak.
Sedangkan di Sisi Iain, terlihat seorang pria yang sedang marah besar kepada seluruh anak buahnya. Bahkan saat ini terlihat begitu banyak darah yang mengalir di tubuhnya.
Tetapi itu bukanlah darahnya, Melainkan darah dari beberapa puluh anak buahnya yang dianggap sangat tidak becus dalam mengerjakaan tugas mereka.
Nafas Arvan terlihat sangat memburu, dia tidak bermain - main dengan semua perkataanya. Dia benar - benar membunuh beberapa anak buahnya dengan sangat keji sebagai pelampiasan emosinya.
"Bakar semua mayat mereka! Aku tidak mau jika masih ada yang tersisa di sini!" Perintahnya pada anak buah yang lainnya.
"Baik Lord,” jawab mereka semua secara serempak, lalü dengan perlahan mereka mengangkat tubuh dari teman - teman mereka yang sudah mati itu.
"Aaarrrggghhhhh, Robertt!!! Kamu benar benar menantangku, apakah selama berpuluh puluh tahun ini kamu tidak ingat bagaimana sikapku, kamu benar - benar mencari mati denganku, biaaadaaabbbb!” Umpatan demi umpatan Arvan keluarkan.
Entah apa yang bisa dia lakukan saat ini untuk meluapkan segala emosinya yang tidak bisa dia kontrol.
Terlepas dari dirinya mencintai Jenni atau tidak, tetap saja tidak ada seorang suami yang rela jika istrinya diculik, ralat, karena Jenni bukan diculik, karena Jenni sangat bahagia ketika dirinya bersama dengan Robert. Sungguh sangat menjijikan bukan?
"Bagaimana laporan dari polisi dan imigrasi?” tanyanya pada Delon, yang saat ini terlihat sangat pucat ketika melihat tragedi berdarah yang nyata ada dihadapannya.
"Delon,” panggil Arvan lagi, namun kali ini dengan sedikit membentak.
"I - iya Lord,” jawabnya dengan gugup, sembari melangkahkan kakinya pelan, mendekati Lordnya yang masih penuh dengan darah.
"Aku benar - benar akan mengutukmu Robert, karena kamu pergi, aku harus menyaksikan tragedi semua ini secara langsung.” Delon tidak henti - henti mengumpat dan menyumpahi Robert yang sudah begitu teganya menempatkan dirinya di dalam posisi seperti ini.
Beberapa tahun dirinya bekerja dengan Arvan, tidak pernah sekalipun dia melihat bosnya itu membunuh siapapun, karena selama ini, yang membunuh dan mendampingi Arvan adalah Robert. Dan kali ini, karena ketidak adaanya pria itu. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, biasa atau tidak biasa, Delon harus menerima tugas ini, mulai sekarang dan entah sampai kapan.
"Jalan yang cepat! Kamu adalah pria dan bukan wanita,” sentak Arvan, membuat Delon langsung terkejut dan nyaris terjatuh.
"Wah - wah, sepertinya aku sudah terlambat kali ini,” seru seseorang yang baru saja datang, dan seketika membuat suasana yang tadi dingin, kini semakin mencengkram.
Melihat sosok itu datang, seluruh manusia yang ada di dalam Markas tersebut, seketika jadi terdiam bagaikan patung.
Mereka benar - benar merasa takut saat ini, bahkan jika mereka bisa membunuh diri mereka sendiri, maka saat ini mereka akan melakukaanya. "Kenapa kamu begitu lambat?” tanya Arvan pada sosok itu.
"Jalanan macet,” jawabnya asal, membuat Arvan ingin sekali menembak kepala pria itu saat ini juga.
"Kamu pikir apa? Di atas awan ada lampu merah? Begitu?” Protes Arvan, yang selalu saja merasa bodoh jika berhadapan dengan pria itu.
"Lucas,” panggil Arvan lagi.
Namun yang dipanggil hanya memilih untuk mengedikan bahunya singkat. "Tidak penting lah Lord, yang jelasnya aku sudah berada di sini.” Sahutnya santai.
Arvan menghela nafasnya dalam, memang saat ini dirinya sangat membutuhkan Lucas untuk hadir di sini. Selain untuk menggantikan posisi Robert sebagai asisten pribadi miliknya. Arvan juga meminta agar Lucas yang turun sendiri dalam menangkap Robert.
Karena dirinya takut, ketika dia ingin melenyapkan pria itu, dirinya akan dirung - rung dengan rasa tidak tega.
Namun jika Lucas yang melakukaanya, maka pria itu pasti akan bertidak sapu rata semua musuh ataupun pengkhianat yang berani bermain main dengannya.
"Lalu Anda mau aku melakukan apa? master Lord yang terhormat?" tanya Lucas, yang langsung to the point pada Arvan.
Dia paling benci, ketika dirinya bertanya namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Arvan. Dengan alasan, dijelaskan nanti.
"Aku ingin kamu menangkap dan membunuh Robert, lalu membawa istriku yang sedang bersama dengan pria itu datang kepadaku!" Titahnya pada Lucas.
Akan tetapi bukannya terkejut, Lucas kini malah terlihat menguap, merasa bahwa masalah Arvan saat ini sangat - sangatlah tidak penting.
"Apakah stock wanita di dunia ini sudah habis Lord? Ataukah Queen itu memiliki paras yang begitu cantik bagaikan bidadari?" tanyanya sinis.
Arvan sangat paham jika saat ini Lucas sedang meremehkaanya. Seorang pemain wanita seperti Lucas, tidak akan pernah paham apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Lagian bagaimana ceritanya? Istriku selingkuh dengan asistenku," Lucas benar - benar tidak habis pikir dengan masalah yang menimpa bosnya ini.
Sungguh tidak bisa masuk ke dalam logikanya, apa yang sedang dipikirkan wanita itu? Kenapa dirinya terlalu bodoh untuk memilih asisten dari pada bos?
Bukankah harusnya wanita itu bersyukur ketika menikah dengan Arvan, sosok Lord penguasa dunia. Yang sudah jelas - jelas hartanya tidak akan pernah habis sampai 100 turunan sekalipun.
Sangat - sangat aneh.
To Be Continue.
Hey teman - teman, jangan Lupa Like, Komen, Vote dan Hadiahnya untuk Mimin ya. Agar mimin lebih semangat lagi updatenya.
Dan jangan lupa untuk mampir ke karya mimin yang lainnya ya.
Terima Kasih.