
🌹 Happy Reading 🌹
Rapat masih terus berjalan dengan sangat kondusif.
Arvan terus menerus memberikan arahan kepada seluruh pasukanya, dia tidak mau melakukan kesalahan sedikitpun dalam misi ini.
Dan di saat mereka tengah sibuk berbicara, tiba-tiba saja datanglah se sosok yang paling di butuhkan saat ini, sosok yang dulu mampu memusnahkan Vicky kakak Jacob.
"Wah,,wah,, ternyata di rapat ini aku sudah tidak di butuhkan lagi," seru Stella, sambil melangkah masuk ke dalam ruangan khusus itu.
Sontak seluruhnya menatap ke arah Stella yang datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, mengingat dirinya yang sedang bertengkar dengan Arvan kemarin.
"Mamah," sahut Airein melihat mamahnya datang.
Stella membalasnya dengan senyuman manisnya. Lalu dia melangkah mendekat ke arah Arvan kakaknya.
"Kakak masih marah sama Shea?"tanyanya pelan melihat Arvan yang tidak membalas tatapanya. Dia malah megalihkan pandanganya ke arah lain.
Alson yang kebetulan duduk di sebelah Arvan, sekilas menoleh pada Stella yang masih asing baginya. "Pah," lirihnya pelan menggengam tangan Arvan, sebagai isyarat agar dia tidak boleh bersikap seperti itu pada orang lain.
Arvan menarik nafasnya dalam-dalam, dan mengenduskannya dengan kasar, "Shea bukan saatnya membalas masalah itu saat ini, lagian juga sudah percuma Alson ku sudah kembali." Jawab Arvan dengan nada datarnya.
Stella melirik ke arah Alson yang sedang menatapnya dengan bingung. "Apakah kamu yang bernama Alson?" tanyanya dengan lembut dan senyum yang sangat ramah.
Alson menganggukan kepalanya dengan ragu, dia menoleh kembali pada Papahnya, lalu dia kembali menatap Stella. "Iya Aunty, saya Alson. Bagaimana Aunty mengetahui nama saya?" tanyanya bingung, karna dia merasa baru pertama kali melihat wanita ini.
Stella mengerti jika Alson pasti bingung dengan kehadiranya yang tiba-tiba seperti ini.
"Dia Mamah aku Alson, adik dari Uncle Arvan yang berarti Aunty mu," sahut Airein yang ternyata sedari tadi memperhatikan intraksi dari keduanya.
Alson kembali menanggukan kepalanya mengerti. "Hallo Aunty," Sapanya dengan canggung.
Selama ini Jesper tidak terlalu membiarkanya berintraksi secara leluasa dengan orang luar, namun kali ini dia harus bertemu banyak orang dan keluarga baru, membuatnya semakin canggung membawa diri.
"Shea, kakak akan terus mempermasalahkan ini semua sebelum Aiden datang dan meminta maaf langsung kepada kedua putraku terkhususnya Alson yang sudah dia sekap selama berbulan-bulan ini, apa kamu mengerti," tegasnya pada adiknya itu.
Dia bukan ingin bertindak jahat, namun ini harus di lakuan untuk mengajarkan rasa tanggung jawab untuk Aiden.
"Kakak, Shea akan terus meminta Aiden untuk meminta maaf pada Albert dan Alson, itu pasti, tapi jangan seperti kemarin dengan kekerasan, kita bicarakan lah semuanya dengan kepala dingin," jawab Stella dengan lembut, karna dia tau jika kakaknya itu saat ini sedang panas hati.
Stella berjalan mendekati Alson, dan menggengam salah satu tanganya. "Aunty, apakah?" tanyanya bingung ketika Stella mulai berintraksi secara langsung dengan meletakan tangannya di kepala milik Stella.
"Alson, Aunty sebagai Mamah dari Aiden, meminta maaf dengan tulus, maafkan anak Aunty yang sudah menyekapmu kemarin, maafkan anak Aunty yang sudah bertindak melampau batas," ujarnya meminta maaf dengan tulus karna kesalahan putranya.
"Aunty, sudah ya jangan di bahas. Yang penting sekarang Alson sudah ada di sini berkumpul bersama dengan kalian semua di sini, jadi jangan di bahas lagi ya Aunty, karna Alson juga sudah maafin Aiden dari jauh hari kok, Alson tau jika dia seperti itu pasti karna sebuah rasa cinta, dan Alson juga paham jika cinta bisa membuat siapa pun melakukan hal apa saja, termasuk merebutnya." Balas Alson dengan tenang.
Namun kalimatnya itu membuat hati Albert tidak tenang, 'cinta bisa membuat siapapun melakukan apa saja termasuk merebutnya'.
Dengan segera dia langsung menarik tubuh istrinya agar duduk di pangkuanya, "sayang cepat sini sayang," pintanya menuntun Briell untuk duduk.
"Apa sih, kenapa duduk begini?" tanya Briell kesal, bagaimana tidak, dia sudah duduk dengan nyaman di sofa, tiba-tiba suaminya itu menarik dirinya untuk duduk berpangku-pangkuan.
"Sayang kalo kamu lama duduk seperti itu, nanti caby capek sayang, mending aku pangku ya biar sambil ku elus-elus, biar Caby bisa tau kalo aku Papahnya bukan yang lain," sindirnya halus, namun membuat seluruhnya menatap aneh dengan tingkahnya.
"Modus kadal ya begitu, bilang aja takut istrimu di ambil orang," sahut James yang kesal melihat sikap sok romantis dari sahabatnya itu.
"Sirik aja loe, iri bilang bos," ucapnya menggunakan bahasa keseharianya saat di indonesia.
"Apakah kalian berdua sudah selesai ?" tegur Arvan yang merasa pembahasanya ini sudah keluar dari jalur seharusnya.
Sontak dengan patuh seluruhnya langsung diam, dan kembali tenang seperti tadi.
"Apakah kita bisa mulai kembali rapat ini?" tanyanya sekali lagi, ingin memastikan jika tidak akan ada yang kembali main-main dalam misi ini.
Dan serentak semuanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Seperti yang kalian ketahui, jika kita semua akan menggunakan alat-alat yang sudah di ciptakan di Cyberaya, yang dimana nanti kaliaan akan di latih cara menggunakanya sesuai dengan keahliaan dan kegunaan dari alat-alat itu.
Lalu dia menoleh ke arah Stella yang di akui sebagai pemimpin pasukan ini.
"Shea apakah kamu akan menggunakan-?" tanyanya terputus di saat Stella lebih dulu menganggukan kepalanya.
"Aku akan menggunakanya, agar tidak akan ada yang terluka di sini, aku akan mengendalikan semuanya kembali," jawabnya dengan yakin.
Arvan kembali menatap ke arah Albert dan Briell yang terlihat sedang serius menatap ke arahnya. "Briell, kamu tidak ikut dalam misi ini," ucap Arvan dengan lembut.
"Loh kenapa Pah? Briell juga ingin menyelamatkan Mamah, Briell bisa kok," bantahnya menolak jika tidak di ikut sertakan dalam keadaan ini.
Arvan menoleh pada Airein yang sedang duduk di sebelah suaminya. " Airen dan kamu Roger, kalian akan saya kirim ke Sanova Island bersama dengan Briell, agar keselamatan kalian tetap terjaga," serunya pada dua keponakanya itu.
"Baik Uncle." Jawab keduanya bersamaan.
"Pah, tapi Briell juga ingin," lirihnya namun mendapakan sentuhan dari suaminya, sebagai kode untuk tidak membantah keputusan saat ini.
"Briell, Papah hanya tidak mau Caby ada apa-apa, jadi mengerti ya," balas Arvan yang memilih mengirim menantunya itu agar lebih aman.
Dengan berat hati, Briell menerima keputusan itu, dia baru ingat, jika dia juga harus memikirikan tentang kehamilanya.
Arvan yang melihat Briell diam saja, kini kembali menatap kepada yang lainya.
"Besok kita akan berangkat ke Markas besar Cyberaya, dan kita akan mulai berlatih di sana, apa kalian semua siap," tegasnya tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
"Siap Lord," jawab seluruhnya dengan serentak dan penuh keyakinan.
"Bagus, jika begitu kalian bisa bubar sekarang," timpalnya lagi.
Dan masing-masing dari mereka pergi meningglkan ruangan untuk beristirahat.
Sedangkan Arvan masih terududuk diam di dalam ruangan, menatap kekosongan.
"Aku pasti akan menyelamatkanmu, itu pasti."
Yakinya dalam hati.
To be continue.
*Jangan lupa sedakah Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra